Sebuah Percakapan 8

Sabtu, 11 Des '10 00:06

 

"Jika suatu hari nanti kita bertemu lagi, akankah kita membicarakan hal yang sama dalam keakraban yang sama?"  tanya Celine yang dimainkan dengan cemerlang oleh Julie Delpy pada Jesse (Ethan Hawke) beberapa saat sebelum mereka berpisah di fajar yang indah di musim panas kota Vienna, Austria. Keduanya berkenalan tak lama, sore hari di saat kereta mereka masuk ke kota Vienna setelah menempuh perjalanan dari sudut lain Eropa. Pada awalnya, Celine asal Inggris menertawai cara bicara (dialek) Amerika Jesse yang baginya seperti film-film Hollywood.

Before Sunrise (1995) adalah salah satu film tentang percakapan terbaik yang pernah saya lihat. Obrolan panjang dua manusia yang "terpaksa" bersama dalam ketergantungan, Jesse dan Celine yang tak ingin sendirian di negeri yang bagi mereka tak semua orangnya mampu berbahasa Inggris dengan baik. Menyaksikan film karya Richard Linklater bagai mampu mengejar karya klasik It Happened One Night (1934) karya Frank Capra yang monumental itu. Dua karya yang bagi saya kemudian selalu menjadi pijakan kebanyakan kisah "pertemanan" dua pihak yang tanpa sengaja harus/terpaksa bersama karena keadaan.

Dalam bentuknya yang lain Le Grand Voyage (2004) karya Ismael Ferroukhi adalah contoh betapa karya sinema audio visual juga mampu melukiskan sebuah percakapan panjang menjadi pameran gambar dan kisah yang sangat menarik untuk diikuti. Perjalanan ayah dan anak dari Marseille di Perancis menuju Mekkah di Saudi Arabia dengan berkendara mobil!

Kami para sineas menyebut kisah seperti ini sebagai road movie. Film yang dilatar belakangi oleh perjalanan dengan settingyang berpindah-pindah. Hal yang secara teknis tidak sulit namun sangat sulit secara non teknis, karena percakapan adalah tempat dimana manusia mencoba saling menyelami dan memahami satu sama lainnya. Ketika ketidak samaan menjadi sama hanya dalam kurun waktu yang sebenarnya terbatas.

Dunia terus melahirkan karya road movie yang menarik, tapi saya terkesan dengan Monsters karya perdana Gareth Edwards, sebuah karya yang tadinya tidak saya kira hanyalah sekedar film alien biasa. Nyatanya Gareth yang menulis sendiri karya ini berhasil dengan sukses membelokkan segala dugaan itu. Ia menjadikan alien alias monster-monster itu sebagai latar belakang cerita, sebuah setting yang disiapkan untuk "menemani" karakter berpindah tempat dan bertemu keadaan serta banyak karakter lainnya untuk mendukung kisah mereka.

Hubungan antara Andrew (Scott Mc Nairy)  seorang fotografer yang bekerja di penerbitan besar milik ayah Samantha (Whitney Able) yang harus ia jemput di sebuah kawasan di Meksiko untuk kembali ke Amerika Serikat. Dua karakter yang sama sekali tidak saling mengenal namun terjebak dalam kebersamaan dan "terpaksa" untuk terus saling bercerita sehingga akhirnya saling memahami.

Saya menyukai bagaimana sineas-sineas terus berusaha mengeksplorasi berbagai teknik agar percakapan bisa saling menarik. Before Sunrise menggunakan indahnya bangunan di Vienna, Le  Grand Voyage menggunakan segala perubahan antar negara di Eropa dari barat sampai timur masuk ke Asia Barat. 3 Hari Untuk Selamanya (2007) karya Riri Riza menggunakan jalanan antar kota pulau Jawa sebagai setting. Sementara kini Gareth datang dengan setting sebuah masa dimana alien dalam bentuk monster telah hidup diantara kita. Ukurannya yang raksasa mengancam kita, sementara kita makin lama semakin terbiasa dan justru memanfaatkan manusia lain demi kepentingan pribadi semata.

Andrew dan Samantha adalah dua sosok yang sangat berbeda. Sementara si fotografer mengalami urusan keluarga yang sangat pelik, gadis yang bekerja di negeri orang sebagai ahli biologi ini telah bertunangan dan siap untuk menikah. Seperti pada Before Sunrise yang sejak awal tegas bahwa keduanya sadar bahwa hubungan mereka hanya akan bertahan sampai pagi hari saat pesawat mereka berangkat, pada Monsters kedua karakter pun sadar bahwa hubungan mereka akan terhenti saat mereka tiba di Amerika Serikat dengan selamat.

Namun Samantha dan Andrew bukanlah Jesse dan Celine yang melewati hari dan malam dengan suasana tenang dan bangunan yang indah. Keduanya terjebak dalam ancaman kematian yang terus menghantui sepanjang film. Saat duduk di bangku sinema, saya membayangkan sebuah film aksi alien yang mencekam, penuh kekerasan dan darah. Nyatanya....Monsters bagi saya adalah kisah dua orang yang terus coba memahami satu sama lain lewat percakapan. Esensi utama dari sebuah pertemuan dan hubungan. Hal mendasar yang harus bisa dipahami oleh umat manusia.

Jika Anda mengharapkan baku tembak pada makhluk-makhluk aneh itu, Monsters bukanlah tempatnya. Tapi jika Anda mengharapkan dialog ngalor ngidul tentang dua orang yang terus coba saling memahami....saya percaya inilah film yang tepat. 

Dan ketika keduanya berciuman di akhir film, Anda tidak bisa begitu saja dengan mudah menyimpulkan akhir dari kisah ini.

 

 


Tag: film, alien, gareth edwards

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

moti 0 0
eh eh perhatiin ga opening scene dan ending scenenya? ada hubungannya kah? : p
jamur 0 0
wah jadi makin ga sabar nunggu film road movie bajaj nya Paul agusta
sabai 0 0
jamur: paul agusta bikin road movie naik bajaj?hmmm... semoga penumpang bajajnya bukan dua cowok dan satu cewek. ring a bell? : D
sabai 0 0
Meski tanpa adegan tembak2an dan serangan2 monster yang gegap gempita, film ini oke banget, sangat enjoyable dan di beberapa scene sangat menyentuh.

imho, karena aktor & aktrisnya nggak populer, jadi terlihat lebih riil gitu... meyakinkan. they're just two 'nobodies' who met on the street and had to go through this journey together... : )
jamur 0 0
sabai: touche! : D

tapi bukan kok
Niee 0 0
wah, perlu ditonton neh sepertinya : D
kucingsapi™ 0 0
sial! monsters sudah turun layar di blitz! : (( *kudu nyari dvd deh*
mabuk janda 0 0
tulisannya enak,, great

Silahkan login untuk memberikan pendapat