Langitku Rumahku (Indonesia.1989) 10

Kamis, 10 Mar '11 11:48

Dir : Slamet Rahardjo
Cast : Banyu Biru, Soenaryo, Pietrajaya Burnama, Suparmi, Yatie Pesek, Andri Sentanu, Untung Slamet

Entah kapan lagi film ini akan diputar, secara gratis pula, terima kasih banyak kepada Kineforum, sebagai wujud dari tema yang diangkat Hari Film Nasional 2011 pemutaran film untuk segmen “film anak nasional” memberikan kesempatan pada saya dan tentu pencinta film indonesia lain yang dulu tidak menonton film ini, saat rilis tahun 1989.

Aktor Slamet Raharjo, menulis, memproduseri dan menyutradarai film ini. Untuk naskah, aktor senior ini menulisnya bersama Eros Djarot serta memilih dan mempercayai anak dari Eros Djarot, Banyu Biru untuk menjadi pemeran utama dalam film yang dikirim resmi oleh Indonesia berlaga pada ajang academy award tahun 1991 (menjadi film Indonesia ketiga yang resmi dikirimkan untuk academy award, setelah Naga Bonar dan Tjoet Njak Dien, tahun 1988 dan 1990).

Film ini mengambil premis benturan pola pikir pemahaman tentang kehidupan antara sikaya dan simiskin dlihat dari sudut pandang 2 anak kecil yang dilihat dengan sangat mudah akrab dan membuat sebuah ikatan persahabatan yang kuat (mungkin boleh dibilang abadi jika ingin sedikit berlebihan). Ide yang sederhana tersebut diolah oleh Slamet Rahardjo dan Eros Djarot menjadi sebuah kisah petualangan yang mengasyikkan, menyentuh, mengaharukan dan membuat kita sebagai penonton tertawa sekaligus menyadari sesuatu yang sangat penting dalam hidup ini, yaitu sebuah persahabatan abadi yang susah untuk ditemui, terutama pada zaman seperti saat ini yang lebih berbasiskan pada rasa individualisme.

Andri (Banyu Biru) adalah seorang anak yang cerdas, pintar, mengemaskan, namun terkadang juga mengesalkan, terutama mungkin bagi kakaknya (Andri Sentanu). Ayah mereka seorang pengusaha yang cukup sukses, diperlihatkan dengan dia mampu memiliki 3 orang pembantu dan 1 orang supir, dan tidak begitu sering berada di rumah, jadi Andri dan kakaknya lebih banyak berhubungan dengan para pembantu dan supir tersebut. Semua keperluan mereka, tentu terutama Andri yang masih kecil disiapkan oleh pada pembantu.

Pada sudut kota Jakarta lain, di sebuah lokasi pemukiman para pemulung adalah Gembol (Soenaryo), seorang anak seusia Andri, yang merasa bahwa dirinya tidak pernah bisa beruntung karena harus meninggalkan sekolahnya di desa, ikut memulung bersama orang tuanya dan hidup melarat di jakarta. Meski hidup susah Gembol tetap bersemangat untuk belajar, beberapa kali dia mendatangi sekolah Andri dan mengikuti pelajaran dari luar kelas. Tetapi suatu waktu nasip naas menimpanya, karena ketahuan mengintip kelas dan dituduh sebagai maling, Gembol ditangkap dan diadili, untungnya pihak sekolah Andri melepasnya setelah Gembol mengaku sebagai pemulung, mengumpulkan kertas, koran dan majalah bekas untuk kembai dijual. Pihak sekolah kemudian membantu Gembol dengan mengumpulkan kertas dan koran bekas disekolah untuk kemudian dibawa oleh Gembol, inilah yang menjadi awal pertemuan Gembol dengan Andri.

Andri tertarik melihat kehidupan Gembol, bahkan Andri berjanji akan memberikan Gembol, koran dan majalah bekas dari rumahnya untuk Gembol, Gembol sangat senang sampai memberikan sebuah nama kecil/nama panggilan untuk Andri (tidak ingin spoiler untuk ini). Andri sangat menyukai nama panggilan itu dan bahkan meminta semua orang di rumahnya untuk memanggilnya dengan nama itu.

Sejak pertemuan ini hubungan Andri dan Gembol semakin dekat, Andri yang terbiasa dengan rutinitas yang menurutnya membosankan, seperti menemukan sesuatu yang selama ini dicarinya yaitu kebebasan yang dimiliki oleh Gembol, sebaliknya Gembol begitu ingin menjadi orang kaya dan bisa hidup enak, hal inilah kemudian yang semakin membuat akrab hubungan mereka. Sampai suatu ketika lokasi pemukiman Gembol mengalami penggusuran dan dia tidak bisa menemukan kedua orang tuanya karena menurut Mba Uyeng (Untung Slamet) salah satu pengemis penghuni pemukiman itu, orang tuanya dibawa oleh petugas. Gembol bersedih, tidak tahu harus berbuat apa, Andri berusaha menawarkan Gembol untuk sementara tinggal dirumahnya, tetapi Gembol memutuskan untuk pulang ke desanya di Madiun. Inilah kemudian yang mengawali petualangan seru mereka berdua.

Beberapa adegan menarik berhasil membuat penonton tertawa, scene-scene Andri bersama Mbo Balong menjadi ‘scene stealer’ untuk film ini, dengan sangat wajar interaksi Andri dan Mbo Balong menjadi scene yang selalu dinanti. Sebuah kehangatan hubungan antara Andri dengan Mbo Balong yang unik, menyentuh dengan tetap terasa wajar.

Kontras sikaya dan simiskin dileburkan menjadi sebuah cerita sederhana yang menyentuh dengan mengambil pola dongeng untuk anak, atau sesuatu yang memang hanya akan terjadi dalam film saja, karena memang sulit untuk menemukan hal seperti terjadi di Jakarta. Pada beberapa scene terasa sangat mendidik dan terlalu dibuat-buat, terutama bagi para pemain amatir (baru pertama kali main film) yang mengucapkan dialognya seperti sebuah rangkaian puisi yang terlalu indah atau ‘sangat naskah’ untuk diucapkan oleh anak-anak atau pengemis, karena dilakukan dengan akting yang kurang wajar, dan bahkan dengan bahasa tubuh yang berlebihan sehingga rasa dialog tersebut tidak terlalu bisa diresapi dengan baik.  

Terlepas dari beberapa hal tersebut, film ini memang dipersembahkan untuk anak-anak indonesia dan pantas untuk menjadi contoh bagi anak-anak untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, anak-anak yang beruntung diminta untuk melihat “kebawah” supaya mereka bisa mengetahui bahwa banyak sekali anak-anak seusia mereka yang tidak beruntung supaya bisa lebih memiliki rasa rendah hati dan peduli pada sesama.

Yang cukup membuat film ini sangat realistis adalah segi teknis film yang dikerjakan dengan baik terutama pergerakan kamera yang dengan sempurna mencapture gambar-gambar nyata bagaimana keadaan Jakarta dan Surabaya dengan jujur, terbantu dengan set dan art film yang juga dikerjakan dengan berbasis keadaan nyata saat itu, serta ambien kesibukan lingkungan kedua kota besar tersebut yang hiruk pikuk sangat nyata. Pada FFI 1990 film berhasil mendapatkan 8 nominasi untuk film, sutradara, naskah, pemeran pendukung pria, pemeran pendukung wanita, cinematografi, penata suara dan memenangkan piala Citra untuk Artistik terbaik.


Tag: Film Indonesia, Slamet Rahardjo, Eros Djarot, Banyu Biru

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

jim96 0 0
oh gini yah rasanya film indonesia sebelum diserbu sinetron
doniagustan 0 0
masih di putar d Kineforum selama maret ini, free
mari menonton... : )
kucrut 0 0
wahhh..blom nonton neh flm..
sabai 0 0
jim96: hahaha... bener juga!
aibii 0 0
sayang cuma orang jakarta yg bisa liat film-film ini.
di daerah cuman bisa mimpi haha #curhat
doniagustan 0 0
wahhh semoga kineforum bakalan punya acara road show putar film2 indonesia lama di daerah... : )
jamur 0 0
kapan tayang di RCTI? : D
ditapelawi 0 0
iklan2 anak indonesia yg putus sekolah terinspirasi dari film ini ya : )
doniagustan 0 0
@jamur: wahhh masih berharap bgt ada program tv yang memutar film2 lama kita..

@dita: oia? iklan apa aja?
ditapelawi 0 0
doniagustan: waduh gw ga apal nama iklannya,,tp kan ada tuh bbrp iklan layanan sosial yg ada anak2 putus skola ngintip2 lwt jendela gitu..hehehehe

Silahkan login untuk memberikan pendapat