Son of Babylon (2009) 10
Kamis, 3 Mar '11 06:01
Sobekan tiket bioskop tertanggal 2 Maret 2011 adalah Son of Babylon. Film ini menjadi salah satu line-up dalam Glasgow Film Festival dan dengan membaca sinopsisnya saja sudah membuat gue tertarik. Sedikit mengingatkan gue akan Le Grand Voyage, tapi tentunya beda latar dan cerita. Mungkin karena jarang ada film road-trip dengan latar dunia timur tengah. Hal lain yang membuat gue tertarik adalah, sudah saatnya untuk melihat gambaran tentang perang Irak dari sudut pandang warga Irak itu sendiri.
Tiga minggu semenjak kejatuhan rezim Saddam Hussein, Ahmed bersama neneknya menempuh perjalanan panjang antar kota di negeri Irak untuk mencari ayah Ahmed yang tidak pernah pulang dari perang. Perjalanan yang tidak mudah, belum lagi dengan ketidakpastian tentang keberadaan ayah Ahmed yang juga anak dari si nenek.
Film ini benar-benar membawa sudut pandang yang jauh berbeda dari film-film tentang perang Irak buatan Hollywood. Selain dibuat oleh sineas Irak sendiri, film ini seperti ingin mengangkat akibat langsung dan tidak langsung dari serbuan AS dan sekutunya ke tanah Irak dan kejatuhan Saddam Hussein lewat perspektif Ahmed dan neneknya. Film drama pasca-perang ini cukup berani dan tegas dalam menggambarkan kehancuran fisik, mental, dan psikologis dari negeri Irak beserta penduduknya. Belum lagi film ini akan memperlihatkan fakta-fakta yang mungkin belum diketahui dunia sebelumnya.
The Hurt Locker dan Green Zone memang membahas tentang situasi perang Irak dengan cukup deskriptif dan mengandung sedikit muatan politis. Buried lebih berani mengangkat situasi Irak pasca-perang lewat kacamata seorang supir truk biasa yang menjadi sandera oleh teroris di Irak. Namun film-film ini tetap dari sudut pandang orang Barat terhadap negeri Irak. Perjalanan Ahmed dan neneknya benar-benar membuka cakrawala baru bagi gue akan permasalahan sosial yang cukup genting yang terjadi di Irak. Bagaimana rakyat Irak bereaksi terhadap Saddam dan kejatuhan rezimnya, sekaligus reaksi mereka akan invasi AS dan sekutunya. Mereka memang membenci Saddam dari dalam lubuk hati, tapi ternyata mereka juga tidak sebegitu memuja AS dan sekutu karena telah meruntuhkan rezim Saddam. Kondisi pasca-kejatuhan rezim Saddam pun ternyata lebih suram dan mengerikan daripada perang Irak itu sendiri. Kondisi sarana dan prasarana yang hancur lebur, banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, semakin banyak janda-janda yang ditinggalkan suaminya, dan yang paling tragis adalah ditemukannya berbagai kuburan massal peninggalan rezim Saddam yang totalnya bisa mencapai sekitar 1 juta mayat.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Cara film ini dalam mengambil gambar kota Baghdad yang hancur mengingatkan gue akan pemandangan kota Warsawa dalam The Pianist. Bukan hanya gedung-gedung hancur dan bangkai-bangkai mobil yang masih terbakar, film ini juga cermat mengambil ekspresi dan celetukan penduduk kota Baghdad yang frustrasi namun memiliki secercah harapan untuk hidup. Tapi tidak hanya kota Baghdad, penonton juga disuguhkan pemandangan-pemandangan alam Irak. Walaupun kebanyakan dipenuhi oleh gurun, tapi ternyata ada keindahan tersendiri yang tersembunyi di balik padang pasir itu. Bonusnya, kapan lagi melihat reruntuhan bangunan yang katanya adalah rumah dari nabi Abraham.
Seperti layaknya film-film road-trip, pertemuan antara karakter utama dengan karakter-karakter pembantu di sepanjang jalan dalam film ini sangat mewarnai film ini. Supir yang menjadi sinis terhadap kehidupan - bahkan terhadap Tuhan - karena tragedi perang, janda-janda yang berduka cita, sampai pada pria mantan pasukan khusus yang terlibat dalam Anfal (pembantaian massal kaum Kurdi oleh rezim Saddam Hussein).
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Menurut gue, penuturan cerita dalam film ini dibawakan berdasarkan perspektif Ahmed dalam memandang dunia. Di umur yang masih belia dan dengan tingkah kekanak-kanakkannya, Ahmed adalah seorang anak yang optimis, ceria, selalu ingin tahu, dan berani dalam meminta keadilan. Namun bukan berarti Ahmed tidak lepas dari rasa takut, dengan bagaimana ia sangat takut untuk berpisah dari neneknya - yang menjadi satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki. Semua ini digambarkan dengan sangat baik oleh aktor muda berbakat, Yasser Talib, yang menjadi film pertamanya. Shazada Hussein juga tampil meyakinkan sebagai nenek yang teguh, keras kepala, dan memiliki determinasi tinggi dalam mencari anaknya. Dengan karakter Ahmed yang ceria, penonton akan dibawa pada jalur roller-coaster yang mengaduk-aduk emosi ketika melihat karakter sang nenek, terutama di seperempat terakhir film. Hubungan antara Ahmed dan neneknya juga tidak melulu rukun, tapi setiap konflik dan saling menyayangi diantara mereka selalu menyentuh hati. Saking kuatnya chemistry diantara mereka berdua, rasanya seperti ada yang kurang jika salah satu dari mereka berdua tidak muncul di layar. Belum lagi dengan ending film yang bagi gue adalah sebuah pengalaman sinematik yang rasanya akan terus menempel di dalam kepala gue dalam jangka waktu yang lama.
Kalau film-film bertema Nazi telah banyak yang mengangkat tema pasca-perang dan pasca-kejatuhan Hitler, maka film ini telah menjadi pionir dalam tema pasca-perang Irak dan pasca-kejatuhan rezim Saddam Hussein - dan dari sudut pandang rakyat Irak sendiri. Film ini benar-benar patut ditonton bagi anda yang ingin tahu kekejaman apa yang ada di balik rezim Saddam, apa akibat dari rezim tersebut terhadap rakyat Irak, atau anda yang masih peduli pada nilai kemanusiaan. Di pertengahan, film ini sempat membuat gue putus asa akan harkat hidup manusia di tengah keadaan dunia yang kacau balau. Namun setelah keluar dari bioskop, gue menyadari bahwa terkadang kita perlu menghidupkan sisi kekanak-kanakkan dan optimisme yang ditunjukkan oleh Ahmed, agar kita tidak kehilangan harapan terutama dalam kondisi yang paling ekstrim sekalipun. Seperti bagaimana Ahmed yang memupuk harapannya untuk dapat melihat Taman Gantung di kota Babilonia dengan mata kepala sendiri.
Telah diterbitkan sebelumnya di
Tag: irak, road trip, pasca perang
Terkait:
-
Due Date (2010)
Sabtu, 11 Des '10 18:12 -
Monsters (2010): Now It's Our Turn to Adapt
Minggu, 5 Des '10 05:21 -
Buried: Panik Bareng Ryan Renolds!
Kamis, 14 Okt '10 03:21
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Taruma: Good Take
-
kniwe: Box Office
-
I wrote SYN not Tragedies: Informatif
-
lilliperry: Good Take
-
Haris Fadli: Informatif
-
jim96: Box Office
-
rohanisyawaliah: Good Take




Komentar:
kayanya butuh mood khusus buat nonton pelem ini, kalo baca repiyunya, ini tentang hasil perang di mata anak anak kan? dari kaca mata anak anak hanya saja lebih berat ke drama dan bukan seperti pelem perang pada umunya yang jedar jeder... ini mungkin berat ke drama kali ya... semoga ga salah
seinget saya, emang jarang si yah pelem yang nyeritain hasil peperangan, dari sudut pandang seorang anak atau seorang supir...
atau udah ada cuma saya ga tau hehehehe
anyway...
dari repiyunya, kayanya lumayan menarik nih, cuma buat saya emang kudu nunggu mood kalo ngeliat felem serius kaya gini
ini gak ada di Indonesia ya? *beneran nubi*
film dgn tema2 seperti ini kyknya butuh mood untuk menontonnya. nice review
[http://1.bp.blogs…/Kinema.jpg]
Contoh film perang di mata anak-anak yang bagus (menurutku):
- Empire of Sun
- Oorlogswinter
- Persepolis
- Jeux interdits
- Adalen 31
- Reconstituirea
- Kevade
- A pal-utcai fiuk
- Als twee druppels water
- Apa
- Het Mes
- Igy jottem
- Voces inocentes
- Ostre sledovane vlaky
- Atunci i-am condamnat pe toti la moarte
- Iphigenia
- Malena
Film-film di atas datang dari variasi jaman (mulai dari 40-an sampai 2000-an) Kayaknya ada yang kelewatan. Tapi dar situ aja sudah keliatan kalau tema "perang" dan "politik" dari kacamata lugu anak-anak itu bukan barang baru.
- Lust och fagring stor
-
- Au Revoir Les Enfants
- Ivanovo Detstvo
- Idi I Smotri
- Kindergarten
- Europa, Europa
- The Tin Drum
- Turtles Can Fly
- Hope and Glory
- Paisa
Udah dah, kalau ada yang kelupaan lagi, lewatkan saja. Males nginget-inget.
lilliperry: Jakarta International Film Festival juga ga ada di Glasgow loh
Rijon: Eh, kelupaan The Boy in the Stripped Pyjamas! Walaupun endingnya kurang nendang, tapi boleh lah. Film perang dari kacamata anak-anak memang banyak, tapi rasanya gue baru nonton ini yang tentang perang Irak. Atau ada lagi cuma gue belum nonton aja yah?
SIYAL!!!
*keluarin notes buat nyatet referensi pelem bro Rijon *
dari semua pelem yang situ sebut... saya cuma ngeh yang "Empire of Sun"...
menyedihkan sekali ye pengetahuan pelem saya hehehehe
moti:
woghhh... j jadi ending yang miris ya...
jadi inget pelem itali "Life's Beautiful" yang baru saya tonton semalem, ini juga kacao.. kirain pelem lucu, taunya...
arrrghhh . . .
ada yg udah nontyon?
seru juga ni...
kemaren baru nonton little miss sunshine juga perspektifnya mirip, pake anak2. sehingga filmnya bisa dinikmati dengan baik karena feeling naik ke ubun2 selalu bisa adem ala roller coster.
jadi ya barangkali meskipun belum jadi rumus, perspektif anak2 selalu bisa membantu untuk menceritakan kisah pedih tanpa harus berujung putus asa.
life is beautiful kan menang oscar 1999, jadi ya memang punya kualitas yg baik lah. meskipun belum jadi favorit saya.
jim96: kok menurut gue, little miss sunshine malah lebih banyak berbicara tentang keluarga yah. kehadiran olive memang jadi titik gravitasi jalan cerita, tapi kalau bicara sudut pandang malah bukan milik olive semata - tapi dari perspektif keluarga sebagai satu kesatuan.
btw itu salah satu film favorit gue. paling suka adegan pas olive meluk kakaknya yang lepas kontrol gara2 tahu buta warna - sweet banget! *eeh maap jadi OOT*
lagipula blon dapet donlotan yg inih
Silahkan login untuk memberikan pendapat