Avatar Aang dan Benturan Peradaban 15

Sabtu, 9 Okt '10 03:01

.... Finally, [the nation] is imagined as a community, because, regardless of the actual inequality and exploitation that may prevail in each, the nation is conceived as a deep, horizontal comradeship. Ultimately, it is this fraternity that makes it possible, over the past two centuries for so many millions of people, not so much to kill, as willing to die for such limited imaginings."
— Benedict Anderson

Pernah meluangkan waktu sejenak untuk menonton film Avatar, The Legend of Aang, bersama adik, anak, keponakan, atau keluarga ? Mungkin banyak yang meremehkan film tersebut, yang segmentasinya untuk anak dan remaja, sehingga terkesan tidaklah terlalu kompleks, serius, dan aktual.

Michael Dante diMartino dan Bryan Konietzko, menggunakan setting dunia fantasi, yang terbagi dalam empat peradaban, yaitu Negara Api ( Fire Nation), Kerajaan Tanah ( Earth Kingdom), Suku Air ( Water Tribe), dan Pengelana Udara ( Air Nomad). Dari namanya, Anda pasti sudah bisa menebak bukan, bahwa tingkat kompleksitas peradaban keempat komunitas tersebut, terutama dari administrasi publiknya, berbeda ? Baiklah, mari kita bahas satu persatu disini :

Negara Api ( Fire Nation)

Sebuah peradaban, yang manusianya memiliki kompetensi individu untuk mengendalikan api ( Firebending). Sistem administrasi publiknya, adalah yang paling kompleks diantara ketiga peradaban yang lain. Sistem pertahanan keamanan dan militernya, juga tertata dengan hirarki yang ketat dan rapi. Sistem pendidikannya, menggunakan sistem kelas, yang kurikulumnya dikendalikan oleh pemerintah.

Mereka memadukan antara konsep negara dinasti dengan negara bangsa, karena penguasanya masih berdasarkan pada genetik ( keturunan), mungkin kalau di keadaan aktual, Negara Api ini mirip dengan Britania Raya. Budaya industrinya, yang paling maju diantara ketiga negara yang lain. Nampak sekali bahwa otomasi sudah berjalan dengan baik, dan tahapan industrinya sudah meliputi industri primer sampai tersier, pusat kota adalah wahana pusat bisnis servis. Perpaduan antara teknologi tinggi dan organisasi militer yang rapi, membuat kekuatan kolektif Negara Api menjadi yang paling dominan, diantara tiga peradaban yang lain.

Jurus yang digunakan oleh militer Negara Api, menggunakan gerakan- gerakan dasar seni beladiri Kung Fu Shaolin Utara, yang karakternya cenderung agresif.

Kerajaan Tanah ( Earth Kingdom)

Sebuah peradaban, yang manusianya memiliki kompetensi individu untuk mengendalikan tanah ( Earthbending). Sistem administrasi publiknya, lebih sederhana dibandingkan Negara Api, namun lebih kompleks dibandingkan Suku Air ( Water Tribe) dan Pengelana Udara ( Air Nomad). Sistem pendidikannya masih eksklusif, anak- anak yang dilahirkan di keluarga aristokrat, bisa mendapatkan fasilitas guru privat, yang menjadikan kompetensi dan pengetahuan terbatas, hanya pada beberapa kelompok kecil elit.

Di Kerajaan Tanah ini, nampaknya diperintah oleh raja yang lemah dan kekanak- kanakan, sehingga begitu mudah disusupi oleh kekuatan- kekuatan politik dari Negara Api. Budaya ekonominya juga belumlah sekompleks Negara Api, tebakan saya, mereka masih berkutat di Industri primer ( bahan baku), dan sedikit yang Industri sekunder ( pengolahan). Militer yang dimiliki oleh Kerajaan Tanah, sudah memiliki sistem administrasi yang rapi dan hirarki yang ketat, yang jelas membedakan tingkat kemajuannya dengan Negara Api adalah, penggunaan senjatanya yang jauh tertinggal dari segi teknologi. Dan kelemahan inilah yang menjadi titik lemah militer Kerajaan Tanah, ketika militer Negara Api sudah sampai di pintu gerbang ibukota mereka, Ba Sing Se. Militer Kerajaan Tanah kalah.

Jurus yang digunakan oleh militer Kerajaan Tanah, menggunakan gerakan- gerakan dasar seni beladiri Kung Fu Hung Ga, yang karakternya cenderung defensif.

Suku Air ( Water Tribe)

Sebuah peradaban, yang manusianya memiliki kompetensi individu untuk mengendalikan air ( Waterbending). Sistem administrasi publiknya, lebih sederhana dibandingkan Negara Api dan Kerajaan Tanah, namun lebih kompleks dibandingkan Pengelana Udara. Mereka juga diperintah oleh Kepala Suku, yang secara garis besar terbagi menjadi dua, Suku Air Utara, dan Suku Air Selatan.

Sistem pendidikannya, masih elitis, belum ada sistem kelas, sehingga kompetensi dan pengetahuannya tidak terdistribusi merata. Militer mereka, tidak terorganisir sebaik Kerajaan Tanah, apalagi Negara Api. Sehingga mudah untuk dikalahkan satuan marinir dari Negara Api saat diserbu. Tidak terlalu jelas, bagaimana sistem ekonominya, namun nampak bisa ditebak, bahwa budaya industrinya belum terbentuk.

Jurus yang digunakan oleh militer Suku Air, menggunakan gerakan- gerakan dasar seni beladiri Tai Chi, yang karakternya halus dan mengutamakan harmoni kekuatan- kelembutan.

Pengelana Udara ( Air Nomad)

Sebuah peradaban, yang manusianya memiliki kompetensi individu untuk mengendalikan udara ( Airbending). Tidak ada sistem administrasi terpusat, yang mengatur kepentingan kolektif. Keberadaan mereka juga tidak menetap, masih suka nomaden ( berpindah- pindah). Tidak memiliki sistem ekonomi terpusat, dan tidak memiliki tenaga militer khusus.

Peradaban inilah yang dengan kejam dibunuh oleh militer Negara Api, karena memang paling kecil peluangnya untuk bisa melawan dengan kekuatan setara, selain itu, mereka juga cendrung pasifis.

Jurus yang digunakan oleh warga Pengelana Udara, menggunakan gerakan- gerakan dasar seni beladiri Baguazhang, yang lincah dan cenderung menghindari konflik terbuka.

Bahan Diskusi

Bentuk transformasi komunitas manusia, semenjak Homo sapiens eksis di Planet Bumi, dimulai dari Benua Afrika, lalu keluar ke area Timur Tengah, dan menyebar ke benua lain, menarik untuk dicermati. Dari fase berburu dan meramu, hingga menetap dan bertani. Dari yang sistem administrasinya kecil, berbasis kelompok suku, hingga ke negara dinasti, dan saat ini bertransformasi lagi ke negara bangsa. Tentunya, di dalam komunitas- komunitas manusia tersebut, terjadi konsensus- konsensus, yang membentuk segala kompleksitas sistem dan budayanya.

DiMartino dan Konietzko, nampaknya sengaja menggabungkan bentuk sistem administrasi publik, yang dalam sejarahnya selalu bertransformasi tiap termin waktu itu, ke dalam satu momen waktu yang sama. Dari situ, kita bisa ajak diskusi anak- anak, dan remaja, untuk membuka wacana, beda antara negara dinasti dan negara bangsa, beda antara sistem kelas dengan pendidikan privat, dan lain lain.

DiMartino dan Konietzko juga membenturkan empat peradaban dengan tingkat kompleksitas yang berbeda. Mungkin, banyak yang berpendapat bahwa hikmah terkuat yang bisa diambil dari film ini, adalah soal keseimbangan ekologi serta konsep messianisme. Akan tetapi, pada sisi lain, dengan asumsi bahwa keempat elemen tersebut sama kuatnya, maka bagaimana bisa dalam satu waktu yang sama, keempat peradaban memiliki tingkat kompleksitas administrasi publik yang berlainan, bahkan terlihat beda jauh ? Artinya, dari segi pemikiran, memang masing- masing manusia, yang menghuni empat daerah  berbeda tersebut, memang beragam.

Ini menarik, karena sebenarnya, konsep negara bangsa sendiri belumlah lama dicetuskan, itu kalau kita merujuk ke Revolusi Perancis, 1799, yang berarti kalau dihitung baru sekitar 3 abad lebih sedikit. Konsep negara bangsa, yang masih baru ini, dengan segala modifikasinya, dengan konsep pemerintah negara dan warga negara, tentunya berbeda dengan negara dinasti, yang membedakan antara rakyat dengan penguasa. Saya memahami bahwa ini adalah materi yang kompleks dan rumit, namun, kalau dengan media film, bukankah akan lebih meringankan untuk dicerna ?

 


Tag: avatar, aang, Last Airbender, Benturan Peradaban, Ekologi, Messianisme

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 1 suka | 0
WOW... thank you maxi, sekarang gue melihat film ini dengan perspektif baru.
waktu nonton di bioskop gue sangat sangat bosan melihat adegan2 yg garing, efek yg lebay dan akting pemainnya yang nggak meyakinkan. gue pun menobatkan film ini sebagai yang FILM paling MEMBOSANKAN yg gue tonton di tahun 2010.

ah, seandainya gue baca tulisan lo sebelum nonton, pasti nggak sebete itu di bioskopnya : )
Maximillian 0 0
sabai: Kalau yang diadaptasikan ke bioskop, gua juga kecewa berat : ( ,walaupun gua bisa memahami kalau migrasi FTV ke film bakalan nggak gampang, sudah banyak yang kurang memuaskan hasilnya.

Kalau yang gua komentarin ini, terkhusus buat yang FTV sampai 3 buku itu. Ceritanya kan kompleks, kalau mau dimigrasi ke film yang 120 menit, bakalan banyak hal plot yang hilang, dan itulah masalahnya...

Ah, sudahlah, yang penting gua udah koleksi FTV yang satu ini : )
Victor 0 0
sama kayak sabai, film yang di bioskop membosankan! Sampe ketiduran...

Tapi kayaknya sih lebih karena ekspektasi saya yang terlalu besar waktu liat "iklan"nya di Youtube : D
kucingsapi™ 0 0
kalo baca dari ulasanmu, saya merasa keempatnya punya andil dalam kehidupan, ada yang berpotensi menguasai dan ada berpotensi untuk dikuasai. ya seperti yin dan yang, dan bukankah itu yang membuatnya menjadi seimbang?

tapi.. keseimbangan gak akan selamanya statis, pasti bergerak pasti ada kalanya yang satu berambisi menguasai (api) dan ada juga yang cenderung lari (angin). saat keseimbangan goyah timbullah konflik dan mengalirlah sebuah cerita : D jadi deh film hehehe...

dan itu gak cuma ada dalam film juga sih, lah wong peradaban muncul itu dari campur tangannya manusia kan? peradaban ada dari budaya, budaya=buah pemikiran manusia. contoh nyata yang real, ya kehidupan sekitar kita : D

*ngemeng apa sih saya* : ))
Maximillian 0 0
kucingsapi™: Iya, betul. Terutama yang ini :[ saat keseimbangan goyah timbullah konflik dan mengalirlah sebuah cerita : D jadi deh film hehehe... ]

Kalau masa kesetimbangan muncul, maka film ini malah tidak jadi. Konsumen menginginkan lahirnya konflik, dan ingin melihat para pelaku menyelesaikan konflik itu. Kalau dalam keseharian nyata, tentunya bukan hal yang menyenangkan untuk dialami.

Victor: Pas lihat trailernya di Youtube, sudah nampak aneh ketika melihat wajah pemerannya yang hampir semua Kaukasoid, sedangkan di FTV-nya, nampak ditonjolkan anatomi muka dan bentuk mata yang Mongoloid dan Melanesoid.

Mungkin yang cocok diperankan dengan aktor dari ras Kaukasoid adalah beberapa jenderal dari Negara Api, selebihnya, Mongoloid dan Melanesoid.
AndriaGutama 0 0
Avatar The Legend of Aang adalah suatu kisah yang lengkap, dan sudah seharusnya diapreasiasikan dalam bentuk film yg bagus pula. Oh saya benar-benar berharap bhw The Last Airbender akan direboot menjadi lebih berkualitas =)
Maximillian 0 0
AndriaGutama: Sepakat : )
Donald Duck 0 0
tayangan wajib tonton, meskipun diulang2 tetep ga bosen
jhoni 0 0
wah saya tertarik dengan serial Aang yg animated disamping karena kisahnya yg menarik juga karena pendalaman karakter dari masing-masing tokohnya!!!

tapi dalam kepercayaan Hindhu avatar atau biasa di sebut awatara, adalah perwujudan dewa yang turun kedua untuk menumpas kejahatan......dalam hal ini hanya dewa Wisnu yang bisa melakukan awatara ini......tapi dalam serial Aang memberikan konsep yang berbeda.........dimana Avatar adalah reinkarnasi dari avatar-avatar sebelumnya dan tidak ada kaitannya dengan kepercayaan agama hindhu......
Maximillian 0 0
Donald Duck: Sepakat : )

jhoni: Iya, benar, konsepnya memang berbeda.

[ kisahnya yg menarik juga karena pendalaman karakter dari masing-masing tokohnya!!!]

Benar, maka saya pun mengoleksinya : D
lazione budy 0 0
sayang sekali gagal di live action.
Janaspriya 0 0
gw mengkoleksi semua dvdnya yang animasi. Suka banget ama versi animasinya. Ceritanya sungguh menarik. : )
Maximillian 0 0
lazione budy: Iya : (

Janaspriya: Yup, sama : )
mabuk janda 0 0
kalo saya lebih senang nyama2in negara bumi itu jepang,, negara air tempatnya katara itu selandia baru,, tuh si sokka senjatanya pake bumerang,, kalo kerajaan air selatan di Alaska kayaknya,,yang masih ketrunan mongoloid,,
trus kuilnya si aang ada di tibet,, liat aja cara pakaian,,kepala,, ma tempatnya yang tinggi2 : )

trus pengendalia ir yang di rawa2 itu di amazon, kerajaan bumi itu jepang,, dan negara api?? negara api dinggambarkan penuh dengan gunung berapi,, dan punya hobby memperluas wialyah dengan menjajah negara2 lain,, siapa lagi kalo bukan INDONESIA JAMAN SRIWIJAYA ATAU MAJAPAHIT : D
Gambliz 0 0
Analisis yang menarik, saya menikmatinya.

Semoga Hollywood ga tertarik buat ngadaptasi "One Piece", hehehehe.....saya trauma. : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat