Antara Eat Pray Love dan Eat Snooze Sleep (1) 11
Selasa, 26 Okt '10 19:30
Sebelum Javier Bardem muncul dalam film Eat Pray Love (EPL) konsentrasi saya terbagi antara menonton film itu dan adegan demi adegan di dalamnya, membandingkan isi bukunya dengan jalan cerita film dan membaca kicauan terkini mereka yang saya 'follow" di Twitter. Ini jarang terjadi dan jelas menjadi sebuah indikasi kebosanan yang menyerang saya sepanjang menonton EPL. Mengharap sebuah versi film EPL yang sama memikat sebagaimana bukunya ternyata adalah sebuah harapan yang dijunjung ketinggian.
Pendapat bahwa film EPL adalah film yang membosankan dan tidak tersaji dengan baik sebagai sebuah film yang anggaplah bebas dari kuasa buku yang menjadi latar belakangnya, ternyata bukan sesuatu yang istimewa dari saya sendiri. Selain komentar-komentar di Twitter yang mayoritas mencela film itu, Leila S. Chudori, juga menulis sebuah ulasan di majalah TEMPO edisi 24 Oktober dengan inti pendapat yang sama.
Namun, tidak semua isi tulisan Leila yang diberi judul "Cerita Eksotisme Tiga Kota" itu saya setujui. Tulisan ini saya buat untuk menanggapinya sekaligus menuangkan pendapat saya sendiri tentang film EPL.
Yang paling mendesak untuk ditanyakan kepada Leila menurut saya adalah mengapa ia membandingkan BUKU dan FILM EPL. Langsung di awal tulisannya - setelah Leila menyatakan bahwa menonton EPL selama 140 menit telah membuatnya tersiksa - Leila menulis "mari kita mencoba bersikap adil. Barangkali saja novel biografis wartawan dan novel New York yang berada di daftar New York Times Bestseller selama 150 pekan itu akan lebih menaik daripada filmnya yang sungguh mengecewakan."
Menurut saya, membandingkan buku dan film justru tidak adil jika ditujukan untuk meraih kepercayaan pembaca bahwa sebuah ulasan sah dan memiliki dasar kokoh nan empiris untuk menyatakan sebuah film adalah film yang menyiksa penontonnya atau dengan singkat: sebuah film yang jelek. Pembaca buku yang sangat menyukai sebuah buku yang kemudian difilmkan cenderung tergoda untuk membandingkan isi buku yang pernah dibacanya dengan penggambaran seorang sutradara dalam film yang dibuat berdasarkan buku yang sama. Saya pun begitu. Pembaca buku, dalam pandangan saya, berhak membandingkan isi buku dengan jalan cerita film. Yang tidak berhak dan tidak adil adalah ketika si pembaca menemui perbedaan di antara keduanya dan kemudian dia langsung berkesimpulan bahwa film yang ditontonnya itu jelek.
Buku dan film memiliki kesaktian yang berbeda, mereka pun masing-masing memiliki keterbatasan. Hanya buku yang bagus dan kuat yang akan sampai jadi film. Tetapi itu bukan berarti sebuah film akan sebagus atau sekuat bukunya. Kekurangan sebuah film dilihat dari perspektif seorang pembaca buku (yang sangat mencintai isi bukunya) bukan sebuah justifikasi bahwa sebuah film tidak berhasil sebagai film. Skenario yang lemah, - yang terlalu jauh melenceng dari isi buku - atau pemilihan pemeran yang jelas-jelas mengkhianati gambaran si penulis dalam bukunya, bisanya adalah alasan-alasan yang membuat sebuah film mengecewakan seorang pembaca buku. Tetapi, sekali lagi, itu bukan dasar untuk mengecilkan si film sebagai film dan bukan sebuah keadilan jika keduanya dibandingkan lalu disamaratakan, entah itu sama-sama bagus atau sama-sama mengerikan.
Pernyataan berikutnya dari Leila yang menggangu saya adalah "Tapi ternyata sutradara Ryan Murphy memang setia kepada novel yang menjadi 'buku sakti' banyak perempuan di seantero dunia ini. Artinya, film dan novel ini sama-sama melelahkan dan menjengkelkan." Saya membaca EPL tahun lalu dan membacanya lagi beberapa hari sebelum menonton versi filmnya. Dengan yakin saya ingin sampaikan kepada Leila bahwa Ryan Murphy TIDAK setia kepada novelnya. Sutradara, penulis skenario atau mungkin juga produser EPL jelas tidak setia kepada apa yang ditulis Elizabeth Gilbert. Mereka mengubah nama, posisi dan karakter beberapa tokoh dalam EPL. Apa yang ada di dalam buku tidak seratus persen ditampilkan sebagai jalan cerita. Penjelasan soal itu mungkin sedikit banyak dapat saya sampaikan di beberapa bagian berikutnya dalam tulisan ini. Di sini saya ingin menekankan dulu bahwa pernyataan film dan novel ini sama-sama melelahkan dan menjengkelkan tidak bisa dijadikan dasar klaim bahwa Ryan Murphy setia pada novelnya. Kembali lagi kepada pendapat saya di paragraf sebelumnya, film dan buku tidak sama. Kalaupun keduanya bagi seorang pengulas sama-sama membosankan bukan berarti yang satu setia kepada yang lain. Keduanya membosankan dengan caranya sendiri-sendiri. Apa yang membuat mereka membosankan tidak mungkin sama dan harus dibuktikan kepada pembaca, baik pembaca buku, pembaca ulasan, maupun "pembaca" film itu.
Pernyataan Leila yang dengannya saya juga tidak sreg adalah: "Baik di dalam film maupun novel, kita tak pernah tahu apa yang menyebabkan Liz Gilbert ingin meninggalkan perkawinannya (bukan karena orang ketiga, bukan pula karena drama-drama besar)." Lebih lanjut Leila menulis, "Tapi baik Liz maupun sutradara Ryan Murphy tak berhasil menyiasati cerita ini agar kita merasa terlibat dalam film." Dalam kedua kalimat ini lagi-lagi Leila mencampuradukkan cara tutur dua entitas yang berbeda, yaitu Liz sebagai penulis dalam versi buku EPL dan Ryan Murphy sebagai sutradara pengarah film EPL. Ini saja sudah tidak benar, menurut saya.
Kemudian soal apakah Liz sebagai penulis berhasil menjelaskan kepada pembacanya alasan-alasan mengapa ia meninggalkan perkawinannya adalah sebuah klaim personal yang belum tentu sama antara satu pembaca dengan pembaca yang lain. Saya sendiri melihat alasan-alasan Liz meninggalkan perkawinanannya memang bukanlah sesuatu yang tersurat sepanjang buku EPL. Namun, dari dialog-dialog yang dia sajikan, dari kisah-kisah yang ia jalin, dari renungan-renungan yang ia sampaikan baik dengan jenaka maupun dengan serius dalam bukunya, saya dapat membayangkan seperti apa masalah perkawinannya.
Masalah yang mendasari bubarnya perkawinan Liz, sebagaimana yang telah ditulis Liz pada bagian awal buku EPL dan telah pula disampaikan oleh Leila dalam ulasannya tentang film EPL, bukanlah sesuatu yang akan digambarkan dengan gamblang. Ini hak Liz sebagai seorang penulis, dan yang lebih penting lagi saya kira, ini adalah haknya sebagai seorang perempuan yang pernah terikat dalam pernikahan dengan seorang pria yang pernah jadi suaminya. Jelas atau tidaknya masalah perkawinan seorang Liz Gilbert bukan derita yang harus dicari jalan keluarnya oleh pembaca bukunya, dan bukan pula sesuatu yang harus didramatisir sedemikian rupa sehingga jadi lebih jelas dan lebih mengibakan ketika jadi film.
Tag: elizabeth gilbert, eat pray love, leila s chudori
Terkait:
-
Antara Eat Pray Love dan Eat Snooze Sleep (2)
Selasa, 26 Okt '10 19:32 -
Eat Pray Love (2010)
Jumat, 1 Okt '10 01:58
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Gambliz: Box Office
-
AndriaGutama: Informatif
-
kucingsapi™: Box Office
-
kniwe: Good Take
-
Rijon: Good Take
Komentar:
plus, saya juga sering ga sreg juga sama pembahasan Leila, hehehe, anda tidak sendirian (malah curhat,
jadi nggak perlu membanding2kan film dan bukunya
Nonton aja, hajar bleh sampe habis....
cerita adaptasi dari dulu sampai sekarang selalu jadi perdebatan memang
*komen tanpa basa-basi dan sok innocent
*sok keren banget*
*jangan ditiru*
omehong: Bukannya media massa (apalagi KOMPAS) cuma mempercayakan tulisan seperti ini (review film / kritik film) cuma pada penulis yang sudah dipercaya ya?
Silahkan login untuk memberikan pendapat