And the Oscar Goes to... 4

Rabu, 23 Feb '11 13:38

Pengumuman Oscar sebentar lagi. Demi merebut voucher belanja DVD di Amazon dari BicaraFilm, inilah jagoan gue untuk beberapa kategori di bawah ini. Susah juga mutusinnya, soalnya biasanya tebakan gue terbatas di kategori aktor/aktris, film dan sutradara terbaik doang. Kategori lain kayak sinematografi, original score apalagi film asing, agak males gue bahas karena kurang menarik. #pengakuan

Tapi demi voucher DVD, here it goes:

Actor in a leading role:

Walau gue belum nonton Biutiful & True Grit tapi gue 90% yakin the Oscar will go to Colin Firth di The King's Speech. Akting Eisenberg memang meyakinkan, tapi dibandingin Firth dan Franco ya nggak ada apa-apanya lah. Akting Franco juga gokil banget, tapi one-man-show kayak begitu (minus adegan pamungkas 127 Hours yang sumpah bikin ngilu itu tentunya), udah pernah ditampilin Tom Hanks di Cast Away, jadi udah berasa nggak orisinal lagi. Firth, on the other hand, dahsyat banget aktingnya. Mengaduk-aduk emosi. Di adegan war speech, saking tegangnya gue sampai ikut menahan napas. Dan nggak sadar tepuk tangan ketika pidatonya selesai #begobanget He deserves all of awards honored to him and Oscar to top it off.

Actor in a supporting role:

Film nominasi yang udah gue tonton cuma The Kids Are All Right dan The King's Speech. Film lainnya gue cek trailer-nya doang via Youtube. Tapi gue lebih emosi jiwa melihat sepersekian menit penampilan Chrisian Bale di The Fighter dibanding akting utuh Mark Ruffalo di The Kids Are All Right dan Geoffrey Rush di The King's Speech. Di antara nominasi lainnya, Bale paling menonjol karena: 1) penampilan fisik dan pembawaannya berubah banget (what have you done to your self, Batman?); dan 2) aktingnya - lagi-lagi di sepersekian menit trailer-nya - sangat mencuri perhatian. Jadi, prediksi gue untuk kategori ini: Christian Bale (The Fighter)

Actress in a leading role:

Gue belum nonton Rabbit Hole & Winter's Bone, tapi sekuat keyakinan gue akan kemenangan Colin Firth, gue haqul yakin juri-juri Oscar akan memilih Natalie Portman. Karena, selain bermain luar biasa meyakinkan sebagai seorang balerina di Black Swan, usaha Portman untuk menghidupkan karakter balerina stress di film ini gue nilai lebih daripada kontendernya. Meski sempat berlatih balet sejak kecil, khusus untuk film ini, dia latihan intens dengan instruktur yang sekarang jadi calon suaminya. Plus, adegan lesbian sex scene Portman gue bilang lebih menghanyutkan ketimbang adegan seks-nya Michelle Williams (Blue Valentine) dan Annette Benning (The Kids Are All Right - padahal sama-sama adegan seks lesbian (bareng Julianne Moore) tapi kok males aja gitu ngeliatnya). Pasti ampuh deh untuk membius juri-juri Oscar.

Actress in a supporting role:

Wah, ini susah, soalnya dari semua film yang dinominasikan yang udah gue tonton cuma The King's Speech. Jadi harus tebak-tebak buah manggis. Lagipula, biasanya kan Oscar suka tuh sama film yang berbau-bau kerajaan Inggris. So my vote goes to Helena Bonham Carter (The King's Speech).

Animated feature film:
Di antara ketiga nominasi, Toy Story 3 paling istimewa. Pertama, dia itu sekuel yang bebannya lebih berat ketimbang film pertama. Kedua, akan tetapi, secara keseluruhan bobotnya malah lebih bagus daripada Toy Story 1 & 2. Naskahnya solid. Alur cerita dan perkembangan karakter mainan di dalamnya, masuk akal dan mengalir lancar (secara sekuel biasanya kan suka mengada-ada). Plus, ending yang sangat memuaskan, pas, dan menyentuh hati. Jadi, prediksi gue untuk kategori ini adalah Toy Story 3.

Cinematography:

Di antara semua kandidat (kecuali True Grit yang belum gue tonton), hanya sinematografi Inception yang sukses membuai gue, so my vote goes to it.

Directing:

Gue punya pengakuan. Walau mengagumi akting Firth, The King's Speech's not my kind of movie. Gue emang jarang sehati dengan film-film tipikal award darling begini. Most of them I found boring (contoh bagus Mystic River & Million Dollar Baby). Black Swan pun menurut gue dragging dan gagal menjawab pertanyaan dasar gue: kenapa pula Portman bisa sebegitu terobsesinya dengan sebuah peran? Apakah dia dulu pernah di-abuse orangtuanya?

Nah, di antara film-film kesayangan award yang masuk kategori ini (ditambah lagi dengan kegagalan absurd Christopher Nolan & Danny Boyle untuk masuk bursa nominasi lewat arahan mereka yang jenius gila di Inception & 127 Hours), hanya penyutradaraan David Fincher di The Social Network-lah yang sukses nggak bikin gue ngantuk. Padahal filmnya berpotensi besar bikin orang nguap-nguap. Sudah-lah isinya dialog melulu, yang dibahas mainannya geek pula macam komputer/ bahasa pemrograman whatsoever. Ajaibnya, film ini sama sekali nggak membosankan, malah sanggup membuat orang dengan tekun menyimak adegan per adegan, dengan bonus adegan penutupnya yang begitu cerdas. Untuk itu, I salute David Fincher.

Music (original score):

Dari semua film yang masuk nominasi, hanya komposisi musik ciptaan A.R. Rahman di 127 Hours-lah yang mampu menyita perhatian gue. Ya, walau mengakui perannya sangat penting dalam mendukung atmosfer adegan, gue memang jarang memperhatikan aspek yang satu ini. Tapi di film ini, musiknya dengan sakti menghidupkan adegan yang lokasi syutingnya ya di situ lagi di situ lagi. Berkat kolaborasi penyutradaraan Danny Boyle yang out of the box, dan musik A.R. Rahman yang menghipnotis, 127 Hours nggak bernasib seperti Buried. So, A.R. Rahman all the way.

Best Picture:

Untuk kategori ini dengan sepenuh hati gue menjagokan Inception. Film ini bagusnya all-out. Naskah, penyutradaraan, akting, musik, sinematografi, efek spesial - komplit. Kritikus dan box-office pun mencintai film ini. Adegan penutupnya mind-boggling banget. Inception juga mencerahkan. Begitu keluar dari gedung bioskop, anak-anak gaul fasih ngobrol tentang filosofi mimpi. Dan hype film ini juga masih terasa sampai berminggu-minggu kemudian.


Tag: bicarafilm, Academy Awards 2011

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

warm 0 0
prediksinya keren bos
Taruma 0 0
Malah untuk sinematografi, pemenangnya lebih besar ke True Grit. : ) Keren sih ambil pemandangannya. sayang, kurang heboh kayaknya kalau cuman nonton di laptop. hahaha. : )
putridmr 0 0
Terima kasih warm, pujiannya juga keren : )

Taruma, tos untuk sesama penyuka film laptop #jadibangga : D True Grit gue belum nonton, tapi kata temen gue, seorang film journos, yang dengan beruntungnya diundang preview-nya di bioskop, filmnya cukup membosankan : D
Taruma 0 0
Filmnya sejenis WInter's Bone. Membosankan diawalnya. Lebih pengenalan karakter. haha. : ) Tapi, akhirnya lumayan lah. : ) Tidak mengecewakan.

Silahkan login untuk memberikan pendapat