Memasyarakatkan Film 4

Kamis, 24 Feb '11 23:12

saya tinggal di sebuah kota yang jarang sekali masyaraktnya memiliki kwalitas yang baik dalam mengapresiasi film, saya tidak bilang kalau saya punya kwalitas yang baik, dan itulah sebabnya. saya dilahirkan dibandarlampung, provinsi lampung, itu tidak saya sesali. saya gemar menonton sejak SMP pun saya tidak sesali, itulah kenapa tidak ada cita - cita lain selain menjadi sutradara film. saya pernah berbncang dengan teman yang sampai sekarang menjadi panutan saya dalam segala hal tentang film , dari dia saya menjadi tau sedikit tentang proses-proses untuk membuat film. dan dari itulah saya sekarang menjadi salah satu mentor ekskul  sebuah sekolah di bandarlampung, saya memiliki teman-teman satu hobi dan mulai mulai memberanikan diri untuk membuat film pendek. tapi ada sebuah halangan besar untuk kami dalam berproses, sebuah masalah yang sampai sekarang belum juga ada jalan keluarnya. kita semua tau film adalah sebuah industri yang jarang sekali peminatnya, apa lagi di kota sepeti bandarlampung semua serempak mengluarkan kata-kata tidak mungkin apa bila saya dan temen-teman mulai berdiskusi tentang wacana menggarap film, ada memang beberapa kelompok yang terus-menerus membuat film pendek, tapi itu tingkat universitas ada mungkin beberapa SMA yang membuat film pendek tapi semua karyanya tidak bisa dibilang baik, itulah kenapa saya selulu iri dengan daerah lain kususnya pulau jawa yang karya film pendeknya luar-biasa bagus. saya selalu berfikir mungkin karena SDM yang kurang baik, tapi semakin lama semakin saya sadari bukan itu soalnya, kami disini sangat kurang tempat diskusi, sangat minim impormasi tentang bagai mana menggarap sebuah film yang baik, karna saya sadar membuat film tidak bisa hanya dilandasi kemampuan bakat yang luar-biasa , dan kecintaan yang luar biasa kepada film, membuat sebuah film yang baik itupun harus di iringi dengan kemampuan teknis yang baik pula. kami bukannya tidak memiliki SDM yang baik, kami hanya tidak mampu melawan sinisme masyarakat yang manggap tidak mungkin perkumpulan kami dapat membuat film seperti yang merekaliat selama ini, dan juga kami tidak mampu menyakinkan orang-orang terdekat bahwa kami punya jalan untuk mejadi sineas besar dan meyakinkan mereka bahwa menjadi sutradara juga bisa menjadi cita-cita yang tidak muluk, disamping memang kami sangat susah mendapat sarana(alat) yang memadai. hal itulah yang mendorong para anggota kami pergi , kehilangan motifasi, sehingga membuat kelompok kami menjadi semakin minoritas dan tidak pernah dapat kesempatan untuk diakui, hasilnya anak-anak lebih memilih untuk menjadi model, pengusaha atau anak band, itu masalah yang kami hadapi di kota yang sebenarnya banyak sekali bakat sineas yang luar biasa. saya ingin sekali berhenti, dan mulai berkompromi untuk mengganti cita-cita saya, tapi apabila saya sudahi semua proses sakit saya yang tidak sebentar ini, apa nanti kata semua orang yang mencibir cita-cita saya? saya tidak mampu apa bila saya mendengar "tuh lihat, apa coba saya bilang ? cita-cita kok jadi sutradara" dengan nada yang sangat menyakitkan. dari itu saya selalu terus berusaha menjalaninya, walaupun harus selalu menelan rasa pahit , getir, dan was-was. maaf bukan saya ingin berkeluh kesah dengan sesuatu yang sudah saya pilih, film sudah mendi orang tua bagi saya, sudah menjadi guru terbaik dalam hidup saya. itu kenapa saya menulis ini, hanya karena saya takut bahwa adik-adik kita nanti tidak bisa lagi menikmati film yang baik dan berkwalitas karena masalah yang saya hadapi kini. saya akan sangat sedih sekali apabila banyak bakal sutradara gugur sebelum mereka tau bakatnya.

dari itu, dimulai dari kita, sepenuh hatilah dalam mencintai karya seni terbesar yang dimiliki manusia ini(film) teruslah bersungguh-sungguh , teruslah teriakan bahwa menjadi sutradara film itu bukan cita-cita yang konyol. kita lah yang mementukan masa depan perfilman indonesia. teruslah memasyaraktkan film. cita -cita ini sangat pantas untuk dibela.


Tag: danaryudhistira

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

aibii 0 0
senasib bang, gue sempet bikin skenario film pendek buat lomba di sekolah tapi kepsek nya gak mau mendanai haha. padahal bujet udah gue tekan. gue udah ngerangkap sutradara sm penulis skenario plus bagian casting pemain yg gue comot berdasarkan insting dan berharap suatu hari mimpi gue jadi nyata. seenggaknya bikin film buat koleksi pribadi. kenang2an sama anak gue entar kalo "ini lho dek, film ayah dulu". hahaha : )
I wrote SYN not Tragedies 0 0
aibii:
"gue udah ngerangkap sutradara sm penulis skenario plus bagian casting pemain yg gue comot berdasarkan insting"

ebuseett... multitasking...hehehehehe

danar Yudhistira

" bahwa menjadi sutradara film itu bukan cita-cita yang konyol"

hmm, emang siapa yang bilang kalo sutradara film itu cita cita yang konyol? wah parah juga ya.. cuma emang kadang idealisme vs kenyataan emang suka gesek2an..halah

saya malah teringat serial dawson's creek, si pemuda yang bercita cita buat menjadi sutradara juga tuh, walau endingnya ga gitu oke, tapi paling engga usaha ke arah itu udah ada, walaupun emang ga gampang.. apalagi di indo..

pembuat film .. halah... di indonesia ini lumayan banyak, hasil karyanya juga termasuk cukup produktif... cuma sedikit jarang yang bisa tertanam di hati para pirsawan dan menjadi bahan omongan dan pepujian hingga beberapa bulan...

nah pelem kaya gini yang kudunya dibikin... : D

tapi tenang bro..

Hidup memang slalu penuh dengan warna-warni.
Bila terjebak sulit untuk coba keluar.
Semua pasti ada jalan keluar.
Cobalah berusaha ....

: D: D: D: D

*dicomot dari lagu tipe -x*

kniwe 0 0
Jangan lupa untuk posting kegiatan kelompok filmnya di sini lho, supaya makin banyak teman yang mendukung...
kartiwa kara bayanaka 0 0
coba cek link ini: http://www.storylab.co.cc/

semoga bermanfaat : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat