Julia's Eyes / Los Ojos de Julia (2010) 5

Selasa, 8 Feb '11 17:23

Saya pikir siapapun yang menemukan nama Guilermo del Toro dalam poster film - kali ini sebagai produser - pasti akan langsung ingin menontonnya.  Itulah yang terjadi pada saya, dan mengingat saya menonton film ini di salah satu jaringan bioskop tanah air, bukan melalui media cakram atau berkas unduhan, keberadaan nama tersebutlah yang memancing keinginan untuk membeli tiket. Jadi baiklah del Toro, saya siap dengan apapun film yang akan anda tawarkan, saya bahkan bawa bekal jaket dari rumah untuk mengantisipasi adegan mencekam - saya masih terkenang The Orphanage, sama-sama film berbahasa Spanyol dan berbau horor- namun pada akhirnya, saya agak menelan kekecewaan ketika film berakhir.

Premisnya sendiri sebenarnya cukup menarik. Diawali dengan adegan Sara (Belen Rueda, The Orphanage), seorang perempuan buta yang hidup sendirian, yang kelihatannya sedang berbicara dengan seseorang - kelihatannya, karena ketika kamera mengarah ke pihak lawan bicara, tidak ada siapapun di sana. Sara terus menerus mengoceh tentang kemuakannya pada sosok tersebut dan mengancam akan gantung diri. Meski Sara-lah yang mengancam akan melakukan hal tersebut, ketika ia akhirnya tergantung kita pun  segera menyadari bahwa sosok tersebut-lah yang lebih berperan dengan menjatuhkan kursi pijakan. Pertanyaannya, ini sosoknya mana ya? Tidak terlihat ada siapapun. Alhasil adegan pembuka ini membuat penonton - err, mungkin juga cuma saya sih - cukup merinding, dan tak sabar menantikan adegan-adegan selanjutnya.

 

 

Kemudian kita diperkenalkan dengan saudari kembar Sara, Julia (Belen Rueda juga). Julia mengidap penyakit degeneratif penglihatan yang sama dengan Sara, ia bisa buta mendadak kalau stres berlebihan. Didorong oleh instingnya sebagai saudari kembar, Julia dengan segera menyadari hal-hal aneh di sekitar kematian Sara. Kenyataan bahwa Sara belum lama ini menerima donor mata, diputarnya lagu yang dibenci sebelum ia meninggal, serta kunjungan Sara beberapa hari sebelumnya ke sebuah hotel membuat Julia curiga. Ia memeriksa semua tempat yang pernah Sara kunjungi dan kecurigaannya semakin menjadi ketika ia merasa dibuntuti oleh seseorang. Alhasil ia pun memutuskan sebuah kesimpulan: Sara pasti dibunuh oleh kekasihnya, sosok yang sama dengan yang mengikutinya selama ini. Sayangnya, sebelum ia berhasil menemukan si pelaku, kadar stress yang terlalu tinggi membuat penyakitnya memburuk. Julia divonis buta total dan membutuhkan donor mata. Tak berapa lama, suami yang amat mencintainya meninggal secara misterius. Praktis Julia pun harus berjuang sendirian dalam kegelapan - dan ketika ia memutuskan tinggal di rumah bekas Sara, ia pun mulai merasakan apa yang pernah Sara rasakan - perasaan sepi, halusinasi, dan tidak tahu siapa yang harus dipercaya, yang menggiringnya pada situasi sama persis dengan yang dihadapi Sara.

Apa ringkasan di atas terdengar menarik? Well, kalau iya, berarti kita tinggal berharap pada eksekusi film. Kalau kita memilih untuk mengesampingkan logika, separuh jalan film ini terjalin dengan cukup menegangkan. Dengan cerdik sang sutradara Guillem Morales menempatkan kita pada kondisi Julia - kita hanya dikenalkan dengan wajah tokoh-tokoh yang pernah ditemui Julia pada saat ia bisa melihat. Begitu ia kehilangan penglihatannya, otomatis ia kehilangan kemampuan untuk mengetahui tampang orang yang baru ia kenal - dan kita pun diberikan perasaan yang sama - Morales dengan sengaja menghindari kamera menyorot bagian wajah orang-orang yang belum pernah Julia temui. See, saya berusaha untuk mengesampingkan logika, karena ketika saya mempertanyakannya, ada banyak hal yang kurang masuk di akal. Kenapa kok Julia ingin tinggal di rumah Sara - tempat dimana Sara dan suaminya terbunuh? Kenapa ia bisa yakin bahwa Sara dibunuh dari petunjuk sedemikian remeh? Mengingat mereka tidak bertemu selama berbulan-bulan, bukankah hal yang wajar kalo Sara sudah berubah? Film ini datang dengan ide yang bagus, namun ikut terjebak pada klise pada film horror sejenis. Sayang sekali.

 Untuk skala seorang Guilermo del Toro, film ini tidak mencapai titik maksimal, tapi bukan berarti tidak pantas untuk ditonton. Belen Rueda jelas punya kemampuan akting yang baik untuk membantu menyelamatkan film ini, dan si sutradara juga harus dipuji atas keberhasilannya menata mood, tingkat kekelaman, dan suasana film. Well, asal lain kali ia tidak terjebak dengan skrip klise lagi.


Tag: Julia\'s Eyes, spanish, guilermo del toro, belen rueda

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kucingsapi™ 0 0
saya kelewatan film ini di bioskop! jadi ndak bisa komen : ((
sabai 0 0
kucingsapi™: emang udah pernah main di bioskop jakarta ya?
kapan?
moti 0 0
rasanya orang-orang spanyol lagi mood bikin film horor yah akhir2 ini... : p
kucingsapi™ 0 0
sabai: lah bai, kan main di Blitz.... kira2 sebulanan lalu lah
modernballroom 0 0
sabai: iya, mainnya di blitz..
@moti: akhir2 ini film spanyol yg gw tonton semuanya horor..jadi agak parno kalo nemu film spanyol rilisan baru, hihi : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat