"Karena ini Negara Bebas, Men!" 9

Senin, 14 Mar '11 21:28

*postingan setelah lama mati suri

Film kritik soal pendidikan bukan barang baru lagi. Sudah pernah pada Laskar Pelangi, berbuah sukses secara komersial. Kalau harus membandingkan karya Riri Riza itu dengan ini, tidak ada yang sangat wah kecuali berupa gaya visualisasi berbeda kedua sutradara tersebut dalam menghadirkan penceritaan tentang pendidikan, mungkin bedanya Laskar Pelangi menghadirkan sepenggal cerita anak-anak Belitong yang berjuang dalam meraih pendidikan sehingga Laskar Pelangi membentuk pemahaman bahwa "Pendidikan Itu penting". Sedang Alangkah Lucunya Negeri Ini berada dalam wilayah relativitas. Campur dalam carut-marut kotor dan usangnya pemerintahan Indonesia. Motifnya adalah "Karena ini adalah negeri bebas"

Mungkin saya tidak mesti harus menulis review cerita film ini lagi, rasanya penonton film yang universalis pasti sudah memasukkan film ini ke daftar film yang pernah atau akan ditontonnya, maka saya akan menulis tentang bagaimana pendapat saya tentang film ini.

Seperempat awal film ini saya sudah berpikir-pikir jelek dulu bahwa film ini akan 'bagus' dengan cara penyampaian kritik dan sindiran secara bertubi-tubi yang frontal----yang saya kurang suka saja, entah kenapa. Pikiran saya masih seperti itu sampai pada akhirnya saya terbawa oleh jalan cerita dan akting para anak-anak yang memerankan copet disini, yang entah kenapa sangat menarik untuk dilihat. Lama-lama saya sadar, kritik-kritik seputar pemerintahan baik itu pendidikan, politik, sosial, dan isu hangat yang menyeruak diseputaran negeri ini bukan dihadirkan untuk dipaksakan Deddy Mizwar untuk dilahap penontonnya. melainkan sudah menjadi bagian dari penceritaan yang dihadirkan oleh Beliau.
Saya sudah salah kira bahwa film ini akan berkembang menjadi film berpesan moral yang sok menginspirasi, tapi ternyata film ini hanya ingin menyuguhkan cerita ketidakadilan yang diperlihatkan erat dari sebuah rumah kumuh tempat para pencopet-pencopet cilik tinggal.

Sedikit kelemahan detil cerita yang sudah dibangun : masalah perjodohan yang tidak diceritakan lagi dan entah bagaimana jadinya,  tapi terlepas darisitu tidak terlalu saya permasalahkan karena fokus lebih pada bagaimana hidup dan keputusan yang Muluk ambil dan bagaimana kehidupan para pencopet cilik itu.

Seperempat akhir film adalah bagian paling berharga dan sekaligus klimaks yang menjelaskan hakikat film ini kemana arahnya dari awal. Adegan Glen yang pada akhirnya tetap memilih jalan sebagai pencopet dikejar-kejar massa dan bersilangan dengan rombongan siswa SD yang membawa bendera merah putih , begitupun saat Komet (pencopet yang lain) memutuskan menjadi pedagang asongan, adegan waria yang ditangkap, semua sudah lebih dari cukup menjelaskan apa yang diinginkan Deddy Mizwar dari awal untuk dirasakan penontonnya.

Berbicara masalah akting, dengan aktor-aktor sekaliber Slamet Rahardjo, Deddy Mizwar,Tio Pakusadewo, tentunya sudah tidak diragukan lagi. Reza Rahadian dan Tika Bravani juga. Fakta menarik untuk seorang Reza Rahadian yang entah kenapa filmografinya mengalami peningkatan drastis dari awal kariernya (yang saya tahu dia artis ftv, dan film yang pertama dia bintangi adalah film horor kancut semacam Pulau Hantu---sebelum pada akhirnya dia menjadi langganan bermain di film-film bagus), ini kebalikan dari Tora Sudiro yang malah filmografinya bertambah parah dan potensi dia kembali ketitik nol.
Tapi rasanya bohong bila tidak memberi standing applause untuk para aktor cilik pemeran copet ini----terlebih untuk pemeran Glen----mereka berakting sangat natural, terlepas status Sakurta Ginting yang memang adalah aktor sinetron ramadhannya Deddy Mizwar.

Lalu? Apakah ini film yang layak dan bagus? Tentu layak. Dan ini film bagus. Meski bukan film terbaik atau film yang bisa masuk "the best movies of this decade".
Yang saya suka adalah cara Deddy Mizwar menyikapi tentang masalah pendidikan yang dibahas dari awal dan realitasnya pada para pencopet cilik yang ternyata terus jalan menuju jalannya masing-masing. Film ini tidak bercuap-cuap memberikan solusi yang kuat tentang pentingnya pendidikan, tapi menangkap potret-potret buram negeri kita dari sudut paling kumuh. Bahwa pendidikan itu.... "penting kalau lo anggap penting. Gak penting kalo lo anggap ga penting. Karena ini negara bebas, men!"


Rating : 8/10


Tag: Film Indonesia, Deddy Mizwar, Reza Rahadian, good and not bad

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Deli Putra 0 0
saya sudah nonton filmnya tapi masih kurang puas sama endingnya..
itsmaudy 1 suka | 0
Deli Putra: hmm.. i know, some people said about it. tapi entah kenapa aku malah ga risih. kalo ini dibikin gimana mana atau seandainya----para pencopet itu tiba tiba insyaf--happy ending-to-the-max aku malah ga suka.
mungkin endingnya berkaitan dengan kenyataanye kali ye, secara negara kita juga ga memuaskan gitu dan banyak masalah yang ga selesai-selesai. jadi menurutku, ini sekedar gambaran dan sentilan tentang itu
Deli Putra 0 0
itsmaudy: yoi setuju sekali, ending dibuat seperti itu mungkin biar penonton sendiri yang bisa nentuin, maksudnya si pembuat film ini kepingin si penonton bisa ngelakuin sesuatu, nah apa yang dilakuin si penonton itulah yang jadi ending... : )
warm 0 0
ah batu tau kalo gitu maksud endingnya : )
sabai 0 0
seandainya tak ada narasi dakwahnya yg berpanjang-panjang, film ini asik utk ditonton!
angrynerdrock 0 0
sabai: mba sabaaai... setujuuuu! saya sebenernya cukup menikmati ALNI, tapi dakwahnya ganggu tuh, sama iklannya juga =.='
Raja Seni 0 0
Saya sangat menghargai Dedi mizwar yang punya ide-ide segar dalam penyajian tema-tema film Nasional. Namun sangat disayangkan, cerita dalam film ini saya lihat masih banyak unsur pesanan dari pihak2 tertentu.. penonton sengaja diseret harus menerima sewajarnya ada iklan mentereng yang mengganggu pandangan. Secara visual setnya masih belum terlihat begitu natural. Sementara alur cerita banyak di buat kebetulan-kebetulan yang berlebihan.. namun overall saya cukup mengapresiasikan film ini sebagai film alternatif hiburan keluarga di waktu luang.
Deli Putra 0 0
angrynerdrock: haha.... bener iklannya tuh... : D
jim96 0 0
sayangnya ... sctv tidak gembar gembor mengiklankan bahwa pelm ini bakal disetel agak malem. jadilah gak sengaja nonton pelm ini. karena gak konsen sejak awal plus ngantuk. judulnya nonton ampe ketiduran.

mungkin karena bosen eksploitasi reza rahadian yg memang sangat cakap berperan dalam pria sewenang2 di perempuan berkalung sorban).

atau sedang butuh tontonan yang lebih menghibur ala nagabonar 2 yang kinclong dengan ipod, rumah mewah, apple macbook tapi tetap nakal.

setidaknya deddy mizwar bisa mengangkat film ini lebih baik ketimbang kiprah sebelumnya di "Ketika" yang kayaknya terlalu berat temanya (sayangnya saya blom nonton)

Silahkan login untuk memberikan pendapat