Ketika “Machete” Ternyata Bermata Dua 6
Minggu, 31 Okt '10 17:11
Kalau sampai saya bilang "tulisan ini mengandung spoiler" kok rasa-rasanya saya merendahkan anda semua. Apanya yang mau dibocorkan dari film action yang jelas juntrungannya. Tapi tak apalah. Tidak semua orang berpikiran busuk seperti saya.Jadi, beginilah adanya, tulisan ini memang nyata-nyata mengandung spoiler. :D
"It's not safe for you to be here."
"I'm not looking for safe"
"No, I mean it's not safe for me for YOU to be here, I absolve you of all your sins, now get the fuck out!"
Itulah penggalan dialog antara Padre dengan Machete di sebuah gereja. Dialog murahan nan kocak macam ini akan sering anda temui di karya teranyar Robert Rodriguez, "Machete". Bukan hal yang baru memang, jika kasusnya adalah film buatan Rodriguez. Hanya dia barangkali sutradara Amerika yang benar-benar memahami arti membikin "badass action movie".
Anda-anda penggemar fanatiknya, tentu tidak akan lupa, ketika di tengah-tengah sesi "Grindhouse" tahun 2007 lalu, muncul sebuah trailer film action pendek yang norak, vulgar, dan sadis sepanjang dua menit. Trailernya saat itu bohongan, tapi kini, tahun 2010, Machete siap menebas siapapun yang menghalangi jalannya dalam membantai orang jahat.
Jadi itu jualan utama "Machete"? secara garis besar iya. Mantan polisi khusus Federale Meksiko, melintas ke Amerika, tepatnya Arizona, setelah tiga tahun sebelumnya, istrinya dipenggal oleh kartel obat bius. Tak dinyana, ia mendapatkan setumpuk uang dengan perintah membunuh seorang senator kulit putih rasis yang memiliki program politik anti-imigran gelap, terutama asal Meksiko.
Danny trejo, si "golok" ini kemudian menyadari ia dijebak oleh intrik yang melibatkan pengusaha busuk, si senator, vigilante rasis yang membunuhi para pelintas batas AS-Meksiko, dan tak lupa, bos kartel obat bius. Berkat bantuan agen Nevada yang bekerja sebagai polisi imigrasi yang berbalik membela hak-hak imigran (siapa lagi kalau bukan Jessica Alba), sebuah kelompok bernama "The Network" yang biasa membantu para imigran ilegal (dipimpin oleh Luz a.k.a She - plesetan "Che" Guevara - yang sepertinya hanya cocok diperankan Michelle Rodriguez), Machete menuntut balas, menghabisi mereka semua, serta mempersatukan seluruh pekerja imigran melawan hukum imigrasi yang menindas.
Sangat mentah, sangat murahan, sangat sadis. Tidak ada yang menandingi Rodriguez dalam hal menggabungkan tiga unsur yang saya sebut barusan, dan mengemasnya menjadi tontonan yang entah mengapa, sangat menghibur. Adegan-adegan brutal melibatkan senjata purba berteknologi rendah bernama golok, digabungkan dengan senapan mesin yang ditancapkan di atas motor, hasilnya adalah kepala lepas, darah CGI, dan sadisme unik rasa Burrito. Oh ya, jangan lupa untuk menyebutkan bahwa Lindsay Lohan hanya berfungsi maksimal dalam adegan soft core pornoaksi di kolam renang, serta Steven Seagal tidak ada pantas-pantasnya jadi juragan obat bius Meksiko. Hey, tapi itu fun factors-nya!!! Ingin rasanya menuntaskan pembahasan "Machete" ketika saya membubuhkan titik di kalimat ini.
Sayangnya, pikiran saya menolak ide tersebut.
Ada beberapa hal yang membuat saya mengurungkan niat awal untuk melabeli "Machete" sebagai sekadar penghormatan unik terhadap film-film action eksploitasi 70-an. Sebabnya adalah kegamangan Rodriguez dalam mencampurkan aspek politis yan termuat dalam film ini.
Bagi saya, sebuah film eksploitasi lazimnya memanfaatkan adegan aksi sebagai penggerak cerita. Rentetan kausalitas akibat aksi sambung-menyambunglah yang menyebabkan plot bergerak. Sekilas, hal itu tampak pula dalam "Machete". Dari awal film, ketika Trejo dipotong kemaluannya oleh perempuan telanjang antek kartel Torrez (ah, Steven Seagel jadi penjahat? Inilah alasan utama saya bela-belain donlot film ini), hingga perang besar antara vigilante versus koalisi imigran Meksiko di segmen akhir, pakemnya terlihat tidak jauh berbeda dengan film-film kelas B sejenis.
Namun, inilah kata kunci yang membuat saya yakin "Machete" memang meniatkan diri tidak sekadar menjadi action gimmicks tribute: pagar, perbatasan, imigran ilegal, dan hukum. Hal-hal yang saya sebutkan bukan tempelan untuk menyukseskan aspirasi lakon utama, yang biasanya dalam pakem film eksploitasi adalah balas dendam pada karakter antagonis. Alasan Machete yang mulanya klise, menuntut balas pada orang-orang yang memanfaatkannya, jadi berubah ketika ia menerima tawaran dua cecunguk Networks yang kehilangan Luz sebagai pemimpin mereka, untuk berperang melawan geng pembunuh imigran pelintas batas. Aspirasi yang awalnya personal, berubah menjadi aspirasi komunal. Yang mulanya minus agenda, malah jadi memiliki agenda. Bandingkan misalnya dengan "Fist of Fury", awalnya memang soal penjajahan Jepang, tapi ujung-ujungnya adalah adu kekuatan saja kok. Begitulah biasanya pakem film eksploitatif.
Protagonis dalam film eksploitasi kerap digambarkan bekerja sendiri (keluarga saya biasa menyebut aksi "one man show" sebagai "Nge-Rambo"), kalaupun meminta bantuan orang lain, maka tokoh antagonis utama harus dihabisi olehnya, karena memang aspirasi cerita bertumpu pada aspirasi personal karakter (silahkan cek misalnya "Shaft" dan "Coffie" dengan persoalan rasialnya sebagai pembanding). Satu perbedaan besar, dan bagi saya krusial, adalah scene ketika senator John McLaughlin menemui ajal.
Karakter yang diperankan dengan apik oleh Robert De Niro itu mati, saat terluka usai perang besar di bagian akhir film, mengenakan pakaian a la imigran dan sedang meniti pagar perbatasan yang dialiri listrik. Tiba-tiba segerombolan vigilante menodongnya, dan bertanya apakah ia bisa berbahasa Inggris. Karena tidak mampu menjawab akibat luka yang ia derita, berondongan peluru pun ia terima. Ia mati di pagar yang ia dirikan, oleh peluru kelompok bersenjata yang ia dukung secara diam-diam, dan mati dalam pakaian seorang imigran yang begitu ia benci.
Itu sudah jelas sebuah pesan. Bukan lagi tempelan, pemanis kisah, maupun adegan numpang lewat. Machete, selaku tokoh utama tidak membunuhnya sendiri. Rodriguez ingin bermain dengan pakem? Rasa-rasanya tidak, karena di awal film, McLaughlin juga digambarkan membunuhi imigran dengan tangannya sendiri, serta memiliki sebuah video kampanye yang dibuat secara provokatif namun terkesan riil. Rodriguez dan adiknya Alvaro Rodriguez, terang sekali sedang meludahi sebuah kebijakan rasis yang tak berperikemanusiaan dalam memperlakukan imigran.
Pidato Jessica Alba pada para anggota "Network" yang awalnya enggan membantu Machete jadi berhubungan dengan banyak hal senada. Adegan kematian McLaughlin, kemunculan berkali-kali poster kampanye ultra nasionalis yang bunyinya "I want you to Speak English" (sambil ada gambar om Abraham Lincoln dengan pose klasik nodong itu), dialog para penjaga vila Michael Booth si pengusaha busuk (yang sempat-sempatnya membicarakan pandangan konservatif mereka tentang kebijakan keimigrasian, walaupun kembali pada khittahnya untuk dibunuh jagoan di adegan selanjutnya), ditambah sebutan "alien" untuk menamai imigran illegal yang bertebaran di sana-sini; buat saya itu semua beralasan. Kali ini, Rodriguez memang sedang membicarakan sesuatu (atau ini kerjaannya si Alvaro, bisa juga sih).
Saya tidak berusaha bilang itu membuat kualitas film ini menjadi buruk. Hanya saja, menggabungkan dua hal - sajian aksi heboh nan cheesy dengan pesan politik serius - yang begitu berbeda spektrum, pastilah akan mengundang perhatian jika proses penggabungannya tidak mulus. Tidak hanya sekali, saya perhatikan ada momen di mana film ini berusaha tampil lepas apa adanya, dan mengeluarkan segala trik untuk menghadirka aksi-aksi menghibur (silahkan cek pertempuran padre yang bersumpah untuk tidak membunuh orang lagi di gereja). Sementara di momen lain, kualitas satirnya begitu serius sehingga pikiran kita akan menolak untuk mengatakan bahwa itu sekadar tempelan untuk mempermanis cerita (utamanya pada adegan pidato kampanye De Niro).
Dua agenda itu rupanya saling berebut pengaruh di sela-sela durasi satu setengah jam. Akibatnya, penonton jadi kentang (kena tanggung - istilah lawas yang saya pakai demi menunjang kesan "vintage" dari review ini seperti halnya yang diinginkan oleh imej "Machete"). Mau menganggap film ini murni komikal kok ya kesusahan, tapi menganggap film ini politis rasanya juga mustahil. Problem yang sejauh ini belum pernah saya temui ketika berhadapan dengan katalog Rodriguez.
Jadi awas saja amigo, ini bukan mindless fun project seperti "grindhouse" tempo hari. Ini "Machete". Dan laiknya sebuah golok atau benda tajam lainnya yang sering diperumpamakan bermata dua, sehingga berbalik melukai penggunanya, "Machete" rupa-rupanya ganti menyerang balik Robert Rodriguez.
Unfortunately, not in a quite fun way.
Tag: Machete, kitsch, eksploitasi
Terkait:
-
Machete (2010)
Jumat, 11 Mar '11 17:31 -
[Review] Machete
Rabu, 15 Sep '10 16:45
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sabai: Good Take
-
kniwe: Box Office
-
Si Pisau Terbang: Good Take
-
AndriaGutama: Informatif
-
takdir syahbana: Box Office
-
agus wibisono: Informatif
-
jim96: Good Take

Komentar:
yap, menunggu dengan amat sangat film yang satu ini, mari kita nonton amigos!
setuju banget sama analisisnya tentang "bermata dua". setidaknya hal tersebut yang bisa menjelaskan ketidaknyamanan gue saat menonton film ini. ada momen-momen dimana gue menemukan fun-cheesy-nya film ini, tapi kok tiba-tiba disodorin hal "serius".
well, setidaknya bisa ngeliat aksi Michelle Rodriguez yang *ehem*... ;p
Silahkan login untuk memberikan pendapat