Planet 51: Bukan (sekedar) Film Anak 1
Selasa, 14 Des '10 16:58
Biarkan aku melihat wajah kebenaran. Beritahu aku seperti apa rupa wajah kebenaran. [Jack London]
Tadi malam saya menonton film Planet 51. Bukan film baru ternyata. Maklum, saya tidak pernah mengupdate film-film animasi/kartun buatan Disney dan teman-temannya.
Adegan yang paling saya ingat, karena lucu dan pesannya sangat mengena; adalah ketika Lem (penghuni planet 51) dan Charles (astronot dari bumi) bertemu di sebuah museum luar angkasa, tempat Lem bekerja. Charles kaget karena Lem, alien yang dilihatnya, berbicara bahasa yang sama dengannya. Lem juga tak kalah kaget karena Charles, yang disebut alien oleh penduduk di Planet 51, bisa mengerti apa yang dia katakan. Lantas, siapakah yang pantas disebut alien (makhluk asing) oleh penontonnya? Begitulah kira-kira pesan yang saya tangkap.
Pesan itu menyadarkan saya tentang perbedaan di bumi. Tidak perlu jauh-jauh ke planet 51. Karena kita sering menganggap orang yang "berbeda" dengan kelompok kita; entah warna kulitnya, bentuk rambutnya, logat bicaranya, cara berpakaian, hingga keyakinannya berbeda dengan sebagian besar orang-orang di tempat dia berada; lalu disebut makhluk asing (alien), yang tidak jarang malah ditertawakan, dibicarakan, dihina, bahkan diperangi keberadaannya. Padahal yang disebut "berbeda" itu juga berbicara bahasa yang sama.
Seperti Charles, astronot dari bumi yang keberadaannya dianggap membahayakan planet 51 karena ketidaktahuan mereka, penghuni planet 51. Kemudian hal tersebut ditegaskan oleh Lem di akhir-akhir film ini.
"Jenderal, aku tahu apa yang kamu takutkan. Bukan Charles, bukan monster, bukan juga alien. Tapi ketidaktahuan. Aku habiskan seluruh waktuku untuk mencari tahu, mungkin juga sama dengan dirimu. Tapi kuberi tahu: ketidaktahuan bukan sesuatu yang harus engkau takuti. Charles bisa menjadi teman baikmu. Lalu ketika dirimu berpikir bahwa itu akhir dari semuanya, ... ini baru sebuah permulaan."
Begitulah yang terjadi kemudian. Charles, astronot dari Bumi menjadi tahu tentang sebuah planet yang mirip dengan Bumi. Padahal tadinya dia tidak mengetahuinya sama sekali. Begitu juga dengan para penghuni planet 51, yang sebelumnya tidak tahu kalau alam semesta sangat luas sekali, tidak hanya seluas 500 mil persegi, menjadi tahu kalau sebenarnya planet mereka hanya sebagian kecil dari sebuah sistem tata surya yang sangat besari. Kemudian Lem dan teman-teman melihatnya setelah mereka dibawa ke luar angkasa. Hal ini kemudian mengubah ilmu pengetahuan yang selama ini diyakini oleh penghuni planet 51.
Karena ketidaktahuan, manusia sering berperang. Karena ketidaktahuan, manusia sering salah persepsi. Karena ketidaktahuan, manusia sering membenarkan pikirannya sendiri. Padahal ilmu pengetahuan harus terus digali. Ilmu pengetahuan terus berkembang, tidak berhenti pada satu titik saja. Film ini mengajak penontonnya untuk selalu berpikir dengan pandangan yang luas, tidak hanya "aku" dan "kamu", atau "bangsaku" dan "bangsamu".
Hal lainnya yang saya "tangkap" dari film ini adalah tentang pepatah: nasib sial selalu datang tanpa pernah bisa diduga.
Saat Lem merasa hidupnya akan baik-baik saja, tiba-tiba hidupnya yang tenang diganggu oleh kedatangan Charles T. Baker, astronot dari bumi. Lalu dia merasa hidupnya yang tadinya sudah sempurna, tiba-tiba hancur berantakan begitu saja. Dipecat dari pekerjaannya, dituduh berkomplot dengan alien, hingga ditinggalkan wanita yang dicintainya. Tapi ternyata itu hanya sementara. Penonton akhirnya tahu bagaimana kisah ini berakhir dengan bahagia.
PS. Baru sekali nonton, jadi 'review'nya gak banyak. Nilai: 8/10.
Tag: Planet 51
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take
-
kniwe: Good Take
-
AndriaGutama: Good Take
-
gonziie: Good Take
-
sabai: Good Take

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat