The Last Man On Earth [1964] 2
Minggu, 6 Feb '11 21:59
Novel "I Am Legend" dari Richard Matheson pertama kali terbit pada tahun 1954, dan sampai sekarang novel ini telah tiga kali dibuat filmnya. Film yang dibuat setelah 10 tahun terbitnya novel ini adalah adaptasi yang pertama dibuat dan paling mirip dengan novelnya.
Secara garis besar,memang cerita film ini memang tidak ada bedanya dengan I Am Legend, film tahun 2007 yang dibintangi oleh Will Smith (yang kebetulan juga saya tidak pernah menontonnya sampai habis). Diceritakan, Dr. Robert Morgan, seorang ilmuwan yang hidup sendirian di kota Los Angeles yang sudah terkontaminasi suatu penyakit yang menular lewat udara. Istri dan anaknya tewas gara-gara penyakit itu. Dia bisa bertahan karena digigit kelelawar yang terkena infeksinya sewaktu pergi ke Panama dan dia bersikeras untuk menemukan obat dari penyakit itu. Penyakit itu sendiri membuat orang yang terinfeksi menjadi seperti Vampire-Zombie, yang takut sama sinar matahari, bawang putih dan cermin (ya, cermin!). Lalu Dr. Morgan ini setiap hari melakukan ‘ritual' yang sama, mencoba berkomunikasi mencari survivor yang mungkin hidup di tempat lain lewat radio, keluar di siang hari memburu para Zompire (biar mudah menyebutnya :p), membakar jasad mereka, dan tentu saja mempersiapkan alat-alat "perang"nya, seperti tombak kayu, bawang putih dan cermin. Ritual yang membosankan baginya, sampai pada suatu siang dia bertemu Ruth, seorang wanita yang terinfeksi tapi tetap hidup karena vaksin dan ditugaskan memata-matai Dr. Morgan oleh kelompoknya.
Tidak ada yang istimewa dari ceritanya untuk jaman sekarang. Namun seorang teman pernah berkata kepada saya, "kalau nonton film jadul, tempatkan diri lo jadi penonton yang berasal dari jaman yang sama dengan filmnya", alhasil, saya melihat sebuah film yang mempunyai cerita bagus, dimana isu widespread-disease belum jamak seperti sekarang, apalagi ditambah cerita tentang menjadi manusia terakhir yang menjalani aktivitas semau-guenya di sebuah kota yang sepi merupakan hal yang menarik. Belum lagi dengan penggambaran para zompire-nya. Alih-alih mempunyai kekuatan super, zompire disini berjalan lambat, bodoh, tetapi punya memori yang kuat (buktinya teman Dr. Morgan yang jadi salah satu zombie memanggil "Morgan, Morgan" di depan rumahnya, hiii). Tetapi justru ini kekuatan dari film ini, Dr. Morgan bukan bertarung dengan mereka secara fisik, tetapi dia bertarung dengan dirinya sendiri menghadapi makhluk yang mengerikan secara psikologis ini, ditambah kesepian dan kebosanan yang mengiringi dia tiap harinya.
Kredit untuk Vincent Price yang memerankan Dr. Morgan. Dengan imagenya sebagai aktor antagonis dan spesialis film horor, aktor favorit dari Tim Burton ini cukup bisa memerankan Dr. Morgan, sang protagonis, dengan baik. Memang latar dari kota Los Angeles -syutingnya di Roma- kurang mendukung untuk menjadi kota mati, tapi dari mimik dan intonasi yang ditunjukkan Vincent, kita seolah-olah bisa merasakan apa yang Dr. Morgan rasakan, bravo!
Akhir kata, meskipun set film ini kurang mendukung karena ke-low-budget-annya dan membuatnya terlempar dari barisan film-film cult, namun tidak bisa dipungkiri bahwa film ini membawa pengaruh yang luar biasa terhadap filmmaker-filmmaker yang lain, paling dekat tentu saja George Romero dengan Night Of The Living Dead-nya yang legendaris itu. Tidak ada yang bisa melupakan zombie yang berjalan pelan dan menggedor-gedor pintu rumahmu, hiii...
Tag: vampire, zombie, Vincent Price, I Am Legend, Richard Matheson, Sydney Salkow, Ubaldo Ragona
Terkait:
-
Dawn of the Dead (2004)
Minggu, 6 Mar '11 21:19 -
Review: Evil Dead (1981)
Kamis, 24 Feb '11 19:50 -
The Loved Ones
Sabtu, 12 Feb '11 00:02

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat