Menerka yang “politis” dalam Angels in America 3

Sabtu, 30 Okt '10 17:47

Membesut film yang membahas persoalan kelompok minoritas adalah sebuah upaya yang berisiko jatuh ke dalam dua macam posisi yang sama-sama tidak proporsional. Posisi pertama akan menjadikan pembahasan berporos pada penguatan identitas secara radikal sehingga melulu mengupayakan "minor" memiliki ruang - entah untuk bersuara hingga mengada -  bentuk lain dari pemaksaan kehendak untuk tampil lantas ganti meliyankan yang lain. Sementara posisi kedua, akan mengupayakan dramatisasi bagi pihak "minor", rata-rata cenderung menekankan pelaksanaan politik "belas kasih" dalam memandang mereka yang sedang "dibela".

Mini seri HBO, "Angels in America" adalah film yang mengusung tema semacam itu, dan poros utama kisahnya bertumpu pada jalinan kisah yang menghubungkan sekumpulan orang yang kalah secara sosial, serta mereka yang dipinggirkan oleh mayoritas. Di dalam kisahnya ada pasangan kekasih gay, seorang pengacara penganut Mormon - dan ternyata juga gay - beserta sang istri yang kacanduan valium, pengacara sayap kanan arogan, korup dan tamak, plus Yahudi. Tidak ada tempat bagi mereka yang menempati posisi sosial aman di dalam kisahnya. Yang muncul hanyalah mereka yang terpinggirkan dan salah secara moral. Ini merupakan film, yang alih-alih beroperasi di wilayah abu-abu, berusaha menguji kesahihan dikotomi "benar" dan "salah". Film ini memilih dengan sadar untuk menyoroti kategori kedua.

Kisah utama tidak terlalu beraneh-aneh. Seluruh pembabakan berlangsung selama masa Reagan berkuasa di Amerika, pada senjakala perang dingin dan dimulainya Perestroika oleh Gorbachev di Uni Soviet. Sepasang gay, Prior Walter dan Louis Ironson menghadapi ujian paling berat selama waktu empat setengah tahun mereka menjalin kasih. Prior terbukti mengidap HIV, dan Louis yang tidak mampu menghadapi kenyataan itu, memilih pergi meninggalkan kekasihnya sendirian. Selama ia menjauhi Prior, Louis mendapatkan petualangan cinta baru dengan Joe Pitt, pengacara muda di kantor kejaksaan New York tempat ia bekerja. Joe, seorang Mormon fanatik, memiliki hubungan pernikahan minus seks dengan sang istri yang delusional, akhirnya memilih menyerah dan berdamai dengan kesadaran diri bahwa ia menyukai sesama jenis.

Sementara itu, kisah sampingan yang menjadi tempelan, dan porsinya banyak sekali, melibatkan Roy Cohn, seorang pengacara cum politikus busuk sayap kanan pendukung Reagen. Tak cukup digambarkan sebagai seorang brengsek yang kaffah, Cohn - yang kabarnya didasarkan dari seorang tokoh nyata - juga mengidap HIV, namun sudah dalam tahapan AIDS, akibat kegemarannya melakukan hubungan seksual dengan laki-laki. Selain itu, karakter sampingan dengan porsi yang cukup besar adalah Belize, gay dan perawat paruh waktu mantan pacar Prior, dan Hannah, ibu dari Joe yang masih kolot dan harus berhadapan dengan fakta bahwa putranya mengaku sebagai seorang homoseksual.

Saya tak hendak membahas semua kisah dan karakterisasi dalam tulisan ini, namun terlepas dari itu semua, saya hanya ingin menyampaikan bahwa karakter Roy Cohn walaupun hanya sampingan, memiliki bobot kisah tersendiri yang sangat kompleks dan sebetulnya mampu menjadi sebuah film yang mandiri. Jika diijinkan sedikit menyempal, Cohn, diperankan dengan brilian seperti biasa oleh Al Pacino, menempati posisi paling dilematis bahkan dibanding para penganut Mormon dan gay, para tokoh sentral film ini. Ia terancam dipecat sebagai pengacara akibat aksi pengemplangan hutang. Atas dorongan untuk menyelamatkan posisinya, ia akan berurusan dengan karakter Joe, memintanya menjadi tangan kanan di Departemen Hukum Washington (ini tema politik yang paling tersirat). Sementara ia meregang nyawa akibat AIDS, ia masih berurusan dengan masa lalunya yang melibatkan seorang arwah perempuan, dan bentrok keduanya merupakan salah satu konflik paling mengasyikkan sepanjang film. Memaksakan diri membahas sisi cerita ini selayaknya dilakukan di tulisan yang berbeda, jadi ayo kembali ke pemaparan awal yang saya upayakan soal "Angels in America".

Maka kita akan melihat cara Tony Kushner mengembangkan kisahnya dengan bertumpu pada satu alur utama, untuk kemudian memecahnya ke banyak cabang cerita-cerita kecil. Kisah utama mengandalkan tema yang usang tapi nyatanya abadi, soal ujian terhadap cinta. Sementara, untuk menyuarakan pandangan politiknya, kisah-kisah sampingan, mulai dari kebusukan tata pemerintahan Reagan, kekhawatiran akan adanya pelenyapan minoritas oleh WASP fundamentalis, penerimaan masyarakat umum terhadap Queer, hingga pengakuan terhadap negara Palestina yang berdaulat disusupkan di sana-sini. Beberapa secara halus, selebihnya terang-terangan. Pasal Mike Nichols sang sutradara meleburkan banyak tema tadi secara mana suka dalam cara yang unik, tentu berkat andil Tony Kushner selaku penulis naskah, akan kita tinjau nanti. Yang perlu dijawab lebih dulu adalah satu pertanyaan besar. Bagaimana film ini menggabungkan banyak unsur tadi ke dalam sebuah tontonan utuh, dan terbagi ke dalam dua bagian dan enam pembabakan?

Jawabannya adalah deux et Machina. Sesuai dengan judulnya, film ini secara harafiah menghadirkan malaikat. Atas perintah kepala malaikat, Prior Walter, si pengidap HIV, dipilih menjadi nabi di zaman baru. Sebuah upaya dari kalangan malaikat agar manusia berhenti melakukan upaya dialektis selama ini, dan menggagalkan peradaban berkembang. Apa pasal? Rupanya Tuhan terpengaruh ciptaannya yang selalu berkembang itu, ia juga ingin mengembangkan diri (?). Ia kemudian pergi meninggalkan dunia seisinya, rancanganNya yang paling sempurna. Ketiadaan Tuhan membuat kacau surga, neraka, dan dunia sekaligus. Untuk menetralisir keadaan, dewan malaikat memutuskan tindakan pencegahan segera. Memohon manusia menyabotase hidup mereka. Berhenti untuk mengada, agar Tuhan mau kembali mengurus semuanya.

Menempatkan sebuah kebetulan-kebetulan nan surealis kepada tokoh utama, menyebabkan segala kejadian aneh di film tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghubungkan satu kisah dengan yang lainnya walau sebetulnya tidak terkait sama sekali. Contohnya adalah pertemuan Prior dengan Harper Pitt, istri Joe sekaligus pengidap valium itu, di alam mimpi. Secara ajaib, mimpi keduanya bersemuka, dan menimbulkan konsekuensi besar yang memantik permasalahan di awal kisah. Harper jadi mengetahui bahwa suaminya homo, berkat diskusi pernikahan dengan Prior (di alam mimpi tadi), sementara Prior mengetahui nasibnya sejak awal, ia tidak akan kalah oleh HIV karena ada bantuan supranatural. Pengetahuan Harper memaksa Joe mengakui preferensi seksualnya, dan Prior mulai menerima ada sesuatu yang spesial pada dirinya, saat malaikat mulai meneror dan memberinya wahyu.

Banyak juga momen-momen penting di kisah ini yang diinformasikan pada penonton melalui hantu yang bersliweran di sana-sini. Salah satu yang signifikan adalah karakter hantu Ethel Rosenberg. Arwah perempuan Yahudi yang dituduh mata-mata di tahun 50-an dan mendapatkan hukuman mati akibat tuntutan yang dilakukan oleh Roy Cohn. Konflik final Cohn di bab enam film, tuntas akibat aktivitas si arwah yang secara aktif berhubungan dengan dunia nyata, digambarkan di sana mendatangi pengadilan dan mengabarkan hasilnya pada Roy yang sekarat. Tak kalah absurd adalah cara Harper kabur dari realitas yang menyesakkan akibat pengakuan gay sang suami. Ia masuk ke dalam kulkas dan pergi ke kutub utara lantas berpacaran dengan seorang eskimo anonim. Momen realis magis menambal ketidaksesuaian waktu dan tempat dari masing-masing cerita. Dengan langkah itulah Nichols dan Kushner menjahit keseluruhan cerita.

Sampailah kita pada poin kedua. Aspek-aspek yang politis ditampilkan dengan tidak konsekuen oleh Nichols. Kadang hanya berupa parabel atau parodi Alkitab via kemunculan malaikat (jibril?), kadang hadir melalui penyampaian verbalistis. Itu berlaku untuk semua tema, termasuk soal minoritas gay ataupun kebusukan pemerintahan ultra-konservatif Reagen.  Adakah pesan politis utama yang ingin mereka sampaikan? Kalau ada apakah itu? Sebetulnya sudah cukup jelas. Kushner memang cukup rakus memasukkan banyak dialog politis di sana-sini, namun langkah Nichols mengeksekusi karakterisasi menjelaskan semuanya.

Karakterisasi itu menjadi fenomena menarik sepanjang film. Banyak aktor yang berperan ganda. Meryl Streep menjadi seorang ibu fanatik mormon, Rabi Yahudi tua, ketua dewan Malaikat, dan arwah penasaran sekaligus. Jeffrey Wright menjadi gay "otentik", teman khayalan pria yang cool, dan juga malaikat. Hampir semua aktor utama, kecuali Al Pacino, mendapatkan tugas ganda semacam itu. Pilihan itu bukan sekadar gimmicks saya rasa. Bukan sekadar gaya-gayaan supaya terlihat unik. Itulah pilihan politis paling utama di film ini. Sebuah strategi "genderfuck" dalam desain karakternya.

Istilah tersebut saya cuplik dari penjelasan Elain J. Lawless sebagai "a conspicuous refusal to express gender identity in any conventionally interpretable fashion, or to respect the gender expression of others". Langkah semacam itu merupakan parodi sadar bahwa identitas gender merupakan konstruksi sosial. Tidak sekadar mempertanyakan, film ini sudah menggoyang konstruksi gender tepat di jantungnya. Mereka mengharapkan penonton juga mempersetankan mengapa tokoh gay, di scene lain jadi laki-laki tulen, mengapa Meryl Streep menjadi rabi laki-laki separuh pikun. Persetankan itu semua, dan anda mendapatkan pesan politik utama film ini.

Sayangnya masih tersisa pertanyaan pada diri saya. Apabila memang sineasnya mengharapkan kita mempersetankan dikotomi, dan menerima fakta bahwa ada kaum-kaum yang dianggap sebagai minoritas lebih sebagai akibat dari represi mayoritas, mengapa atmosfir positif yang melegitimasi keberadaan kaum LGBT, yang biasanya sloganistis tetap tidak terasa kuat hadir?

Rupanya, film ini menerapkan pula, selain karakterisasi politis, juga negasi untuk semua premis yang mereka tawarkan sendiri. Ambivalensi para karakter adalah pesan politik kedua yang mampu saya catat. Memang soal gender dipersetankan di dalamnya, tapi karakter Hannah, selaku ibu, hadir dalam bentuknya yang paling stereotipikal. Penyabar, pasif, cenderung submisif, namun pemaaf dan tegar. Kasus yang sama juga terjadi pada Harper. Konflik yang dialami perempuan di film ini dengan sengaja, hadir selalu di tataran domestik. Lain pihak, tokoh laki-laki, entah gay atau tidak, cenderung mendapatkan porsi konflik yang tidak terbatas di ranah domestik, dan hampir semuanya membuat keputusan penting. Tak luput karakter paling bedebah macam Roy Cohn, hingga Prior yang menolak wahyu (berupa kitab suci dengan penjelasan cara manusia menghentikan laju peradaban :D) dan memilih mengembalikanya pada dewan malaikat.

Sebuah film yang menunjukkan absurditas gender malah jatuh menjadi bias gender? Rupanya tidak, itu adalah konsekuensi dari kisah awal yang menjadi basis pengembangan cerita. Kita ingat, bahwa plot ujian terhadap cinta (khianat pada kesetiaan misalnya) merupakan sebuah tema yang salah satu muaranya akan menawarkan jalan redemption, penebusan dosa. Apakah mereka yang kalah berdosa?  Jawaban "Ya" secara moral mayoritas dan politis disodorkan oleh sineasnya. Film ini mengafirmasi realitas yang dialami mereka yang kalah, terselubung lewat metafora kisah cinta yang terlihat di permukaan. Tidak ada keajaiban, meski sudah ada keterlibatan malaikat, tapi tetap saja, minoritas tidak menang di dalam kenyataan. Yang ada hanyalah ambivalensi. Itulah jalan sang sineas membumikan film ini. Satu cara yang paling tersirat adalah menolak setiap keajaiban.

Prior menolak mendapatkan wahyu, Hannah sebagai perempuan menolak abai dari keharusan mengurus wilayah domestik, Cohn menolak kenyataan bahwa dia seorang homoseksual (diucapkan dengan kata-kata angkuh nan keren: "bahwa aku meniduri banyak laki-laki, tidak menandakan aku homo!"), hingga penolakan si rabi tua untuk mempertobatkan Louis yang merasa berdosa meninggalkan Prior merana ("Kalau mau pengakuan dosa, datangilah pastur, aku ini seorang Rabi for God's Sake!" - dan saya ngakak habis-habisan).

Tidak seperti cara saya membahasnya, film ini sangat lucu, menyentuh, kadang mengharu-biru. Sayangnya, banyak latar kisah yang akan memudahkan kita memahami keseluruhan cerita apabila kita mengetahui kondisi perpolitikan Amerika dan dunia akhir 80-an. Namun satu hal yang saya syukuri, terlepas dari fakta kisah ini lebih maksimal dinikmati oleh orang Amerika, sebagai film yang menyoroti dan memosisikan diri berpihak pada kalangan minoritas, ia tidak tergelincir pada slogan maupun dramatisasi. Ia mendokumentasikan narasi tragis yang betul-betul terjadi pada mereka yang terpinggirkan, pada senjakala abad 20. Film ini adalah kisah pahit mereka yang dipersalahkan, yang tertolak dunia, dengan resolusi konflik sama pahitnya, hanya saja disajikan sedikit fantastis.

Film ini dengan sadar memilih posisi "salah", dan tetap merefleksikan kekalahan mereka yang dilabeli "salah" sebagai refleksi atas kesetiannya pada realitas. Nichols dan Kushner tidak mau berkhianat dari kenyataan hanya untuk menyukseskan slogan dan ideologi mereka.  Pilihan untuk mengubah keadaan (kalau anda merasa ada ketidakadilan) rupa-rupanya, baru muncul jika anda usai menyaksikan film tersebut, menyeruak pada kesadaran diri anda. Bagi saya itulah totalitas karya yang politis. Memang selayaknya itulah politik, karena pada mulanya ia hadir dari rahim kesadaran.

 

Demikian.     

 


Tag: gay, minoritas, LGBT, genderfuck

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
Karya (film) yg politis menurutku sah-sah aja, asal ditampilkan dalam kemasan yg menarik dan nggak preachy.
tampaknya mereka berhasil melakukannya : )
Si Pisau Terbang 0 0
Wah sayang gue kelewat film ini...
santador 0 0
Miniseri yang asyik sebenarnya, tapi agak membingungkan. Nontonnya udah lama banget. Sebelum nonton berharap kaya Dogma tapi ternyata politis abis.

Berhubung ini sebenarnya miniseri (tayang di HBO) apa ga lebih baik kategorinya FTV-TV?

Silahkan login untuk memberikan pendapat