Mata Air Emosi Dari Jalinan Otot, Keringat, juga Darah 6
Rabu, 2 Mar '11 00:18
Seorang kawan bertanya pada saya, dari deretan film yang masuk nominasi Academy Awards tahun ini, manakah yang cukup bagus disaksikan selain dua film paling banyak dibicarakan dari sebulan lalu? Dua film itu tentulah "The King's Speech" dan "The Social Networks". Saat percakapan tersebut berlangsung, saya baru menyaksikan beberapa saja dari deretan film terbaik yang diumumkan sebelumnya. Tapi, tanpa pikir panjang, ingatan saya hanya tertuju pada "The Fighter".
Kemarin Oscar telah menjawab semua pertanyaan dan tebakan. Ajang yang masih dengan jumawa dan nyata-nyata berhasil memaksa setiap kepala di dunia ini yang berani mengaku peduli pada film itu berpaling, telah mewartakan pemenang. Tak ada kejutan, dan memang sepantasnya "The King's Speech" menggondol penghargaan utama. Sebab sebagai sebuah kisah, ia hadir secara utuh dan kaya rasa. Hanya saja, kalau boleh saya memberi sedikit catatan, film indah mengenai Raja gagap tersebut tidak sekalipun mampu mengalahkan apa yang diberikan oleh karya besutan David O' Russell. Satu hal saja, yaitu emosi natural.
Emosi Colin Firth dan Geoffrey Rush serta Helena Bonham-Carter memanglah paket padu dan lengkap dalam menggambarkan dilema pertentangan kelas sosial. Namun, semuanya masih hadir dalam jarak tegas. Menyaksikan "The King's Speech" merupakan tamasya, guna mengintip sisi dalam kehidupan darah biru. Sesuatu yang memang sejatinya asing, dan dengan atau tanpa masalah kesulitan bicara pun, kehidupan mereka akan tetap menarik perhatian. Tantangan untuk menghindari nasib fatal menjadi klise lebih berat ditanggung "The Fighter".
Mengapa? Bayangkan seting cerita sebagai berikut. Keluarga disfungsional dari Lowell, Masschussets (wilayah Amerika Serikat dengan populasi keturunan imigran Irlandia terbesar, plus tingkat kekerasan, peredaran obat bius, dan kriminalitas segala jenis tinggi, atau untuk mempermudah bayangkan kondisi yang tergambar di "The Departed"), fokus cerita tertuju pada petinju miskin yang mulai menua serta terlanjur dicap pecundang, ditambah bayang-bayang kegagalan menghantui setiap saat karena dukungan salah dari keluarga. Seorang amatir mungkin menyerah saat disodori naskah awal untuk dikembangkan lebih lanjut mengenai kisah nyata jalan hidup Juara Dunia Kelas Welter Mickey Ward tadi.
Sekali lagi, anggaplah saya si amatirnya, di kepala hanya akan terbayang jalinan kisah mirip "Rocky", "Raging Bull", "Cinderella Man", atau problem eksistensial "Million Dollar Baby". Untunglah semuanya, pekerja keras di balik film ini tak seamatir itu. Pihak pertama yang bertanggung jawab mengubah dan menguatkan kisah tadi tentunya tim penulis skenario Keith Dorrington, Paul Tamasy, serta Eric Johnson. Dengan jeli mereka menangkap peluang yang tak pernah tergarap tuntas dari sebuah film tinju, bahkan mungkin, film-film olahraga keseluruhan.
Film olahraga dilekati satu ide, menawarkan sportsmanship. Nilai-nilai sportivitas yang dalam nalar Orde Baru Negara kita, dibayangkan sebagai sikap luar biasa untuk membentuk tipikal warga Negara Pancasilais, sehingga sempat merebak luas jargon "Mengolahragakan masyarakat, dan memasyarakatkan olahraga".
Seperti apakah ide sportsmanship universal? Mungkin contoh paling tepat adalah antologi "Rocky". Karakter Sylvester Stallone menggambarkan perjuangan semua atlet, dimulai dari nol, mengandalkan kerja keras, dan mengedepankan kejujuran serta penghormatan untuk semua lawan tanding. Model persahabatan Rocky Balboa dengan Apollo Creed adalah nilai ideal yang tak bosan-bosan direproduksi, mewujud dalam ribuan karakter olahragawan fiksi bermacam bentuk, sampai manga Jepang ikut mengawetkannya dalam dua sosok Tsubasa dan Hyuga. Sampai dengan titik itu, "Rocky" sudah cukup representatif sebagai wakil sisi terang dunia olahraga, khususnya tinju. Walaupun berbalut darah, tinju hendak ditampilkan tak sekadar wahana pemuas kekerasan pecandunya.
Sampai kemudian, tahun 1980, seorang sineas Katolik taat sekaligus penyaksi kelamnya jalanan, memutuskan untuk mengungkap borok dunia tinju, sampai ke akar-akarnya. Sineas itu bernama Martin Scorsese. Darinyalah para penikmat film dapat turut terlibat dalam pengalaman kelam Jake LaMotta. Petinju paruh baya dengan kehidupan laksana komidi putar, dipenuhi kegetiran, sampai masa tuanya. Semua terjadi akibat kesalahannya sendiri, terjebak utang, ketidakstabilan emosi, tak ada kawan pendukung, bahkan adiknya sendiri sempat mengkhianatinya.
"Raging Bull" tegas memilih warna hitam putih untuk keseluruhan filmnya, karena ia tidak berada di wilayah abu-abu. Tidak ada sebetulnya wilayah abu-abu dalam hidup. Dari kisah hidup LaMotta, kita mampu merasakan, setiap tindakan tidaklah berwarna. Konsekuensinya kemudian lebih menentukan warna putih atau hitamkah yang akan menyertai. Karya Scorsese tadi mampu menampilkan semua metafora hidup dari sosok si olahragawan. Dengan sudut pandang kisah cukup sempit, "Raging Bull" menampilkan kekayaan kisah tak terpermanai.
Sampai penghujung dekade awal abad 21, belum ada lagi film olahraga sekomplit itu soal menampilkan kedalaman karakter, khususnya saat memotret profesi olahragawan. Hingga kita lupa pada satu hal. Olahraga bukanlah koin dengan mata sisi tunggal. Ia bukan wilayah khusus mereka yang terlibat sebagai pelaku.
Dalam setiap arena gladiator, ambil contoh, kita kerap melupakan sumber keriuhan, sumber gempita, sumber berlangsungnya terus menerus arena olahraga. Merekalah para penonton, dan semua orang di balik layar besar panggung pertunjukkan olahraga. Itulah mengapa tim penulis skenario "The Fighter" saya puji betul. Film ini bukan tentang sang olahragawan dengan segala perjuangannya entah baik maupun buruk. "The Fighter" merupakan pembuktian keberadaan makna simbolis olahraga dan arenanya sebagai wilayah mengupayakan perebutan kapital simbolik. Bahwa bertinju bukan sekadar kalah menang, prestasi, atau persaingan natural manusia, namun bisa juga berarti perekat solidaritas sosial, sampai upaya aktualisasi sebuah daerah yang tertinggal untuk kembali masuk dalam "peta".
Jarang sekali kisah di wilayah pertaruhan sosial semacam itu disentuh, sebab ia dianggap bukan esensi utama sebuah olahraga. Tim penulis skenario "The Fighter" membumikan teori-teori Bordieu maupun strukturasi Gidden dalam sebuah kisah pahit manis perjuangan seorang petinju sekaligus "pecundang" asal Massachusetts. "The Fighter" menolak lepas dari fokus utamanya, untuk mengisahkan hal-hal luar ring dibanding menceritakan perjuangan petinju underdog seperti biasa.
Penonton bakal memahami bahwa kata petarung sebagaimana termaktub dalam judul kisah tidak merujuk melulu kepada "Irish" Micky Ward (Mark Walhberg), termasuk di dalamnya ibu yang sekaligus manajernya Alice Ward (Melissa Leo), juga abangnya, petinju kelas teri yang sekali dalam hidupnya pernah memukul KO Sugar Ray Leonard, Dicky Eklund (Christian Bale). Bahkan, kekasih Micky, yaitu Charlene Flemming (diperankan Amy Adams) juga dapat dikategorikan petarung pula, mengingat ia seorang mahasiswi gagal yang lebih memilih menjadi pelayan Bar dan mengubur cita-citanya menjadi fisioterapis atlet.
Dimensi baru pertarungan serta pemaknaan latar kisah dunia tinju itu membuat film ini melengkapi sisi yang coba disodorkan sebelumnya oleh "Raging Bull". Kisah Jake LaMotta merupakan pengungkapan ekses perjuangan atas ring ke luar arena, sementara cerita Micky Ward sebaliknya, ia mengungkap dampak luaran yang terbawa serta mempengaruhi arena pertarungan. Bila "Raging Bull" berkonsentrasi pada agensi, "The Fighter" adalah upaya untuk menelanjangi struktur.
Aspek kedua penyebab keberhasilan film ini pastilah gaya penyutradaraan David O' Russell. Latar belakangnya sebagai imigran Irlandia jelas sangat membantu dalam menyingkap segala unsur renik situasi sosial Massachusetts. Komplit sekali. Bagaimana pelatih kedua Ward, David O' Keaffy, seorang polisi dan ia bisa tetap bersahabat dengan kakak Micky yang pencadu serta residivis berkali-kali. Persaudaraan serta kentalnya kultur Katolik Roma, juga gravitasi institusi keluarga dalam kehidupan Boston tergambar nyaris sempurna, tanpa harus ditampilkan tersurat. Kita menyaksikannya pelan-pelan, alamiah, tanpa pretensi. Serta, yang paling saya suka, O' Russell sampai-sampai memilih jenis kamera televisi untuk memperkuat nuansa dokumenter pertandingan yang dijalani Micky.
Terakhir, kita tidak akan menjumpai keberhasilan "The fighter" tanpa duet pemeran pembantu terbaik tahun ini, Melissa Leo dan Christian Bale. Saksikanlah sendiri, pertama-tama dari upaya luar biasa Melisa Leo memerankan Alice. Ia bukan antagonis, namun keacuhannya pada disfungsi keluarga menimbulkan dampak luar biasa untuk karir Micky yang sejatinya dapat lebih bersinar. Ia ibu dari sembilan anak, sadar bahwa ia merupakan pusat keluarga, munafik dan penyayang sekaligus. Cukup lama tak muncul karakter perempuan sekuat ini dari kisah layar perak. Alice merupakan lawan sebanding Leigh Anne Tuohy-nya Sandra Bullock dari film "The Blind Side". Jika Anne memahami potensi keluarga sebagai sanctuary terakhir setiap anak manusia dari cengkraman institusi sosial lainnya, menganggapnya final, dan menolak mengompromikan ide tersebut, hal sebaliknya dialami dan diupayakan oleh Alice.
Karakter Melisa Leo tersebut meminggirkan finalisasi nilai keluarga, dan mempertaruhkan segalanya pada kemampuannya menciptakan keberhasilan teruntuk Micky. Ia tidak berhasil, dan selalu mencoba. Sisi itu paling dahsyat terlihat saat ia murka mengetahui posisinya sebagai manajer Micky digantikan orang lain. Ia merasa dikhianati, namun di sisi lain sebetulnya paham pula bahwa ia memang tidak terlalu berkompeten. Kekerasan hatinya itu bahkan menjadi kristalisasi sifat antagonistik dalam film ini, saat ia mempersalahkan kedekatan Micky dengan Charlene, sebagai penyebab mula ia tersingkir dari arena pertarungan.
Tak segan, ia mengungkit utang anaknya, saat didebat di ruang makan, terkait usulan agar Micky dimanajeri oleh orang lain saja. "Oh, sekarang aku diragukan di ruang makanku sendiri, dan kau Gail (salah seorang gadis dari sembilan anaknya), kau masih berhutang padaku 200 dollar, kapan akan kau bayar?" Saya tak mampu berkata-kata menyaksikan scene tersebut. Keberhasilan Melisa Leo mengingatkan saya pada karakter Umberto Domenico Ferrari yang keras kepala namun tak pernah menyerah mencari makna hidup gubahan sutradara legendaris Italia, Vittorio De Sica.
Dan puncak semua pertarungan adalah upaya yang dilakoni Christian Bale menghidupkan sosok nemesis sekaligus malaikat bagi Micky, sang pecundang komplit Dicky Ecklund. Ia kakak dari ayah yang berbeda, tapi sedemikian menyayangi Micky. Legenda lokal kota Lowell yang selalu menggembar-gemborkan keberhasilannya meng-KO Sugar Ray di tahun 1978, tanpa mau melihat kenyataan bahwa ia lebih sering kalah alih-aih memenangkan pertarungan. Ia pun kecanduan obat bius. Paradoksal, dan saya tak bisa berkata-kata banyak untuk Bale. Ia rela makan sedikit selama proses syuting agar mampu mengurangi bobot sebanyak 30 Pounds supaya terlihat mirip dengan Dicky asli saat masih aktif menjadi pencadu, sesuai dengan latar kisah "The Fighter".
Performanya dalam film ini jelas menampakkan observasi mendalam, presisi dalam menampilkan kemiripan fisik, dan akurat menggambarkan kekacauan mental seorang pecandu dengan angan-angan kosong sepanjang hidup. Hanya satu kata menilainya, indah. Saat ia membual bahwa Lowell sebelumnya cuma memiliki dirinya seketika layar dimulai, kita sudah paham bahwa ia bukan Bale yang sebelumnya seorang Batman. Dengan kompleksitas emosi luar biasa, saya berani bertaruh, anda bakal trenyuh menyaksikan cara Dicky (atau Bale, tepatnya) berbicara untuk sebuah film dokumenter menyikapi perjalanan hidup adiknya di akhir kisah.
Inilah film dengan pertarungan luar biasa dari dalam dan luar kisahnya, sayang bila anda melewatkan segala keriuhan itu tanpa meliriknya sedikit pun. Di akhir, anda tidak akan menemui tinju sebagai representasi otot tanpa jiwa, melainkan parade emosi alamiah dan dekat dengan kemanusiaan manapun, terpancar ke segala arah dari kucuran darah, keringat, serta air mata.
Tag: tinju, arena, disfungsi keluarga
Terkait:
-
Warrior: Keindahan Di Atas Ring
Rabu, 2 Nov '11 17:12 -
The Fighter (2010)
Sabtu, 5 Feb '11 02:42
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Taruma: Good Take
-
kniwe: Box Office
-
rohanisyawaliah:
-
AndriaGutama: Box Office
-
sabai: Box Office
-
jamur: Box Office
-
moti: Box Office
-
lilliperry: Box Office
-
Haris Fadli: Keep Rolling

Komentar:
Walaupun dari referensi yang disebutkan gak ada yang dikenal. hahaha.
The Fighter dan The King's Speech, dapat nilai sempurna dari saya. Tapi, saya lebih menyukai The King's Speech. Materinya lebih suka. Padahal, kehidupan saya gak jauh beda dengan The Fighter. -__- hahaha.
Ya, persis banget.
Fighter sejak opening scene-nya aja udah menjanjikan banget. Dan dengan natural menyentuh emosi kita, penontonnya. Sesuatu yang nggak kita dapat waktu nonton King's Speech. Yang itu gue lebih berasa nonton opera panggung yang bagus.
*speechless*
sabai: ampun mbak, jangan dicubit, ampun...
Silahkan login untuk memberikan pendapat