Review: Lost in Papua (2011) 148
Kamis, 10 Mar '11 22:06
"Membosankan dan Menggelikan saat menonton 'LOVE' in Papua."
ALERT! NEGATIVE REVIEW!
README : REVIEW OLEH SUTRADARA 'LOST IN PAPUA'
"Lost in Papua" benar-benar membuat saya kecewa setengah mati. Kenapa tidak? Banyak sekali kekurangan yang ada di film ini. Film ini sulit untuk diberikan toleransi oleh telinga dan mata saya. Ekspetasi saya terhadap film ini adalah tinggi karena memberikan lokasi yang lebih baru. Film yang lebih dari 50% romantis ini, rasanya jadi salah judul. Harusnya "LOVE IN PAPUA". Ekspetasi saya 100% berlebihan.
Sinopsis film ini:
Rangga (edo borne) beserta timnya beberapa orang asing menjalankan misi eksplorasi mencari titik tambang di belantara hutan Papua Selatan. Mereka memasuki wilayah terlarang di hutan yang belum pernah terjamah manusia yang menyebabkan satu persatu hilang tanpa sebab. Tiga tahun kemudian. Nadia ( fanny Fabriana), mantan tunangan Rangga, mendapatkan tugas yang serupa di pedalaman Papua. Nadia yang baru pertama kali datang ke Papua, langsung jatuh cinta dengan keindahan alamnya. Bersama teman-temannya yang asli Papua dia memasuki kawasan hutan di sekitar daerah boven digoel. Mereka menjumpai suku Korowai dan berinteraksi di dalamnya. Sampai suatu ketika datanglah David ( Fauzi Baadilla ) yang mengacaukan segalanya karena terus menerus mengejar cinta Nadia. Nadia bersama yang lainnya berlari masuk ke dalam hutan yang membuat mereka tersesat. Mereka ditangkap oleh suku langka yang semuanya berisi wanita. Semua laki-laki dijadikan bibit penerus keturunan suku tersebut. Namun dibalik semua itu Nadia berhasil membuka misteri hilangnya Rangga tunangannya melalui Liontin mereka berdua.
~ Filmoo.com
Berikut penilaian saya terhadap film ini
~ Cerita: Buruk. saya kira, kisah ini fokus terhadap bagaimana mempertahankan diri di papua. Malahan, ceritanya lebih ke arah romantisme seseorang terhadap alam bahkan 'mayat'. Nilai di ceritanya pun tidak jelas. Apa sih yang ingin dicapai. Yang saya lihat tidak ada sama sekali. Entah itu karena naskah yang kurang mendukung atau ide awal (cerita) yang kurang kuat. Menurut saya, ceritanya dah kelampau parah.
~ Naskah: The Worst Opening Scene! Lebih dari 15 menit, kita dibikin bingung setengah mati film ini tujuannya apa. Yang saya suka dari naskahnya adalah dialog untuk orang asli papuanya. Benar-benar memberikan perbedaan budaya secara kontras. Sayangnya, terlepas dari itu, naskahnya terlalu melompat dan tidak jelas arahnya kemana. 1 jam pertama anda akan dibawa romantisme seorang gadis yang kehilangan tunangannya. 30 menit, anda akan disuguhkan pengetahuan budaya papua. menit-menit terakhir? *sensor* dengan dialog yang terkesan maksa dan 'dramatis'. Belum lagi dibeberapa scene ada yang gak masuk akal.
~ Akting: Saya tidak terlalu berharap pada akting kalau naskahnya saja sudah belepotan. Untuk akting peran pembantu sih sebenarnya tidak ada masalah. Saya sih agak terganggu sama karakter Fauzi Baadilah.
~ Music/Audio: Musiknya membosankan, masih perlu dipoles lagi untuk dinamikanya. Kurang variatif untuk beberapa scene. Entah itu kehabisan ide, uang, atau apalah. Setidaknya, untuk pengulangan musik latar, harus divariatifkan. Sound Mixing? FLAT. Bahkan untuk lagunya juga. Entah itu karena bioskopnya atau dari sananya. (dapet studio yang jelek sih)
~ Visual: Sinematografinya kurang memuaskan. Sangat disayangkan, dengan lokasi yang jarang, hasilnya malah begituh. Dibilang bagus, gak, dibilang jelek, bisa.
~ Overall: Filmnya super membosankan. Saya hampir tertidur* #serius. Padahal, daripada buat film drama gak jelas gini, lebih baik buat film dokumenter. Lebih ngotak. Yang ini, dah gak ngotak, membosankan lagi.
~ Rating: 1/5. Film Buruk. Sangat disayangkan sekali, dengan lokasi yang katanya sulit dijangkau, hasilnya malah buruk. Tapi, mau gimana lagi, film ini, menurut saya buruk.
~ Layak tonton di Bioskop? Tidak, lebih pantas kalau ditonton di rumah dalam bentuk kepingan CD. terlebih lagi dengan penilaian saya yang negatif. makin gak layak.
* = dirubah agar pembaca lebih mengerti.
Untuk saat ini, segini dulu. Entar kalo sempet, ditambahin lagi.
Tulisan ini kembali terangkat setelah ada pihak yang tidak mau menerima ulasan negatif terhadap film ini. Faktanya, sutradara film ini mengakui kekurangan filmnya. Simak perdebatannya di tulisan ini, dan jangan lupa baca review dari sutradaranya. :) Jangan sungkan-sungkan memaparkan opini anda dan ikut diskusinya. Enjoy.
TARUMA: 1/5
Kutipan percakapan di "In A Better World" : (Dimulai dari percakapan antara Lars & Anton di bengkel)
Anton : "Did you hit me because you could?"
Lars : "That's Right. Do you want me to hit you again?"
Anton : "You're an idiot, who likes to feel you're in charge."
Anton : "You're not."
Lars : "What do you want?"
Anton : "What do I want? I want to show the children that i'm not afraid of you. You can't hurt me."
Lars : "You're not afraid of me? And I can't hurt you? That's exactly what i can do"
-skip-
Anton : "You're such a big idiot, that you can't even apologize when i'm here with the kids, but continue to fight"
-skip-
Anton : "That he's a moron, and not worth our time."
=========================
Sebenernya, perdebatan ini memang sudah keluar jalur. Yang awalnya (1) membicarakan film, kemudian (2) memojokkan para komentator secara terang-terangan, kemudian debat karena ada (3) salah satu pihak yang menyebutkan kata "g*****". :)
Untuk (1), gak ada masalah.
Untuk (2), sebenarnya dah melanggar ketentuan bicarafilm butir 6 ayat 1.
"Materi yang secara terang-terangan ditujukan untuk memojokkan, menghina atau menyerang individu, suku atau agama tertentu;"
Tidak jelas? sudah jelas-jelas kok, ditulis namanya. Tidak tahu aturan bukan berarti bisa seenaknya. Tapi, saya sih tidak keberatan atas tulisan tersebut, karena postingan tersebut menunjukkan sikapnya.
Untuk (3), Jelas salah. Satu, karena penggunaan kata kasar di forum ini. Ini tempat umum. apakah anda pantas menggunakan kata A!, G! di sini, dan terhadap orang-orang yang tidak mengenal anda. Dua, karena tidak menyebut merk sehingga banyak orang yang tersinggung, bukan masalah tersinggungnya, tapi masalah bahasa yang anda gunakan. Ketiga, dia jelas-jelas menghina saya. bukan saya melakukan pembelaan, tapi saya ingin menunjukkan berapa "sadar"nya dia untuk menuliskan kata kasar tersebut : "@Taruma : ini orang bener2 goblok nih, ..."
Kalau ada yang bilang kata tersebut bukan kata kasar. Yah, wajar. Tapi, wajar juga ada yang menganggap itu kata kasar. bagi saya, itu kata kasar di dunia maya. tapi, untuk di bandung sendiri sih, kata tersebut tak ada bedanya dengan kata A! yang sudah menjadi kata pelengkap. Kata kasar karena kata tersebut bertujuan memaki-maki orang.
Untuk masalah (2) dan (3), solusinya cukup mudah, yaitu minta maaf terhadap pihak tersinggung. saya pribadi sudah "menangkal"nya dengan menambahkannya diakhir tulisan.
Sayang untuk masalah (3), sepertinya tak bisa diselesaikan. Kenapa? karena waktu 4 pertanyaan yang saya ajukan (yang nyatanya saya gak peduli jawaban dari pertanyaan 1-3 yang hanya berfungsi sebagai "ilusi"), pertanyaan 4 yang berbunyi "Apa anda merasa bersalah?" dijawab mentah-mentah "toh ngapain gw salah, ..." Jika di film In A Better World, dialah tokoh Lars. :) Jadi, tindakan yang benar apa dong?
"That he's a moron, and not worth our time."
"You're such a big idiot, that you can't even apologize when i'm here with the kids, but continue to fight"
Sebelumnya, saya mau MINTA MAAF kesiapapun yang ikut berkomentar dan yang ikut membaca. Saya tidak mau menjadi karakter Lars yang sulit untuk mengucapkan kata maaf padahal dia berbuat salah. (sarkasme? entahlah)
Tag: Lost in Papua, Negative Review
Terkait:
-
Review: TEBUS (2011)
Kamis, 31 Mar '11 19:41 -
LOST IN PAPUA : GUILTY AS CHARGED (WARNING : CONTAINS SPOILER!!)
Rabu, 16 Mar '11 06:11
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
AndriaGutama: Informatif
-
kniwe: Good Take
-
angrynerdrock: Informatif
-
Gambliz: Informatif
-
Raja Seni: Box Office
-
bickysaja: Informatif
-
VJ Narsius: Informatif
-
danieldokter: Good Take
-
chiil: Informatif
-
apakabar: Informatif
-
amalia achmad: Informatif

Komentar:
aturan maen para pembuat karya seni kan: Jangan Baca Review!.
Sepertinya, menurut saya yang sotoy, film2 lokal dibuat ngasal dan kejar tayang mulu. yang penting bisa lempar ke pasaran, walau hasilnya pas-pasan. Dan krn film2 seperti itu masih ada, berarti memang masih ada pasar.
Lost in Papua, sy blm nonton (krn udah males duluan hehe
benarkah?
ya ampuun *tetep ga tertarik*
anyway, entah suatu mukzizat atau apalah, saya tak diharuskan menonton film ini
coba deh, marketingnya heboh banget bilang kalo ini film bakalan beda (lirik trit tebus the movie), tapi dari posternya aja udah kelihatan NGGAK BANGEEEEEEEEEEEEETTT!!!
eMina: Unik, iyah karena lokasinya. Romantis, iyah romantis remaja padahal tokohnya yang udah tua. Penuh Misteri, iyah juga, selama film berlangsung saya mikir "Filmnya kok bisa ancur gini?" Misteri sekali bukan? Mencekam, ngacoo. yang ada saya tidur. -__-
Tahun lalu juga, saya sempet anti-film-lokal, pas tahun kemarin, nonton Sang Pencerah, jadi penasaran seberapa dekat sih perkembangan film indonesia.
aibii: Kan biayanya dah habis tuk ke Papua. hahaha. jadinya gak ada dana lagi tuk publikasinya. haha.
MAF: haha. kalau filmnya kayak gini sih, emang gak pantes ditonton.
Pertama : tulisan artikel utama diatas itu kutipan dari member filmoo yang merasa dirinya kritikus padahal ilmunya belum sampai, ditambah lagi dengan komentar kalian yg sangat belum mencapai standar untuk menilai sesuatu.. yang nulis soal kritikan itu aja nontonnya tidur, gimana mau ngasih penilaian yang obyektif? so, lebih baik diem dari pada ngomong ngelantur dan bikin nama kalian sendiri tercemar..
Kedua : apakah kalian nonton dengan seksama film ini atau nggak? dan cobalah bandingkan dengan film2 genre horsex yang berseliweran sekarang. lebih baik mana?
Ketiga : film ini bukan untuk kalangan seperti kalian semua yang merasa dirinya sok pinter kok? ini buat penonton Indonesia yang punya karakter sederhana dan menerima pembaharuan. ini untuk penonton Indonesia yang haus dengan tema-tema baru. apa kalian gak berfikir? film jenis seperti ini baru pertama kali muncul Indonesia.
Keempat : Dari tulisan-tulisan kalian, maaf kalau boleh saya nilai masih terlalu cetek untuk memahami film bermutu atau tidak.
Kelima : saya akan kasih komen utk semuanya ;
Taruma : so, grow up lah.. jangan banyak dirumah terus, sampai gumawanya dibawa kemana-mana.. buktikan kalau kamu memang bisa lebih baik daripada yang kamu nilai..
Cadas13 : Mereka yang membuat Lost in Papua ini adalah pionir film Indonesia yang bisa memicu film sejenisnya lebih baik, terlebih dalam kearifan lokalnya..
eMina : Besok-besok kalau ke bioskop jangan lupa bawa bantal sama guling aja ya..
aibii : sebaiknya kamu belajar sedikit lah tentang produksi film kaya gimana? biar jangan suzon aja bawaannya..
MAF : Jangan dengerin suara sumbang yang melihat sisi buruknya aja dari sesuatu.. coba belajar menentukan pilihan dalam mengambil keputusan.
So, apa kalian mau.. bioskop Indonesia hanya di isi film jenis horsex (horor-sex) aja.. kalau iya, apa kalian sadar bahwa buruknya film indonesia salah satu penyebabnya adalah karena ulah kalian sendiri.. apa jadinya film Indonesia bila orang-orang seperti kalian ini benar-benar memiliki peran di Industri perfilman Indonesia?...
Sorry guys, ini pendapat gue pribadi tanpa tendensi apapun, supaya perfilman Indonesia lebih baik aja.
btw banyak yg kecewa sama film ini. kalau emang film jelek untuk apa ditutup-tutupi biarpun ngambil papua kek apa kek.
tau gak, menurut gue aac dan laskar pelangi yang dipuja-puja tuh payah.
gue suka sama mereka bilang saya monyet, minggu pagi di victoria park, pasir berbisik, heart-break,.com karena filmnya memang berkualitas. nggak komersil deh
dan sudzon, wew, ini kenyataan, ngapain gue berburuk sangka kalo emang udah buruk. kalo bisa ya, udah tau bikin film tuh susah ngapain bikin film yang jelek? btw kakak ini siapa ya, kalo sesama penonton biasa aja deh. kalo gak suka sama komentar ya bilang aja gak setuju. gak usah sok ngejudge kek gitu. oh pelis.
Taruma mungkin lain kali jangan tidur juga ya. liatin aja sampe abis trus bikin kata tidur jadi pengen muntah or mencret haha
tapi film-film yang lo sebutin emang yang lebi bagus. Setuju!
dan posternya MEMANG JELEK BANGET. mungkin poster terjelek tahun ini. apa coba mukanya fanny fabriana? ga banget. kaya poster film indonesia jaman 80-90 yang main eva arnaz .
ini salah satu masalah eksternal film indonesia nih. poster film yang buruk. Hari Untuk Amanda juga jelek, kaya sinetron. banyaklah. sedikit menemukan poster film indonesia yang bagus, satu diantara seribu mungkin. itupun kalau ga nyontek kaya film BCL yang mana gituu nyontek film Ditto
1. Yang perlu dijelaskan, saya menonton film ini dari awal sampai akhir. tertidur? menutup mata iyah, tapi saya masih mendengarkannya. dan tertidur paling cuman beberapa menit. gak sampai awal sampai akhir, lagipula tujuan saya ke bioskop yah nonton, bukan tidur (dapet studio yang jelek lagi, tidur pun gak nyaman. haha). pemilihan kata tidur adalah menunjukkan seberapa bosannya film ini. lagipula, bagaimana saya bisa tidur, mendengar ketawa bocah-bocah setiap mendengar aksen orang papua. anda tidak disana bersama saya, anda tidak tahu situasinya, anda tidak tahu seberapa lama saya tertidur, anda tidak tahu maksud "tidur" saya. Mengutip, komentar anda : "lebih baik diem dari pada ngomong ngelantur dan bikin nama kalian sendiri tercemar."
2. Sejak awal, saya tidak pernah membandingkan film ini dengan film apapun. saya menilai dengan standar saya sendiri. seperti yang pernah saya bilang di http://goo.gl/pkSxr .
3. Terus kenapa dibukakan untuk umum? kalau untuk orang-orang tertentu, kenapa tidak ditayangkan di film festival? atau buat undangan untuk menonton film ini. atau suruh krunya saja yang menonton.
4. Ternyata selain "Raja" Seni, anda juga "Raja" Kritik.
5. Saya melakukan lebih baik dengan tidak mengomentari kritikan orang lain dan tidak memojokan pribadi seseorang.
kalau gak suka dengan tulisan saya, yah bilang kesaya, gak suka dengan tulisan saya (kalau perlu laporkan ke Moderator). Paparkan pendapat anda tentang film ini bahwa film ini baru di industri film indonesia, atau apalah.. yang intinya anda membela film ini bukan memojokkan subjek atau sampai melibatkan komentator di tulisan saya. Kalau anda tidak suka, ada tombol "JEBLOK" (-1).
Ini bukan masalah ilmu, ini masalah TASTE. Ini masalah rasa telinga, mata, pikiran saya. Kalau anda ada masalah dengan taste saya? GFYS
aibii: tidur? penjelasannya ada diatas.
itsmaudy: Saya sih, suka Denias, Senandung di atas Awan. Love it. Waktu dulu nonton, ampe menyentuh.
huaaam. sebenernya, saya sadar telah membuang-buang waktu nulis ginian. tapi, boleh lah. ini sih hiburan sekilas, paling orangnya juga dah menghilang. aduh nulis ginian membuat saya sampai mencret.
Taruma: setuju gak banget deh mojokin orang kek gitu. anyway, kayaknya nggak perlu kasih penjelasan tidur itu apa karena gue udah tau maksudnya dan udah gue tulis diatas
"emang sih kak taruma tidur dan itu seenggaknya menandakan kalo film ini tuh ngebosenin"
itsmaudy: makasih sudah setuju. wah, baru tau kalo SBY nangis. coba suruh nonton film KKD atau Nayato. pengen tau gimana efeknya haha LOL
Jadi kepengen nonton Denias lagi nih. tapi, saya gak pernah lihat dvd orinya ditempat jual film.
hmmm. gimana yah? saya bukan tipikal orang yang ngomong halus yang nyatanya buruk.
Kalau saya analogikan sih, sama halnya dengan pemerintah dan masyarakat. Bikin pemerintahan tuh gak gampang, terus masih ada rakyat yang seenak jidat ngomong "tinggal gini-gitu", "berantas korupsi" (padahal tidak ada kontribusi nyata). Nyatanya, komentar seperti itulah yang membuat orang sadar dan membuat negara tersebut makin maju (terlepas seberapa jauhnya). Saya sih, fine-fine ajah dengan komentar tersebut, karena mereka bebas berbicara asalkan tidak melakukan tindakan merugikan orang lain (kriminal).
Kenyataannya, memang menyakitkan melihat/membaca/mendengar ulasan negatif terhadap karya yang kita buat (saya juga pernah merasakannya). tapi bukan berarti kita membuat orang tersebut untuk menutup mulutnya agar tidak "merusak" karya kita yang telah susah dibuat. Mereka tidak mengenal (bahkan tak peduli) bagaimana karya tersebut dibuat. Kalau karya seni tersebut dibuat untuk umum dan membuat orang lain "membayar" untuk menikmatinya. Anda berhak memberikan pendapat sesuai selera anda. Mau dipuji/dikritik. Lagipula, rasanya beda menilai karya yang diberi cuma-cuma, mungkin ini juga alasan ada press screening.
Sesuatu yang maju karena dikritik, bukan karena dipuji. Urusan kritikan pedas atau tidak, itu tergantung individunya tersendiri. Pribadi, karena ini karya yang saya harus bayar untuk menikmatinya, saya rasa kritikan pedas adalah yang cocok. saya gak pernah review dari Bajakan untuk karya indonesia (saya sangat anti-bajakan untuk karya indonesia tersendiri, saya kalau denger lagu indo kalau gak beli CDnya yah nonton di acara TV. Termasuk film juga, yah saya nunggu di TV ajah, kalau gak nonton di Bioskop atau gak beli dvdnya. Saya gak pernah download karya lokal berbayar). Jadi, film lokal yang saya review, bukan saja saya merelakan diri untuk menontonnya, tapi menyisihkan uang untuk menontonnya. Dan mereka yang membuat karya yang buruk, sama juga tidak memberikan apresiasi terhadap kami yang sudah menanti karya yang baik atau minimal bisa menghibur.
saya SADAR dengan tulisan saya kok, tulisan saya memang pedas. dan saya lupa bagian penting dari tulisan saya yaitu permohonan maaf bagi ada yang tersinggung. dan saya juga tahu betul bakal ada komentar seperti "Raja" Seni.
knp hrs minta maaf segala?! bukannya udah terjelaskan di paragraf2 sebelumnya:
"Sesuatu yang maju karena dikritik, bukan karena dipuji. Urusan kritikan pedas atau tidak, itu tergantung individunya tersendiri. Pribadi, karena ini karya yang saya harus bayar untuk menikmatinya, saya rasa kritikan pedas adalah yang cocok. saya gak pernah review dari Bajakan untuk karya indonesia (saya sangat anti-bajakan untuk karya indonesia tersendiri, saya kalau denger lagu indo kalau gak beli CDnya yah nonton di acara TV. Termasuk film juga, yah saya nunggu di TV ajah, kalau gak nonton di Bioskop atau gak beli dvdnya. Saya gak pernah download karya lokal berbayar). Jadi, film lokal yang saya review, bukan saja saya merelakan diri untuk menontonnya, tapi menyisihkan uang untuk menontonnya. Dan mereka yang membuat karya yang buruk, sama juga tidak memberikan apresiasi terhadap kami yang sudah menanti karya yang baik atau minimal bisa menghibur."
Hey.. sayangilah energi kalian untuk yang lebih baik, jangan dibuang percuma memikirkan kekurangan film Indonesia yang ada sekarang. Saat kita saling bergulat dengan pendapat masing-masing yang sudah jelas juntrungannya kosong, macam orang seperti Taruma dan Tendangan Tanpa Bayangan. Di luar sana, di tetangga kita tepatnya di Malaysia! sudah jauh lebih maju daripada Indonesia.. coba tengoklah sejenak di mbah goggle "Hikayat Merong Mahawangsa" karya negeri jiran itu.. harus diakui memang lebih better dari pada kita..
Tanyakan pada diri kalian sendiri? kemana para creator-creator Indonesia.. !! yang sudah saatnya menunjukkan tajinya dan berlomba-lomba menunjukkan karya di permukaan.. Salah besar bila kalian menilai film seperti Lost In Papua diangggap "membosankan dan menggelikan"!!. siapa yang menulis itu dan menempatkannya pada headline seperti diatas bagi saya orang itu perlu di sentil dengan cipratan keringat para kru Lost In Papua..
Ingat! saya disini berusaha menempatkan diri sewajarnya, sebagai orang yang peduli dengan nilai-nilai dan usaha keras di perfilman.
Sadarkah kalian bahwa semiotika dibalik tulisan kalian ini menjelaskan siapa diri kalian sebenarnya yang justru menjelaskan kualitas arogansi dan yang merasa diri paling benar. Kalau boleh saya tantang! Tunjukkanlah siapa diri kalian sebagai creator!! buatlah karya yang lebih baik dari yang terbaik!.. Jangan hanya OMONG BESAR!!
Saya harap tulisan ini bisa menyeimbangkan sesuatu yang telah sengaja dimiringkan.
Bravo! Perfilman Indonesia
at least, kenapa dinilai hanya dari film lost in papua, kemana saja anda dengan film indonesia lain? rasanya anda salah jika menyebut kami hanya omong besar. setidaknya kami tau apa yang kami bicarakan. bukan hanya melihat selintas lalu tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.
dan kenapa harus berkiblat pada negara tetangga kalo kita bisa lebih dari itu? rasanya sayang mendebetkan hal untuk film ini toh masih banyak PR untuk film lain. kalo boleh, silahkan anda review film ini menurut anda dan posting di BF. kita ingin tau seperti apa film ini di pikiran anda. terima kasih
Saya juga kalau buat karya seni, tentunya saya juga mau dihargain. tapi, bukan berarti saya tidak mau mendengarkan kritikan pedas. kritikan itu membangun dan kritikan itu bentuk kepedulian. banyak orang yang tidak mau mengkritik karena tidak peduli, bukan tidak ada yang bisa dikritik. dan saya rasa, untuk sutradara atau pihak sana, sudah dewasa untuk menerima kritikan saya. malah waktu saya membagikan karya saya dan tidak ada yang mengkritik, meskipun terlihat di statistik banyak yang melihatnya, saya lebih sedih.
Lagipula, persentase pengaruh tulisan saya paling gak kerasa sama pihak sana.
kan saya sudah melihat film ini dari berbagai aspek, cerita, naskah, video, audio. kalau aspek yang anda maksud seperti nasionalis, kasihan, atau apalah. Dengan maaf, itu bukan aspek yang saya nilai.
Rasa kasihan malah membuat sang pencipta karya seni merasa tidak dihargai loh. tidak dinilai dengan aspek yang sepatutnya digunakan. Dan sekarang anda menyuruh saya untuk memberikan kasihan untuk seniman itu? pribadi, saya lebih suka dikritik pedas daripada tidak dikritik sama sekali.
Gak percaya? buktinya, saya senang ada yang mau menghabiskan waktu untuk membaca tulisan gak penting saya dan meninggalkan komentarnya. terlepas dari komentar negatif atau positif. setidaknya, dia telah membaca karya saya.
Dan tidak lupa saya berterima kasih terhadap komentator disini.
Tendangan Tanpa Bayang: hahaha. sebenarnya, itu teknik sosial saya. beri kata maaf duluan.
aibii: setuju.
Raja Seni: Eh muncul ternyata.
sejauh ini, saya bukan creator film, tapi creator musik. anda bisa mendengarkan musik saya di www.last.fm/music/Straspire dan anda bebas menghina, memaki lagu saya.
Yang bilang "membosankan dan menggelikan" adalah saya, bukan orang lain. jangan gunakan kata "kalian" untuk hal itu.
Untuk sekian kali, anda jangan bawa-bawa orang lain hanya karena tulisan saya.
Yah intinya, anda tidak mau ada yang bilang bahwa film ini jelek kan, dan inginnya dipuji bukan? kalau iyah, anda dipersilahkan untuk tidak membaca tulisan yang dibuat oleh saya "tarumainfo" untuk seterusnya. sampai sekarang, saya tidak mau mengubah sedikitpun dari tulisan saya. jikapun harus, saya serahkan kepada moderator bicarafilm.
saya masih bertanya-tanya, siapa anda?
Huahh. gak bisa tidur ini... hahha, jadi memantau komentar disini ajah.
karena kalian terlalu berlebihan dan tidak pada porsinya.. pola pikir kalian homogen dengan rasa yang statis. Bila kalian mengomentari film lainnya secara berlebihan, saya pun akan bersikap sama.
aibi: dan kenapa harus berkiblat pada negara tetangga kalo kita bisa lebih dari itu?
bukan berkiblat! liat lagi dong tulisannya.. coba tengok sejenak!, disini saya tak melihat usaha anda untuk berpikir dulu sebelum menulis sesuatu..
soal review, sudah saya beri 2nd review..
"MUNGKIN SAJA MALAH KARYA SAYA KEDEPANNYA MALAH AKAN SEMAKIN TERTANTANG UNTUK LEBIH BAGUS AKIBAT REVIEW REVIEW SADIS KAN ?
JADI SILAHKAN SAJA MEREVIEW DENGAN SENANG HATI SAYA AKAN MEMBACANYA
APALAGI KAN SAYA JUGA KAN SEORANG VIVIDSM YANG SUKA DENGAN SESUATU SARKASM DAN TEKANAN YANG BISA DIBUAT MENJADI SEBUAH KENIKMATAN TIADA TARA"
look, orang sutradaranya aja gak ribetin hal itu. cinta sih cinta tapi kalo film nya kemungkinan jelek, bagian mana yg mesti dicintai. rasanya tujuan disini tuh untuk memberikan kritik secara jujur terlepas dari esensi esensi yang hanya dimengerti pihak tertentu. jadi kritikus gak harus orang yang mengerti dunia film kan? jadi bebas dong kalo si A mau gini, si B mau gini asal masih bisa dipertanggung jawabkan dan nggak asal ngebuat. toh, nantinya yang menentukan pilihan adalah orang yang menonton.
rasanya kalo lost in papua memang buruk, masih ada opera jawa, denias, tanah air beta yang bisa dibanggakan.
FYI, ini saya tulis dengan tidak berpikir lho
kenapa harus berkata seperti ini? karena konteks sejak awal yg mengomentari hanya gue dan taruma jadi nggak salah kalau merasa seperti tersangka yang diadili karena mengeluarkan pendapat. rasanya sebagai orang yang sudah berhasil masuk dunia film, i mean you, nggak perlu berpendapat dengan emosi seperti itu kakak. harusnya bisa lebih menghargai perbedaan pendapat.
karena dari awal hanya ada beda pendapat antar dua kubu saja. kubu yg berkomentar sebagai penonton awam dan kubu yang sepertinya sudah lumayan tau. toh, kita ngebacot kayak gini gak bakalan ada apa-apa.
terlalu malas melanjutkan berkomentar jika sudah di judge salah. lebih baik diam dan menjadi penonton yang bodoh. yang mau-maunya diterror tontonan sampah tanpa bisa berteriak lantang *belum termasuk film ini karena belum nonton tapi film sebelum film2 ini yang you know how*
Salam kak Taruma, sy pengikut baru kakak, biasanya cuma numpang baca2 tulisan kakak tanpa ninggalin jejak. Tapi yg ini seru, minta izin untuk berkomentar kak... permisi...
buat poin ah biar seru:
1. gw bukan orang hebat kaya kakak2 di atas semua. gw cuma hobi nonton film, n karenanya suka bikin film2 pendek dengan budget super-rendah (30rb, mini dv + gorengan)
2. film2 gw (yg) dulu selalu gw buat dengan keringat darah, tapi hasilnya kaya tai. orang ga peduli seberapa berdarah2nya gw pas buat itu film. Yg orang tau filmna tai ya disebut tai. Bukan disebut "tai berdarah", atau "tai yg dibuat dengan darah".
3. gw punya sahabat2 sehobi. Mereka selalu mengkritik film gw. Pedes banget, persis kaya kak Taruma. Karena mereka sahabat sehobi gw, bukan Nyokap gw (yg selalu blg "iya2" dan "bagus2").
4. lalu pedesnya itu nempel terus di otak gw, yg selalu kebayang pas gw kembali bikin film lg. Dan gw membuat film yg lebih baik. Dari waktu ke waktu terus membaik. Dan itu berkat sahabat2 gw, bukan berkat "bagus2"-nya Nyokap gw.
5. Dan kini mereka tetap menjadi sahabat2 gw. Yg terbaik dan selamanya.
peace kaka, cuma numpang lewat ^_^v
salam juga. wah jangan cuman baca doang. lempar komentarnya (mau negatif atau positif). dipersilahkan untuk berkomentar. #halah
Pengalamannya bisa diadaptasi jadi film pendek loh.
Ada ikhwal kebebasan berkarya dan keterbukaan respon. Dalam hal ini, tentu saja siapapun berhak untuk membikin film. Dengan ekspektasi bhw filmnya akan ditonton oleh publik, maka ia harus bersiap pula terhadap semua respon, apapun variannya (kritik, review, resensi, bahkan caci-maki). Kita ada dalam pusaran yang masih sangat dangkal soal ini. Seolah-olah masalah perfilman nasional bisa diatasi sekadar oleh jiwa-jiwa (sok) nasionalis dan harus bilang bahwa semuanya baik-baik saja.
Ifa Isfansyah, sutradara, pernah bilang bahwa filmmakers yang gak doyan kritik, maka karya2nya hanya akan jalan di tempat. Ifa seorang sutradara dan dia sadar betul akan hal itu. Sekecil apapun forum apresiasinya, dan berbentuk apapun respon terhadap film2nya. Coba cek: http://komunitasfilm.org/?p=31
Setidaknya itu menegaskan bahwa kebebasan berkarya berbanding lurus dengan keterbukaan publik untuk meresponnya. Itulah yang fair. Namun itu tentu masih kurang. Ada hal yang lebih besar lagi daripada sekadar "sadar produksi".
Saya pernah menulis di blog, mengenai film Kala. Saya sangat kecewa (luar-dalam) terhadap film itu. Kurang-lebih saya menulis bahwa Kala adalah sebuah film anti-mitos yang malah terjebak pada mitos. Bahasa saya lebih kasar daripada tulisan Taruma di atas. Di akhir tulisan saya bahkan menyebut sutradaranya sebagai Joko Pagayo. Kekasaran bahasa saya juga dilandasi oleh satu kekecewaan yang lain. Penonton juga butuh effort untuk bisa menonton sebuah film. Kalau Taruma bilang, ia selalu nonton dari DVD Ori dan bukan yg bajakan. Ada usaha dr penonton bukan?! Untuk menonton Kala, waktu itu saya musti nunggu 3 bulan. Akhirnya saya berhasil nonton saat ada festival film di Jogja waktu itu. Dan kekecewaan luar-dalam itu saya tumpahkan dalam tulisan di blog.
Selang beberapa hari, tiba-tiba saya di-add Facebook oleh Joko, sang sutradara, dibarengi dengan message bahwa dia baca tulisan (caci-maki) saya di blog ttg Kala. Dia marah kah? Hahahaha.. tidak! Justru dia bilang appriciate dengan caci-maki saya. Dia bilang beberapa hal dan diakhiri dengan great job.. bla.. bla.. bla.. Bayangkan, dia membaca caci-maki filmnya di blog dan dia mencari saya di Facebook, hanya utk bilang appreciate pd saya!
Setelah membaca message dia, saya tiba-tiba sadar bhw seorang sutradara atau kreator tidak boleh melulu berpikir ttg produksi an sich. Seorang kreator harus memiliki mindset yang jauh-jauh lebih besar daripada "sekadar" produksi. Ia harus berpikir pula bahwa film adalah bagian dari sebuah strategi kebudayaan yang bersifat kompleks, sosial politik. Dalam hal ini ia mulai dari satu hal kecil, yakni: membalas respon penonton. Karena ada kesadaran bahwa penonton (siapapun ia) juga harus diberi ruang. Penonton adalah juga bagian dari strategi kebudayaan tadi.
Damn! Guys, saya pikir kita butuh sutradara gila dan anjing dengan mindset macam Joko, bukan orang-orang cengeng yang cuma bisa nangis macam SBY presiden kalian itu. Jadi, ini bukan soal pertentangan antara filmmaker vs penonton. Kerdil banget kayak FPI kalo kita berpikir seperti itu.
Maka saya bilang perdebatan di sini sbnrnya adalah hal yang sangat sepele. Sangat kancut juga kalo ada istilah penonton goblok. Penonton tau kok bahwa bikin film itu susah, tapi kan bukan di situ esensi perdebatannya. Sutradara, produser dan kreator juga tau bhw penonton sedang diajak gambling, main judi: beli tiket, masuk, nonton, tanpa ada jaminan bahwa film yang ditonton itu asyik atau sampah.
Dan plis, kita udah nggak jamannya berdebat gak bermutu soal itu. Ribut2nya kalian cuma mengganggu latihan kungfu-ku aja. Kancut!
PS:
Taruma: Terus nulis! Biarkan anjing menggonggong.
dienan_silmy: Ahh kamyuuu.. Plis deh
aibii: Ditunggu tulisan2 yg lain. Jangan sok halus. Sadis aja sekalian.
Raja Seni: Tuh jemurannya diangkatin dulu, mbak.
tapi bener istilah penonton film nasional yg goblok menurut gw ada, itu yang buat film nasional gak berkembang !
Buat Bang Raja Seni: saya agak tergelitik:
Sejak kapan seseorang harus jadi "kritikus film" dulu baru boleh menilai sebuah film? Saya rasa penilaian sebuah film itu hak masing-masing penonton, Om. Alangkah sempitnya pemikiran kalau cuma "pakar film," "ahli film," atau "kritikus film" yang boleh bilang suatu film itu "bagus" atau "nggak." Saya benci pemikiran seperti ini.
Lagi-lagi, apapun sasaran filmnya (mau kaum cendikiawan, pelajar, atau sekedar masyarakat jelata kek), penilaian film itu balik lagi ke konsumennya (atau sasarannya). Konsumennya yang menghabiskan waktu buat nonton, ya hak dia dong mau merasa bagaimana. Kalau memang si penonton merasa jelek, masa sih gak boleh dibilang jelek?
Ibaratnya, dengan analogi yang paling sederhana, kalau makan di restoran bintang lima dengan koki bintang lima pula, tapi merasa gak enak, enek, dan mual-mual. Apa konsumen masih harus bilang produk itu top abis? Lah kalau memang si penonton ketiduran pas nonton? Masih haruskah dia bilang filmnya keren banget?
Penilaian obyektif? Bahkan kritikus film kelas kakap sekalipun tidak mugnkin bisa 100% obyektif. Itulah yang membedakan antara kritik dari majalah yang satu, dengan media yang lainnya. Bandingkan kritik film dari Hollywood Reporter, Chicago Sun-Times, Variety, dan lain-lain terhadap suatu film -- gak selalu sama (yang satu bisa bilang bagus, yang satu bisa bilang jelek). Kriitk film itu sendiri tergantung pada selera si pengkritik, persepsi si pengkritik, dan dari sudut mana si pengkritik itu melihat suatu film.
Ya, memang ada perbedaan jelas antara "kritik berkualitas" dengan sekedar "tanggapan penonton awam," tapi bukan berarti tanggapan penonton awam bisa disepelekan begitu saja.
Dan kalau memang Anda orang yang sudah paham betul soal film, kenapa harus membandingkan Lost in Papua dengan horor seks? Dari sudut pandang artistik mana dua film itu bisa dengan "lekat" dibandingkan? Dari nilai komersialnya? Dari sisi kontroversifnya? Atau cuma sekedar perbandingan karena horseks itu cuma "menyampahi bioskop" sedangkan ini dianggap "tidak menyampahi bioskop"? Kalau mau bikin perbandingan, bikin yang lebih transparan dong.
Sejauh yang saya tahu, kritik film di Indonesia sekarang ini masih bertopang pada kritik sastra. Mayoritas yang dikiritk lebih dititikkan pada argumen, muatan, atau konteks di dalam filmnya ketimbang sisi teknisnya. Kalaupun membahas gaya (minimalis, neorealis, atau apalah), biasanya dikorelasikan kembali ke konteksnya. Silahkan baca kritik-kritiknya Roger Ebert, A.O. Scott, atau Eric Sasono. Eh, lancangnya saya, Anda pasti sudah sering membaca kan?
Kalau disuruh bikin film, banyak kendalanya, Pak. Selain usia, ya koneksi, ya dana (umur segini mau cari sungai duit -- sponsor -- di mana coba). Mau mintak duit emak-bapak dengan alasan "bikin film"?? Mau nabung, kapan bisa kekumpulnya (kapake mulu pula untuk kepentingan edukasi yang insidentil)???
Pada akhiranya saya cuma bisa jadi penonton awam yang bisanya cuma mengapresiasi dengan cara saya sendiri, entah di bicarafilm atau di blog pribadi. Terserah mau dianggap amatiran, bau kencur, atau apalah. Ya, pada akhirnya, cuma jadi tukang kritik yang nggak bisa bikin film.
PERTANYAANNYA: Apakah konsumen harus bisa masak selevel koki bintang lima dulu untuk bilang makanan di sebuah restoran bintang lima itu gak enak?
Saya disini cuma gak setuju kalau "penonton awam yang gak punya ilmu" dilarang mengomentari film yang ditonton (seamatiran dan seawam apapun bentuk komentar itu). Kalau emang gak mau dikomentari penonton awam, gak usah pajang film di bioskop dong. Bikin film intelektual sendiri, tayangkan di forum tertentu, di festival berkelas, di kelas-kelas film, di universitas, di depan para pakar dan praktisi -- biar jadi bahan kajian.
Dan tolong jangan cuma dijawab sbg "penonton yang tdk mendukung perfilman nasional". Krn itu tidak menjelaskan sama sekali.
Kedua, bagaimana kita bisa memahami bahwa "Ngomong" dan "Menulis" itu adalah juga bentuk action. Posisinya sama dengan sutradara bikin film, talent berakting, webmaster mengelola web, dll.
Komen-mu "daripada ngomong mending melakukan perubahan" itu hal yg sangat aneh, kalo itu ditujukan ke forum ini, di website ini. Ngomong adalah salah1 bentuk komunikasi. Tanpa adanya komunikasi dan NGOMONG dgn kru-mu, film2 yg km produksi cuma jadi sampah. Be wise, youngman.
kalo soal jawaban nya simpel kak : ada pepatah tuntut lah ilmu hingga ke negri cina so pasti kalo mau tau rasa restoran bintang lima itu gak mesti jadi koki lah, cuma seenggak nya doi punya banyak cara untuk tau rasa makanan itu, biar gak asal sebut rasa nya enak atau gak
Hahahahaaaa... ini lucu. ini lucu. hahahaha.. COOL.
[....
kalo soal jawaban nya simpel kak : ada pepatah tuntut lah ilmu hingga ke negri cina so pasti kalo mau tau rasa restoran bintang lima itu gak mesti jadi koki lah, cuma seenggak nya doi punya banyak cara untuk tau rasa makanan itu, biar gak asal sebut rasa nya enak atau gak : )....]
Dalam konteks konsumen awam, bukan kritikus makanan. Andaikata, saya yang sama sekali gak bisa masak ini diundang teman makan ke restoran bintang lima. Disajikan makanan. Saya makan sesuap -- dua suap. Dan nggak enak, enek malah. Saya berhenti makan. Teman saya bertanya kenapa? Apakah termasuk "ASAL SEBUT" kalau saya bilang GAK ENAK?
Sejauh yang saya tahu, satu-satunya cara untuk tahu makanan itu enak-atau enggak ya dengan dimakan. Kritikus boga pun harus makan dulu untuk tahu makanan itu enak atau enggak.
Mungkin pertanyaan yang lebih esensial:
Karena sejauh yang saya tahu, nggak semua penonton itu duduk di bioskop dengan kepala setangkas kritikus film. Mereka cuma mencoba menikmati apa yang ditonton -- dan selera tiap kepala ya beda. Bagaimana membedakan "penotonton awam" yang asal sebut jelek/bagus dengan "penonton awam" yang nggak asal sebut jelek/bagus? Adakah patokan-patokan khususnya?
Eh, btw, kl definisimu spt itu, berarti @Raja Seni termasuk dong ya? Kan kata Taruma ini film jelek. Hahaha.. Duhhh, sori.
Soal Ngomong dan Action, mohon dibaca lagi yg aku maksudkan. Blm konteks. Sori.
Ajak Rijon juga tuh.
ada acara pengen ketemu kak brad pitt aja nih kak yuk ah kak Rijon juga weekend ini gw di solo malem mingguan bareng aja makan sate pantat ayam nya biar pas
anyway rata-rata yang komen masih umur belasan ya. lihat loh, banyak SDM yang harusnya bisa berbuat tapi terbentur masalah dana.
aku udah bikin 3 skenario film pendek tapi karena aku nggak punya uang untuk memproduksi terpaksa jadi cerpen dan dimuat. lumayan 300 ribu
sama ini: http://gedungkese…paul-agusta/
banyak yg komen awalnya klise tapi twistnya lumayan ngena lah. haha
komen-komen yah kalo mau
http://www.youtub…=32d-I-Nc8Ss
Ketiduran sih. -__- hahaha.
yahh, sama halnya dengan ini, definisi penonton goblok selalu ada, karena yang buat definisi tersebut adalah orang yang lebih goblok. wajar.
dienan_silmy: saya jadi tertarik dengan definisi penonton goblok menurut anda. bisa tolong dibuat tulisannya disini.
Tendangan Tanpa Bayang: Gak melelahkan kok. bagi saya, menyenangkan.
kan saya dah bilang, makin banyak komen, makin asik lihatnya. #bloggerbanget. apalagi secara tidak langsung menambah traffic ke bicarafilm.
Rijon: good posting!
----
Iseng..
Berikut kutipan dari film "Biloxi Blues" (1998) :
"People believe whatever they read. Something magical happens once it's put down on paper. They figure no one would go to the trouble of writing it down if it wasn't the truth. Responsibility was my new watchword. " ~ Eugene Morris Jerome
1. Tolong buat tulisan di bicarafilm yang menjelaskan penonton yang goblok. Kenapa? Karena anda mengeluarkan kata tersebut di tempat umum. dan selayaknya anda bertanggung jawab atas ucapan anda. Apakah Anda mau menuliskan opini Anda tentang penonton goblok di bicarafilm agar lebih jelas?
2. Anda sadar tidak? Bahwa Anda di dunia maya. Masalah yang anda buat (mengatakan penonton goblok secara langsung atau tidak langsung) harus dipertanggung jawabkan. Saya harus memperjelas kesalahan Anda.
"... lah kalo penonton yang goblok pasti akan melihat film dari segi lain yang mungkin hanya 5% dari esensi film itu sendiri ..." [ http://bicarafilm…comment-8978 ]
"... tapi film nasional yang punya pengikut penonton goblok ! tidak menginvertasi film Lost In Papua nya ko ! " [ http://bicarafilm…comment-9012 ]
Apakah Anda mau mengklarifikasi siapa yang anda maksud goblok?
3. Apakah selama ini Anda mengatakan goblok ke saya dan/atau individual yang lain?
4. Apakah anda merasa bersalah?
Silakan dijawab pertanyaan diatas.
Taruma : ini orang bener2 goblok nih, di atas kan udeh gw jelasin maksud dari penonton goblok film nasional itu apa.terus ngapain gw suruh buat artikel soal penonton goblok di forum ini ? kan udah saya jelasin juga ! dari awal saya tidak mengdiskrip penonton goblok individu personal iyes, di atas juga sudah saya jelasin soal ini,daripada ribet mending minggu depan gw samperin lo deh biar lo jelas depan muka lo maksud penonton goblok biar lo gak goblok ( goblok di sini lo bukan termaksud bagian lo penonton goblok) ngerti kan perbedaan kata itu !
sabar-sabar lah bro dienan_silmy menghadapi orang-orang yang tak memiliki pondasi berfikir semacam dia. Ibarat utara - selatan sampai kapanpun juga dia gak dapat apa pointnya..
Saya ada sedikit uraian untuk tendangan tanpa bayangan dan rijon, karena bagi saya Taruma sudah cukup jelas. Ada pesan penting untuk kalian ; banyak-banyaklah bertemu dengan orang selain membaca buku.. kalian akan belajar ada banyak sudut pandang di muka bumi ini terlebih objeknya film. Pakai teori kualitatif atau kuantitatif dasar kalian belum kuat untuk menilai sesuatu. Bagi saya kalian menulis pun belum layak untuk dibaca oleh semua orang, terlebih dalam forum seperti ini.. saya juga masih remaja disini.. saya dari awal sudah jelaskan saya ini militan.. militansi kesenian... makanya saya berani menamakan diri saya Raja Seni. Cari saya di facebook "Raja Seni".
Begini, soal joko anwar yang dielu-elukan dan bangga telah di add oleh dia sebagai teman.. bagi saya itu eforia sesaat, seperti anak kecil yang dikasih permen. Apakah yang sudah jadi temennya joko Anwar itu tahu kalau Joko Anwar itu benci dengan generasi perfilman Indonesia eranya teguh karya dan sumandjaya.. hei!!!, kalau elo denger langsung darinya pastinya akan lebih sakit hati daripada gue.. so.. wake up lah... dia siapa emangnya? dia gak menghargai jerih payah pendahulu perfilman Indonesia.. coba nilailah sendiri!!!
okey..... disini gue gak berusaha menjadi oposisi tanpa dasar. disini kita sama-sama belajar. tak ada yang lebih pintar dan tak ada yang salah. gue ngajak kalian justru menilai sesuatu tanpa sebuah arogansi. karena apa? siapapun orang bisa melakukan itu. tapi bila kita menilai sesuatu dengan rendah hati, menurut saya itu sangatlah dibutuhkan untuk generasi sekarang.
lo pilih apa!!! Ada 3 pilihan disini. 1) Jadi kritikus tapi kesehariannya main kungfu yang sudah terbiasa dengan meluapkan emosi. 2) Jadi kritikus yang tidak terima dirinya di kritik, padahal itu justru membantunya melihat sesuatu lebih berdasar. 3) atau Jadi Kritikus yang berbudaya dan bermatabat.
Segitu dulu aja dari saya.. semoga bermanfaat..
Bravo! Perfilman Indonesia
Bagi gw, menilai film itu cuma butuh NALURI. Sejak kecil gw hobi nonton film dan dramaseri tv.
Gw menilai Truman Show itu bagus, dan Tersanjung 14 itu kacrut. Jauh sebelum gw mulai coba2 buat film sendiri.
Adik gw umur 9 tahun bilang Wall-e bagus, tanpa perlu dy jadi mahasiswa perfilman.
Dulu temen gw, di sebuah acara penjurian kecil2an club film, pernah nanya:
"bagaimana caranya memberi nilai pada poin best director?"
gw jawab:
"lo nonton filmnya, kalo lo merasa ga ada yg salah di film itu, berarti baik. Kalo lo merasa ga puas dengan film itu, berarti jelek. Klo lo sampe kebawa adegan2 yg ada sampe ikut nangis, ketawa, teriak, terharu, berarti dy director yg sangat keren"
dy nanya lagi:
"berarti subjektif banget dunk..."
gw:
"ya jelas, karena itu disebut 'penilaian', ya kan? Dan semua juri di sini benar, ga ada yg salah, berapapun nilai yg mereka berikan"
^_^v peace kakak
Tulisan di atas sudah menjelaskan orang seperti apa Anda. Dan rasanya saya tidak perlu lagi berpanjang lebar menulis argumen untuk orang "SEPERTI" Anda.
Siapa Anda bisa-bisa menjudge pantas atau tidaknya sebuah tulisan diposting di "forum seperti ini"? Apa posisi Anda sampai bisa-bisanya menitah pantas atau tidaknya sebuah tulisan dibaca di "forum seperti ini"? Anda admin bicarafilm?
Satu lagi:
[lo pilih apa!!! Ada 3 pilihan disini. 1) Jadi kritikus tapi kesehariannya main kungfu yang sudah terbiasa dengan meluapkan emosi. 2) Jadi kritikus yang tidak terima dirinya di kritik, padahal itu justru membantunya melihat sesuatu lebih berdasar. 3) atau Jadi Kritikus yang berbudaya dan bermatabat.]
Siapa bilang semua member yang ada di bicarafilm ini mau jadi kritikus? Atau merasa sudah seperti seorang kritikus? Coba tanya admin bicarafilm: "Apa forum bicarafilm ini forum untuk kritkus?"
Ini forum publik. Forum terbuka. Bukan forum "khusus" mahasiswa perfilman, pakar film, pekerja film, atau apalah.
Makanya pada saat signup di portal komunitas ini, kamu mendapat email dan ada tulisan:
Sampaikan pendapatmu, tularkan kebisaanmu, sebagai pembelajaran bagi semua. Hargai perbedaan pendapat, berfikir positif, bersama kita menjaga keragaman.
Jadi, mending kita berpikir positif yuk. Kalau ada pemikiran yang menurut kamu tidak tepat, silakan mengajukan argumen. Tidak perlu sampai menyinggung status atau identitas. Namanya kita sama-sama masih belajar.
Jadi yuk kita mulai dengan belajar berdiskusi dengan santun, meskipun tajam
@kniwe: kita ada disini karena kita peduli dengan perfilman, saya dari awal hanya ingin mengajak teman-teman disini marilah menilai sesuatu dengan dasar dan penuh kerendahan hati, bukan dengan arogansi. bicarafilm.com memang membicarakan soal film dan bukan yang lainnya. siapapun orangnya (dari balita sampai lansia) asalkan dia melihat film terus dibahas ya boleh-boleh saja. Tapi kalau nonton filmnya tidur ataupun belum nonton sama sekali, terus dia bahas soal film itu.. dimana isinya.. ada juga itu justru makin memperburuk film itu sendiri, malahan kalau dilihat dalam skala besar akan semakin menenggelamkan industri perfilman Indonesia.. Apa kata dunia???
Bravo! Perfilman Indonesia
Kalau memang itu tujuan Om. Jelas sekali cara yang dipakai salah. Apalagi sudah melebar ke sana kemari. Dari awal postingan saya sudah saya katakan, yang saya nggak suka dari argumen Om itu ya seakan-akan menyatakan "penonton awam yang nggak makan bangku sekolahan" itu nggak punya hak buat menilai film. Seakan-akan yang boleh menilai film (dan penilaiannya didengar) itu cuma kaum-kaum yang baca buku-buku tentang film, kaum-kaum yang duduk bangku di sekolah film, kaum-kaum yang pekerjaan sehari-harinya berkutat di seputar film, dan semacamnya. Di awal itu ketidaksetujuan yang saya tegaskan (SAYA LO, GAK USAH BAWA-BAWA MEMBER LAIN).
Nah, nggak semua member di bicara film ini orang yang punya ilmu selevel dengan Eric Sasono, misalnya. Ini forum terbuka. Forum publik. Orang gak lulus SD asal bisa buka Mozilla Firefox di internet pun boleh daftar di sini, dan bilang film ini JELEK. Dengan catatan, sudah nonton biar gak asal ngomong.
Gak semua member di bicarafilm ini menggantungkan hidupnya pada film, Om. Gak semua member di bicarafilm ini nonton buat kepentingan idealisme dan tetek bengek lainnya, Om. Dan gak semua member di bicarafilm ini makan bangku sekolahan film. Ini forum umum, Om. Ada juga member yang cuma sekedar posting buat curhatan atas film yang baru dia tonton. Bukan buat tetek-bengek intelektual semacamnya.
Dan sejak kapan penonton awam harus "belajar sedikit lah tentang produksi film" biar boleh bilang film yang ditonton itu bagus atau enggak? Penialain itu hak masing-masing penonton.
Sekian dan terima kasih. (Aku yakin yang feedbacknya entar gak nyambung sama feedbackku, pasti bahas soal idealisme-idealismenya dia).
Imut.
mungkin setelah kena nuklir namanya CABE-HULK.
hiyah, premis baru untuk film action superhero asli indonesia. tapi jangan pake hulk deh. ntar dikira jiplak. cukup sinetron aja yang jiplak. film jangan Taruma:
notes : Jangan sebut diri anda orang awam jika di kepala anda sudah terkontaminasi sesuatu hal.
Bravo! Perfilman Indonesia
cuma satu moto yang selama ini gue pegang teguh: BAGAIMANAPUN BENTUKNYA, GUE CINTA FILM INDONESIA. KARENA KALO BUKAN KITA, SIAPA COBA?
Saya membantah komentar Om dari sudut pandang umum. Atau boleh juga dibilang, penonton awam yang saya maksud ya penonton awam umum.
Masalahnya "awam" yang Om maksud di sini "awam" yang seperti apa? Bapak saya dokter bedaj. Saya tahu istilah-istilah kecil seputar dokter bedah, walau saya masih jauh dari kedokteran. Tapi bukan berarti saya sudah bisa dibilang pakar tentang bedah kan, saya masih awam. Nah, apa sekedar penonton yang tahu istilah-istilah kecil seputar film itu sudah bisa dibilang "bukan penonton awam."
Saya cuma protes karena seakan-akan komentar Om Raja Seni ya seolah-olah mendeskriditkan hak menilai penonton awam.
Boleh diperjelas maksud "awam" yang diyakini Om Raja Seni:
aibii: hmmm.. kalau di luar ada "Cicak-man". mungkin kita bisa buat cerita "Cabe-man"! Haahahaha.
Jarangkan superhero dari buah-buahan? Jeruk-man? Semangka-man? Ceritanya gampang, seseorang telah memakan buah yang terkena radiasi nuklir dan dia berubah menjadi superhero.
Rijon: Wahh. bakal jarang lihat miyabi lagi dongg.. hahaha.
Kak Rijon : yuk kak terserah di mana aja, sambil mau nyobain bis tingkat wisata dan kereta wisata baru di solo
Lucu ya, ga merasa bersalah dan ga mau ngalah. Padahal kak Taruma udah santai dan bersikap lunak. Maksudnya kasih napas untuk menghilangkan ketegangan.
Tapi "Raja Seniman" dan "Wakilnya" tetep bersikeras, seakan2 ga mau berhenti sebelum kak Taruma dipenjara 20 tahun karena tulisannya.
Bener2 terlihat jelas siapa yg bisa bersikap dewasa, dan siapa yg bocah.
SEMANGAT KAKAK!!!
Salam ke suhu2 di atas..
Ampe bingung mu komen yang mana....
Mas Taruma : Bersediakah mas mengkritik film pendek saya?
Saya sangat suka dikritik, coz itu selalu bikin SEMANGAT BERKARYA!!! heheheh
Terima kasih
dienan_silmy : ah begitukah? Gw ga merasa di sini udah adem soalnya. Tapi kalo komen gw dianggap mengganggu, maaf lah yah, hehehe...
Kak Taruma bikin ulasan baru dunk, biar kita pindah lapak. Lama2 bosan juga di sini.
Ah, jadi itukah yg ingin anda lakukan di solo mas dienan_silmy ???
"kalo mau gak adem2an mah ketemu aja sama yg gak bikin adem
wekekekekekek...
Udah ah, ga usah dibahas, yg ini cuma becanda duank, sumpah lah, hahaha...
tuh kan pembahsan di sini udeh kaya kutub utara kutub selatan
dienan_silmy: wah gw nya banyak urusan mas Silmy bulan ini. Palingan bisa dateng ke solo nanti pas festival film Solo. Iseng2 berhadiah aja, hahaha... Kalo ga sadar, kemarin kita ketemu loh tgl 5 d ITB.
gw tau sih senior di kampus kan,cuma karena gw cuma 3 semester doang di kampus jd cuma tau nama doang.gak hafal muka kak, banyak banget yg gitu.sama hal nya waktu di ITB, saya tau anda hadir cuma saya gak tau anda yg mana :malu
Terjemahan simplified: Apabila akan diadakan kopdar member Bicarafilm.com di Solo, saya kepengen ikut. Domisili saya di Jogja dan saya ingin sekali bisa menimba ilmu dari kakak-kakak sekalian. Eh, serius lho ini.
Sementara, soal debat di atas, hmm, saya menikmatinya. Sayang, banyak ad hominem dan ada beberapa beraroma Troll.
Salam sayang dan kompak selalu untuk kawan-kawan semua!
boleh ajah kok. mention ajah saya di twitter.
=======
Memang susah kalo orang yang gak punya kemampuan non-verbal yang baik, mereka lebih suka ngobrol langsung. Yang saya alami jika dilakukan komunikasi berbicara langsung (verbal) dalam hal perdebatan, suka diinterupsi dengan kata-kata "Ah, lo banyak ngomong lah", "Ah, lo gak ngilmu.", dll tanpa merespon/membantah argumen saya. Yah, itulah alasan saya melarikan diri ke dunia maya karena orang-orang seperti itu lebih suka menutup dirinya bahkan pelit untuk beradu argumen, sharing ilmu dan lain sebagainya.
Yang saya rasakan seperti itu, setidaknya kalau saya ubah menjadi tulisan, orang mau tidak mau membaca tulisannya dari awal sampai akhir. beda kalau ngomong langsung, bisa diinterupsi sama kata-kata lagi bahkan sama gertakan.
Bayangkan saja, dalam dunia maya, bisa menggertak "Udah lu ketemuan ajah ma gua!?", kalau dalam dunia nyata (verbal) bisa jadi kalimatnya berubah menjadi "Lu ngajak berantem!?". Pernah kejadian loh! Malah, tolak ukur saya terhadap orang didunia maya adalah sebagaimana lancarnya seseorang untuk mengekspresikan yang ada dipikirannya dengan tulisan. Tapi, bukan berarti saya tidak mau bertemu dengan orang-orang yang di dunia maya loh.
Jika ada yang bilang "Ah, kayak anak kecil ajah berantem di dunia maya." Yah, itulah pemikiran orang yang baru nemu dunia internet dan tak bisa berargumen dengan bentuk tulisan. Malah kalau saya bertemu dengan orang seperti itu yah saya beranggapan bahwa "Ah, ini orang ngomong ajah gak terbiasa menulis". Walaupun kenyataan pahit lainnya mengenai komunikasi non-verbal bisa membuat kesalahpahaman.
Saya setuju dengan film Biloxi Blues yang mengatakan :
"People believe whatever they read. Something magical happens once it's put down on paper. They figure no one would go to the trouble of writing it down if it wasn't the truth. Responsibility was my new watchword. "
Menulis memiliki tanggung jawab. maka karena itu, menuliskan sesuatu lebih berpikir daripada berbicara.
Lalu masalah mindset atau cara pandang. Setiap orang memiliki cara pandanganya tersendiri, jika ada yang bilang Rumah Tanpa Jendela bagus, silakan. kalau saya bilang Rumah Tanpa jendela mengecewakan, silakan juga. apa saya perlu berbohong atau memanipulasi agar terlihat bagus.
Saya pernah mereview film "Cerita Langit di Balik Kaca", yang menurut saya, reviewnya lebih pedas daripada review film ini.
Saya sadar kok, gaya review saya pasti seperti mendikte orang, nih begini-begitu-begini. Hei, apa salahnya untuk berbeda dengan yang lain. Sama halnya dengan sutradara Lost in Papua yang bereksperimen dengan genrenya. nah saya bereksperimen dengan gaya review saya. Karena gaya review saya bukan mau mengikuti gaya review kritikus ternama atau buku manual yang ada. Saya pun suka bosan membacanya, saya hanya menanti berapa bintang yang diberikannya. membaca seleranya, oh gini. Udah gitu ajah.
Saya hanyalah penonton amatir yang suka mengekspresikan sesuatu yang dilihat, didengar dalam bentuk tulisan di dunia maya. Salahkah itu? Bisa salah, bisa benar. Kenapa? Hal tersebut akan berakibat salah jika berisi kritikan, hal itu selalu benar jika berisi pujian. Mana ada sih, salah karena pujian. haha.
Kesalahpahaman dalam bentuk tulisan sering terjadi! tapi, bukan berarti kita takut berkomunikasi via tulisan (text), kita tak boleh takut dengan teknologi ini (jadi inget The King's Speech). Kita harus mempelajarinya dan meminimalisir kesalahpahaman yang terjadi. Setidaknya, dengan masalah ini, saya bisa belajar berbagai cara untuk mengklarifikasi sesuatu hal via tulisan.
Huahh. ngantuk, saya ngabisin waktu lebih dari 1 jam untuk membaca ulang dan lain sebagainya.
= Tulisan saya lunak sekali yah? hahaha.
sebenarnya, ada tulisan saya yang khusus untuk masalah ini dengan bahasa sangat kasar (semua hewan di dunia saya sebut rasanya) haha. sayang, itu tak layak dipublikasikan. lebih layak dijadikan koleksi pribadi. hahaha. mudah"an gak bocor kayak video ariel.. hahaha.
Capek-capek-capek. nonton glee ahh. episode baru.
Maunya dibilang seperti itu? Hayukdah.
Atau anda meminta saya untuk membuat film yang lebih bagus dari film ini dulu baru saya bisa mengatakan apa yang saya katakan di parafraf pertama? Oh, please... grow up, dude.
Menilai dengan kerendahan hati blablabla jangan arogan dubidubidam...? Saya berhak mengatakan jelek pada film yang saya anggap jelek, dan bagus pada film yang saya anggap bagus. Dan yang ini jelek, sekian. Saya tidak akan menilai dari segi teknisnya, karena saya tidak menonton itu, ok? Saya menonton filmnya
Oh, fyi, saya pernah tinggal di Papua, dan gak selebay itu juga kali
astaga kak Taruma ! Untung gw selamat membaca komen kaka smpe abis, hufff...haaa...hufff.... (atur napas dulu)
jadi ini ujung2nya ngebahas cerita di film,
apa ttg goblok2an sih ya
wong sudut pandang orang beda-beda toh yoo,
ya ndak bisa menjudge selera orang macam ini macam itu
udah ah
piss piss
masalahnya dah saya bahas diatas.
bickysaja: (menyodorkan minuman. lalu berkata : "Perjalanan masih jauh bos!". kembalilah dia berlari)
#halah #gakjelas #abaikan
C e l o: udah pada capek kali yah. gak terbiasa nulis panjang-panjang kali.
kayak dulu pas saya asik nonton film spiderman, lah temen saya malah ngomentarin pake logika secara harfiah : "eh kok spidermannya bisa lompat sana sini sih, kok bisa gitu.. blb bla.."
soal komen dan penilaian toh standarnya kembali pada yg nonton toh sebagai user, eh atau sebagai apalah.
jadi ya satu tetep berpendapat gini, tapi yg keukeuh nanggepinnya kayak gitu, demikian. tapi ya begitulah kerennya perbedaaan mungkin ya
yak lanjutkan kalo begitu
Yup. berbeda-berbeda. Jangan film saja yang berbeda-beda, penontonnya pun boleh dong berbeda-beda.
Seputar spiderman, sih saya gak masalah. Dah nonton "Wanted"? saya pernah buat postingan tentang kenapa pelurunya bisa muter seperti itu. Masih cupu sih fisikanya (dan ada yang salah), tapi setidaknya bisa memaparkannya.
http://taruma.info/2008/07/nonton-wan ted-teorinya-mana/
saya juga ngakak baca tulisannya lagi. tahun 2008. hahaha. pas jaman2nya saya SMA kelas 1 rasanya.
Dan kalau memang mau diskusi, ya diskusiin dengan sehat. Kalau si-A mau membela film ini misalnya, katakan saja poin-poin yang dia anggap bagus dari film ini. Diskusi yang sehat, gak perlu merendahkan selera, pendepata, dan sudut pandang orang lain.
Rijon: ah agree, eh setuju, ya jelas bebas lah beda sudut pandang, tapi soal merendahkan ya kembali sama2 ambil cermin, tak ada yang mau direndahkan satu sama lain kan ya ? CMIIW
Rijon: pertanyaannya, seberapa sadarkah orang tersebut telah melakukan tindakan merendahkan selera/pendapat dan sudut pandang.
Kayaknya lebih asik, klo dibuat artikel tersendiri nih.
Membaca review beserta comment yang menyertainya ini membuat tersenyum karena keseruannya dan ke"enggak-habis"-annya".
Akhirnya,
Tersedotla h saya ke pusaran...
(Mohon izin)
Menariknya,
Film itu di era komunikasi ini sudah termasuk media massa, yang artinya medium ini ditujukan bagi khalayak yang heterogen, tersebar, dan banyak.
Selain itu film tidak dapat melepaskan khitahnya sebagai sebuah karya seni, yang mana diyakini pembuatnya seolah mati saat karya itu "dilepas" kepada massa sebagaimana karya sastra.
Film selain bicara kreativitas, juga tak bisa lepas dari konteks sosial bahkan mungkin politik yang melingkupinya,
termasuk bisnis (eta mah puguh, kalo kata orang Sunda)
Hanya sedikit punya pandangan:
"Peran kritikus dalam siklus perfilman, layaknya lingkar rantai makanan dalam menjaga keseimbangan (hanya saja tidak saling memakan dalam arti sebenarnya) adalah peran yang sangat vital, punya tempat tersendiri.
Di Hollywood sana pun, peran kritikus sangat dihormati terlepas komentar atau ulasannya manis atau pedas terhadap suatu film.
Sudah tersadari, melalui kritik film-lah film bisa dibangun. Hanya saja kita harus melihatnya tidak secara parsial (hanya dalam satu kasus, semisal ulasan film Lost in Papua ini).
Kita bisa berpikir jauh, apa yang terjadi pada perfilman pada umunya dan si pembuat filmnya pada khususnya. Bila ia punya mental yang kuat dan ia benar2 siap terjun di kerasnya dunia film, ia kembali dengan karya yang lebih baik. Untuk perfilman sendiri, penonton jadi terdidik. (mendidik itu tidak harus dengan yang manis)
Contoh kasus, saat rilis film 2012.
Kita tahu sendiri, berjibunnya kritik pedas terhadap film tsb. tapi itu tetap bisa diterima. Malah yang saya tahu, manis atau pedasnya itu diharapkan, karena semakin membuat filmnya dibicarakan dan membuat penasaran.
Bahkan ada pula di negera yang sudah mapan industri film-nya tersebut, penghargaan bagi film dan segala halnya yang terburuk. Pelaksanaannya biasa berbarengan atau deket2 sama penganugerahan Oscar.
Di Indonesia, pada kenyataanya peran kritikus belum diberi tempat yang cukup. Adanya BF ini saya nilai sebagai suatu upaya memberi tempat.
Mungkin juga karena sineas di sini masih alergi dengan kritikan dan khawatir akan memengaruhi penjualan.
Kenapa film horrseks (horror+esek2) laku, karena bisa jadi orang atau masyarakat gak tahu kalau itu tuh film sampah.
Dari mana masyarakat terdidik atau pembuat film terdidik dan bisa introspeksi, kalau bukan dari kritik."
Mengaitkan dengan hal yang "menariknya" di atas:
Dengan heterogennya khalayak penikmat film, tak ada pihak yang punya hak untuk "memaksakan" pemikiran perihal suatu apresiasi atas suatu film.
Jatuhnya memang subjektivitas yang muncul. Itu wajar karena perbedaan persepsi atau penerimaan suatu stimulus di setiap orang itu berbeda. Kita nggak bisa menggugatnya karena film saat "dilempar" ke massa, itu menjadi milik massa.
Terserah setiap orang mengatainya. Dan pembuat film mau tidak mau harus siap menerimanya. Sebagaimana sutradara film Lost in Papua ini.
Hanya saja, Seorang teman saya yang menanggap dirinya hanya apresiator film, tapi sudah saya anggap kritikus film, pernah mengatakan, "Apakah setiap penilaian film itu subjektif? Kalau menurut saya saat film itu benar-benar ditonton lalu muncullah impresi. Impresi yang muncul itu sudah objektif. Bukan katanya, atau baru nonton setengah."
Dalam konteks yang lebih luas, Pada saat kritikus tidak diberi tempat dan (hal yang tak saya bahas di sini, macam: ) film berkualitas hanya numpang selewat, serta film meruntuhkan moral terus dibikin konglomerat...Apakah ini suatu kesengajaan agar masyakat melalui cekokan film hanyut dalam kesadaran palsu bahwa sekarang sudah baik-baik saja?
Ayo kita berpikir.
Terakhir, pada kesempatan ini pula saya ingin mengucapkan terima kasih kepada http://www.bicara…/taruma.html atas kritiknya untuk film saya.
Semoga berkenan.
mari kita berbicara dengan kepala dingin.
Aturan pertama berkarya (membuat film) tentu sang pencipta karya selalu siap di kritik. Penonton adalah raja, dia bilang bagus ya bagus, dia bilang jelek ya jelek. Penonton telah menghabiskan 1 jam waktunya yg berharga dan juga uang untuk membeli tiket, sebagai film maker tentu harus terima dengan pendapat penonton selama penonton itu jujur.
sanjungan dan pujian dari penonton tentu yg kita harapkan sebagai indikator kepuasan penonton.. tetapi bagaimana apabila yg kita harapkan sebaliknya? yah sisi baiknya ini jadi pil pahit buat pembuat film agar filmnya bisa "sehat" di hadapan penontonnya (^^).
hmm.. bahasa kasarnya mungkin, "seandainya belum siap untuk di kritik mungkin lebih baik tidak membuat film sama sekali (atau hanya ditonton oleh orang2 yg akan memuji hasil karya tersebut saja)."
selama kita terus berkarya dengan sehat menerima semua kritikan, saya yakin suatu saat nanti filmmaker tsb akan menghasilkan karya yg terbaik (5/5) ....
cz komentarnya sudah di wakilkan kalian semua....!!!
jadi penyemangat aja dah....!!!
hip..hip..huraa....
semangat terus untuk memantau perkembangan perfilman indonesia....jadikan indonesia no.1 di mata dunia..
-=salam hangat persahabatan=-
wass..
takim: yup. mereka juga kan manusia.
Silakan berkreasi sesenang anda, karena sampah seperti saya sudah cabut dari industri anda (dan mungkin bisa kembali lagi). haha.
Silahkan login untuk memberikan pendapat