Doraemon The Movie (Haiku Reviews) 0
Sabtu, 9 Okt '10 16:27
Saya yakin sebagian besar atau bahkan di atas 90 persen penduduk Indonesia tau apa dan siapa itu Doraemon mengingat kesuksesan luar biasa di negeri ini. Doraemon adalah karakter kartun ciptaan Fujiko F. Fujio, komikus Jepang, yang kali pertama diperkenalkan pada tahun 1969. Doraemon merupakan sebuah robot berbentuk kucing dari abad 22 yang di kirim ke abad 20 untuk membantu Nobi Nobita, seorang anak pemalas kelas 5 SD yang menyebabkannya selalu gagal dalam ulangan di kelas, dengan alat-alat canggih yang dibawanya dari masa depan melalui kantong ajaib empat dimensi di perutnya.
Doraemon kali pertama di tayangkan di Indonesia dalam bentuk anime pada tahun 1974 melalui TVRI Yogyakarta. Dan sejak 1991 hingga saat ini, serial Doraemon ditayangkan oleh RCTI setiap hari minggu pukul 08.00 WIB. Selain hadir sebagai serial TV lepas, Doraemon juga disajikan dalam bentuk film. Tercatat sudah 30 buah Doraemon the Movie telah terproduksi sampai tahun 2010 dengan judul, tema, dan jalan cerita yang beragam. Tiga dari ketiga puluh film itu adalah Doraemon: Nobita dan Robot Kingdom (2002), Doraemon: Dorabian Night (1991), dan Doraemon: Petualangan Nobita di Negeri Wan Nyan (2004) yang sebagian besar bertema petualangan dan akan saya ulas sedikit di sini.
Doraemon: Nobita dan Robot kingdom yang lebih dikenal dengan Doraemon: Nobita to Robotto Kingudamu di Jepang dan Doraemon: Nobita and The Robot Kingdom untuk judul Internasionalnya, bercerita mengenai petualangan Doraemon, Nobita, dan teman-temannya (Shizuka Minamoto, Takeshi Goda (Giant), dan Suneo Honekawa) yang harus berurusan dengan robot-robot di kerajaan robot karena ulah Nobita yang memesan secara ceroboh robot dari masa Doraemon dan secara tidak sengaja juga membawa Poko, robot berbentuk manusia dari kerajaan Robot yang tersesat di lorong waktu.
Film-film Doraemon sepertinya memang lebih banyak memfokuskan pada Nobita sebagai tokoh utama, mulai dari dia yang membuat sebab hingga menanggung akibatnya. Begitu pula dalam proses petualangan atau pada keadaaan genting, selalu saja Nobita harus melakukan sendiri apa yang menjadi tanggung jawabnya. Seperti pada film ini, Nobita harus melawan sang musuh dengan tanpa bantuan doraemon.
Selain itu, sebagai film anak-anak yang notabene memang mengajarkan kebaikan, film ini sukses menyampaikan pesan moral persahabatan pada setiap karakternya, tidak peduli apakah itu robot atau manusia, dan juga menekankan betapa berharga dan pentingnya seorang ibu. Semua itu disajikan dengan balutan drama khas anak-anak yang cukup membuat saya berempati pada karakter Nobita, Doraemon, dan teman-temannya.
Film kedua dalam haiku ini adalah Doraemon: Dorabian Night atau Doraemon: No Arabian Naito. dari judulnya saja pasti sudah pada tahu film Doraemon yang satu ini bercerita atau bertemakan mengenai apa. Yah, Dorabian Night yang merupakan bentukan kata dari Arabian Night bercerita mengenai Nobita yang begitu kagum akan karakter Sinbad, seorang pelaut tangguh dalam cerita Arabian Night. Diceritakan bahwa Doraemon, Nobita, Sizuka, Giant dan Suneo dapat mengamati dan merasakan secara langsung bagaimana cerita anak dalam buku cerita Nobita melalui alat milik Doraemon berbentuk sepatu yang dapat digunakan untuk masuk ke dalam buku cerita tersebut.
Keadaaan menjadi semakin serius ketika Giant dan Suneo berulah iseng mengacak halaman buku cerita yang terdiri dari lebih dari satu cerita saat Nobita dan Shizuka berada dalam kisah Pinokio, dimana dalam cerita berikutnya Sizuka tersesat di dalam Arabian Night karena kehilangan satu pasangan sepatu yang digunakannya masuk ke dalam buku cerita sehingga menyebabkannya tidak bisa kembali ke dunia nyata. Dari sinilah Nobita, Doraemon, Giant, dan Suneo mulai berpetualang di Arabian Night untuk menyelamatkan Sizuka yang ternyata menjadi tawanan Abujil, seorang perompak padang pasir.
Konflik dalam film ini ternyata begitu seru, dan menarik untuk diikuti. Begitu banyaknya masalah yang mewarnai petualangan mereka ditambah dengan hilangnya kantong ajaib Doraemon yang membuat usaha mereka terkesan begitu berat dan penuh perjuangan. Pesan moral yang coba diberikan juga tersampaikan dengan baik melalui setiap karakter pendukungnya, mulai dari Abujil dan teman-temannya hingga Sinbad yang memiliki karakter beragam untuk bisa dipelajari, apalagi ini adalah film yang notabene dikonsumsi oleh anak-anak yang sangat membutuhkan pendidikan untuk pengembangan karakter diri.
Film berikutnya, Doraemon: Petualangan Nobita di Negeri Wan Nyan atau yang di Negara asalnya lebih dikenal dengan Doraemon: No Wan Nyan Jikuden menawarkan cerita yang lebih beragam lagi. Mengangkat cerita fable, dimana binatang, khususnya Anjing dan Kucing, bisa berbicara dan bertingkah laku seperti manusia. Berawal dari Nobita yang secara tidak sengaja menolong seekor anjing kecil saat mengambil bola baseball di sungai setelah bermain bersama Giant dan Suneo. Sejak saat itu, anjing kecil yang kemudian diberi nama Ichi itu dipelihara olehnya secara sembunyi-sembunyi karena Ibu Nobita tidak menyetujui keputusannya memelihara anjing di rumahnya.
Untuk mengatasi masalah itu, Nobita kemudian mengirim Ichi berikut sekumpulan anjing dan kucing yang ditemukannya di hutan bukit belakang sekolah ke masa 3 ratus juta tahun sebelumnya. Dengan dibekali alat pembuat makanan otomatis, Nobita meninggalkan Ichi, yang sebelumnya telah Ia rubah menggunakan alat perubah wujud milik Doraemon menjadi bisa mengerti dan bertingkah seperti manusia termasuk berjalan menggunakan dua kaki dan berbicara, dengan sebuah janji akan datang kembali menemuinya esok hari.
Film ini kembali meletakkan Nobita sebagai tokoh sentral dengan segala sifat keluguan dan kecengengan Nobita yang berhasil membuat film ini benar-benar tampil memukau pada jalan cerita yang terkesan begitu mengoyak empati setiap penontonnya. Apalagi pada pembentukan chemistry antara Nobita dan Ichi yang telah terjalin sejak saat Ichi masih kecil, dua karakter ini seolah telah memiliki ikatan batin dalam cerita ini. Pun pada bagian dimana Nobita diharuskan berjuang tanpa bantuan Doraemon yang diculik dan menjadi tawanan sang musuh sebagai bagian dalam usahanya menepati janji, hal ini semakin menunjukkan sikap tanggung jawab dan pantang menyerah Nobita yang patut diteladani.
Begitu banyaknya pesan moral dan pelajaran yang dapat diambil berikut juga kelucuan akan tingkah konyol Doraemon, Nobita, dan kawan-kawannya yang begitu menghibur pada setiap film-filmnya, membuat Doraemon the Movie bisa menjadi pilihan tepat untuk melepas penat dan memenuhi kebutuhan akan film-film kartun sarat makna yang berkualitas. Apalagi untuk para penggemar Doraemon, sepertinya setiap filmnya akan sulit untuk dilewatkan, atau bahkan dinikmati berkali-kali tanpa menimbulkan efek kebosanan.
Terkait:
-
KAHAANI : A REAL TREAT FOR TWIST-SUCKERS
Sabtu, 19 Mei '12 01:24 -
Modus Anomali : This is a Roller Coaster!
Kamis, 17 Mei '12 16:27 -
BROKEN HEARTS : SUSAHNYA SINEMA KITA MEMBANGUN REALITA (SPOILER ALERT!)
Kamis, 17 Mei '12 04:20
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat