Seberapa Penting Apresiasi Penonton Film Indonesia terhadap Film dan Perfilman Indonesia 25

Senin, 14 Feb '11 08:50

Produksi film Indonesia semakin meningkat berpuluh kali lipat per tahunnya dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu. Namun apresiasi penontonnya merosot jauh, tidak berbanding lurus dengan jumlah film Indonesia yang tayang nasional di bioskop-bioskop.

Banyak hal yang bisa saja dipersalahkan atas menurunnya apresiasi penonton film terhadap film dan perfilman Indonesia. Beberapa di antaranya adalah: 1. penurunan mutu produk film Indonesia; 2. distribusi film Indonesia yang tergantung kepada 1 distributor saja; 3. masih kurangnya jumlah layar bioskop untuk tayang film Indonesia; 4. pendeknya masa tayang film Indonesia di bioskop; 5. tema film Indonesia yang nyaris seragam; 6. film Indonesia terlanjur mendapat stigma buruk dari sebagian penonton film di Indonesia; 7. bajakan film yang melimpah, dan masih banyak lagi.

Dari hal-hal yang disebutin di atas itu hampir semuanya di luar kendali pelaku/pekerja film karena solusinya bergantung kepada kebijakan pemerintah dan penguasa negeri yang sebenarnya mendapat cukup pemasukan dari pajak dan cukai yang terkait dengan produksi film dan distribusinya.

Kalau kita berkutat berusaha mencari solusi untuk hal-hal yang di luar kendali tentunya bakal lebih banyak menguras energi. Dan untuk hal-hal yang solusinya bergantung kepada kebijakan pemerintah dan penguasa, mudah-mudahan kita semua masih bisa berharap akan adanya perbaikan seandainya nanti ada perubahan/pergantian rezim.

Di era informasi yang sangat terbuka seperti sekarang terpantau begitu menjamurnya komunitas penikmat film yang tersebar dan terus berkembang dalam dunia maya, mulai dari penonton film karena ‘rajin' celingak celinguk di mall, penikmat film yang getol memantau perkembangan film mulai dari proses pre-production-nya, sampai penikmat film ‘tingkat tinggi' yang asyik dengan film-film art-house non mainstream. Informasi dan diskusi dalam komunitas-komunitas penikmat film itu mampu menggiring kita untuk tidak lagi memperhatikan media-media informasi film yang konvensional seperti majalah cetak/online dan site bioskop online.

Namun dari jumlah yang banyak ternyata masih sedikit sekali yang merupakan penonton film Indonesia yang baik. Indikasi yang paling mudah adalah dari sedikitnya penonton yang menonton film Indonesia di bioskop-bioskop. Sedikitnya penonton yang datang di gedung bioskop juga disebabkan karena pendeknya masa tayang film Indonesia di bioskop-bioskop yang memiliki 2 sisi yang berlawanan; di satu sisi film Indonesia harus segera turun layar, istilah lain dari ‘dicabut dari peredaran', karena dianggap sepi penonton dan terdesak film Indonesia lainnya yang antri untuk rilis di minggu berikutnya, di sisi lain film Indonesia mungkin belum sempat didatangi penontonnya karena terlalu pendek masa tayangnya di bioskop. Penonton film Indonesia masih perlu disodori banyak-banyak informasi mengenai film-film Indonesia yang akan/sedang tayang di bioskop. Andai film Indonesia punya masa naik layar lebih lama, mungkin jumlah penonton yang hadir di bioskop bisa lebih banyak lagi.

Kemungkinan besar setelah ‘lengser'nya film Indonesia dari posisi ‘tuan rumah di negerinya sendiri', buruknya film dan perfilman Indonesia masih menjadi stigma yang melekat di kepala sebagian besar penikmat film di Indonesia. Masih sering terdengar cemoohan apatis, "apa sih bagusnya film Indonesia?!" Apabila kita coba mengambil contoh dari 82 judul film Indonesia yang rilis nasional sepanjang tahun 2010, yang ternyata layak dikategorikan sebagai film yang baik tidak sampai 20 judul, bisa menjadi ‘permakluman' atas cemoohan tadi.

Nyaris ngga beda dengan perdebatan ‘mana lebih dulu telur atau ayam', mengharapkan perbaikan revolusioner terhadap perfilman Indonesia sepertinya masih jauh dari kenyataan dan masih akan berputar-putar di permasalahan yang itu-itu saja tanpa sampai ke solusinya. Sedangkan karya film sebagai suatu karya seni budaya tetap perlu ditonton untuk diapresiasi. Keputusan produser untuk segera merilis filmnya ke dalam format home video (VCD/DVD) supaya bisa menjangkau penonton lebih luas yang tidak terjangkau gedung bioskop (termasuk logika yang salah mengenai peruntukan format home video dari sebuah film), ternyata selain merusak bentuk apresiasi film yang optimal dilakukan di bioskop, juga malah membuka celah pembajakan terhadap film itu sendiri.

Penonton yang katanya lebih terdidik tentang film, khususnya film-film produksi Amerika dan Eropa, ternyata sedikit sekali yang mau ‘menurunkan level pendidikan filmnya' apabila bersinggungan dengan film-film Indonesia. Mereka masih terlalu tinggi dalam mengekspektasi sebuah karya film Indonesia. Mungkin sebagian dari mereka lupa bahwa film adalah juga bagian dari kebudayaan sebuah bangsa yang pastinya unik dan berbeda dengan kebudayaan bangsa-bangsa lainnya.

Ekspektasi dan selera memang sulit untuk diukur dengan pasti. Tapi dengan banyaknya komunitas penikmat film yang bertebaran itu mungkin masih bisa dijadikan sarana untuk menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya mengenai film-film Indonesia yang akan/sedang tayang. Dengan informasi yang banyak itu paling tidak sedikit mampu ‘mengarahkan' ekspektasi yang bakal muncul sebelum menentukan pilihan dan menyaksikan filmnya.

Ada juga gejala aneh dari sebagian penonton film: dengan informasi yang ada malah jelas-jelas memilih film Indonesia yang dikategorikan ‘kelas B' (atau bahkan mungkin C atau D) sebagai hiburan. Mungkin di satu sisi film semacam itu bisa dianggap sebagai hiburan (meskipun hiburan yang absurd menurut gue), tapi dari sisi produksi film Indonesia yang serius dan sungguh-sungguh, gejala ini bisa menjadi kontra produktif bagi perfilman Indonesia karena produser film-film kategori kelas B ke bawah akan tetap giat berproduksi dengan claim bahwa filmnya tetap ditonton di bioskop. Lebih baik serahkan saja ‘apresiasi' film-film semacam itu kepada media-media berita hiburan, karena dengan hadirnya kita menonton film semacam itu di bioskop sama saja dengan mendukung produksi filmnya.

Memang ada juga pernyataan dari salah satu pekerja film Indonesia bahwa tidak bisa berharap banyak dari komunitas penikmat film dari segi jumlah penonton, meski mendapatkan tanggapan yang positif dalam bahasan dan diskusi sebelum peluncuran, tetap saja belum bisa mendongkrak pembelian tiket di bioskop dalam masa tayang yang pendek itu. Yang agak terlihat seru ‘apresiasi'nya biasanya hanya di ajang nonton bareng gratis yang juga bagian dari promosi.

Mungkin saat ini jumlah penonton masih belum bisa dijadikan indikasi tingginya apresiasi, meski cukup menentukan balik/tidaknya ongkos produksi. Langkah yang paling cukup jelas bisa dikerjakan adalah meningkatkan kepedulian (awareness) terhadap film dan perfilman Indonesia. Cara praktisnya dengan terus menyediakan informasi sebanyak-banyak tentang film Indonesia, baik itu film yang akan/sedang tayang di bioskop dan juga informasi film Indonesia klasik yang pernah jaya pada jamannya.

Komunitas-komunitas penikmat film yang pada dasarnya bergerak secara independen mestinya mampu menggalang gerakan kepedulian terhadap film dan perfilman Indonesia, minimal dengan secara berkala mengadakan nonton bareng film Indonesia yang bermutu langsung ke bioskop (ngga nunggu bajakan atau donlotan atau versi online-nya). Kepedulian sekecil apa pun terhadap film Indonesia mampu memberi nafas bagi pekerja film Indonesia untuk terus berkarya dan meningkatkan karyanya.

 


Tag: film, Indonesia, apresiasi, penonton

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
Posting ini keren banget! Dua jempol!!! Sering2 dong Mas nulis yg beginian.

IMHO, dari 7 malasah yg ditulis itu semua saling terkait, kayak lingkaran setan jadinya. Nah, sebagai penonton biasa, apa yg bisa kita lakukan?

Menurut gue sih, tetep hindari menonton film2 yg jeprut mutunya, biar makin lama makin sepi penonton jadi para produser nggak 'memperkosa' para sutradara & memaksakan kehendak atas nama 'selera pasar'.
Pasar yang mana?

Kalau pasar yg menginginkan film horor jeng-jeng & esek2 nggak jelas itu semakin pudar, semakin nggak ada yg nonton, mestinya pembuat film juga makin terpacu utk bikin film bagus.
sabai 0 0
Dan gue yakin para pembuat film Indonesia deep down inside, maunya bikin film2 bermutu, atau film2 bagus yg gak cuma ngandelin toketnya Jupe ama geolannya Dewi Perssik.
kartowidjojo 0 0
sabai: Hehehehe makasih ya. Nulis kayak ginian buat gue masih butuh 'dorongan' yang keras, sangat keras bahkan, dan juga keluangan waktu. Maklumlah, pemula dengan ide yg terlalu besar.

Kalo secara individu, gue sendiri selalu menghindari nonton film Indonesia yang kualitasnya, menurut gue, di bawah rata2. Makanya gue ngga pernah anti dengan review film, meskipun review yg ada juga belom tentu bener.

Kalo untuk 'solusi bersama', idenya tetep seperti yang gue tulis di paragraf terakhir di tulisan itu, komunitas penikmat film yang banyak berperan.

Untuk peduli film Indonesia, daripada sok tau lebih baik kita banyak cari tau. : D
jamur 0 0
[masih kurangnya jumlah layar bioskop untuk tayang film Indonesia]

menurut gw ini masih jd masalah utama.
dulu sempet diskusi, ternyata butuh 500ribu penonton bagi sebuah film yg berbudget 2 milyar ke atas buat balik modal atau sedikit untung lah. kendalanya ada pd jumlah layar yg kurang. hence, ga heran film setan birahi yg budgetnya hanya bbrp ratus juta rame di bioskop. ; ))
jamur 0 0
kartowidjojo:

postinganya bagus om. bosen dgn artikel review film yg ujung2nya keluar komentar2 aku suka dia engga, ini bagus itu jelek. : )) trs ada jg yg posting terus cabut.

udah setahun nongkrong di BF, kok ga akrab2 ; ))
aibii 0 0
thanx buat artikelnya bang. gue yakin sangat susah untuk merangkai lingkaran setan yg terjadi pada ranah perfilman indonesia. gue new bie, movie blog gue mengkhususkan pada film indonesia.

setau gue dulu film indonesia, meski jumlahnya sedikit namun memiliki kualitas. sekarang, semakin banyak, semakin para produser brutal bermain untung-rugi. entah itu cerita cocok atau tidak. yang penting viral marketingnya sukses, filmnya laku. yah minimal 500 ribu penonton bisa diraih. dan voila, terjadilah apa yang kita hadapi sekarang.

miris. disaat film indonesia sedang merasakan vitalnya, justru jantung yang membuat tumbuhnya pergerakan itu loyo. mereka underestimate pada film-film terbaru dan kadung menyamaratakan. ibaratnya karena nila setitik rusak susu sebelanga.

siapa yg mau disalahin? nggak mau munafik, kalo udah urusan uang, semua bisa aja terjadi. jadi sah-sah aja kalo banyak produser hadir hanya bermodalkan sampah yg penting filmnya laku.

percuma nambah bioskop kalo filmnya toh kancut

percuma nambah masa tayang toh filmnya sepi, kan yg rugi pengelola 21 kalo dibiarin gitu aja. nah buat menutupi kerugian, dihadirkanlah film2 luar yg lebih memiliki tempat dan berkualitas.

nggak tau mesti mulai darimana untuk memperbaiki rangkaian yg kadung kusut ini

http://film-nggak…blogspot.com
bagas yudho 0 0
Coba dari dulu orang perfilman kita kayak anda pemikirannya,,mungkin semua akan berubah,,
kartowidjojo 0 0
jamur: Makasih ya komentarnya : D Seperti gue tulis di tulisan itu, sebagai penikmat film sepertinya ngga perlu lah kita terlalu mikirin jumlah layar bioskop yang kurang (kecuali kita punya modal untuk mengisi kekurangan itu). Lebih baik kita 'memperbaiki' kepedulian dan apresiasi kita terhadap film dan perfilman Indonesia. Langkah yang keliatan kecil semacam itu, gue yakin berdampak besar terhadap semangat pembuat film Indonesia yang serius.

Sekali lagi makasih ya
kartowidjojo 0 0
aibii: Makasih udah baca dan komen tulisan gue ya : D
Mau mulai memperbaiki rangkaikan kusut? Sebagai sesama penikmat film Indonesia, kita mulai aja dengan meningkatkan kepedulian dan apresiasi terhadap film dan perfilman Indonesia.
Anda punya blog kan?! Gue kira itu salah satu cara anda membantu meningkatkan kepedulian dan apresiasi itu. Rajin-rajin aja nonton film Indonesia yang bermutu baik, trus sebarkan luaskan kepedulian anda melalui tulisan anda di blog itu. Itu sudah merupakan langkah besar loh! : D
kartowidjojo 0 0
bagas yudho: Sebenernya tulisan gue itu didasari dari hasil ngobrol2 ringan, yg sering menjurus jadi serius, dengan satu/dua pekerja film Indonesia (sutradara/produser). Semua itu gue rangkum dan gue kasi semacam solusi dari sisi penikmat film.
Gue bukan orang perfilman loh! : D Orang perfilman di Indonesia semestinya hanya 'dibebankan' untuk berkarya dan terus berkarya. Sementara kendala paling besar dalam 'menjajakan' film Indonesia di Indonesia sendiri adalah distribusinya kan. Sistem distribusi film di Indonesia yang masih belum baik. Tapi itu bukan jatah kita sebagai penikmat film untuk mikirin, kecuali kita punya modal untuk ikutan jadi distributor film.
Penikmat film sementara ini 'hanya' wajib meningkatkan kepedulian dan apresiasinya terhadap film dan perfilman Indonesia.

Makasih ya udah komen tulisan gue : D
jamur 0 0
kartowidjojo: so....mau tidak mau kita bakal nontol film lokal terus nih? ; )) : D
jamur 0 0
jamur: dgn isu yg lg hot ini
kartowidjojo 0 0
jamur: Yang penting kepedulian dan apresiasinya. Ngga ada gunanya juga kalo kita banyak nonton film Indonesia tapi cuma film-film yang bermutu buruknya aja.
Inget juga bahwa ngga semua film Hollywood itu bermutu bagus.
Kalo masih mengganggap bahwa semua yg diproduksi oleh Hollywood PASTI lebih bagus daripada produksi Indonesia, artinya masih menderita penyakit pola pikir yang inferior. Sama juga dgn yang mikir bahwa film Indonesia bisa maju dgn meningkatkan pajak film impor. : p
Taruma 0 0
Film hollywood standarnya sudah jelas kok. seburuknya film hollywood setidaknya bisa memanjakan mata. Saya sih, kalau nonton lebih mengutamakan apa yang saya lihat, kemudian cerita, dll.

Untuk film lokal? haaa. no comment. -__-
Rijon 0 0
Saya kalau nonton liat keseluruhan aspeknya. : )
kartowidjojo 0 0
Taruma: Hollywood udah lama jadi industri film, standar mereka udah lama tersusun dengan baik. Mulai dari pra produksi (bahkan format penulisan skenarionya) sampai proses distribusinya yg mendunia. Ngga heran kalo industri film mereka seringkali jadi patokan bagi negara lain termasuk Indonesia.
Indonesia belum punya industri film. Ngga ada struktur produksi film yg rapi. Pola perijinan produksi aja suka berubah-ubah tergantung penguasa. Makanya menurut gue, perfilman Indonesia belum bisa diperbandingkan mentah-mentah terhadap Hollywood. Jadi, cara gue mengapresiasi film Indonesia berbeda dengan film Hollywood, begitu juga dengan produksi film negara lainnya termasuk produksi film negara-negara Asia lainnya.
Meski begitu, bukan berarti ngga ada produk film Indonesia yang bisa bersaing di dunia Internasional. Di era 70-80an aja film-film Indonesia bisa merajai festival-festival film di Asia. Kabar paling terbaru, film Pintu Terlarang mendapat pengakuan di banyak festival film di seluruh dunia, meskipun itu produksi 2 tahun yang lalu! : D
jamur 0 0
Rijon: pernah bikin film? amatir indie apa pun lah?
kartowidjojo 1 suka | 0
Rijon: Ini yang paling bagus dalam mengapresiasi sebuah film. Tapi sebagian besar penonton film di Indonesia belum seberuntung anda yang memiliki wawasan luas mengenai film. Yah mudah-mudahan dengan anda sering berkontribusi di sini (tulisan anda banyak sekali loh! : D) bisa juga membawa manfaat bagi anggota lainnya.
Taruma 0 0
kartowidjojo: waktu dulu saya sempat berpikir memberikan penilaian berbeda film internasional dan film lokal. Tapi, mulai sekarang, saya sudah gak begitu peduli itu produksinya siapa. Semua penilaian bersifat umum. Bentuk apresiasi saya untuk film lokal hanya menontonnya. Untuk penilaian, gak ada bedanya dengan film lainnya. Kalau saya beda-bedakan namanya gak adil dong.

Pintu Terlarang? Bagus idenya. cuman pemerannya kalau bicara kayak yang lagi menggumam, gak jelas ngomong apaan. -__-
bitterjoy 0 0
kartowidjojo: hollywood ama film indonesia cuma bisa dibandingin dari segi cerita aja..selain itu lewat : )
kartowidjojo 0 0
Taruma: Kalo disama ratakan ngga adil juga dong namanya : D
kartowidjojo 0 0
bitterjoy: Pertimbangan ini lebih obyektif : D
Taruma 0 0
kartowidjojo: Adil ah. : )
bitterjoy: kurang setuju.
I wrote SYN not Tragedies 0 0
mantaf!

sebenernya saya kangen juga si ngedenger ada orang yang bilang
"eh gw nonton AADC ampe 3 kali ga bosen bosen!!"

*sekedar contoh*
: D

mungkin karena selain filmnya emang bermutu, idenya segar, dan tentu sesuai dengan selera pasar...
kombinasi apik yang disajikan pada timing yang tepat dengan kualitas yang gak asal asalan....

bahkan seorang penonton dvd bajakan seperti saya pun bakal sedikit nabung buat bela2in beli tiket bioskop seharga beberapa mangkok mie ayam ituh...

apalagi kalo ada by one get two...


saya yang two nya pasti!

: )) : )) : ))
kartowidjojo 0 0
I wrote SYN not Tragedies: Ini komentar dari seorang penonton, murni penonton! Asyik!
Makasih ya udah mampir baca2 di sini : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat