Menertawakan Perjuangan Kemerdekaan bersama Laskar Pemimpi 21

Selasa, 5 Okt '10 13:29

Ada banyak lelucon verbal yang dipampangkan Monty Tiwa dalam film "Laskar Pemimpi". Tapi, dari sekian banyak lelucon, hanya satu yang bikin saya nyengir: Saat dua perwira "di/terapusi" segelintir tentara-pejuang mbalelo.

Saat itu, beberapa anggota Laskar Panjen sedang bergerak menuju markas KNIL untuk membebaskan beberapa sandera. Mereka melakukannya tanpa ijin atasannya. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan (kalau tidak salah) Bambang Soepeno dan Soeharto yang sedang merancang Serangan Umum 1 Maret. Saat itulah, Ontje, anggota KNIL yang tertangkap dan dipaksa menunjukkan tempat markas KNIL, tiba-tiba mengoceh tentang titik-titik lemah dan kekuatan pertahanan KNIL. Angota Laskar Panjen lain lalu segera membekap mulut Ontje karena khawatir rencana ilegal mereka menyatroni markas KNIL bisa terendus. Tentu saja Bambang Soepeno dan Soeharto heran ada yang tahu soal yang mestinya cukup rahasia itu. Anggota Laskar Panjen lantas berdalih kalau si Ontje ini adalah dukun/paranormal. Setelah Laskar Panjen dan Ontje berlalu, Bambang Soepeno memerintahkan Soeharto untuk memastikan kebenaran ocehan Ontje itu.

Scene itu penting karena jika saya diminta apa hal baru dari "Laskar Pemimpi", maka scene itu bisa menjadi pintu masuk untuk menjawabnya. Apa itu? Menertawakan narasi sejarah perjuangan kemerdekaan yang melulu mengedepankan pentingnya militer dan perjuangan bersenjata.

Film ini, tentu saja, masih menjadikan tentara dan para pejuang bersenjata sebagai protagonios dan perjuangan bersenjata sebagai faktor dominan. Hanya saja, heroisme para tentara-pejuang dan aksi-aksi perjuangan bersenjata itu hadir untuk ditertawakan. Ya, saya merasa, itu memang untuk ditertawakan.

Para perwira seperti Soeharto dikadali dan percaya begitu saja dengan apus-apusan si Ontje sebagai paranormal/dukun. Bagi saya, scene itu menghadirkan para perwira untuk ditertawakan, setidaknya tampil dalam sosok yang rada pekok. Ini sesuatu yang serius jika diletakkan dalam mainstream hegemoni militer dalam narasi sinema Indonesia di era Orde Baru. Tak terbayangkan, bukan, di era Orde Baru ada film dengan Soeharto yang diapusi macam itu?

Yang jelas, sudah sangat banyak film-film yang bicara tentang pentingnya militer dan perjuangan bersenjata dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sudah cukup banyak juga studi yang mencoba membongkar hegemoni militer (terutama di era Orde Baru) dalam dunia sinema Indonesia.

Makanya, sayang sekali jika komedi dalam film ini seringkali dihelat lewat joke-joke yang berlebihan (misal: interupsi penduduk terhadap makian Bowo pada Anjing/Ular/Kucing Belanda), scene-scene yang lebay (gay behaviour saat Laskar Panjen menyanyi-nyanyi di dalam sel penjara) sampai adegan slapstick (Kopral Jono terantuk tiang/kayu di awal film). Saat Kopral Jono nyeletuk akan istikharoh dulu saat kebingungungan bagaimana caranya membebaskan para sandera, kualitas kelucuannya -buat saya- jauh betul dibanding saat Kyai (diperankan Alex Komang) dalam film "Darah Garuda" juga mengatakan hal serupa saat hendak memutuskan nasib para pejuang yang tertangkap (itu tidak diniatkan untuk melucu sepertinya, tapi saya ngakak beneran pas scene itu).

Terlalu banyak kelucuan, kekonyolan, dan joke-joke yang digenjot sampai batas yang paling jauh. Beberapa joke segar (misal: saat Yayuk bertanya apa rumah untuk para pejuang akan ditarik lagi atau tidak) seringkali tenggelam dalam rangkain joke, kekonyolan, dan tingkah kocak yang sambung-sinambung tiada putus.

Celetukan Yayuk agar Wiwid meninggalkan jiwa pembantunya saat menyapu di penjara itu lelucon yang bagus dan segar, tapi Monty seperti tak puas dengan itu dan "memaksa" Masayu untuk mewek-mewek saat ditakuti Wiwik soal kemungkinan mati di penjara.

Itu sebabnya bagi saya Komedi dalam "Laskar Pemimpi" adalah komedi yang mudah-datang-mudah-pergi. Memang ada alur cerita yang jelas, tapi alur itu terasa dirangkai hanya untuk menghadirkan joke demi joke, guyon demi guyon, tawa demi tawa. Bukan cerita perjuangannya yang pokok, tapi guyon dan kekonyolannya yang pokok.

Monty Tiwa sendiri menyatakan, "Harapannya film ini bisa menampilkan kembali sejarah ke dalam sesuatu yang lebih menyenangkan dan jadi lebih mudah diingat."

Tapi menyenangkan dan mudah diingat adalah dua hal berbeda. Tidak semua hal menyenangkan akan mudah diingat. Bagi ingatan saya sendiri, saya tidak yakin ada scene kocak dalam film ini yang akan bisa menggeser kocaknya prajurit Komarudin dalam film "Janur Kuning" atawa kelakuan Naga Bonar dan Si Lukman dalam film "Naga Bonar".

Kelucuan, kekocakan dan kekonyolan dalam Naga Bonar tidak membuat sejarah perjuangan itu jadi bahan tertawaan (bahkan kendati banyak yang mengundang tawa), melainkan untuk melihat sisi humor dan komikal, dan karenanya menjadi narasi alternatif dari dominannya gambaran heroik nan suci tanpa nila para tentara-pejuang dalam sejarah perjuangan kemerdekaan.

Pada "Laskar Pemimpi", seperti yang sudah saya tulis tadi di awal, kisah perjuangan itu hadir tak lebih hanya untuk ditertawakan.

Memangnya sejarah perjuangan bersenjata dilarang untuk ditertawakan, ya? Ya ndak begitu juga. Kalau ada orang yang mau melucu, sepatutnya kita ikut senang, toh?

******

Post-script: Etapi bukankah film ini juga ada unsur (drama) musikal-nya? Atau itu adalah antologi video klip Project Pop yang disusupkan ke dalam film? Saya nanya (agak) beneran loh ini :D

 


Tag: Monty Tiwa, laskar pemimpi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

warm 0 0
menertawakan sejarah perjuangan,
tidaklah menarik buat saya : |
kalangwan 0 0
warm: hihihi.... mau gimana lagi? : D
kalangwan 0 0
Ada banyak deti yg bocor-bocor ga penting yg terasa anakronis dari segi akurasi sejarah. tapi saya abaikan soal itu ketika nulis review ini. ndak pa2 lah.

: D
Rijon 0 0
Setuju banget soal lelucon yang kebanyakan (malah mayoritas) dipaksakan dan terasa lebay itu. : )
kalangwan 0 0
Rijon: ada satu dua lelucon yg segar dan kuat, tp langsung ketindih gitu deh.
sabai 0 0
hihihii.... jadi pengin nonton nih gara2 baca posting ini!
anak kecil 0 0
saya setuju dengan beberapa adegan lebay termasuk adegan masayu yang meweknya terasa seperti dibuat-buat : D ahh namany juga kting : D tp kok kerasa banget yah : (( tp beberapa adegan jg membuat saya sukses terpingkal-pingkal sampe keselek popcorn *eh lebay : ))
rudy prasetyo 0 0
Ngantuk nonton film ini. Script, lokasi, casting pemain, scoring, semua gak ada yng menarik.
Mochamad Fachroni 0 0
Terima kasih reviewnya, sebenernya memang kita berbeda selera, tidak apa-apa.... Terima kasih, teman-teman semua udah bersedia menonton film ini, kami sudah di bisnis ini hampir 15 tahun, dan kami lebih senang dengan majority opinion, right ? Industri film, industri musik, adalah industri untuk majority, for minority, bisa nyari sendiri toh.. he he he
Mochamad Fachroni 0 0
Oh ya, saya adalah O2N Project Pop
kalangwan 0 0
Mochamad Fachroni:

Kalau omong2 soal majority, masak Anda mau bilang Suster Kermas lebih baik dari Laskar Pemimpi sih? Tega amat bilang gitu ama pelem sendiri. xixixi....
Mochamad Fachroni 0 0
Penduduk Indonesia itu banyak, saya tidak pernah membandingkan film saya dengan film yang lain. Karena kami juga dalam industri musik, tidak pernah membanding kan dengan group yang lain. Semua punya segment nya, yang penting , kalau pesan film itu udah nyampe pada penonton, itu sudah bagus, tanpa compare dengan yang lain. he he he
Rijon 0 0
Mochamad Fachroni:
Wah dari Kaskus akhirnya ke Bicarafilm juga. : )


(1)

Aku masih gak ngerti kenapa ada pemahaman mayoritas-minoritas dalam dunia perfilman ini (aku gak tahu-menahu soal dunia musik, jadi mari persempit saja ke dunia "film-film"-an). Kenapa harus ada pembagian penonton tipe A, tipe B, tipe C. Atau penonton kelas A, kelas B, kelas C. Kenapa ada bilang romance itu untuk cewek, sementara aksi itu untuk cowok. Lantas kalau cowok nonton drama percintaan mendayu-dayu bakal dibilang banci? (Beda ceritanya dengan "ratting," kalau-kalau ada yang mempertanyakan).

Kenapa film harus dikotak-kotakan berdasaarkan gender? Kenapa film harus dikotak-kotakan berdasarkan kaum minortias-mayoritas? Malah aku pingin nanya sama Bang Oon, yang dimaksud "mayoritas" (atau "minoritas") ini siapa?

Kenapa kami (yang di bicarafilm ini) tidak suka (atau tidak menikmati) film "Laskar Pemimpi" dikategorikan sebagai kaum minoritas? Atau siapa saja sih kamu mayoritas itu? Dan kenapa bisa dikategorikan jadi kaum mayoritas. Dan jangan bilang kaum mayoritas itu sekedar "orang yang suka" dan kaum minoritas itu "orang yang gak suka." Lalu kenapa harus dikelompok-kelompokkan? Dan apa tujuannya? Apa kaum mayoritas lebih dperhitungkan? Apa kaum mayoritas pendapatnya lebih diperjuangkan? Lebih diperdengarkan?

Kenapa sih gak dipandang sama rata sebagai "penonton film," misalnya. Bukannya status dan posisi semua orang yang menonton film ini sama? Entah itu kritikus film atau sekedar penonton awam, bukannya posisi mereka sama-sama sebagai penonton? Bukannya setiap orang (setiap kepala orang) juga punya penialan sendiri-sendiri. Punya selera sendiri-sendiri. Aku juga yakin setiap kepala orang yang ada di "kaum mayorias" gak mungkin semuanya punya penilaian yang sama persis dengan film ini.

Aku tahu kok pada dasarnya sebuah film gak mungkin bisa diterima dengan baik oleh setiap kepala yang menonton, sebagus apapun film itu. Tapi tetap saja aku masih bingung dengan pendiskriminsian yang disebutkan Bang Oon.

(2)

Yah, masalah Bang Oon tidak mau compare-compare-an dengan yang lain itu sih terserah individu ya. Tapi buat aku sih compare-compare-an itu hal wajar kok. Dari dulu compare-compare-an ini juga sudah sering diterapkan, salah satunya dalam kritik film. Jennifer Love Hewitt, misalnya, dulu pernah kan dikatakan bakal jadi penerusnya Audrey Hepburn?! Gaya realisme-nya era new wave perfilman Iran juga seringkali di-compare-kan dengan gaya neorealisme Italia, kan? Atau, Pintu Terlarang bikinan Joko Anwar juga pernah dibadingkan dengan Hitchcock dan Almodovar.

Silahkan saja ada yang bilang tidak mau membuat perbandingan. Tapi membandingkan satu film dengan film yang lain itu manusiawi kok, siapapun itu yang melakukan. Dan kalau misalnya "Laskar Pemimpi" ini dibanding-bandingkan dengan film lain, itu juga manusiawi. Dan kurasa itu hak asasi yang menonton.

Buatku, diapresiasi oleh penonton itu sudah jadi risiko sebuah film. Apresiasai itu gak selalu positif, ada juga yang berwujud kritikan seperti ini. Dan itu hak penonton (tentu kritikan juga harus bertanggung jawab).

(3)

Ini sekedar bales komentar di tulisanku, males bolak-balik. Biar lebih efisien saja. : p

Aku tipe penonton yang gak milih-milih film kok Bang. Aku nonton semua tipe film kok, mulai dari yang bobotnya berat sampai yang ringan banget, mulai dari film mendayu-dayu sampai film sangar, mulai dari film festival sampe film yang gagal box office. Jadi wajar saja kalau aku nonton "Laskar Pemimpi." : D
Mochamad Fachroni 0 0
1.
Gak pernah ada pendiskriminasian dalam pendapat saya, saya hanya melihat consumer yang mau beli atau consumer yang tidak mau beli. Consumer yang suka ataupun costumer yang tidak suka, di luar itu tidak ada.
Di industri entertainment bidang apapun, ketika kita bergerak melingkupi banyak pihak yang berkepentingan, (seperti produser ataupun major recording label, atau klien), sepertinya kita harus selalu adjusted dan compromised, dan kondisi yang ada pada saat syuting yang unpredictable, dengan tujuan menyeimbangkan antara komersialisme dan idealisme, sehingga tujuan semua pihak dapat tercapai.
Saya tidak apa-apa dengan review saudara, kita udah 14 tahun di bidang ini, sudah biasa dengan review seperti itu. Kalau saudara tahu, sampai sekarang Project Pop tidak pernah mendapatkan Anugerah Musik Indonesia, karena panitia bingung masuk ke genre mana he he he, tapi kita lebih bertujuan men entertainer orang. Makanya kita udah buat 8 album dalam kurun waktu 14 tahun ini. Begitu pula dengan Laskar Pemimpi, tujuannya menghibur dan bukan untuk tujuan festival, terbukti sampai sekarang di Jakarta pada hari ke 12 ini, masih mampu bertahan di 21 bioskop di Jakarta. Nah inilah majority yang saya maksud, bukan pengkotak-kotakan.

2.
Kayaknya udah di jawab di point 1 ya

3.
Terima kasih kalau udah nonton.
ajiadityajunior 0 0
Mochamad Fachroni: bung oon, saya penggemar Project POP, dan hampir punya semua albumnya, termasuk menonton film ini pada hari pertama pemutaran di bioskop kota saya.
"kami sudah di bisnis ini hampir 15 tahun, dan kami lebih senang dengan majority opinion, right ? Industri film, industri musik, adalah industri untuk majority," pernyataan bung OOn di koment pertama dan diteruskan dengan
"Begitu pula dengan Laskar Pemimpi, tujuannya menghibur dan bukan untuk tujuan festival, terbukti sampai sekarang di Jakarta pada hari ke 12 ini, masih mampu bertahan di 21 bioskop di Jakarta. Nah inilah majority yang saya maksud, bukan pengkotak-kotakan."

simple saja, apabila memang film ini niatnya untuk menghibur, koment temen2 disini sebaiknya TIDAK PERLU bung tanggepin seserius itu.

karena menurut saya, memang kutub pembicaraannya juga berbeda.

Saya menyaksikan "Laskar Pemimpi" tidak dengan ekspektasi mendapat pencerahan, namun lebih kepada ingin bersenang-senang, bukan berarti film ini tidak memberi pencerahan ya bung ya?. Tapi memang, Laskar pemimpi, menurut pandangan subyektif saya, adalah sebuah guilty pleasure. Dan saya terhibur.

jadi memang tiap orang punya perspektif dan pandangan masing-masing.

BTW, saya lebih suka " Negeri Impian" Versi Film yang lebih menyayat ketimbang versi album 8 track 7.


Rijon 0 0
(1)

Masalah musik-musikan, jujur saja aku nggak terlalu into dengan musik. Dengerin musik sih iya, tapi kalau sampai suka musik, nggak juga. Jadi kalau ditanya soal begituan. Aku gak bakal jawab (karena gak terlalu tahu). : p

Masalah film. Aku sadar kok permasalahan idealisme vs komersialisme dalam perfilman (apalagi di industri perfilman Indonesia yang kentara banget). Indonesia bukan Perancis, Italia, atau German yang industri perfilmannya sudah maju pesat, bahkan di film "komersil" pun masih terasa bau-bau idealisme yang kental (aku gak bilang gak ada film-film dari negara itu yang "buruk" lo). Atau Indonesia juga rasanya gak mungkin jadi seperti Iran di mana industri perfilmannya (sepertinya) lebih terfokus memproduksi film-film idealis.

Dari segi penonton saja, pola pikir mayoritas penonton Indonesia masih belum mendukung untuk sampai ke situ. Itu sih sejauh yang aku lihat lo. Salah satunya aku pernah ke bioskop, duduk di kursi tunggu, terus denger remaja-remaja di samping (seumuran denganku - masih belasan tahun), ngomong kalau mereka mau nonton film "XXX" karena cuma pingin ngeliat aktris "Y" pake bikini. Ironis saja sih buatku (gak tahu ya buat yang lain).

Jangankan di Indonesia, di luar pun aku rasa tetap saja ada permasalahan idealisme vs komersialisme. Film-film yang murni ke arah idealisme biasanya cuma sukses di festival, kritik film, dan review-review koran (gak selalu lo ada juga film festival yang gagal/buruk). Untuk film-film komersial malah sebaliknya. Yang ingn aku bilang sih, aku mengerti permasalahan ini.

Balik ke masalah yang dibahas.

Kenapa saya bilang pendeskripsian? Karena Bang Oon di atas mengeluarkan pernyataan:

"Industri film, industri musik, adalah industri untuk majority, for minority, bisa nyari sendiri toh.. he he he "

Buatku sih, yang menangkap itu sebagai pendeskripsian, wajar saja bertanya (mungkin pertanyaanku terlalu panjang-lebar). Karena sudah dijelaskan, ok lah.

Jujur saja aku gak pernah menaruh ekspektasi sebuah "film festival" ketika menonton "Laskar Pemimpi." Adakah aku menulis kalau aku menuntut hasil serupa film festival? Nggak kan? Dari trailernya pun aku tahun ini film komersial. Dari sutradara dan posternya juga bisa ditebak ini film komersial.

Tunggu...tunggu....

Kenapa sih film-film harus dikategorikan jadi "film festival dan "film komersial"?? Kenapa nggak cuma dipandang sebauah sebuah "film" saja. Bukannya kalau sudah berjejer di rak rentalan DVD statusnya sama saja? Bukannya kalau sudah masuk bioskop statusnya sama saja. Tiketnya pun sama saja kan? Gak ada tuh aturan di bioskop kalau film festival lebih murah atau sebaliknya. Festival itu kan sekedar semacam ajang apresiasi, karena pada dasarnya orang-orang ingin dihargai karyanya. Iya kan? Nyatanya, "Ben Hur," "Avatar," "The Ten Commandments," "Star Wars" (dan beberapa film lagi), judul-judul itu bisa sukses di wadah komersial dan festival sekaligus.

Dari awal aku masuk bioskop, "Laskar Pemimpi" kusamaratakan kok statusnya dengan film-film lainnya. Mau festival kek, komersial kek, duit yang kubayar sama saja. Lantas kenapa harus dikotak-kotakkan ke kategori "film festival" dan "film komersial"?

Maaf kalau pertanyaannya kepanjangan.
Cuma sekedar anak ingusan (masih 20 lebih sekitar 1 bulan tahun kok) yang iseng-iseng nanya kok Bang, belum punya pengalaman bertahun-tahun di bidang apapun selain sekolah 12 tahun dan nonton film baru 3 tahun belakangan ini. : D
kniwe 0 0
Mochamad Fachroni: Wah, menurut gw Oon memang yang paling menarik ditonton di film ini : )
Mochamad Fachroni 0 0
Ha ha ha , jadi panjang ya, kalau masalah nya analogi , ya persepsi nya beda2 terus. Sudahlah, Rijon teruslah mereview film2, saya juga tidak merasa terganggu. Saya ngasih koment juga, dengan menghormati tulisan saudara, apa saya denial dengan review saudara, tidak kan. Saya memahami perbedaan, tapi karena Rijon membahas begitu panjang, maka harus ada klarifikasi, supaya tidak salah persepsi. Ok Rijon
anak kecil 0 0
wah seru nih : D saya gak ngerti : (( *numpang nonton*
ajiadityajunior 0 0
kniwe: sama om, akting yang paling menarik tuh emang O2n sama dwi sasono
anak kecil 0 0
ajiadityajunior: iya setuju jg : D si oon keren abis : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat