Sebab Belok Kiri di Lampu Merah Bukan Kebebasan yang Mutlak 4
Jumat, 31 Des '10 03:23
Sebelumnya saya sempat agak kecewa karena gagal menyaksikan pemutaran "Belkibolang" di hari kedua pelaksanaan Jogja-Netpac Asian Film Festival 2010. Jadwal tayangnya saat itu berbenturan pekerjaan yang harus diselesaikan. Syukurlah, sebagai film yang memang diniatkan menjadi headliner pesta tahunan insan film Jogja ini, ada pemutaran untuk kedua kalinya, pada hari terakhir pelaksanaan.
Tak saya sia-siakan kesempatan itu. Siang bolong saya berangkat ke Taman Budaya Yogyakarta, kira-kira setengah jam sebelum film diputar. Seperti yang saya duga, animo penonton masih cukup besar. Terik matahari tak menghentikan puluhan orang hadir. Banyak sekali gerombolan kineforum Jogja datang, maupun dari kota-kota lain.
Diawali sedikit sambutan dari panitia yang tak penting-penting amat, dimulailah kemudian pemutaran itu. Hampir 85 menit lamanya, akhirnya omnibus alias antologi film pendek yang memiliki benang merah utama tersebut selesai. Tahulah saya kemudian, mengapa ada embel-embel special screening untuk film ini. Rupanya diselenggarakan dialog di akhir pemutaran antara salah seorang sutradara yang menggarap sembilan film pendek tersebut dengan para penonton. Hadir di JAFF saat itu Ifa Isfansyah, dedengkot Fourcolours yang kondang membikin film-film pendek di Jogja. Kini Ifa lebih dikenal sebagai sutradara film keluarga "Garuda di Dadaku".
Penuh canda, ia jelaskan antologi ini tidak pretensius atau berniat menandingi omnibus berbasis kota lain yang sudah cukup dikenal, misalkan "Paris Je T'aime" atau "New York I Love You". Bahkan, entah berkelakar atau tidak, Ifa menyampaikan bahwa urutan film-film yang tampil, dipilih sekenanya saja. Segmen kedua antologi yang digarap Ifa misalnya, bertajuk "Percakapan Ini", ditempatkan pada bagian itu karena ia telat datang rapat penentuan urutan. :D
Dari judulnya pun, yang rasanya seperti bahasa planet asal suku Dogon, ternyata menyimpan nuansa main-main. Belkibolang adalah akronim dari "Belok Kiri Boleh Langsung", yang kita akrabi sebagai rambu lalu lintas di perempatan-perempatan jalan. Sementara benang merah yang menyatukan sembilan film tersebut, kesemua naskahnya ditulis oleh Titin Wattimena, berkisar pada dua konsep utama. Situasi Jakarta malam hari dan relasi antar dua manusia pada suasana tersebut. Tapi sembilan sutradara itu bebas menafsirkannya sesuai gaya masing-masing. Karena itulah, Ifa menandaskan bahwa proyek ini lebih menyerupai kerja bareng antar sineas dengan rileks dan senang hati, ketimbang penggarapan serius untuk bersetia pada tema utamanya.
Saya bersepakat dengan Ifa, bahwa topik yang konon digadang-gadang jadi benang merah keseluruhan antologi itu tidak mengikat, dan karenanya, nuansa bersenang-senang lebih terasa di sana sini. Berangkat dari konsep "main-main" itulah, saya menangkap benang merah lain dari keseluruhan antologi tersebut. Seluruh film mengekspos pergerakan manusia dan relasi yang tercipta di dalam sebuah ruang. Ruang-ruang khas Jakarta, atau ruang kota lebih tepatnya, menjadi basis awal cerita dibangun. Segmen awal "Payung" yang nihil dialog antara seorang lelaki depresi dan perempuan kecil penyedia jasa ojek payung, menyoroti pergerakan keduanya dari pinggir jalan hingga gang kampung kala hujan.
Sementara segmen kedua, "Percakapan Ini" memuat obrolan ngalor ngidul antara seorang juru masak dan perempuan hamil (Desta dan Marsha Timothy tampil cukup segar) yang menjadi bosnya, dan dikemas secara eksperimental melalui teknik Palindrome - penataan sekuens dan dialog yang sama antara awal dan akhir kisah - di atap sebuah gedung (kemungkinan besar ruko). Bagian ketiga, "Mamalia", merupakan humor gelap yang dihantarkan dari sudut pandang tukang ojek dan penumpangnya menelusuri gang ke gang; dan si penumpang, adalah seorang perempuan yang rupa-rupanya berbahaya karena mampu mengeksploitir naluri purba setiap mamalia.
Setelah dua suguhan segar nan menggelitik dari Ifa dan Tumpal Tampubolon, penonton langsung beranjak menuju segmen keempat karya Rico Marpaung. Kisah cinta yang dituturkan melaui dialog dan disela-selanya ditimpa voice over telepon antara dua insan dengan rute menyusuri jalanan kota Jakarta, tampil dengan cita rasa romantis khas naskah-naskah bikinan Titin. Hanya saja, karena sudah banyak sekali kisah beginian dihadirkan dalam karya sinematografis (Wong Kar Wai, Richard Linklater, dll), bagi saya tidak ada yang spesial dari fragmen "Planet Gajah" tadi.
Sampailah kemudian penonton di fragmen paling ekstrim dari delapan kisah lainnya. Sebuah film tentang mati lampu di sebuah apartemen. Di awal, kita bakal disambut dengan teriakan paling politis sepanjang antologi. Seketika lampu mendadak mati, tetangga kamar si karakter utama dalam fragmen tersebut, berteriak keras, "PLN ngent*t!!!" (dan seluruh penonton ngakak sekencang-kencangnya seketika pula, mungkin karena dendam kita semua terlampiaskan, hahaha).
Kisahnya berpusat pada seorang penulis naskah, diperankan oleh sutradara muda Edwin, sikapnya absurd (jika mengetik dengan laptop MacBook sambil menyaksikan sinetron abal-abal dan memakai kacamata hitam anda anggap tidak absurd, saya tak mampu berkata-kata lagi, hehehe) yang terjebak di dalam kondisi gelap gulita, sementara sang istri sedang pulas. Film diakhiri dengan kejutan tak disangka-sangka, twist ending tak kurang aneh. Alurnya yang lambat mungkin membuat frustrasi mereka yang tidak sabar, tapi sungguh, ending se"norak" itu langsung membuat saya respek dengan Anggun Priyambodo yang lebih kondang sebagai penggarap klip video musik.
Terasa agak njomplang kemudian, ketika penonton disuguhi segmen "Peron" dari Azhar Lubis. Selain karena temanya agak repetitif - seorang mahasiswa menanti KRL sambil mendengarkan Ipod, mendadak tersadar pada seorang perempuan ayu di depannya, yang ternyata tuna rungu - nyaris serupa dengan "Payung". Situasi kaotis di peron stasiun Gambir kurang greget, rasanya seperti disajikan rangkaian nukilan shoot momen mudik saja. Segmen ini bagi saya yang konsepnya terlalu biasa dibanding sejawatnya. Satu saja yang saya nikmati dari segmen ini, iringan tembang Naif "Senang Bersamamu" di sepertiga akhir film.
Pungkasan antologi ditutup dengan "Full Moon" bikinan Sidi Saleh. Menarik sekali, walaupun sinema Indonesia pernah menampilkan taksi berkali-kali sebagai ruang gerak cerita. Ingatan saya segera terhubung pada "Taksi"-nya Arifin C. Noer, pemenang FFI 1990 . Keduanya hampir mirip menyajikan lanskap Jakarta dari sudut pandang sopir dan penumpang Taksi. Bedanya. Segmen ini memuat kisah yang murni personal. Si sopir taksi bersama istrinya (duduk di kursi depan), berkeliling Jakarta pada malam tahun baru, dan penumpang silih berganti naik di kursi belakang. Niatan si sopir - yang sebetulnya ingin minta cerai - tertunda oleh satu dan lain hal, sepanjang film. Rentetan kejadian itu, lantas diaduk dengan momen hiruk pikuk perayaan tahun baru. Kontras yang menarik dalam menggambarkan ruang. Apalagi ketika anda menyaksikan perbedaan mendasar duduk di kursi depan dengan di belakang, saat kedua karakter utama bercengkerama pada akhir kisah.
Kalau ada yang bertanya, kok cuma tujuh, yang dua mana? Nah, yang dua inilah favorit saya. Film besutan Edwin, "Roller Coaster" - ditampilkan di urutan ketujuh - betul-betul menghipnotis saya. Sekali lagi, Edwin membuktikan diri sebagai jagoan film pendek negara ini. Dua orang sahabat, laki-laki dan perempuan, bermain-main di sebuah kamar hotel, untuk saling menelanjangi satu sama lain, sebagai bentuk ekstrim menilai persahabatan. Kegiatan tak jelas juntrungannya itu, dikemas oleh Edwin menjadi rangkaian aksi yang memacu adrenalin dan sesekali tawa lepas. Pas sekali judul yang ia pilih.
Favorit saya yang lain, judulnya "3LL4". Tak perlu bingung dan bertanya bagaimana cara membacanya. Sudah biasa bersua pantat truk kan? Nah, judul itu sebetulnya nama si karakter utama, Ella. Seorang pelacur asal Jawa Timur (kemungkinan besar Surabaya menilik dialeknya) yang bersahabat dengan seorang pedagang bebek goreng dari Madura (saya tak ingat namanya). Anda yang akrab dengan bahasa Jawa Timuran dan Madura sekaligus, saya yakin akan terbahak-bahak dua kali lipat, dibanding mereka yang tidak.
Sebuah fragmen juara, apalagi ketika Ella yang rencananya akan mudik ke kampung halaman, mendadak pamit dari obrolan dengan si pedagang, ketika seorang pelanggan menjemput. Ia berkata dengan polosnya, "dongakno yo cak, kimpetku iki laris koyo bebekmu!" Atau ketika usai melayani seorang pelanggan yang cuma memberi lima puluh ribu (dan ditanya si pedagang, "lapo ae?" dijawabnya "biasa cak, mek karaokean tok!"), Ella ditelepon si emak, dan masih diingatkan untuk mengucap salam.
Kesembilan film itu memang bisa dibaca dari berbagai sudut pandang. Tapi saya memilih meniliknya dari sudut pandang tiap sutradara pada ruang, karena kesadaran ruang yang cukup tinggi terekam dalam kesembilan film tersebut. Selain dua film yang jadi favorit saya tadi, seluruh sutradara menampilkan ruang sebagai perangkap yang mengawal karakter. Walaupun mereka bermain-main di dalamnya, tapi ketika muncul masalah, maka karakter itu harus bersetia dengan sifat-sifat ruang kota yang melulu berisi pergerakan dan pendisplinan tiada akhir. Kasus jelas, terlihat dari "Payung", "Full Moon", maupun "Mamalia".
Dalam "Payung", tokoh yang diperankan Dwi Sasono harus mengalah pada motor yang melaju kencang di gang sempit, akibatnya, map berisi entah ijazah atau surat penting lainnya itu, jadi basah tersiram hujan. Dalam "Full Moon" kepadatan jalan kala perayaan tahun baru, serta portal perumahan yang semena-mena menutup akses lalu lintas, menjadi salah satu hambatan si sopir mengucapkan talak pada istrinya. Lain lagi di "Mamalia", tukang ojek lugu asal Brebes yang tak sadar akan diperdaya itu sempat mengajak ngobrol si perempuan anonim soal daerah asal, "Katanya asli Jakarta mbak, kok masih ngga hafal jalan?"
Dari beberapa contoh yang saya tampilkan tersebut, tampak sekali, ruang berperan sangat penting, walau porsinya tidak langsung terlihat. Namun, jelas, keterbatasan ruang, space of flow yang bukan mau tiap-tiap karakter, menyebabkan konflik-konflik muncul. Sekumpulan problem keruangan khas kota. Mereka mungkin bermain-main dengan segala hal, tapi tidak dengan ruang. Hampir sebagian besar segmen dalam omnibus ini masih taat pada logika ruang sebagai fakta eksistensial.
Logika semacam itu menyatakan, sebab kita tak bisa hidup di luar ruang, maka kita harus bersetia pada kaidah-kaidah keruangan. Itulah sebabnya, jalan sempit, macet, portal, kamar sempit ditambah mati lampu, serta hiruk pikuk peron stasiun yang menganggu, masih menjadi sebuah masalah, yang mendorong terciptanya masalah lain.
Karya Edwin yang saya kagumi pun masih cukup senada untuk soal itu. Harus diakui dia mempersetankan ruang. Kamar hotel bukan sebuah hal yang dibikin melulu klaustrofobis, seperti tafsir klise yang biasanya digunakan dalam memotret ruang hotel (misalkan di film Sofia Coppola, "Lost in Translation"). Dua sahabat itu, enteng saja main-main ludah di pinggir kasur. Tapi perlu diingat, ada hal yang Edwin sepakati perkara ruang, terutama soal fungsionalitasnya. Kamar hotel berarti privasi. Maka di dalamnya mau menggila seperti apapun, beres. Itu menjelaskan mengapa si cowok sempat bertanya, "Berarti kita ke sini buat...Ngew*k?"
Ada semacam ideologi tak tersirat dari Edwin, bahwa manusia kota bisa melakukan nyaris apapun, asalkan mereka bisa menjelajah fungsionalitas ruang secara memadai. Dari satu dialog itu saja, bisa saya bilang, kisah itu tidak mungkin terjadi (saling menelanjangi untuk mengukur kadar persahabatan satu sama lain) jika latarnya bukan di kamar hotel yang sifatnya privat.
Bagi saya, hanya Wisnu yang menunjukkan bahwa konsekuensi keruangan kota, tidak musti membuat karakternya melulu ikut aturan. Kisah Ella mungkin basi. Siapa sih yang tidak akrab dengan cerita perantau asal daerah yang terpaksa bermuka dua di ibukota? (Merasa familiar dengan "Eliana-Eliana", saudara-saudara? Hehehe). Di situlah letak kekuatannya. Segmen ini menampakkan permainan yang paling mungkin dilakukan bagi manusia dalam ruang urban. Mempermainkan identitas. Manusia macam Ella, yang bisa berpindah cepat bicara dalam bahasa Jawa dialek Jawa Timuran (ketika ditelepon sang emak) ke bahasa Jakartanan (kala melayani pelanggan), menyerukan pesan: manusia masih punya kebebasan walaupun terjebak dalam fakta eksistensial bernama ruang. Segmen ini menampilkan manusia yang menolak kalah, walaupun jelas-jelas kalah telak di ukur dari sudut pandang apapun. Mereka masih bisa tertawa dan enjoy bermain peran.
Jika Edwin bermain-main dengan rasa artifisial (tidak semua sahabat biasa main ke hotel untuk saling menelanjangi kan?), maka Wisnu yang biasa-biasa saja temanya, lebih memilih untuk mempersetankan ruang dari cara yang terlihat biasa. Memberontak tapi terlihat tunduk. Walaupun PSK tidak bisa beroperasi sesuka hati (tampak saat Ella bertanya pada seorang hidung belang, "Main di mana bang? Dijawablah, "di mobil aja, kayak biasa.") terlihat sekali, ada harga diri yang tak digadaikan oleh dua karakter di segmen tersebut. Identitas asali, kepekaan linguistik keduanya, serta segala ritus budaya yang jadi konsekuensinya. Judulnya pun sudah menampakkan perlawanan khas seni urban yang peka pada problematika keruangan.
Omnibus "Belkibolang" saya akui membebaskan diri saya, selaku penonton melalui keberaniannya bermain-main. Walaupun tidak bebas sepenuhnya, apalagi dalam kacamata ruang, namun harus diingat, belok kiri langsung dalam kehidupan nyata, juga bukan berarti bebas sebebas-bebasnya bukan? Akhirul kalam, selamat tahun baru! Selamat "berbelok" ketika ada kesempatan. Itulah pesan moral yang secara ngawur saya tangkap dari salah satu produk cemerlang sinema tanah air, yang bagi saya cenderung membosankan sepanjang tahun 2010 ini.
Terkait:
-
Hi5teria (2012): Sekedar Histeria Omnibus
Rabu, 2 Mei '12 23:24 -
INAFFF 2011: FISFIC 6 VOL. 1
Jumat, 2 Des '11 10:57 -
MERANGKUM JAKARTA (Documenter Film And The Journey Through Jakarta)
Jumat, 25 Mar '11 12:22

Komentar:
padahal sdh penasaran aja liat trailernya euy
Tapi, dari ke 9 film pendek yang disajikan saya memilih Payung dan Ella sebagai juaranya. hahaha.
Pribadi saya kasih 2.5/5 secara keseluruhan. Film yang tak begitu mengecewakan.
Silahkan login untuk memberikan pendapat