Sahabat Selamanya 2
Minggu, 10 Okt '10 03:41
Video (cover) itu adalah original soundtrack (OST) terbaru serial TV "Upin dan Ipin". Sebagai seorang Sobat Padi dan orang Indonesia asli, saya bangga dengan hal ini.
Sebuah serial TV dari negara lain (Malaysia), mencari musisi dari Indonesia untuk membuatkan OSTnya. Ini bisa menjadi sinyal bahwa seni tidak tercampur aduk oleh politik.
Beberapa waktu lalu hubungan Indonesia-Malaysia kembali panas, pasca insiden "barter" tahanan dengan petugas dinas perikanan dan kelautan. Masalah ini sudah dibahas di Politikana.
Yang menjadi sorotan saya adalah ketika beberapa anggota DPR menyuruh menghentikan penayangan serial "Upin dan Ipin" di sebuah stasiun TV swasta, dan diganti dengan serial "Unyil" yang asli dari Indonesia. Hal ini aneh menurut saya. Lalu kenapa DPR tidak membiayai sebuah produksi serial film untuk anak-anak yang lebih baik? Kalau ada serial anak-anak yang lebih apik, pasti tidak ada lagi yang menonton serial "Upin dan Ipin".
Tapi seperti biasa, ini adalah ciri khas kebanyakan orang Indonesia yang terwakili oleh anggota dewannya: "talk more, do less".
Sejak film "Petualangan Sherina", saya tidak lagi melihat film anak-anak asli Indonesia yang bagus. Atau sejak serial TV "Si Unyil". Kalau Unyilnya sekarang masih eksis, tapi dengan laptop untuk tambahan aksesoris :D
Pembuat film anak di Indonesia sepertinya kurang mempunyai "jiwa" anak-anak. Film Indonesia untuk anak-anak terakhir yang saya lihat adalah "Meraih Mimpi". Film ini sangat membosankan. Keponakan saya yang melihat film ini juga bilang gak menarik. Terlalu banyak kepentingan di film itu. Mungkin, sang produser ingin agar film ini marketnya tidak untuk anak-anak saja, tapi semua usia. Tapi disinilah kesalahannya.
Serial "Upin dan Ipin" bisa disukai anak-anak, juga beberapa orang dewasa termasuk saya, karena sudut pandang film itu sangat anak-anak. Terlihat dari cerita serial "Upin dan Ipin" yang berkisar tentang keseharian: bermain dengan teman, di sekolah, dan di rumah. Juga konflik-konflik yang terjadi, bisa dipahami oleh pikiran anak-anak. Seperti berebut mainan, iri karena temannya pamer sepeda baru, atau berbuat curang saat bermain bersama. Tidak ada konflik perjodohan, perebutan tanah, bersaing mendapat beasiswa, dan lain-lainnya seperti yang diperlihatkan di film "Meraih Mimpi".
Sepertinya film/serial TV di Indonesia kurang bisa fokus dimana segmentasi pasarnya. Yang penting tiket bioskop terjual habis. Tidak lagi berpikir siapa sasaran penontonnya, mau bercerita tentang apa, juga terlalu padat konten ceritanya. Anak-anak lebih menyukai film yang bisa membuat mereka tertawa dengan gerakan-gerakan pemerannya/visualisasi gambarnya, dan tidak perlu berpikir dalam untuk memahami ceritanya. Kalau orang dewasa saja perlu berpikir untuk memahami sebuah film yang katanya untuk anak-anak, bagaimana anak-anak itu sendiri bisa memahaminya?
Juga untuk memberikan pelajaran moral dan budi pekerti di film anak-anak, harusnya bisa dibuat sederhana saja. Seperti kalimat sehari-hari yang diucapkan ibu guru, nenek, dan kak Ros dalam serial "Upin dan Ipin".
Saya kira hal ini bisa menjadi cambuk untuk sineas muda yang ada Indonesia, terutama yang mengkhususkan diri dalam film/serial TV untuk anak-anak, untuk bisa membuat film/serial TV yang lebih baik lagi. Apalagi kabarnya, serial film "Upin dan Ipin" adalah karya putra Indonesia.
Jadi tidak perlu lagi melarang film/serial TV bangsa lain, jika kita tidak bisa membuat yang lebih baik.
Tag: serial tv, fim anak, soundtrack, Padi
Terkait:
-
Unforgettable
Senin, 17 Okt '11 14:39 -
Original Soundtrack
Kamis, 9 Des '10 03:11 -
Leverage TV Series
Selasa, 6 Okt '09 20:15
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Good Take
-
Taruma: Good Take
-
rohanisyawaliah:
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat