HipHopDiningrat 6
Kamis, 2 Des '10 23:20
Ini adalah film pertama di gelaran Jiffest 2010 yang saya tonton, dan melihat perkembangan terakhir, mungkin ini juga jadi yang terakhir. Padahal banyak banget yg ingin saya tonton, tapi diskriminasi penjualan tiket membuat saya kehabisan tiket. Ya sudahlah, walau Jiffest sudah tidak begitu ramah terhadap saya, setidaknya saya masih berkesempatan menonton satu film yang benar-benar membuat saya penasaran, film yang harusnya invitation only ini bisa saya tonton gegara menang kuis @bicarafilm di twitter, lewat cara apalagi coba orang biasa seperti saya bisa menonton film di gelaran festival film eksklusif ini selain ikut kuis, haha.
Menghabiskan masa kuliah selama 5 tahun di jogja benar-benar membuat saya jatuh cinta akan banyak hal disana, terutama bidang seni. Acara teater, tari, musik adalah acara-acara yang paling banyak saya datangin selama di jogja. Mendatangi acara-acara begitulah saya berkenalan dengan grup rap bernama Rotra, Jahanam, Kill The DJ, dll. Dan pas gelaran Jagongan Wagen 2008-lah saya jadi benar-benar melihat mereka dari dekat dan menjadi suka atas apa yang mereka suguhkan. Mereka semua tergabung dalam Jogja Hip Hop Foundation, dan film ini adalah tentang mereka.
Lahir pada tahun 2003 atas inisitif Mohammad "Kill The DJ" Marzuki yang juga jadi sutradara film ini, JHF menjadi sebuah kumpulan, gerakan, organisasi atau apapunlah yang paling eksis di dunia musik hiphop negara ini. Dan kengototan mereka untuk selalu melafalkan lirik dalam bahasa jawa menjadikan mereka mempunyai identitas unik dan menarik. Namun apa yang mereka sampaikan dalam lirik merekalah yang membuat mereka begitu layak untuk diapresiasi lebih tinggi.
Bukan karna hanya berbahasa jawa mereka dalam setiap lagunya, namun konten lirik yang sarat unsur budaya dan tata bahasalah yang membuat lagu-lagu yang mereka lantunkan secara isi jauh lebih bernilai tinggi dibandingkan rapper2 yang lain. Tak heran, mostly lirik yang mereka ucapkan berasal dari puisi-puisi dari Sindhunata atau Widji Tukul atau bahkan lebih dahsyat lagi, Serat Centhini dan Smaradhana mereka repetkan dalam lagu-lagu mereka. Mereka berhasil membungkus karya-karya sastra tersebut menjadi sebuah lebih menarik, lebih akrab ditelinga anak muda yang mungkin memang pada awalnya jadi target pendengar mereka. Tak berani saya bilang menjadi lebih baik, kurang ajar namanya saya haha.
Arsip yang dimiliki Juki berdasar pengakuannya sangatlah lengkap, dia telah merekam hampir semua kegiatan JHF sedari awal berdiri sampai sekarang, ratusan kaset sudah tersimpan katanya. Namun sayang footage-footage yang ditampilkan tidaklah seberagam yang saya bayangkan, porsi wawancara dan gelaran rekaman videonya 50-50. Untungnya beberapa nara sumber wawancara (termasuk anggota JHF) adalah orang2 yang kocak, berhasil membuat satu studio malam itu banyak tertawa.
Namun satu hal yang membuat saya berfikir film ini seperti minus one, adalah kurangnya pembahasan tentang musik yang mereka pakai. Apakah film ini emang hanya berfokus tentang penggunaan bahasa jawa dalam hip hop saya juga kurang ngerti, namun bagaimana mereka juga menggunakan musik khas jawa di setiap lagu mereka kurang mendapat porsi di film ini. Padahal bagi saya, orang yang pemahaman terhadap bahasa jawanya rendah (kalau ga mau dibilang sama sekali tak ada hoho), musik merekalah yang berhasil membuat saya begitu menikmati lagu mereka. Sinom 231 & Lingsir Wengi contohnya, lagu dari Kill The DJ yang paling saya sukai dan sudah saya putar ribuan kali, mempunyai intro musik gamelan yang paling apik sedunia, bunyi gamelan yang simpel dan perlahan-lahan bersatu dengan beat khas hip hop adalah pencapaian penyatuan dua musik beda genre yang juara menurut saya.
Overall, ini adalah salah satu film dokumenter yang saya suka, beberapa scene membuat saya benar-benar kangen jogja, kangen liat mereka manggung (hey apakah yang ngeDJ itu dj vanda? ), kangen ngumpul2 ama teman-teman Multiply pas abis liat Jagongan Wagen di Padepokan Bagong Kussudiarja, haha.
Bravo Jogja Hiphop Foundation!!
Tag: JHF
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Informatif
-
kucingsapi™: Good Take
-
lazione budy: Good Take
-
AndriaGutama: Good Take
-
sabai: Box Office
-
Rijon: Good Take
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take

Komentar:
maju terus Jogja Hiphop Fondation ya!!!
minta langsung ke presiden JHF @killddj langsung, ah..
btw, era musk rap Jowo sudah dibawa oleh G-Tribe (yang akhirnya bubar, dan beberapa personel pecahan G-Tribe bikin Kalludra dan kemudian Rotra).
untuk lagu yang diambil dari puisinya sendiri, memang sempet dipertunjukkan dalam acara Poetry Battle (yang kemudian dibuat albumnya).
yup..poetry battle dijelaskan juga di film ini hehe
*soal ini lebih menarik dibahas!*
jadi... giliran yang masy. umum mau beli tiket, terkaget2lah ternyata tiket film favorit sudah ludes terjual dalam hitungan hari. bahkan sampe kursi terdepan!
kalau tahun lalu masyarakat umum masih bisa beli pas hari pertama dijual wlo emg ga dapat diskon, tapi yg skrg2 benar2 ga bisa...bisanya setelah promo buat blitzcard berakhir, jadilan nemu film2nya dah pada abis tiketnya, nyebahi.
Silahkan login untuk memberikan pendapat