[Review] Life As We Know It: Tidak Istimewa, Tapi Setidaknya Tidak Menghina Kecerdasan Penonton 13
Selasa, 19 Okt '10 17:02
Jujur saja, Life as We Know It bukan komedi romantis yang menampilkan kejutan dengan plot yang tidak tertebak. Lagipula, memasuki tahun 2000-an, memangnya masih ada romcom Hollywood yang menjanjikan hal-hal mewah seperti plot yang surprising dan unpredictable? Para penggemar berat genre ini entah harus melebarkan wawasan mereka ke romcom Asia/ Eropa, atau terpaksa berpuas diri - sekaligus menurunkan standar - dengan romcom-romcom absurd semacam yang dibintangi Jennifer Aniston.
Tapi bagi saya, Life as We Know It nggak jelek-jelek banget. Film yang dibintangi Katherine Heigl dan Josh Duhamel ini salah satu produk massal yang lebih baik ketimbang - katakanlah - Management, The Bounty Hunter, Love Happens dan The Switch (ups, semuanya romcom-nya Jen Aniston ya?). Film ini bahkan saya bilang lebih baik dibandingkan romcom Katherine Heigl sendiri, misalnya The Ugly Truth dan 27 Dresses (saya belum nonton The Killers dan Knocked Up adalah perkecualian).
Holly Berenson (Katherine Heigl) dan Eric Messer (Josh Duhamel) pertama kali bertemu dalam sebuah kencan buta yang diatur kedua sahabat mereka: Alison (si juicy boobie dari serial Mad Men, Christina Hendricks) dan Peter (Hayes MacArthur). Akibat sifat yang bertolak belakang, kencan buta itu berakhir dengan bencana.
Adegan pembukanya sudah memberi gambaran tentang karakter masing-masing. Holly pemilik usaha katering/ toko kue yang punya kecenderungan control and clean freak. Selain itu, karena genre film ini komedi romantis (diperankan oleh Katherine Heigl pula), tentu saja ia harus menjadi lajang di usia 30-an.
Eric, sebaliknya. Lelaki ganteng yang entah kenapa memilih vokalis Black Eyed Peas sebagai istrinya ini, teknisi sebuah stasiun TV khusus olahraga; sangat 'cowok', womanizer kelas kakap, pembenci komitmen, easy going dan sangat percaya diri mendekati angkuh. Oya, untuk meng-highlight sifat rebellious-nya, ia pun minta dipanggil Messer.
Sudah terdengar seperti penokohan The Ugly Truth belum bagi Anda?
Meskipun saling tidak menyukai, Messer dan Holly jadi sering bertemu karena masing-masing adalah sahabat Peter dan Alison. Saat sahabat mereka itu menikah dan memiliki seorang putri bernama Sophie (dimainkan oleh si kembar tiga yang cute berat Alexis, Brynn, dan Brooke Clagett), konfllik pun dimulai.
Dengan berani film mematikan Peter dan Alison dalam sebuah kecelakaan mobil. Peristiwa tragis ini tentu saja menjadikan Sophie, yang baru saja merayakan ulang tahun pertamanya, yatim piatu. Pengacara Peter dan Alison pun memanggil Messer dan Holly untuk menyampaikan wasiat pasangan itu. Isi wasiatnya adalah mereka menghibahkan rumah mereka di daerah pinggiran kepada Messer dan Holly. Tidak itu saja, mereka juga menginginkan musuh bebuyutan ini menjadi orangtua asuh Sophie.
Dari sini film pasti sudah bisa ditebak ke mana arahnya. Messer dan Holly tadinya menolak. Tapi karena kasihan dan sayang pada Sophie, mereka terpaksa setuju. Dimulailah proses adaptasi kedua lajang ini dalam hal: 1) punya rumah besar di daerah pinggiran, 2) menjadi orangtua, dan 3) berbagi tugas dalam mengasuh Sophie.
Adegan-adegan yang menggambarkan proses adaptasi itu dieksplorasi sedemikian rupa untuk membuat penonton tertawa; atau setidaknya, tersenyum-lah. Adegan mengganti popok kotor yang sudah begitu sering kita lihat dalam film-film komedi itu? Tentu saja ada di sini. Lengkap dengan dramatisasinya di mana kami para orangtua (oke, ibu) bakal tidak tahan untuk tidak membatin 'nggak segitunya juga kaleee'.
Begitu juga adegan di mana Messer terpaksa menitipkan Sophie pada - catat ini - sopir taksi karena ia harus menjadi produser sebuah pertandingan basket bergengsi. Hmmm, memangnya di Amerika sana nggak ada tempat penitipan anak barang sejam dua jam, ya?
Oya, ada juga tokoh yang nantinya bakal diplot untuk jadi saingan Messer. Cowok seganteng ini memang harus diberi pesaing yang nggak kalah ganteng untuk bisa sadar kalau sebenarnya ia mencintai dan membutuhkan Holly (ups, spoiler ya? Not really). Dan peran rival ini jatuh ke tangan Josh Lucas, salah satu pelanggan toko kue Holly yang ternyata - surprise surprise - dokter anak Sophie.
Tapi ingat, walau (boleh) ganteng, aktor yang memerankan karakter kompetitor ini tidak boleh 'menenggelamkan' pemeran utama, dong. Jadi, walau ganteng (juga), Josh Lucas tetap saja tidak se-yummy Josh Duhamel. Atau Eric Winter yang tidak se-bad boy Gerard Butler (The Ugly Truth). Atau Patrick Wilson yang tidak se-freak Jason Bateman.
Life as We Know It dibangun dari beberapa adegan klise (mengejar cinta sejati yang terancam pindah ke kota/negara lain di bandara? Totally check) yang untungnya -- atau anehnya ya? -- tidak membuat saya menguap. Komedi romantis ini memang tidak menawarkan banyak kejutan, tapi eksekusinya terbilang cukup mulus dan masuk akal.
Misalnya pertanyaan besar yang pasti muncul begitu Peter dan Alison malah mempercayakan Sophie ke dalam pengasuhan Messer dan Holly yang notabene tidak saling akur: memangnya pasangan ini tidak punya sanak saudara lain yang bisa mengasuh Sophie? Kabar gembiranya, tidak saja film ini tidak pura-pura bodoh dengan pura-pura tidak tahu dengan pertanyaan besar itu, tapi menjawabnya dengan cukup lancar.
Dalam filmografi komedi romantis Katherine Heigl, chemistry-nya dengan Josh Duhamel di film ini lah yang menurut saya paling cute. Eh, kedua ding setelah Knocked Up dengan Seth Rogen yang geblek itu (saya serius -- dan saya cinta Seth Rogen!). Ketiga dengan Gerard Butler di The Ugly Truth. Dan keempat dengan siapatuhnamanya di 27 Dresses.
Seperti kebanyakan komedi romantis lainnya, Life as We Know It lebih terasa seperti home-movie. Masuk akal, karena sutradaranya, Greg Beranti, lebih sering menulis dan memproduksi serial-serial TV. Sebut saja Everwood dan serial yang sempat jadi favorit saya, Brothers & Sisters.
Pendek kata, saya cukup menyukai film ini. Walau tidak istimewa, tapi setidaknya film ini tidak (terlalu) menghina kecerdasan penonton seperti yang telah dengan brutal dilakukan romcom Hollywood lainnya.
Terkait:
-
Scott Pilgrimm vs the World: Sebuah Film Konyol
Rabu, 14 Mar '12 11:28 -
The Classic
Jumat, 24 Jun '11 17:59 -
Sin Nombre
Jumat, 24 Jun '11 17:52
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Rijon: Good Take
-
kniwe: Good Take
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take
-
sabai: Informatif
-
AndriaGutama: Good Take
-
lazione budy: Good Take
-
Ria Tumimomor: Good Take
-
Rushed: Informatif

Komentar:
Tuh salah satu film Abbas Kiarostami aku bahasa di sini, "Ten."
Ya kalau nggak gitu nyaris gak mungkin nonton film begituan di Indonesia ini. Alternatif paling murah ya download.
"Copie Conforme," "Eu cand vreau sa fluier, fluier," "Ten," sampai "Nosferatu", film setipe itu kecil kemungkinan masuk resmi di Indonesia, entah dalam format bluray, DVD, VCD, atau. Yang tidak resmi (baca: bajakan) aja belum tentu ada.
Jangankan itu, sampai sekarang aku masih menunggu kapan film-film seperti "Pacar Ketinggalan Kereta" atau "Tiga Dara" dirilis ulang. Masa sih mesti nonton pake VHS?
Nah untuk hal terakhir kayaknya aku butuh bantuanmu, Rijon... mau dong situs-situs yang oke buat download. Soalnya selama ini aku download itu modalnya pake cuma Google. Maksudnya ketik keyword film yang diinginkan di Google, terus buka satu-satu sembari berharap beruntung mendapatkan situs yang oke. Purba banget bukan, hahaha.
Mau dong situs tempatmu menyedot si "Copie Conforme" itu? Eh boleh nggak di sini (Bicarafilm) me-mention situs-situs tempat download?
Rijon (lagi): or maybe you are obviously not a romcom junkies like me, hehehe. Tapi emang buat gue romcom-romcomnya si Heigl emang nggak istimewa kok, kecuali Knocked Up.
AndriaGutama: Iya penokohannya mirip banget sama "The Ugly Truth". Si cewek lajang 30 tahunan, control & clean freak. Si cowok: bad boy, anti commitment.
KucingsapiTM: Eh Kineforum memutarkan film-film jadul ini secara berkala nggak sih? Atau kalau lagi ada event tertentu aja?
Tapi memang romcom-nya Heighl cenderung biasa-biasa saja, beberapa buruk malah. Ingat Audrey Hephburn? Doi ratu romcomnya (mayoritas filmnya romcom, tapi ada beberapa film Audrey Hephburn yang bukan romcom). Tapi romcom-romcom yang dibintangi Audrey Hephburn kebanyakan justru asik diikuti (nggak sembarangan), "Roman Holiday," "Breakfast at Tiffany," etc. Rasanya Heighl masih jauh dari level Hephburn.
Jangankan mau dibandingkan dengan romcom yang sudah melegenda seperti "Annie Hall," "City Lights," atau "Cousin, Cousine," dibandingkan dengan "Notting Hill" atau "Bridget Jones Diary" pun, romcom-romcomnya Heighl masih biasa saja.
Tentang situs download, di Bicarafilm ada fasilitas PM gak ya?
arddhe: Terima kasih.
Silahkan login untuk memberikan pendapat