Ketika Film Menggambarkan Apa Itu Sempurna 4
Minggu, 23 Jan '11 22:49
"Sempurna", mungkin adalah impian semua orang, setidaknya dari hal yang paling sederhana bahwa semua orang ingin kehidupannya berjalan sempurna, baik-baik saja, tidak ada masalah yang menganggu perjalanan kehidupannya. Pertanyaannya adalah, apakah kesempurnaan itu mungkin terjadi?
Ada banyak takaran yang bisa digunakan dalam menilai sesuatu itu sempurna, namun semuanya akan berujung bahwa manusia itu menginginkan kebahagiaan. Satu pertanyaan kembali muncul, kalau hidup kita berjalan sempurna, dalam berbagai takarannya, benarkah kita akan merasakan bahagia? Bukankah kita akan merasakan bahagia ketika kita sudah pernah merasakan kesedihan, bagaimana mungkin manusia bisa mengatakan ini adalah bahagia, sementara dia tidak pernah merasakan kesedihan?
Jawaban atas pertanyaan tentang seperti apa bentuk kesempurnaan, saya tangkap dalam beberapa film yang saya tonton baru-baru ini.
Pertama, kita akan masuk ke dalam dunia yang bisa dibilang dunia alternatif yang disajikan lewat "The Intention Of Lying", dia berbeda dengan dunia yang selama ini kita kenal, memang ketika melihat manusianya sama saja seperti yang kita kenal selama ini, pekerjaan yang ada juga tidak jauh berbeda, kita tidak akan tahu apa yang berbeda sampai kita berbicara dengan mereka dan menyadari bahwa mereka selalu berkata jujur. Yap, jujur dalam artian semua orang berkata apa yang ada dalam pikiran mereka, meskipun kejujuran yang diungkapkan mungkin menyakitkan, menyinggung lawan bicaranya, namun manusia-manusia dalam dunia ini tak punya pilihan, karena memang itulah yang terjadi, itu adalah sifat dasar mereka. Adalah Mark Bellison (Ricky Gervais) salah satu dari manusia jujur itu, seorang yang sebenarnya biasa saja, tidak tampan, gemuk dan kurang sukses dalam karirnya sebagai seorang penulis skenario di sebuah rumah produksi, perhatikan film-film yang mereka produksi dan kita akan menemukan film-film mereka hanya berisi tuturan sejarah yang berisi peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi, sang aktor akan duduk di sebuah kursi dan bercerita sepanjang durasi film. Tidak ada fantasi, epik, superhero dan semacamnya, hemmm terdengar membosankan untuk sebuah hiburan, tapi ini dunia yang jujur bukan?
Mark Bellison yang biasa-biasa saja ini, pada akhirnya merubah dunia yang penuh kejujuran, ketika dia mengatakan kebohongan untuk pertama kalinya, sebuah peristiwa memaksanya untuk mengatakan hal yang bukan sebenarnya, bahkan dia sendiri tidak bisa menamakan perbuatannya itu dalam satu kata, karena sekali lagi ini adalah dunia yang berisi kejujuran, tidak ada kosakata "bohong" di sini.
Dengan kebohongannya, Mark mencoba merubah dunia seperti apa yang diinginkannya, mendapatkan wanita impiannya, Anna (Jenifer Garner) dan memperbaiki karirnya yang nyaris berantakan.
Kebohongan, adalah suatu hal yang buruk, norma yang kita pegang tentu melarang kita berbohong. Namun dalam dunia yang kita kenal, kita masih sering menemui kebohongan, kejujuran berharga mahal. Nah, film ini menawarkan dunia alternatif yang hanya berisi kejujuran, setidaknya sampai separuh film. Imaji dari sang kreator film ini seolah memberikan gambaran "Ini lo dunia yang indah, sempurna, semua berkata jujur." Sayangnya tidak seperti itu, dunia yang jujur ini membosankan, menyakitkan dan statis, begitu statis sampai-sampai sulit dipercaya mereka mampu secara alamiah menjalaninya, bolos kerja karena sedang malas tinggal bilang, pasangan kencan anda jelek anda sampaikan langsung kepadanya, sampai hal-hal kecil yang mungkin sering kita simpan dalam hati saja, seperti ketika kita melihat perempuan cantik atau pria tampan melintas biasanya kita akan bergumam saja dalam hati, namun ini kita katakana langsung di hadapannya, tidak ada rasa malu, semuanya seakan "telanjang namun alamiah". Maka ketika dunia yang jujur itu membosankan, terlalu "telanjang" dibutuhkan kebohongan, dia mungkin merusak kesempurnaan dunia itu, namun seperti yang digambarkan dalam film ini, kehidupan manusia lebih punya tujuan, ada sesuatu yang ingin dikejar, setidaknya itu yang digambarkan oleh Mark, sang tokoh utama. Jadi apakah ini adalah dunia yang sempurna menurut anda?
Dari dunia yang penuh kejujuran, kita berpindah ke sebuah keluarga yang penuh kebohongan, namun mereka punya segalanya, adalah "The Joneses" keluarga kaya yang tinggal di daerah elit dengan gaya hidup mewah, mobil, perabotan, gadget, perhiasan yang paling mahal dan mutakhir mereka miliki. Ini adalah gambaran kehidupan yang sempurna, keluarga yang sempurna dan bahagia.
Namun siapa yang menyangka, kalau keluarga yang kelihatannya sempurna ini justru penuh dengan kebohongan? Keluarga Jones bukanlah keluarga yang sebenarnya, Steve dan Kate sebagai suami istri (David Duchovny dan Demi Moore) dengan kedua anak mereka Jenn Jones dan Mick Jones (Amber Heard dan Ben Hollingsworth) adalah empat orang yang sama sekali tidak memiliki hubungan keluarga, keduanya dipertemukan perusahaan tempat mereka bekerja sebagai agen penjual barang-barang mewah, dengan Kate Jones sebagai pemimpin unit mereka, secara sederhana keluarga yang sempurna ini ditugaskan untuk bergaul dengan orang-orang di lingkungan mereka dan mempengaruhinya agar membeli barang-barang milik perusahaan mereka. Sempurna, bahkan terlalu sempurna sampai tidak ada yang sadar siapa mereka sebenarnya, kilau kemewahan keluarga Jones terlalu gemerlap sampai mereka tidak pernah menanyakan apa latar belakang keluarga ini.
Selain penuh kebohongan, keluarga yang nampak sempurna ini juga memiliki rahasia, Steve dan Kate yang suami istri bohongan terlibat cinta lokasi yang sebenarnya tidak boleh terjadi, Jenn yang menyukai pria lebih tua berkencan dengan salah satu pria yang menjadi "pasar" keluarga Jones dan Mick yang seorang gay. Semuanya terbungkus rapi dalam merek mahal dan gaya hidup kelas atas, pada akhirnya berbagai konflik muncul yang berangkat rahasia masing-masing anggota keluarga tadi sampai suatu saat seorang tetangga mereka merasa tak mampu menyaingi kehidupan mewah mereka dan melakukan hal yang memilukan, dan membuat Steve Jones mempertanyakan apakah kemewahan merupakan jawaban atas kehidupan yang sempurna dan bahagia, sementara kehidupannya sebagai Steve Jones adalah palsu.
Sekali lagi, kita dihadapkan pada sebuah opsi, apakah ini kesempurnaan? Hidup yang sempurna apakah dengan berada dalam keluarga yang memiliki tampang rupawan dan kaya raya? Tidakkah kita akan selalu merasa dituntut untuk selalu menjadi yang pertama dalam memiliki barang dengan merek tertentu, menjadi yang paling jago bermain golf, olahraga kelas atas, selalu pergi ke salon dan hal-hal mewah lainnya. Ini adalah satu opsi lagi tentang hidup yang sempurna, yang sekaligus dalam film ini, penuh kepalsuan.
Pada akhirnya, bagaimana kita memandang kesempurnaan dan mencapainya itu tergantung pada diri kita sendiri. Mungkin seperti yang sering kita dengar memang tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Namun pilihan dalam hidup dan perjalanannya bukankah itu merupakan hal yang mengasyikkan, kita akan bisa menghargai kesempurnaan, ketika kita sudah pernah terjatuh bangun dalam ketidaksempurnaannya.
Tag: The intention of lying, the joneses
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Box Office
-
sabai: Good Take
-
Taruma: Keep Rolling
-
oksbangs: Good Take
-
rohanisyawaliah:

Komentar:
The Island satu contoh kerennya, juga Mammoth (eh yang ini sih film Eropa tapi pas banget utk ilustrasi kesempurnaan hidup yg fana)
Disana menceritakan bahwa dunia sekarang adalah kumpulan dari dunia sebelumnya yang merupakan dunia yang terbaik. Atau bisa dibilang dunia yang sempurna.
Dan, sebenarnya, pertanyaan yang di film yang anda maksudkan sebagai refleksi.
Taruma: ya mas, makanya saya letakkan di OOT. terima kasih komentarnya
Silahkan login untuk memberikan pendapat