Rubber (2011) 3
Jumat, 11 Mar '11 17:50
” Meet Robert, Psycho Tire from hell “
Coba sebutkan judul-judul film horror yang bertemakan seorang atau sekelompok manusia psikopat atau para pembunuh berantai sadis tanpa ampun, ah, saya bertaruh dengan mudah anda menyebutkannya satu per satu, nah, sekarang bagaimana kalau subjek utamanya kita ganti dengan sebuah ban mobil? Iya, saya serius, ban mobil yang itu, karet tebal hitam yang melingakar di setiap velg mobil kita. Ide yang terdengar sangat gila, tidak masuk akal dan sangat orisinil bukan? Bagaimana bisa sebuah ban mobil bekas bisa membunuh manusia? Anda mungkin tidak akan percaya sebelum bertemu dengan Robert, ya, dialah si ban mobil yang saya maksud.
Bisa menggelinding dengan sendirinya saja Robert sudah terlihat tidak wajar, apalagi kemudian kita melihatnya seakan-akan hidup dan bernafas, layaknya mahkluk bernyawa, eh, bahkan ia juga minum! Namun apa yang membuat ban ‘ajaib’ tersebut menjadi sangat mengerikan adalah kemampuannya menghancurkan benda apapun yang dianggap menganggunya -ya, Robert juga sangat sensitif dan mudah marah – hanya melalui ‘tatapan’ dan ‘pikirannya’, singkat kata Robert memiliki kemampuan membunuh secara telekinesis, wow!.
Tidak habis pikir, entah apa yang ada di kepala sutradara dan produser musik electro house nyentrik asal Perancis, Quentin Dupieux ini sampai-sampai ia bisa menghasilkan Rubber, sebuah horror komedi dengan premis yang luar biasa nyeleneh dan orisinil ini. Namun sayang ekpektasi saya sungguh terlalu kelewat tinggi. Berharap Rubber dapat menjadi sebuah pengalaman menonton horror yang mengasyikan dan berbeda, namun sayang harus berakhir antiklimaks.
Jujur saja saya sebenarnya saya sangat menikmati 10 menit awal dimana Dupieux mampu membukanya dengan opening scenes sangat baik, sekaligus seakan-akan memperingati para penontonnya untuk memaklumi segala ‘keabnormalan’ film ini dengan formula “no reason” yang dijabarkan panjang lebar dengan berbagai contoh dari judul film-film terkenal yang jelas sangat mengada-ada. Menariknya lagi jika kebanyakan film ‘normal’ memulai kisahnya dengan berusaha keras untuk membawa para penontonnya agar masuk ke dalam dunia film tersebut dan melupakan dunia nyata sesaat hingga film berakhir, nah Rubber sebaliknya, Ia malah mengaskan dan memberi batasan kepada penontonnya bahwa semua yang kita saksikan di sepanjang 85 menit kedepan hanyalah sebuah film belaka. Selain itu kita juga tidak sendiri menyaksikan aksi petualangan si ban psikopat, ada beberapa orang di dalam film ini yang turut ikut menonton dari kejauhan dengan menggunakan teropong dan pada akhirnya salah satu penonton juga menjadi korban dari keganasan si Robert, nah loh!!
Sangat disayangkan Dupieux tidak mampu menjaga ritme film ini dengan baik. Segera setelah 10 menit yang sangat menghibur itu berlalu, Rubber seakan-akan kehilangan arah menjadi sebuah film tanpa tujuan dengan cerita yang tidak jelas dan hanya berputar-putar di tempat, adegan yang terkesan diulang-ulang. Bahkan seburuk-buruknya horror kelas ‘B’ saja masih bisa tampil lebih baik dalam bercerita ketimbang horror produksi Perancis satu ini. Semua itu masih diperparah lagi dengan rangkaian plot hole yang bertebaran di sepanjang film, apalagi disaat bersamaan Dupieux memaksakan dunia nyata dan fantasi bercampur menjadi satu, menghasilkan sebuah kisah yang terkesan amburadul dengan guyonan black comedy nya yang super datar, membosankan dan diakhiri dengan ending yang sangat buruk.
Terlepas dari banyaknya kekurangan yang diderita Rubber namun harus diakui Dupieux mampu memaksimalkan elemen teknis film ini dengan sangat maksimal. Sinematografi berhasil digarap dengan serius sehingga menghasilkan gambar-gambar cantik dengan sudut-sudut pengambilan gambar yang memanjakan mata. Bahkan untuk ukuran film berbiaya murah Dupieux juga sanggup menghadirkan spesial efek yang sebenarnya sederhana dan cheesy ini namun terlihat cukup rapi dan meyakinkan, lihat saja bagaimana Robert mampu bergerak dan bergulir dengan sangat realistis atau bagaimana setiap ledakan kepala-kepala manusia tersaji cukup meyakinkan plus iring-iringan musik score yang mampu berjalan beriringan dengan serasi dengan setiap momen didalamnya. Singkat kata, sisi teknis sedikit banyak menyelamatkan Rubber dari jurang kehancuran total.
Premis unik, menyegarkan sekaligus absurd yang seharusnya berpotensi besar menjadikan Rubber sebuah sajiah horror komedi menyenangkan dan konyol ternyata jauh dari harapan saya. Ya, selain sisi teknis yang digarap lumayan, film ini sungguh tampil sangat buruk. Yes, Rubber is more like Rubbish to me.
Terkait:
-
The Innkeepers (2011) - Sebuah Petualangan Horor Yang Tanggung
Sabtu, 24 Mar '12 13:35 -
Scott Pilgrimm vs the World: Sebuah Film Konyol
Rabu, 14 Mar '12 11:28 -
Micmacs à tire-larigot
Selasa, 27 Des '11 09:37
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Haris Fadli: Informatif
-
angrynerdrock: Informatif
-
Taruma: Good Take
-
bitterjoy: Good Take
-
sabai: Box Office

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat