Jakarta Love Riot 5
Kamis, 3 Mar '11 22:13
Apa yang menarik dari teater?
Mungkin itulah pertanyaan yang selalu ada di benak saya ketika mendengar atau membaca tentang pertunjukan teater.
Teater buat saya adalah tontonan yang berbeda, dunia tontonan yang belum tentu bisa saya nikmati. Sikap skeptis saya menolak untuk menonton teater.
Beda ketika saya menonton sepakbola atau pertunjukan konser musik. Ada ekspektasi, ada semangat untuk memulai menonton.
Tapi persepsi saya berubah ketika menonton ‘Tikungan Iblis' garapan Cak Nun dan Teater Dinasty di Jogja. Ternyata menarik, tenyata asyik juga.
‘Cinta Campur Citra Cuma Cari Cekcok'
Back to the track, Jakarta Love Riot adalah refleksi kehidupan perkotaan, kaum borjuis dengan strata sosial kelas atas lengkap dengan segala gemerlapnya yang tiba-tiba terusik oleh ‘penyimpangan' salah satu anggota mereka. Menyukai ‘orang yang berbeda kelas'.
Nala, seorang anak gaul perkotaan, dari keluarga kaya, punya banyak teman, dikisahkan menyukai Toto, anak penjual soto, ndeso, katrok dan agak cupu.
Teman-teman Nala, keluarga terutama adiknya, menentang keras. Tidak jauh berbeda di pihak Toto, bahkan ibunya sudah menjodohkannya dengan Tatik yang biasa jadi asisten ibunya.
Dipadukan akting, musik,lagu, dan tari, cerita Jakarta Love Riot mengalir sederhana, bahkan terlalu simpel. Kisah Romeo-Juliet lengkap dengan intrik-intrik 2 (dua) 'kaum' yang bisa ditebak akhirnya.
Kelemahan cerita tertutupi oleh spontanitas adegan per adegan yang membuat saya beberapa kali tertawa lebar.
Chemistry antar pemainnya dapat, dialog-dialognya yang dimainkan secara ‘wajar' terasa benar-benar adalah kejadian sebenarnya.
Walaupun mereka berlatih intens hampir 6 bulan ini, ketika sudah di atas panggung teater prinsipnya adalah ‘no second chance'. Dan buat saya semua pemainnya lolos ujian.
Satu lagi yang saya suka dari teater musikal adalah menyanyi sambil menari dan berakting dalam satu adegan. Keren menurut saya.
Penampilan terbaik Jakarta Love Riot versi saya adalah pemeran Tatik (Takako Leen) dan Ibunya Nala (Sarah Sechan).
Pentas garapan sutradara Rusdy Rukmanata dan Nanang Hape ini dikemas dengan koreografer yang bagus, sayang ketika pergantian scene/latar selalu kelihatan orang-orang yang menggeser properti panggung. Walaupun sudah berpakaian hitam, tapi masih terlihat jelas dan itu sedikit mengganggu.
Drama musikal Jakarta Love Riot ini renyah seperti biskuit, kau akan menikmati setiap gigitannya, tapi hanya sebagai cemilan.
Gedung Kesenian Jakarta, 27 Februari 2011
Tag: drama musikal, teater
Terkait:
-
Modern Love (2008)
Selasa, 13 Okt '09 14:42
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
I wrote SYN not Tragedies: Informatif
-
Taruma: Good Take

Komentar:
Mungkin itulah pertanyaan yang selalu ada di benak saya ketika mendengar atau membaca tentang pertunjukan teater."
itu yang selalu nongkrong di benak saya!!!
sebelom nonton musikal laskar pelangi...
sekarang malah jadi penasaran, drama ..teater, drama musikal lainnya
ah menarik juga kah?
"Satu lagi yang saya suka dari teater musikal adalah menyanyi sambil menari dan berakting dalam satu adegan. Keren menurut saya."
setujuuuu.... tepat sekali...!!!
apalagi kalo nyanyinya bagus, lagunya enak, suaranya oke... berasa ga rugi...
serasa nonton pelem dan konser musik
dalam satu tiket
hehehehehe
Taruma: kyknya sih gak om. tp di bandung jg bnyk pertunjukan yg bagus2 kayaknya
kniwe: ooo gitu ya om, tapi saya jarang ke curipandang, saya mainnya di bicarafilm sama ngerumpi aja *kebanyakan ntar malah gak diurusin om, saya orgnya agak malasan*
janji saya kan nraktir kopi abese shushu
Silahkan login untuk memberikan pendapat