Siapa Sih Distributor Film Impor di Indonesia? 37

Senin, 21 Feb '11 14:27

Di tengah-tengah polemik tentang pemboikotan film impor oleh para distributor karena 'penafsiran ulang' pajak/bea masuk film impor, sangat menarik untuk memperhatikan siapa saja pihak-pihak yang berkepentingan dengan adanya boikot tersebut.

Pertama-tama mungkin perlu diluruskan mengenai perbedaan distributor dan exhibitor (bioskop). Saya rasa mulai belakangan ini sudah banyak yang tahu, tapi mungkin masih banyak juga yang belum mengerti. Cinema 21/XXI, Blitzmegaplex, dan Surya M2 adalah contoh exhibitor/bioskop. Mereka bertugas mempertunjukkan film (exhibit = mempertunjukkan) kepada penonton, dan suplai film didapatkan dari distributor film. Itulah mengapa pihak bioskop seringkali tidak tahu kapan tanggal persis sebuah film akan ditayangkan, karena ini semua diatur oleh distributor.

Oh ya, mekanisme film dengan distributor ini adalah khusus untuk film impor. Sedangkan film Indonesia, seperti kita ketahui tidak ada yang namanya distributor, melainkan produser harus berhubungan langsung (baca: negosiasi) dengan pihak exhibitor mengenai jadwal tayang dan logistik peredarannya.

Mencermati website Lembaga Sensor Film (www.lsf.go.id), saat ini ada 7 distributor film impor di Indonesia. Mereka adalah:

1. PT Camila Internusa Film

Camila adalah salah satu distributor yang paling tua di Indonesia, dan mengkhususkan diri pada distribusi film2 impor dari studio Hollywood, yaitu Sony/Columbia, Universal dan Paramount. Menurut filmindonesia.or.id, Camila juga turut memproduksi 4 film Indonesia di tahun 1991 dan film 'Telegram' di tahun 1997.

2. PT Satrya Perkasa Esthetika Film

Satrya juga merupakan distributor film2 impor dari studio Hollywood, yaitu Disney, 20th Century Fox dan Warner Bros. Satrya juga tercatat memproduksi film 'Ibunda' peraih piala Citra untuk film terbaik 1986.

3. PT Amero Mitra Film

Amero mendatangkan film2 impor dari Hollywood tetapi bukan studio 'big six', melainkan studio2 kecil seperti The Weinstein Company, Lionsgate, Screen Gems, Summit, CBS, dll. Selain itu ada juga beberapa film non-Hollywood, seperti Inggris dan Perancis.

4. Jive Entertainment

Jive adalah pendatang baru di dunia distribusi film, dan mengkhususkan diri pada film2 manca negara yang cukup beragam seperti dari Thailand, Mexico, Norwegia, Swedia, dll.

5. PT Parkit Film

Porsi Parkit adalah kebanyakan film-film Bollywood dari India, dan beberapa film Hollywood dari studio indie.

6. PT Teguh Bakti Mandiri

Spesialisasi TBM adalah film-film Mandarin dari Hong Kong dan RRC.

7. PT Rapi Films

Distributor yang lebih terkenal sebagai produser film sejak tahun 1971 s/d sekarang ini juga turut mengimpor beberapa film indie dari Barat.

Sudah menjadi rahasia umum kalau Camila, Satrya dan Amero adalah merupakan related party dengan group Cineplex 21 (a simple Google search easily prove it). Akan tetapi, hanya Amero saja yang merupakan distributor khusus Cineplex 21, sedangkan Camila dan Satrya mendistribusikan film2 mereka ke semua jaringan bioskop.

Jive adalah related party dari BlitzMegaplex, sementara Parkit memutar film2 mereka cukup berimbang antara Blitz (khususnya Bollywood) dan group 21. Sementara TBM mensuplai film mereka ke group 21 dan Surya M2.

Boikot film impor dilakukan oleh MPA (Motion Pictures Association), anak perusahaan dari MPAA (Motion Pictures Association of America), yang bertugas mensuplai film-film "big six" studios yang dipegang hak distributornya oleh Camila dan Satrya. Kita tunggu saja hasil dari 'perang dagang' yang sedang berlangsung antara MPA dan pemerintah saat ini.

Sebagai info terakhir, lagi-lagi berdasarkan pantauan saya dari website LSF dibantu data dari IMDb, ada beberapa film yang akan bisa ditayangkan oleh bioskop karena mereka bukan keluaran studio "big six" dan sudah lolos sensor (yang artinya pasti sudah lolos dari bea cukai).

  1. The Eagle (USA/UK) - Channing Tatum, Jamie Bell - Jive Ent - Blitz exclusive
  2. The Little Comedian (Thai) - Jive Ent - Blitz exclusive
  3. Mr. & Mrs. Incredible (HK) - Louis Koo, Sandra Ng - TBM - 21 exclusive
  4. Fair Game (USA/UAE) - Naomi Watts, Sean Penn - Amero - 21 exclusive
  5. London Boulevard (USA/UK) - Colin Farrell, Keira Knightley - Amero - 21 exclusive
  6. Machete (USA) - Danny Trejo, Robert DeNiro, Jessica Alba - Amero - 21 exclusive
  7. 13 (USA)- Jason Statham, Mickey Rourke - Amero - 21 exclusive
  8. The Warrior's Way (New Zealand) - Geoffrey Rush, Kate Bosworth - Parkit - ??
  9. The Sword with No Name (Korea) - Amero - 21 exclusive
  10. Triangle (UK/Australia) - Melissa George - Amero - 21 exclusive
  11. After Life (USA) - Liam Neeson, Christina Ricci - Amero - 21 exclusive
  12. The Tournament (UK) - Robert Carlyle, Kelly Hu - Amero - 21 exclusive
  13. The Greatest (USA) - Pierce Brosnan, Carey Mulligan, Susan Sarandon - Amero - 21 exclusive

Setidaknya, apabila boikot berlangsung minimal satu bulan, group 21 akan siap menghadapinya dengan film2 non-MPA yang sudah tersimpan lama. Bagaimana dengan Blitz? Mungkin harus disiasati dengan membuat "theme night", walaupun menggunakan film-film lama yang mungkin sudah lama beredar (kalau misalnya masih bisa). Saya yakin Blitz cukup kreatif untuk hal-hal seperti ini.

Semoga apa yang kita takutkan tidak terjadi: masyarakat malas ke bioskop dan memilih menonton bajakan, bioskop terpaksa harus tutup dan film Indonesia pun mati (lagi)!

___________

Latest update 23 Feb 2011: MPA bantah boikot film Hollywood ke Indonesia. Lho, jadi yang boikot sebenarnya siapa ya? :p


Tag: film, blitz, Distributor, Impor, 21

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
Wah, mas Johannes rajin banget nyari datanya, keren mas!

Imho, dengan masih saling terkaitnya kepemilikan perusahaan2 utama dalam bidang distribusi dan eksebisi film di indonesia, masih akan panjaaaang perjalanan kita utk menyaksikan beragam film di berbagai bioskop di berbagai kota. Ya nggak?
john907 0 0
Terima kasih mbak! Panggilnya Yudhi aja hehe : D

Betul.. implicitly artiket itu menyatakan bahwa sebenarnya industri film sulit maju kalo related party tersebut masih 'memonopoli' distribusi film, baik film impor (Camila/Satrya) maupun film lokal (group 21). Industri film kita sulit berkembang kalau pemainnya itu2 saja, bagaikan David and Goliath. But there's no twist here, Goliath still won (so far) : p
putridmr 0 0
Menarik mengetahui Camilla dan Satrya, distributor film-film studio big six Hollywood, malah terbilang jarang memproduksi film lokal : D

An eye-opener article. Seumur-umur nonton film-film Hollywood di bioskop baru kali ini tahu semua hal yang ada di artikel ini. Thanks for letting us know. : )
john907 0 0
putridmr: Thanks for the compliment! Dan karena kisruh impor film ini, saya jadi bikin riset sendiri dan inilah hasil riset saya : )
Taruma 0 0
Wah, menambah pengetahuan! : ) Really Good Article. : )
Tapi, dari ke-13 film yang sudah lolos. film US, sudah ada barang 'pirate'-nya. : p Lagipula dari ke13 film tersebut, rata-rata filmnya "film rumahan". : p

Waduh, kalau ada tayang ulang sih, saya pengen ditayangin ulang 3D-nya Megamind (belum sempet nonton) sama Avatar kali yah. hehe. : )

Info untuk ke 13 film diatas:

Belum rilis versi pirate (masih Cam/TS, atau tidak ada sama sekali): The Eagle (Cam), London Boulevard, The Little Comedian, Mr. & Mrs. Incredible, The Warrior's Way (TS),

Jadi, kalau mau nonton di bioskop yah tonton yang diatas ajah. : ) [5 film]

Sudah rilis versi pirate (R5/DVDscr/DVDrip/BRrip) [kualitas layak tonton]: Fair Game (BDrip), Machete (R5), 13 (DVDrip), The Sword with No Name (DVDrip), Triangle (BDrip), After Life (DVDrip), The Tournament (DVDrip), The Greatest (BRrip) [8 film]

Kalau mau hemat duit, beli ajah filmnya. hahaha. kebanyakan film tahun 2009 dan 2010. : p
john907 0 0
Taruma: haha thx mas.. iya, unfortunately most of them udah terlalu lama/basi, ya mungkin kesempatan lah buat grup 21 sekalian bersih2 gudang : p

Betul.. saya mau tuh nonton 3D lagi! Avatar (for the 3rd time) Despicable Me dan Step Up 3D katanya jg bagus 3Dnya. Rapunzel juga boleh : D
Taruma 0 0
john907: Mudah"an blitz masih megang film Avatarnya. hehe. : ) sayang Gnome & Juliet 3D gak muncul kalau masalah sekarang belum selesai-selesai. : (

Saya sih, nonton ke bioskop nonton yang 3Dnya terlebih dahulu. kalau gak ada film 3D sih, saya juga jadi males ke bioskopnya. hahaha. : p Terlebih lagi kalau jenis filmnya film rumahan (Drama, Misteri). : p
Taruma 0 0
Avatar 3D saya belum sempet nonton di bioskop, baru nonton lewat komputer. : ( Kurang nyaman kalo teknologinya anaglyph. : (
john907 0 0
Taruma: You have to watch Avatar in the cinema. Blitz lebih bagus karena gambarnya lebih terang. No subtitles, tapi mudah dimengerti kok.

Gnomeo & Juliet sbrnya masuk lewat Amero padahal keluaran Disney, makanya saya exclude dr list di atas : )
Taruma 0 0
john907: saya sih, gak apa-apa kalau film hollywood non-3D di tahan dulu (lebih baik sih jangan ditahan). Tapi, kalau film 3D, jangan ditahan dong. -__- rugi bioskopnya juga. : p

Saya dah biasa nonton film english non-subtitle (kebanyakan nonton dokumenter). Kalo di blitz saya punya Clip-On-nya, jadi lebih nyaman ajah. : )

Gnome & Juliet jadinya gimana dong? gak akan tayang? -__- sedih deh. Mudah"an Animated Film di nomorsatukan (Saya kan Animated-Film-Freak).
jamur 0 0
nice article! : )
putridmr 0 0
Yud, gue punya pertanyaan bodoh-bodoh enggak nih. Lo tau nggak sistem pembayaran film luar oleh distributor? Beli putus atau royalti?
john907 0 0
jamur: thanks! salam kenal dari newbie BF : )

putridmr: Setahu gw royalti, karena yang sekarang diributkan oleh pihak importir adalah hak distribusi yang mereka anggap dikenakan bea masuk. Padahal kalo dibaca surat edaran dr KPP, bukan bea masuk, melainkan PPN dan PPh atas royalti. Gw baca di Kompas hari ini, importir gak pernah bayar royalti ini sejak 1995. Nah pertanyaan yg menggelitik, kok selama ini didiemin aja oleh pemerintah? Harusnya kan terbit SKPKB, surat paksa, dsb : p Masa dari thn 1995 s/d 2009 nggak pernah ada audit pajak.. hmmm : )
putridmr 0 0
Btw, masih ada hubungannya dengan kisruh pajak film luar, ini ada link yang menarik dan menambah wawasan dari JB Kristanto:

http://filmindone…a-menyeluruh
john907 0 0
putridmr: artikel yang sangat menarik! Ini bukan sinetron yg jelas who's the good guy and the villain : p Sebenarnya tujuannya sangat mulia: memajukan industri perfilman Indonesia. Tapi langkah2 yang dilakukan govt dan reaksi importir atas langkah2 tersebut tidak mencapai tujuan semula.
lazione budy 0 0
nice one!
lilliperry 0 0
nice article mas, dan komen2nya jg cukup mencerahkan : )
aibii 0 0
gue pengen pindah negara. antara korea sama thailand hha
Mikael Dewabrata 0 0
putridmr: nice link. pada dasarnya biarpun tulisan gw kelihatan maki2 pemerintah sebenernya gw maki2 anggapan kalau cara 'kenaikan' pajak ini bertujuan mulia perfilman nasional. pdhl soal distribusi film dan bioskop sendiri ga beres
john907 0 0
lazione budy: thanks!

lilliperry: thank you mbak, senang nemu tempat diskusi di sini yang org2nya cukup terbuka untuk berpendapat.

aibii: haha bahasanya rada2 susah tuh : p

Mikael Dewabrata: tapi 'kenaikan' pajak ini ada sisi positifnya, orang2 jadi tahu bahwa tidak ada pihak yg benar 100% dan salah 100%. Masing2 pihak baik pemerintah maupun importir memiliki andil dalam kisruh ini. Pemerintah tidak (atau belum?) mensupport film Indonesia, sementara importir melakukan tindakan bisnis yang membuat industri perfilman Indonesia stagnan atau malah terancam mati (lagi!). Rumit bin ruwet memang. Soooo, let's wait and see : )
Taruma 0 0
john907: aduh masalahnya, kalau sesuatu yang udah naik PASTI susah turunnya. : p

Pemerintah belum support karena yang buat film lokal tuh dikit. : p coba kalau banyak (dan tentunya berkualitas) pasti dikurangi pajak tuk negeri sendiri.

Tapi, sih sineas lokal sebenarnya jangan menjadikan masalah pajak dan lain-lain sebagai permasalahan membuat film bagus. Kalau mereka beralasan budget. Yah, mana ada sih film bagus dengan budget kecil.
john907 0 0
Taruma: hmmm sebenarnya seperti ayam dan telur. Mana yg harus duluan? Film berkualitas harus banyak dulu atau dukungan dari pemerintah dulu? Sebenarnya IMO yang lebih ideal adalah goodwill dari pemerintah dulu. Yang namanya insentif pajak selalu bertujuan supaya investor mau masuk ke dalam industri tersebut.

Tapi pajak hanya salah satu dari sekian banyak langkah yg bisa dilakukan pemerintah. In the long term, pajak2 ini harusnya digunakan untuk membuat sekolah film, beasiswa sekolah film ke luar negeri, dsb untuk memajukan standar film Indonesia, syukur2 lama2 bisa seperti standar film Bollywood atau Mandarin. Kalau Hollywood masih jauh lah.
Mikael Dewabrata 0 0
john907: ya betul
warm 0 0
keren bos infonya
makasih banyak : )
Taruma 0 0
baru baca berita terbarunya. Jadi, yang memberhentikan distribus tuh dari pihak studionya yah?

Aduh, kalau dah begini sih, suram deh nasibnya. Gak bisa nonton film hollywood lagi. -__- jadi banyak film yang tertunda. Jadwal rilis jadi berantakan dong. : ( XXI dah gak laku. : p

john907: Kalau saya sih, film berkualitas dulu. : )
I wrote SYN not Tragedies 0 0
artikel yang sangat informatif...
bagus nih mas

: D

"Semoga apa yang kita takutkan tidak terjadi: masyarakat malas ke bioskop dan memilih menonton bajakan, bioskop terpaksa harus tutup dan film Indonesia pun mati (lagi)!"

kalo ini terjadi...
salah pemerintah kah?

: D

*eaaa lingkeran setaan* : ))
john907 0 0
warm: sama2

I wrote SYN not Tragedies: sama2 salah kok mas, gak cuma pemerintah aja : D betul ini memang lingkaran biru.. eh setan : p
I wrote SYN not Tragedies 0 0
john907:

iya tapi tetep aja kalo pelem2 berkualitas dari holiwut itu ga masuk indo, referensi film kita terbatas, semoga aja kreatifitas insan perfileman kita gak terbatas ya mas heheheh

arrghh.. jadi spedermenn hellboy iron man dan pelem2 superhero lainnya ga bakal muncul di 21 dong yeee
: ((


kasihan precil2 kita...

kasihan saya juga..
siyal...
john907 0 0
I wrote SYN not Tragedies: semoga kreatifitas sineas kita tidak pernah terbatas : )

Tapi karena semuanya masih bertahan dengan posisinya masing2, ya masih belum ada titik terang untuk kisruh ini : (
I wrote SYN not Tragedies 0 0
john907: jiyaahh

baca di media, katanya udah ada titik temuu.. si pejabat menerangkan kembali kepada bule bule tersebut duduk perkaranya
lalu si bule2 dibuat mengerti falsafah inti mengenai pajak di indo


ternyata
masih mogok ya ...

sayang sekali

: |
john907 0 0
I wrote SYN not Tragedies: Artikelnya boleh ditaruh linknya di sini bro? Semoga benar ada update yg sudah kita tunggu2. Thanks : )
I wrote SYN not Tragedies 0 0
john907:

seinget saya tadi pagi saya baca di det*k

semoga saya ga salah hehehehe
aibii 0 0
yah, nggak ada hollywood, bollywood pun jadi. ARRGGGHHHH TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKK!!!!
I wrote SYN not Tragedies 0 0
aibii:

saya tunggu ulasan anda tentang perbollywood-an

: )) : )) : ))
Alldvdku 0 0
artikelnya informatif om : )
E2P 0 0
mau tanya: sebetulnnya yang bikin subtitle/terjemahan itu pihak mana yah?.. apa distributornya?... soalnya ada 2 film yang sy tonton dibawah distributor PT. parkit yaitu the way back dan lincoln lawyer terjemahannya sedikit kacau/engga sesuai dengan percakapan... thx
john907 0 0
Menurut teman saya yg lebih mengerti soal ini, proses subtitle di-outsourced ke pihak lain. Memang untuk Parkit, apalagi film "Lincoln Lawyer" kemarin, subtitlenya tidak memenuhi standar. Tapi menurut teman yg menonton film Parkit berikutnya 'Trust', subtitlenya sudah lebih baik.

Silahkan login untuk memberikan pendapat