KHALIFAH : BUKAN PILIHAN YANG MUDAH (2011) 3
Rabu, 12 Jan '11 12:11
Sepanjang film Khalifah diputar di layar, selama itu pula temanku menggerutu bosan. Dia terus berkata pelan, kenapa film ini hanya berkisar di meja makan, makan, meja makan dan makan kembali. Aku lalu mengatakan, hidup kita juga sama, hari ini makan dan besok pasti makan lagi. Lalu dia diam dan mulai bermain dengan handphonenya sambil berkata, kenapa tidak ada adegan tembak- tembakannya, aku tersenyum geli, karena sebelumnya dia ingin menonton The Tourist.
Aku kadang merasa bingung dengan penikmat film belakangan ini, mereka lupa bahwa film yang baik (menurutku) adalah gambaran diri kita sendiri, realita kehidupan yang walau klise tetapi memiliki pesan yang cukup untuk kita berpikir sejenak melihat apa yang terjadi di sekeliling kita walau terkadang sedikit di dramatisir tetapi penting untuk mengingatkan kita agar tetap menjadi manusia yang sesungguhnya. Tidak pernah pula kita melihat robot berkeliaran di kota ataupun pocong dan kuntilanak bergentayangan ingin eksis. Tapi itulah kenyataan penonton kita saat ini, cukup pahit tapi tak bisa diingkari.
Disini aku tidak akan bercerita panjang lebar mengenai tabiat penonton film saat ini, tetapi akan berbicara mengenai Khalifah. Sejak dari awal tahu bahwa film ini akan segera tayang, dibintangi oleh Marsha Timothy dan disutradarai Nurman Hakim yang sebelumnya sukses menggarap 3 Doa 3 Cinta aku memastikan harus menonton film ini. Untuk temanku film ini membosankan bukan main, tapi bagiku film ini sangat menarik.
Khalifah bertutur mengenai nasib seorang wanita, Khalifah (Marsha Timothy), selalu memutuskan pilihan – pilihan yang bukan merupakan pilihannya sendiri. Terlahir sebagai anak pertama di keluarga yang serba kekurangan dengan seorang ayah yang hanya bekerja sebagai penjaga Mushallah dan memiliki seorang adik yang masih duduk dibangku SMA, membuat Khalifah selalu dirundung sedih. Dari awal kita disuguhi dengan informasi yang cukup mengenai betapa tidak enaknya menjadi Khalifah, tidak bisa kuliah walau sudah diterima di Universitas Indonesia karena tidak ada biaya. Dijodohkan dengan pria yang tidak pernah dia kenal karena ingin membantu perekonomian keluarganya. Kerap diitinggal suaminya yang sibuk berdagang barang import dari Arab Saudi. Dipersalahkan suaminya ketika keguguran karena dianggap berdosa dan pada akhirnya dipaksa menggunakan cadar.
Setelah melaksanakan pilihan – pilihan tersebut hidup Khalifah bukan bertambah baik, malah bertambah runyam. Cadar yang hanya berbentuk kain penutup wajah kecuali bagian mata tersebut membuat ruang yang sangat sempit baginya, dilecehkan dan dipersalahkan. Tetapi masih ada yang bersimpati dengan nasib Khalifah, pemilik salon warga keturunan Tiong Hoa, Tante Rita (Jajang C Noor) yang merupakan sahabat baik Almarhum Ibunda Khalifah masih mau menerimanya bekerja walaupun sudah menggunakan cadar, bahkan dengan sangat baik membuat dua hari khusus, Jumat dan Sabtu sebagai hari khusus pelanggan wanita. Dan tetangganya Yoga (Ben Joshua) seorang tukang jahit yang sepertinya memendam rasa dengan Khalifah yang selalu siap membantu.
Kepasrahan Khalifah serta keikhlasan dan pengabdiannya sebagai istri tidak dibalas dengan kebaikan, ternyata suami yang selama ini dianggap sebagai pemimpin dunia dan akhirat ternyata bukan pria yang jujur, dia memiliki istri lain dengan seorang puteri. Nasib bahkan cinta memang tidak pernah berpihak dengan Khalifah. Nama yang diberi oleh orangtuanya tidak menjadi doa baginya, dia tidak bisa menjadi khalifah (pemimpin) untuk dirinya sendiri untuk mencapai apa yang ia harapkan.
Sedikit disayangkan banyak plot – plot kosong yang menimbulkan pertanyaan dan sangat mengganggu. Suami Khalifah Rasyid (Indra Herlambang) hanya berkesan sebagai tempelan saja, tidak pernah dijelaskan mengapa dia menikahi Khalifah padahal dia telah memiliki seorang istri. Apa latar belakanganya sehingga dia meninggal di bagian akhir film. Begitu juga dengan adik Khalifah, Faisal (Yoga Pratama). Nurman Hakim hanya bercerita tentang Khalifah saja, pemeran pendukung lainnya ibarat garnish yang seandainya tidak ada juga tidak masalah, sesuai dengan judulnya.
Untung bagi Marsha Timothy, dia bisa mengeksplorasi lebih dalam karakternya dan hasilnya membuatku kagum. Marsha (aku mulai menyukainya semenjak bermain dalam film Cinta Setaman) bermain bagus, tatapan kosong yang sering ditunjukkannya dalam film ini memperjelas bahwa dia kesepian,ibarat ilalang yang bergerak ke kanan dan ke kiri karena dipandu oleh angin. Kelas akting yang sangat memikat yang ditujukkan Marsha dalam film ini adalah ketika dia mengalami keguguran, so brilliant. Tidak ada satupun aktor yang bermain di jelek disini, bahkan Indra Herlambang, sayang hanya saja tidak diberi porsi yang cukup. Dan salut untuk Titi Sjuman yang berperan sebagai Fatima, walau hanya muncul dua scene tapi memberikan akting yang mampu mencuri perhatian dan menyegarkan.
Musik yang digarap Djaduk Ferianto sangat asyik dan menyatu dengan filmnya. Pujian juga harus diberikan untuk tim artisitik untuk set yang begitu natural dan membumi. Tata suara juga bagus (belakangan Film Nasional menunjukkan kemajuan yang sangat pesat untuk hal ini). Sinematografi juga lumayan membuat kita hanyut dalam hidup Khalifah yang hambar, adegan – adegan yang dilihat dari balik cadar Khalifah membuat saya kadang tersenyum geli dan tidak sedikit berempati.
Dalam film ini Nurman Hakim tidak mau terjebak dalam klise dan tidak berusaha menggurui, sedikit sekali dia bertutur mengenai aturan agama, semua berjalan natural dan apa adanya. Memang alur film ini sangat lambat (hal yang dikeluhkan teman saya) tetapi menurut saya wajar. Film ini masih lancar bercerita, sedikit hal yang kadang dilupakan pembuat film. Menonton film ini ibaratnya bertukar pikiran dengan sutradara, berdiskusi mengenai pluralisme, hak asasi wanita dan masalah pemahaman Islam oleh pemeluknya. Terorisme dan Islam juga masih menjadi isu yang penting bagi Nurman Hakim. Makanya saya bilang film ini menarik, karena begitu banyaknya yang ingin saya tulis dan saya paparkan, hanya takut nanti yang membaca jadi bosan, hehe. Ibaratnya setiap adegan dalam film ini memiliki subteks kuat untuk menjadi bahan perdebatan, bahkan adegan di meja makan sekalipun.
Pada akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa film ini sebenarnya bukanlah sekedar cerita Khalifah dan cadarnya, bukan film religi biasa. Tetapi mengenai tanggung jawab atas diri kita masing – masing baik itu lelaki ataupun wanita, dan kelak akan dipertanyakan kepada kita mengenai apa yang sudah kita lakukan ketika kita diberi nyawa untuk menjadi khalifah di atas dunia tanpa memandang jenis kelamin.
Setidaknya tahun ini diawali dengan film yang baik, semoga bakal banyak film bagus lainnya yang meramaikan khazanah perfilman nasional di tahun 2011 ini.
Nilai : 3 Bintang dari 5 Bintang untukku.
Tag: film, box office, nurman hakim, Titi Sjuman, Marsha Timothy, Indra Herlambang
Terkait:
-
Khalifah
Sabtu, 8 Jan '11 15:01 -
The Cherry Project
Rabu, 2 Mei '12 07:44 -
MODUS ANOMALI : LET THE GAMES PLAY ON!
Jumat, 27 Apr '12 03:28
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Good Take
-
Gambliz: Good Take
-
oksbangs: Good Take
-
Ezha Kurus: Good Take

Komentar:
"Aku kadang merasa bingung dengan penikmat film belakangan ini, mereka lupa bahwa film yang baik (menurutku) adalah gambaran diri kita sendiri, realita kehidupan yang walau klise tetapi memiliki pesan yang cukup untuk kita berpikir sejenak melihat apa yang terjadi di sekeliling kita walau terkadang sedikit di dramatisir tetapi penting untuk mengingatkan kita agar tetap menjadi manusia yang sesungguhnya."
Produser dan penyandang dana dunia perfilman tanah air juga berperan besar bos atas munculnya sikap penonton macam itu menurutku. Sebagian besar dari mereka memang ga pernah ingin berurusan dengan nilai-nilai artistik, ga salah lah, kalau sekarang sineas boro-boro mau mempertahankan idealismenya.
Aku agak malas membanding-bandingkan kondisi kita dengan Hollywood, tapi gini lah, sebrengsek-brengseknya produser Hollywood, masih ada duo Weinstein yang mencoba balance memberi dana untuk film yang mengejar kualitas artistik, disamping tetap melempar film-film jualan.
Berharap juga suatu saat ada Peraturan Pemerintah yang mewajibkan setiap daerah (baik mandiri atau join bersama) membuat min satu buah film setiap tahun nya, hehehe. Semoga.
Pembahasannya double, ntar di edit, thanks udah ngingatin.
Silahkan login untuk memberikan pendapat