Menjadi Sineas ? 21
Sabtu, 26 Feb '11 20:30
Menjadi sineas ?
Mungkin hanya beberapa yang berpikir seperti itu. Pikiran para remaja atau generasi penerus bangsa mungkin me'prefer'kan menjadi dokter. Menjadi sineas di negara ini mungkin tak lebih bercahaya dibandingkan menjadi seorang dokter.
Bahkan mungkin beberapa orang yang memilih menjadi sineas di negara tercinta ini harus berpikir ulang kembali. Beratnya mengemban tugas menjadi pencipta seni melalui media audiovisual dan berharap ditonton oleh orang seantero negeri bahkan bila Yang Maha Esa memberi berkah bisa sampai ke negeri orang.
Bahkan bila kita ingin menjadi sineas dari mana kita belajar memulainya ? Ortodok kah ? atau bersekolah ke satu satunya sekolah film di negeri ini.
Motivasi yang diperlukan, kita membutuhkan "para sineas" yang bisa kita buat menjadi pedoman. "Para sineas" yang sekarah sudah berada dalam aliran karir mereka. Bagaimana bila mereka yang menjadi pedoma. Para senias lokal atau inter mungkin. Saat hanya beberapa sineas lokal yang bisa kita percaya inkredibilitasnya, kita memberi harapan besar pada diri kita dengan memandang figur para sineas luar. Berharap mungkin kita bisa menjadi mereka. Padahal mungkin sekarang yang benar benar kita butuhkan adalah para sineas lokal yang memberi semangat dan harapan tinggi pada calon sineas sineas muda untuk menaikkan derajat perindustrian film kita esok hari.
Berharap atau memberikan beban ? Saat dimana film film tak bernilai sering muncul sekarang dan munculnya masalah intern membuat masyarakat sebagai konsumen semakin menjauh.
Hendaknya kita berharap sekarang, Perubahan terjadi sekarang, sehingga beban sineas muda esok hari tak semakin berat Tak sampai akhir karir mereka hanya terus menerus memperoleh simpati rakyat.
Tag: Sineas
Terkait:
-
Memaknai 100 Tahun Narasi Besar Bernama “Akira Kurosawa”
Kamis, 25 Mar '10 04:07
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Taruma: Good Take
-
kniwe: Good Take
-
bitterjoy: Good Take
-
rohanisyawaliah:
-
jokotarub: Good Take
-
eMina: Keep Rolling
-
AndriaGutama: Informatif
-
VJ Narsius: Good Take
-
ZIY: Informatif

Komentar:
Ibaratnya kalau mau scoring musik, mau enggak mau harus sekolah/kursus dulu.
Quentin Tarantino gak sekolah film lo. Sebelum jadi sutradara doi cuma penjaga rental kaset film.
Saya bilang sekolah/kursus dulu biar menjamin informasi yang masuk dan menambah relasi. Yah kalau kedua poin tersebut bisa didapatkan di rental kaset film, kenapa tidak. Dan kalau merasa cukup, sekolah bisa dinomor duakan.
Banyak kok sutradara ternama lain yang tidak mendapatkan sekoalh formal film tapi berhasil, selain Quentin Tarantino. Stephen Frears (sutradara The Queen, Dangerous Liaisons, dll) itu sarjana hukum (bukan film). Eros Djarot yang bikin Tjoet Nja' Dhien juga awalnya seorang komposer, bukan sutradara.
Nggak semua yang mendapat "pendidikan formal film" bakal jadi sutradar baik lo. Kanjeng Nayato Fio Naula contohnya. Jauh-jauh sekolah di Korea Selatan tapi bikin film begituan. Tahu kan Om nama itu?
Memang sih, untuk bidang seni, "Ijazah" tidak diperlukan.
Klarifikasi dulu deh:
Saya gak bilang kalau orang yang gak lewat sekolah, gak bisa buat film bagus.
Saya bilang "sekolah/kursus" dulu karena, itulah jawaban yang lebih pantas kalau ada yang nanya "Langkah apa yang terbaik jika ingin sineas?".
Kalau menghasilkan karya seni, ijazah tuh hanya pajangan. Beda halnya kalau untuk bidang teknik, ijazah tuh harus ada. Sekalipun bisa bikin bangunan 10 lantai, tanpa ijazah semuanya diragukan karena bersangkutan dengan orang lain dan keselamatan.
Kalau untuk masalah kualitas, rasanya gak adil kalau membandingkan kualitas yang sekolah dengan yang tidak. Lebih baik membandingkan kualitasnya sesuai wilayahnya (sekolah, yah dengan sekolah lagi. otodidak, yah otodidak lagi).
Lagipula, kita tidak tahu kalau sutradara yang anda sebutkan tersebut tidak mendapatkan ilmu penyutradaraan dari sekolah/kursus (bahkan online). Yang bisa jawab, yah sutradaranya sendiri.
first gue sanada sama si jon. pendidikan bisa didapat darimana aja. i mean ke gue. gue suka ngebacot. dan biar gak ngebuang sia-sia, gue nulis bacotan dalam bentuk blog. lalu dibaca semua orang, diapresiasi.
gue suka nulis, gue suka baca. gue pernah bikin beberapa novel dan skenario sinetron. pernah ada temen guweh di forum penulis nawarin: "mau jadi scriptwriter gak? atau kalo mau mudah km ngasi plot aja. lumayan, 500 ribu." and then gue coba tapi nggak ajdi gue kirim. coz gue lebih suka bikin novel
intinya, sesuatu nggak perlu harus dipelajari. yang penting kita ada niat buat mencoba. kalau berhasil, kita akan heboh dengan sendirinya.
tapi disatu sisi, kalau kita pengen lebi maju lagi, nggak ada salahnya belajar/kursus or something else. itupun pasti terhambat karena dana. apalagi yang punya cita2 gede tapi kondisi tak memungkinkan. jadi jalan satu-satunya hanya nekat dan berani mencoba. asal masih dalam batas wajar.
@bitterjoy: menulis skenraio gampang, gue belajar dadakan dari temen guweh, mbak indah penulis sekaligus scriptwriter FTV di frame ritz. kalau mau tau lebih detail baca buku terbitan Grasindo. tentang skenario. very simple dan mudah diingat. nggak perlu sekolah. yang penting mencoba
Yah, dimana-mana, yang paling penting tuh "Getting Started"-nya dulu.
bitterjoy: sekarang kan dah jamannya internet, belajar via online. yah, saran saya sih, tingkatkan kemampuan berbahasa. terutama bahasa asing. dan ikut forum screenwriter di luar sana. Setidaknya, nanti kamu bisa menjadi salah satu screenwriter yang berpengaruh di Indonesia karena mengadaptasi screenwritng di berbagai negara.
Taruma: wah,kalo untuk bahasa inggris ga dulu deh,indonesia aja dulu..
aibii: kemarin, saya baru baca sreenplay "A Single Man". dan busett. detail banget.
sekolah di mana emang mas ?
kalo menurut gw permasalahan film2 nya nayato gak usah di permasalahkan lah sebuah hasil nya.toh doi juga ngebangun frame ok ko, permasalahan nya kan cuma ada di konten yang mau gak mau masyarakat indonesia banyak yg menyukai juga, dan aminin di lihat menjadi ladang profit oleh producer
Silahkan login untuk memberikan pendapat