Sang Pencerah? 6
Minggu, 19 Sep '10 01:07
Dua kali menonton Sang Pencerah arahan Hanung Bramantyo, saya justru kian gela, kecewa, sebab sosok Ahmad Dahlan terasa kecil. Padahal, yang saya yakini selama ini, beliau merupakan tokoh besar yang bisa jadi panutan umat Islam di Indonesia. Kita merasakan betul, konflik horizontal telah menyeret umat dalam kebodohan.
Adegan dan pernyataan yang diulang-ulang tentang ritual yang memang bukan ajaran Islam, yang lantas disebut kafir, mengingatkan saya akan kejadian-kejadian serupa di lereng Gunung Lawu, di mana orang melakukan upacara adat diobark-abrik oleh sekelompok orang yang mengklaim diri 'lebih' Islam.
Prinsip 'bagimu agamamu, bagiku agamaku' yang bersumber dari firman Allah pun diabaikan oleh mereka, yang merasa lebih Islam, lebih ngerti ajaran, dan seterusnya. Kita tahu, kelompok Islam mana yang selama ini 'merawat' kelompok masyarakat yang masih merasa perlu mempertahankan lokalitas dari sisi kulit, namun isinya sudah 'di-Islam-kan' oleh para wali.
Sosok Darwis, yang kelak diberi nama baru Ahmad Dahlan oleh sang guru ngaji selama ia mengaji sambil berhaji, tampak kerdil, kecil, karena kurang arif menyikapi keadaan. Betapapun ia tak setuju praktek beragama yang mencampuradukkan dengan ritual Kejawen, saya tak yakin beliau sebegitu zakelijk-nya bersikap.
Beliau pasti mengenal strategi dan bisa beradaptasi, meski ada batas-batas tertentu yang tak mungkin bisa diajak kompromi.
Saat menghadapi kiai asal Magelang, misalnya, Ahmad Dahlan ditampilkan sebagai sosok pemarah. Meski tampil tenang, dialog yang disodorkan menunjukkan betapa tidak sopannya terhadap sesama kiai, apalagi yang usianya lebih tua. Sang kiai tua pun demikian congkaknya, menyebut hanya orang bodoh yang memilih berjalan kaki bolak-balik Magelang-Yogyakarta.
Seperti itukah perilaku dan sikap kiai yang seharusnya jadi teladan? Rasanya tidak.
Dalam konteks kekinian, ungkapan satu kelompok mengkafirkan yang lain juga kurang tepat. Mungkin saja, bumbu kata 'kafir' digunakan dalam dunia politik kerajaan waktu itu. Tetapi, kearifan Hanung dibutuhkan ketika sebagian masyarakat Islam Indonesia kini, lebih suka menunjukkan sikap garang, pemarah daripada akhlak mulia yang mengendepankan kesabaran dan dialog.
Sejujurnya, saya sangat kuatir terhadap idiom-idiom modernis-tradisionalis yang ditonjolkan di film ini akan memicu 'perbedaan' yang sebenarnya masih menjadi potensi laten 'konflik' antara pengikut Muhammadiyah yang modernis-pembaharu dengan warga NU yang masih mempertahankan tradisi tahlilan. Masalah khilafiyah seperti itu, kita tahu, masih sering mengganggu ukhuwah, persaudaraan sesama kaum muslim.
Bahwa Ahmad Dahlan turut mewarnai proses pembentukan Indonesia sebagai negara merdeka, tak ada yang bisa menyangkal. Oleh karena itu, saya sangat tidak yakin bahwa beliau menerima mentah-mentah ajaran Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Muhamad bin Abdul Wahab yang membawa pengaruh khilafah, sebuah konsep kepemimpinan 'Islam' yang menentang sekularisme negara.
Pada awal-awal adegan pun, kita disodori kekeliruan Hanung mencermati proses kekiaian Ahmad Dahlan. Adegan Darwis membuang sesaji, misalnya, akan lebih 'tepat' diceritakan sebagai keisengan seorang remaja, sebab tak ada visual yang menuntun penonton mengetahui latar belakang spiritual yang mendorong Darwis menjadi antisesaji.
Kalau sesaji dianggap menodai Islam, nalarnya, ada panduan yang menjelaskan bahwa ia sudah 'tercerahkan', entah lewat guru ngaji, atau referensi seperti buletin Al Manar. Andai pencerahan itu lewat Al Manar, sepertinya itu terjadi ketika ia berhaji pertama, yang lalu mendorongnya untuk berangkat haji yang kedua kalinya.
Persentuhannya dengan kelompok Boedi Oetomo, misalnya, memperjelas bahwa ia sudah akrab dengan perbedaan. Sebab di sana, ada juga tokoh-tokoh merah, abangan, dan santri dari berbagai organisasi. Kelompok tradisionalis, pun ada di sini.
Bahwa secara artistik film ini layak dipuji, namun terdapat banyak hal-hal elementer terbaikan. Detil clepretan cat pada tembok surau baru Ahmad Dahlan, pelafalan Jawa Mataraman yang luput sebab Ahmad Dahlan berwajah dan bertutur seperti Wagub Jawa Timur Saifullah Yusuf yang medok logat Jawa Timurannya, dan banyak lagi.
(Untuk keterangan lebih detil, silakan baca tulisan Sang Pencerah dan Sang Pencerah #2)
Sejujurnya, adegan kaum tradisionalis meneriakkan Allahu Akbar berulang-ulang dengan tangan mengepal saat merobohkan Langgar Kidul, terasa sangat FPI yang tak lain adalah 'gaya masa kini'. Tangan kanan mengepal merupakan 'perlawanan' tangan kiri dikepalkan ala 'kaum kiri' kontemporer, seperti aktivis Partai Rakyat Demokratik dan onderbouw-nya.
Andai Hanung lebih teliti, mungkin saya tak secerewet kini, dan tak sekuatir sekarang. Jujur, saat nonton pertama kali, yang gedungnya didominasi pasangan orang tua bersorak-sorai dan gemuruh ketika ada adegan pengkafiran dan sebutan-sebutan senada terkait dengan sesaji, saya membayangkan mereka adalah keluarga besar jamaa Muhammadiyah yang selama ini sudah tertanam benih 'khilafiyah'.
Suasana bertolak belakang saat menonton yang kedua kalinya, yang nyaris semua anak-anak muda dan remaja, hening membisu, seolah tak peduli dengan apa yang terjadi, apalagi adanya gesekan antara kaum modernis dengan tradisionalis. Pada kelompok yang kedua ini, mereka menikmati film sebagai film, tak terlalu peduli dengan pesan yang dibangun sang sutradara.
Tapi, apapun, film ini layak ditonton, meski sekadar untuk apresiasi sambil menebak-nebak, di mana sejatinya pencerahan ala Ahmad Dahlan bisa ditangkap penontonnya.
Tag: Hanung Bramantyo, muhammadiyah, ahmad dahlan, Darwis
Terkait:
-
Sang Pencerah Yang Tidak Cerah
Sabtu, 11 Sep '10 09:11 -
Review: Sang Pencerah
Rabu, 15 Sep '10 14:30 -
Sang Pencerah yang Mencerahkan!
Minggu, 5 Sep '10 12:18
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Good Take
-
AndriaGutama: Box Office
-
sabai: Box Office
-
Jarwadi Mj: Good Take
-
kucingsapi™: Box Office
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take

Komentar:
@mas blontank: Saya juga punya concern yang sama nih mas. Alih-alih menyebar perdamaian, malah bisa memicu pertikaian 'tradisional' yang selama ini sudah berusaha didamaikan oleh para ulama...
nice review kang blontangpoer
tak ada yang istimewa.
Silahkan login untuk memberikan pendapat