Biola tak Berdawai (Indonesia.2004) 2
Senin, 14 Mar '11 21:36
Dir : Sekar Ayu Asmara
Cast : Ria Irawan, Nicholas Saputra, Jajang C Noer dan Dicky Lebrianto
Ketika dulu film ini rilis bioskop tanah air tahun 2004, entah kenapa tidak begitu berminat untuk menonton, sedikit menyesal karena kemudian agak susah juga untuk menemukan film ini dalam format video, beruntung kemudian Kineforum dalam rangka perayaan hari Film Nasional memutar film secara gratis. Sebagaimana kita ketahui film ini adalah karya Sekar Ayu Asmara sebelum menghasilkan Belahan Jiwa (2005) dan Pesan Dari Surga (2007). Jika pada Belahan Jiwa, sutradara ini mengambil misteri dunia pikiran manusia dan pada Pesan dari Surga mengambil misteri dunia setelah kematian, untuk film yang kirim resmi untuk berlaga pada ajang oscar 2005 ini bermain-main pada misteri hati manusia.
Renjani (31th) seorang wanita berkarakter lembut dan penyayang yang mendedikasikan hidupnya untuk mengasuh bayi-bayi dan anak-anak yang lahir dalam keadaan cacat dan tidak diinginkan oleh orang tua mereka, salah satu anak asuh yang memiliki hubungan cukup dekat dengannya adalah Dewa (Dicky Lebrianto). Pada usianya yang telah mencapai 8 thn Dewa, pertumbuhan fisik tidak seperti anak normal seusianya, karena fungsi jaringan otaknya yang tidak sempurna dan juga menderita tuna runggu dan tuna wicara. Renjani dibantu oleh Mba Wid (Jajang C Noer), seorang dokter anak yang juga berprofesi sebagai seorang peramal dengan media kartu tarot. Berdua mereka menjalankan fungsi rumah milik Renjadi menjadi rumah asuh untuk anak-anak yang kurang beruntung tersebut, bahkan mereka sudah terbiasa menghadapi kematian demi kematian yang selalu mengejar hidup anak-anak cacat yang mereka asuh.
Suatu hari tanpa sengaja Dewa menemukan sebuah kotak yang berisi sepasang sepatu balet milik Renjani hal ini kemudian perlahan membuka tabir masa lalunya. Dihadapan Dewa, Renjani kemudian mempertontonkan sisa sisa kemampuannya untuk menari. Dewa mengangkat wajahnya melihat Renjani menari, tentu ini adalah kemajuan yang pesat untuk Dewa karena selama ini Dewa selalu menunduk. Kejadian luar biasa menurutnya ini kemudian memberi semangat untuk membantu proses penyembuhan Dewa dengan terapi Musik. Renjani membawa Dewa pada sebuah resital Biola yang kemudian mempertemukannya dengan Bhisma (Nicholas Saputra) seorang pemain biola. Hubungan mereka berlanjut karena Dewa seperti menyukai kehadian Bhisma diantara dia dan Renjani. Mba Wid yang pernah meramalkan bahwa Renjani akan bertemu seorang yang mencintainya meminta Renjani untuk membina hubungan serius dengan Bhisma, karena menurutnya Bhisma adalah pribadi yang menarik. Dengan alasan perbedaan usiayang cukup jauh karena Bhisma lebih muda darinya, Renjani berusaha untuk membatasi hubungan hanya sebatas teman biasa.
Hubungan mereka semakin dekat, Bhisma menunjukkan keseriusannya, dia bahkan membuat sebuah karya musik untuk membantu proses kesembuhan Dewa. Dia memainkan biola, Renjani menari, dan benar saja, Dewa kembali mengangkat kepalanya menikmati suguhan itu, tetapi semua berakhir penolakan Renjani pada usaha Bhisma untuk memeluknya merayakan keberhasilannya mereka tersebut dan bahkan Renjani mengusir Bhisma.
Ternyata penolakan-penolakan Renjani terhadap Bhisma bukan hanya semata masalah perbedaan usia yang jauh diantara mereka, sebuah trauma dari masa lalunya yang masih menghantuinya dan tidak dengan mudah untuk dilupakan begitu saja, apalagi kemudian semua itu tidak hanya meninggalan beban mental padanya tetapi juga beban fisik yang begitu menyiksa hari-harinya.
Fase kesedihan dan kesunyian yang diadaptasi menjadikan film ini terasa terlalu lambat dan berat untuk dinikmati, ada beberapa bagian film bahkan sangat membosankan, perpindahan scene ke scene, frame ke frame terlalu lama, sehingga dibeberapa adegan berakhir dengan antiklimaks, dan membuat penonton tidak sabar untuk menanti film berakhir dengan begitu saja melupakan film ini. Hal ini sangat disayangkan karena film ini memiliki potensi yang sangat baik untuk menjadi film bagus dengan ide cerita yang cukup menarik.
Ria Irawan bermain baik sebagai Renjani, dia berhasil membuktikan dirinya sebagai salah satu aktris watak Indonesia yang mampu memainkan karakter apa saja, Renjani yang tegar dan kuat tetapi rapuh di dalam dipersembahkannya dengan sangat baik, tidak salah kemudian dia berhasil menjadi aktris terbaik dari Festival Film Asia 2005. Nicholas Saputra sebagai Bhisma yang ‘dipaksa’ bermain sebagai karakter yang jauh lebih tua dari umur sebenarnya dengan rambut gondrong dan kumis tipis (cukup mengganggu melihatnya) tampak sangat berusaha keras untuk memasuki Bhisma, meski tidak sebaik perannya dalam Gie atau Janji Joni, dia layak diberi kredit lebih.
Yang terasa sedikit mengganggu adalah karakter Mba Wid yang semakin kebelakang menjadi semakin terasa konyol dengan selalu mempertanyakan banyak hal menjadi sebuah teka teki aneh, dan dengan dialog-dialog yang terlalu lambat, lama dan pada beberapa bagian terasa terlalu teatrikal.
Entah bagaimana casting director film ini berhasil menemukan Dicky Lebrianto yang berperan sebagai Dewa, meski hampir sepanjang film, tidak ada dialog yang diucapkannya Dicky dengan sukses memberikan penonton seorang Dewa yang cukup misterius.
Suasana Jogja yang hening berhasil disuguhkan dengan baik, gambar-gambar yang cukup menarik ditampil dengan warna-warna yang natural dan baik, terbantu dengan set dan art film yang mengambil banyak ornamen tradisional jawa, yang sangat menganggu adalah selalu banyak lilin bertebaran dimana-mana yang bahkan terasa sangat berlebihan dan menganggu tingkat keseriusan film ini, atau mungkin untuk menguatkan karakter mba Wid yang seorang peramal, tetapi masih tetap saja sangat berlebihan dan mengganggu.
Terlepas dari itu film sederhana ini cukup berhasil memaparkan sebuah dilema berat dari trauma masa lalu yang begitu kuat menghantui hidup seseorang, dan alur yang lambat dan pelan seperti sebuah kesengajaan untuk menambah rasa sedih, pilu, hampa, dan sakit dari karakter utama film ini
Tag: nicholas saputra, Jajang C Noer, Sekar Ayu Asmara, Ria Irawan
Terkait:
-
Prestasi Film Indonesia pada Berbagai Festival dan Penghargaan Film Internasional 10 tahun terakhir
Rabu, 11 Mei '11 10:30 -
MATA TERTUTUP : AND THE HEARTS OPEN
Jumat, 16 Mar '12 20:01 -
7 Hati 7 Cinta 7 Wanita : Happy Mother's Day - Wanita dan Dunia
Jumat, 23 Des '11 01:56


Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat