Sang Pencerah: Akhir sebuah Awal yang Kelewat Mudah 11
Minggu, 19 Sep '10 14:33
#memuat spoiler
I
Menyaksikan Langgar Kidul dirobohkan oleh sejumlah orang yang melakukannya sembari mengumandangkan takbir dalam film "Sang Pencerah", saya bukan hanya ingat nasib pengikut Ahmadiyah dan pendeta yang ditusuk dalam peristiwa Ciketing beberapa hari lalu tapi juga ingat kata-kata Hannah Arendt saat menelaah tokoh-tokoh besar di masa lampau dalam buku "Man in the Dark Times":
"Bahkan dalam kegelapan yang paling gulita pun kita memiliki hak untuk mengharapkan seberkas cahaya, dan seberkas cahaya semacam itu memang akan lebih banyak datang bukan terutama dari teori-teori dan konsep-konsep akan tetapi dari sinar yang tidak pasti, berkelap-kelip, dan sering kali lemah lembut yang kaum pria dan perempuan biaskan dalam hidupnya dan dalam karyanya..."
Ketika hendak menerbitkan serial tulisan tentang para tokoh bangsa yang di/terpinggirkan oleh rezim Orde Baru, sidang redaksi Jurnal Prisma -seperti dikisahkan oleh Daniel Dhakidae-mengaku bahwa karya Arendt itu menjadi salah satu inspirasi utamanya. Di tengah masa kini yang tak memuaskan dan menyedihkan, mereka berpaling ke masa silam, mencari teladan dari sosok-sosok historis yang pernah melintas di atas panggung sejarah dan berharap bisa menemukan -dalam kalimat Arendt-"seberkas cahaya". Berkas cahaya itu, betapa pun samar dan lemahnya, diharapkan bisa menjadi -meminjam nama sebuah mesjid di Cirebon yang memiliki karakter arsitektural yang unik- "teja suar", cahaya yang memendar, yang dari sana kegelapan masa kini sedikit banyak bisa diterangi.
Dengan itulah, bagi saya, menjadi jelas kenapa judul "Sang Pencerah" yang dipilih, bukan "Sang Pembaharu", misalnya.
"Sang Pembaharu", yang sebelumnya lazim dilekatkan pada sosok Kiai Dahlan, mengikat Kiai Dahlan pada kurun waktu tertentu, saat di mana ia melontarkan gagasan-gagasan pembaharuannya di awal abad-20. Gagasan seorang pembaharu bisa jadi akan usang di makan zaman, juga bisa disalip oleh gagasan-gagasan baru yang lebih progresif dan aktual. Sebaliknya, dengan judul "Sang Pencerah", Kiai Dahlan diletakkan sebagai suar-pendar kesadaran yang melintasi zaman, selalu memiliki konteks kekiniannya, bertaut dengan problem yang berlangsung di masa kini.
Inilah sebentuk strategi menyikapi hari ini dengan mengandalkan masa silam. Dan, seakan mengiyakan seruan Arendt, "Sang Pencerah" juga berupaya memancarkan berkas cahaya itu bukan dari konsep-konsep, tapi dari suatu hal konkrit yang pernah dibiaskan oleh sang tokoh, Kiai Dahlan.
Tapi berhasilkah Hanung Bramantyo meyakinkan penonton betapa Kiai Dahlan adalah sosok yang bias sinarnya bisa mencerahkan untuk hari ini?
II
Kiai Dahlan dan langgarnya ditarik dari masa silam yang jauh dan dihadirkan ke hadapan hari ini untuk menegaskan bahwa masa silam tak pernah benar-benar menjadi sejarah. Hari ini pun kita masih menghadapi problem yang sama persis: mudahnya orang dituduh kafir, mesjid (Ahmadiyah) yang dirusak, dan kekerasan lain yang menimpa pemeluk agama lain (beberapa hari lalu seorang pendeta di Ciketing jadi korban penusukan).
Hanung menyiapkan klimaks perobohan itu dengan bagus, sesuatu yang sudah dipersiapkannya sedari menit pertama film dimulai. Narasi dan gambar bergerak dari menit ke menit dengan ketegangan yang terus menanjak, tanpa diganggu oleh sub-plot yang mengalihkan perhatian, tetap fokus pada soal arah kiblat, berikut sejumlah perdebatan di antara para tokoh. Adegan di mana Kiai Dahlan memandang kompas di tangannya untuk mengukur akurasi arah kiblat sebuah mesjid di Bantul atau saat Kiai Dahlan menghamparkan peta di meja untuk menarik garik lurus dari Jawa ke Mekkah bisa terasa sebagai sebuah hitung mundur menuju suatu klimaks yang patut ditunggu.
Klimaks itu pun meledak dalam peristiwa dirobohkannya Langgar Kidul. Saya tidak merasakan klise saat orang-orang yang marah itu meneriakkan takbir sembari berjalan tergesa-gesa atau saat murid-murid Kiai Dahlan terlihat gelisah jelang perobohan atau saat api obor bergerak-gerak tertiup angin seperti hendak mewartakan sebuah kabar buruk.
Klimaks yang bagus itu bahkan diimbuhi sebuah scene yang menurut saya jadi scene terbaik film ini: Kiai Dahlan datang di tengah hujan dan mendapatkan langgarnya sudah runtuh menjadi puing-puing. Nyai Dahlan lantas menyambutnya tanpa kata-kata dengan sebuah payung dan berakhir dengan pemandangan yang simbolik: tangan kanan Kiai Dahlan menggenggam tasbih yang diam dan tangan kiri memegang obor yang sudah padam karena basah air hujan.
Tasbih yang diam itu jadi pernyataan simbolik betapa iman yang cerah (tentu saja itu milik Kiai Dahlan) sekali pun tak bisa paham bagaimana orang-orang yang bertakbir bisa menghancurkan sebuah tempat ibadah. Sementara obor yang padam karena basah air hujan hadir sebagai metafora betapa semangat yang menggelora pun bisa padam jika berhadapan dengan peristiwa bar-bar macam itu.
Scene itu membuat "Sang Pencerah" mendapatkan pemenuhannya sebagai sebuah biopic: Kiai Dahlan tampil sebagai manusia, bukan hero setengah dewa, yang punya rasa bimbang, mengenal rasa letih, tak kebal dari pudarnya semangat serta bisa disentuh oleh bayangan kegagalan yang mengerikan, tapi toh kelak terbukti bisa bangkit lagi dan lagi.
Tapi, tepat saat Hanung berhasil menggapai puncak itu, ia disodori sebuah problem yang tak akan mudah untuk diatasi: bagaimana ritme dan ketegangan harus dibangun dan dinaikkan kembali, bagaimana konflik-konflik selanjutnya dihadirkan serta bagaimana semua itu harus diakhiri.
Pertaruhan pun dimulai lagi dan film ini seperti memasuki sekuelnya yang kedua.
III
60 menit berikutnya dari "Sang Pencerah" adalah menit-menit tentang Kiai Dahlan yang makin sibuk dengan aktivisme: dari menghidupkan kembali pengajian di langgarnya, bertemu dan bergabung dengan tokoh-tokoh Boedi Oetomo, mendirikan madrasah di rumahnya, menyantuni orang-orang miskin di alun-alun, mengajar di Kweekschool (Sekolah Guru), berkhotbah tentang perkara yasinan, tahlilan dan selametan, sampai bersusah payah mendirikan Muhammadiyah.
Saya teringat dengan "Jejak Langkah", novel ketiga dari tetralogi Pulau Buru-nya Pramoedya, yang juga dipenuhi aktivisme dan kesibukan Minke membangun koran dan organisasi, sehingga "Jejak Langkah" lebih mirip sebuah kronik biografis ketimbang novelisasi atas kehidupan Minke. Seperti halnya "Jejak Langkah", usai perobohan Langgar Kidul "Sang Pencerah" tampil seperti sebuah kronik biografis, tak ubahnya sebuah dokumenter dengan dramatisasi.
Bandingkan dengan 60 menit pertama "Sang Pencerah" di mana Hanung dalam derajat tertentu berani "menyempitkan" riwayat Kiai Dahlan demi fokus pada perkara arah kiblat. Aktivitas dagang sebagai pengusaha batik, misalnya, hadir sambil lalu tak lebih dari semenit (cerita tentang anak pertama dan kedua Kiai Dahlan bahkan tak tampil sama sekali, juga soal praktik poligami Kiai Dahlan yang bisa jadi punya drama-nya tersendiri). Itu semua dibayar dengan lunas oleh alur dan fokus yang jelas menuju klimaks yang sempurna berupa perobohan langgar.
Saya tidak berpikir bahwa aktivitas sebagai pedagang batik bisa mengaburkan tujuan menghadirkan Kiai Dahlan sebagai "Sang Pencerah". Hanung, saya kira, dengan sadar melakukannya semata untuk menajamkan fokus. Itu semua dibayar dengan lunas oleh alur dan fokus yang jelas menuju klimaks yang sempurna berupa perobohan langgar. Dan itu berhasil.
Keberanian menyempitkan riwayat Kiai Dahlan itu kemudian hilang. Nyaris semua aktivitas Kiai Dahlan yang kelak menjadi pondasi aktivisme sosial Muhammadiyah "dipaksa" untuk tampil. Semua dapat tempat, semua dapat giliran; kendati kelancaran bercerita masih bisa diikuti dan tidak terlampau tersendat-sendat.
Hanung seperti berambisi menggambarkan potret Kiai Dahlan dengan selengkap-lengkapnya, bukan hanya sebagai ulama dan cendekiawan muslim, tapi juga seorang guru, pegiat sosial, sampai aktivis pergerakan. Deretan aktivisme itu, menurut saya, justru menjadikan Kiai Dahlan tak ubahnya seorang aktivitas pergerakan kebanyakan (jika di akhir Kiai Dahlan digambarkan kesulitan mendapat ijin pendirian Muhammadiyah, sampai derajat tertentu itu juga dialami oleh nyaris semua aktivis pergerakan yang ingin bikin organisasi baru). Bedanya: dia juga seorang ulama. Itu saja.
Alih-alih bisa menghadirkan potret yang utuh, Kiai Dahlan akhirnya tampil tak ubahnya sebuah kolase yang disusun secara tergesa, dan -akhirnya-kadang tanpa kedalaman.
Simaklah bagaimana Kiai Dahlan bicara tentang tahlilan, yasinan, selametan dan sesaji tanpa sekali pun kita melihat ada scene tahlilan, yasinan, selametan dan sesaji itu sendiri. Tema tentang bid'ah itu, yang kelak justru menjadi "sengketa" yang laten dan berusia lebih panjang ketimbang perkara arah kiblat, hadir tak ubahnya senarai kutipan, sejenis monolog, bukan sebuah peristiwa yang punya darah dan daging. Aktivitas memberi makanan pada gelandangan di alun-alun pun lebih mirip sebuah demonstrasi sikap filantofis Kiai Dahlan.
Hanung mencoba menaikkan tensi ketegangan dengan memunculkan scene yang menggambarkan bagaimana Kiai Dahlan dan murid-muridnya berkali-kali dituduh sebagai kafir. Tuduhan kafir yang terus menerus dimunculkan agak menaikkan tensi, tapi sama sekali tak memiliki daya kejut karena tuduhan itu bukan lagi hal baru, melainkan sudah muncul dengan cara yang jauh lebih sublim dalam debat tentang arah kiblat atau klimaks perobohan Langgar Kidul.
Kedatangan kiai dari Magelang yang menggugat digunakannya alat-alat buatan orang kafir (bangku, papan tulis, dan biola) juga hanya mengulangi ucapan kiai dari Pakualaman tentang peta dalam sesi debat perihal arah kiblat. Scene di mana Kiai Dahlan dikelilingi anak-anak muda yang menabuh rebana sambil mengejeknya sebagai Kiai Kafir lebih mendatangkan rasa iba dan simpati ketimbang suasana tegang.
Bagaimana bisa kita merasakan sebuah konflik yang bisa memancing ketegangan jika Kiai Dahlan sendiri bisa dengan santai melewati semuanya (seperti saat menghadapi Kiai dari Magelang dan nyanyian rebana yang penuh ejekan itu)?
Ketika murid-murid Kiai Dahlan berjejer di depan langgar untuk menyatakan kesetiaanya secara eksplisit, yang muncul justru sebuah ironi: penegasan eksplisit itu malah menjadi penegasan implisit betapa Hanung tidak cukup percaya kalau scene demi scene yang berisi interaksi Kiai Dahlan dan murid-muridnya di sepanjang film sudah cukup untuk menggambarkan kedalaman ikatan murid dan guru itu.
Di sinilah Hanung berhadapan dengan problem terakhirnya: bagaimana jejeran peristiwa dan indeks kegiatan yang sebenarnya saling bertaut tapi gagal ditautkan dengan sublim itu mesti diakhiri?
IV
Hanung memilih ikhtiar Kiai Dahlan mendirikan Muhammadiyah sebagai penutup "Sang Pencerah".
Dua tahun menjelang kematiannya, Haji Moehammad Soedjak (murid Kiai Dahlan, dalam "Sang Pencerah" diperankan oleh Giring) menulis catatan mengenai Kiai Dahlan. Catatan itu terbit menjadi buku berjudul "Cerita tentang Kyai Ahmad Dahlan: Catatan Haji Moehammad Soedja". Dari catatan itulah Hanung menemukan solusi untuk mengakhiri Sang Pencerah: ketika Hoofd de Penghulu salah baca/tafsir tentang istilah president dan resident yang dibacanya dalam surat permohonan pendirian Muhammadiyah yang diajukan Kiai Dahlan.
[Hanung menyebut catatan Kyai Soedjak untuk soal salah baca/tafsir president dan resident. Tapi, cukup jelas, Hanung tidak merujuk buku ini saat berbicara hal lain. Misalnya: soal kapan Kiai Dahlan naik haji yang pertama dan kapan Kiai Dahlan menikah dengan Siti Walidah. Dalam Sang Pencerah, Kiai Dahlan berangkat haji di usia 15 tahun, sementara catatan Kyai Soedjak menyebutnya 18. Hanung "memilih" menikahkan Kiai Dahlan setelah kepulangannya dari Mekkah, sementara catatan Kyai Soedjak menyebut Kiai Dahlan menikahi Siti Walidah sebelum dia pergi ke Mekkah. Hanung juga jelas tidak mengacu buku ini untuk keterangan berapa lama Kiai Dahlan berada di Mekkah pada kunjungannya yang pertama].
Sesungguhnya saya tidak habis mengerti bagaimana pejabat tinggi seperti Hoofd de Penghulu (mestinya lebih tahu dari orang kebanyakan perihal tata birokrasi pemerintahan) bisa menuduh Kiai Dahlan -seorang pribumi totok tanpa secuil pun darah Londo-ingin menjadi seorang residen, jabatan yang dalam tata hirarki kolonial setara dengan Sultan (posisi duduk pun keduanya sama tinggi), yang tak mungkin -tak akan pernah mungkin-bisa dijabat seorang pribumi. Mungkin Hoofd de Penghulu memang sudah gelap mata dan apa pun bisa terjadi dalam situasi macam itu, apalagi hanya soal salah baca/tafsir. Manusia, kata sebuah klise, toh memang tempatnya khilaf.
Fragmen salah baca/tafsir ini memang luar biasa dan secara sempurna mengingatkan saya pada pesan utama novel "The Name of the Rose"-nya Umberto Eco ihwal perlunya sikap yang terbuka pada humor, bahkan dalam soal iman sekali pun. Humor akan mengendurkan syaraf, sementara sikap tegang dan penuh syak akan mudah mendatangkan perasaan senewen dan gampang kalap untuk kemudian mudah pula tergelincir pada khilaf.
Hanung memanfaatkan cerita soal salah baca/tafsir itu semaksimal mungkin. Cerita itu bukan hanya memberi peluang kepada Hoofd de Penghulu untuk "diputihkan" tapi juga digunakan Hanung untuk menyusun sebuah titik balik yang akan berakhir dengan happy.
Begitu Hoofd de Penghulu sadar bahwa ia salah menafsirkan istilah president dan resident, ia mengucapkan istighfar. Selanjutnya, dia berdialog secara intim dengan Kiai Dahlan dan diakhiri dengan saling bersamalam, berikut tercapainya kesepakatan eksplisit bahwa "keduanya akan menjaga kewibawaan Islam dengan cara masing-masing". Seperti belum cukup, Hanung masih merasa perlu menggelar sebuah pawai kemenangan Kiai Dahlan dan murid-muridnya untuk menutup "Sang Pencerah" - seakan-akan judul "Sang Pencerah" menjadi beban yang harus dituntaskan dengan keberhasilan yang terang bendera, telanjang dan mesti eksplisit.
Cerita soal salah baca/tafsir itu memang terlalu menarik dan ajaib untuk tidak diangkut ke dalam film, tapi menjadi problematis ketika cerita itu dieksploitasi - ya, saya pakai istilah "dieskploitasi"-untuk menghadirkan akhir yang happy berikut pawai kemenangan yang bersemangat di ujungnya.
Ini rentan menjadi simplifikasi karena semua pertentangan ideologis yang dipampangkan dengan begitu sengit di sepanjang film (dari soal arah kiblat, perkara yasinan/tahlilan/sesajen sampai soal digunakannya metode pengajaran modern ala Barat) seakan-akan telah diselesaikan semuanya dalam sekali pukul dan dengan cara yang kelewat mudah, melalui hal yang bisa dikatakan sepele: karena salah baca/tafsir dari Hoodf de Penghulu [dalam istilah seorang teman di milis yang saya ikuti, ini semua berlangsung dan akhirnya selesai gara-gara keteflonan Hoofd de Penghulu].
Akan lain jadinya jika film diakhiri dengan sebuah scene yang menggambarkan pada penonton bahwa satu soal (perkara izin pendirian muhammadiyah) sudah beres, tapi masih banyak soal lain yang masih jauh dari kelar. Kerja belum selesai, belum apa-apa dan kemenangan masih jauh, apalagi untuk dirayakan dengan pawai.
Beresnya urusan izin pendirian Muhammadiyah barulah satu tahap dari perjuangan Kiai Dahlan. Faktanya, setelah itu, Kiai Dahlan memang harus berurusan dengan njlimetnya birokrasi kolonial yang hanya mau Muhammadiyah ada di Jogja, tidak di tempat lain. Lagi pula, urusan kiblat yang melenceng tak selesai dengan kelarnya perijinan Muhammadiyah. Kiblat Mesjid Besar baru disesuaikan dengan perhitungan Kiai Dahlan setelah Hoofd de Penghulu Kholil Kamaluddin Ningrat wafat.
Pendeknya: ini hanya akhir dari sebuah awal.
V
Film ini dibuka oleh sebuah pernyataan (bisa dibaca sebagai premis): Syekh Siti Jenar dianggap sebagai biang kerok dari konsep kekuasaan Jawa yang menyatukan kekuasaan illahiah dan kekuasaan duniawi dalam satu tahta berikut perilaku umat yang penuh takhayul dan khurafat.
Pernyataan itu jelas salah alamat. Sejak kapan ajaran Siti Jenar menginspirasi konsep kekuasaan Jawa yang menempatkan Raja (Sultan/Sunan) sebagai wakil Tuhan dan pemangku urusan dunia sekaligus? Kapan Siti Jenar menganjurkan sesajen dan takhayul?
Ada atau tidak ada Jenar, konsep kekuasaan Jawa memang menumpukan keduanya dalam sosok raja. Dalam tradisi politik pra-Islam, raja-raja sudah dianggap titisan para Dewa. Konsep kekuasaan Jawa di era Islam melanjutkan tradisi itu dalam bentuk baru dengan isi Islam yang kental. Menggelikan juga menisbatkan Jenar sebagai buhul dari tradisi sesajen penuh takhayul. Ada atau tidak ada Jenar, sesaji dan persembahan adalah sesuatu yang inheren dalam pemahaman kosmologis orang Jawa.
Jenar adalah eksemplar paling utama dari pribadi di Jawa yang keukeuh meyakini bahwa seseorang bisa bertemu dan bersatu dengan Tuhan tanpa institusi apa pun sebagai perantara dan makelar. Ajaran seperti ini, seringkali, justru menepikan eksistensi institusi ulama dan juga rezim politik. Ia malah menawarkan perlawanan esoteris pada bersatunya kekuasaan dunia dan ilahiah dalam satu kursi (raja). Itu sebabnya Jenar jadi korban dari konsep kekuasaan yang tidak menolerir pandangan macam itu. Jenar justru korban paling monumental dari degilnya kekuasaan duniawi yang mendapat legitimasi Ilahiah.
Orang bisa saja mengabaikan narasi dalam bagian opening itu karena menganggap cerita tetap bisa diikuti sampai akhir. Toh kita tak akan kehilangan cerita, bukan, umpama narasi itu tidak kita tonton?
Sayangnya pernyataan itu sudah kita (saya) tonton dan tak mungkin dilupakan begitu saja justru karena kekuatan ironiknya. Ya, ironik (atau bisa saja kita menganggapnya komikal): sebuah film yang diberi judul "Sang Pencerah" justru dimulai dengan sebuah premis yang tidak mencerahkan, pernyataan yang melanggengkan stereotip.
Narasi di pembukaan yang stereotipikal itu (bukankah pandangan usang menganggap Jenar itu kafir dan musyrik?) sah-sah saja jika digunakan untuk membaca keseluruhan film ini. Ketika mengkaji film-film Eisenstein, misalnya, Roland Barthes memperkenalkan konsep "obtuse meaning" (makna ketiga) yang bisa dioperasikan dengan hanya memenggal hanya satu gambar dari jutaan rangkaian gambar dalam sebuah film, di mana satu gambar itu dikaji secara mendalam untuk menemukan sistem pertandaan dan tatanan diskursif dari keseluruhan film.
Butuh ruang tersendiri untuk melakukan kajian macam itu. Dalam bagian penutup ini, saya hanya akan mencoba menjawab pertanyaan: berhasilkah Hanung meyakinkan penonton bahwa sosok Kiai Dahlan dalam film ini (perhatikan: Kiai Dahlan dalam film, bukan Kiai Dahlan yang historis) memang layak diberi predikat "Sang Pencerah"?
Pada bagian sebelumnya saya sudah memaparkan bahwa Hanung sangat berhasil menampilkan Kiai Dahlan dalam isu arah kiblat yang berujung pada perobohan Langgar Kidul. Dalam isu itu, Kiai Dahlan dengan amat baik tampil sebagai karakter yang hidup, seorang mujtahid yang berani mengambil resiko, dan akhirnya benar-benar berhasil memperbaharui arah kiblat di Mesjid Besar. Ia pembaharu sekaligus pencerah.
Saat narasi film menggambarkan kegagalan Kiai Dahlan meyakinkan Hoofd de Penghulu yang akhirnya berujung pada kekalahan yang mengerikan berupa dirobohkannya Langgar Kidul, di situlah justru terletak kemenangan seorang Kiai Dahlan karena kelak terbukti ijtihadnya tentang arah kiblat adalah benar. Hanung berhasil mengangkat atau bermain dengan ironi secara gemilang. Dia tidak mengisahkan bagaimana arah kiblat Mesjid Besar berubah, tapi ia hanya mengungkap kekalahan Dahlan. Dalam kekalahannya, Hanung menyimpan rapi sebuah cerita masa depan yang berisi kemenangan. Saya mendapatkan sebuah humor yang cerah di sini.
Hanya saja, seperti yang juga sudah saya paparkan di bagian sebelumnya, Hanung tidak pernah mencapai level kegemilangan yang sama ketika hendak menjelaskan Kiai Dahlan sebagai sang pencerah dalam isu-isu yang lain, terutama yang paling menonjol dalam perkara laten mengenai bid'ah selametan, yasinan atau tahlilan.
Saya perlu mengingatkan sekali lagi, saya berbicara tentang Kiai Dahlan dalam film, bukan Kiai Dahlan sebagai sosok yang historis. Nah, teks yang disusun Hanung dalam "Sang Pencerah" hanya berhasil menghadirkan Kiai Dahlan sebagai "Sang Pengkhotbah".
Seperti yang sudah saya katakan: simaklah bagaimana Kiai Dahlan bicara tentang tahlilan, yasinan, selametan dan sesaji tanpa sekali pun kita melihat ada scene tahlilan, yasinan, selametan dan sesaji itu sendiri. Tema tentang bid'ah itu, yang kelak justru menjadi "sengketa" yang laten dan berusia lebih panjang ketimbang perkara arah kiblat, hadir tak ubahnya senarai kutipan, sejenis monolog, bukan sebuah peristiwa yang punya darah dan daging.
Kritik Candra Malik tentang kedangkalan dan simplifikasi dalam soal ini segendang-sepenarian dengan apa yang saya maksudkan. Kiai Dahlan hanya tampil di permukaan saja, tidak merasuk-mendalam sebagaimana Hanung bikin untuk isu perobohan Langgar Kidul.
Pukulan jadi berbalik: narasi pembukaan yang tanpa tedeng aling-aling -juga tanpa kedalaman-menuduh Jenar kini mengarah pada sosok Kiai Dahlan yang disusun Hanung. Narasi pembukaan itu, akhirnya, seperti sebuah peringatan dini betapa film ini memang akan terantuk dengan sejenis kedangkalan yang lain (di luar capaian gemilang Hanung dalam soal arah kiblat seperti yang sudah saya pampangkan).
VI
Sebagai film biopic, "Sang Pencerah" terasa lebih rendah hati ketimbang -misalnya-Gie yang berambisi tampil mewah, baik dalam set dan dekorasi maupun dalam pengembangan karakter tokoh utama. Sikap rendah hati itu tercermin dari pilihan Hanung yang memaksimalkan pengambilan gambar medium atau zoom (jarang sekali shoot-shoot massive atau wide-shoot) dan mengakali kesulitan menghadirkan setting akhir abad-19 dan awal abad-20 dengan banyak mengambil gambar pada malam hari dan in-door. Pilihan itu tidak hanya menghindarkan Hanung dari bocor-bocor yang tidak penting (juga menghemat biaya), tapi juga dimanfaatkan secara maksimal untuk menghadirkan gambar-gambar dengan aura "ketuaan" yang kuat dan kadangkala puitis.
"Sang Pencerah" juga lebih baik dalam soal penggarapan karakter tokoh, terutama Kiai Dahlan. Tanpa menghadirkan karakter fiktif yang diberi tempat vital (seperti halnya Gie yang menghadirkan Tan Tjin Han dalam peran yang terbilang vital), Hanung tetap fokus pada karakter Kiai Dahlan. Tokoh-tokoh di sekitarnya (dari Hoofd de Penghulu, kakak ipar sampai murid-muridnya) dihadirkan dengan porsi yang tepat. Lukman Sardi dan Slamet Djarot pun tampil lebih dari cukup sebagai dua karakter yang harus saling berhadapan di sepanjang film. Scene di mana keduanya berbincang dalam hening di dalam mesjid jelang akhir terasa kuat.
Klise mungkin terlihat dalam sosok Idrus Madani yang semua gerak-geriknya tak bisa tidak mengingatkan kita secara persis pada karakter Pak RW dalam sinetron Para Pencuri Tuhan. Zaskia Adya Mecca? Dia sempurna justru saat diam tanpa kata, seperti saat berdiri di bawah tingkap jendela dengan mata berkaca ketika Langgar Kidul dirobohkan (untuk scene satu itu, saya jadi ingat dengan Christine Hakim). Tipikal sebagai perempuan dengan muka melankolik menemukan pemenuhannya di scene itu, tapi tidak saat harus berbicara (seperti adiknya yang tampil sebagai Walidah remaja, Zaskia bersuara nyaris tanpa sedikit pun medok Jawa).
Dengan segala kekuatan dan kekurangannya, "Sang Pencerah" saya kira telah melengkapi keping yang ditinggalkan oleh film "3 Doa 3 Cinta".
Jika "3 Doa 3 Cinta" berkisah tentang kehidupan akar rumput warga (muslim) yang harus menyelesaikan problem kesehariannya sendiri dengan tetap berusaha bertaut pada nilai-nilai ke-Islam-annya, "Sang Pencerah" berkisah tentang bagaimana seorang pemimpin umat (Islam) bergulat dengan persoalan dirinya sekaligus umatnya di tengah masyarakat yang masih belum sepenuhnya siap dengan hal-hal baru. Yang pertama jadi wakil kehidupan akar rumput, yang kedua menjadi wakil dari kehidupan di level kepemimpinan umat. Keduanya bertaut secara intim dalam satu titik: semua kisahnya berpijak di bumi, dan semuanya juga berbicara tentang bagaimana iman dihadapkan pada persoalan dan tantangan yang konkrit (kemiskinan, fanatisme, dan dunia yang tak henti-hentinya bergerak dan berubah).
Sebuah film yang baik, saya kira, memang harus berpijak di buminya sendiri. Hanya dengan itulah sebuah film punya tawaran yang lebih berharga dari sekadar sebuah panggung hiburan semata.
Malioboro, 14 September 2010
-------------------------------------------------
* Beberapa Catatan Kecil (yang bisa dianggap tidak penting-penting amat)
Pertama, kehadiran Dr. Wahidin Soedirohoesodo (diperankan oleh Pangki Soewito) mengejutkan saya karena ia tampil dengan kata-kata yang agresif: "Kalau kita bersatu, Belanda pasti tenggelam." Pilihan kata itu, saya kira, berlawanan dengan citra Wahidin sebagai sosok moderat (bahkan cenderung konservatif) dalam tubuh Boedi Oetomo. Bersama Dr. Radjiman, Wahidin jadi sasaran tembak anak-anak muda Boedi Oetomo, termasuk Dr. Tjipto, yang sebal dengan konservatisme angkatan tua. Kelak, anak-anak muda yang progeresif itu terpinggirkan dan nilai-nilai kemajuan yang lebih radikal hanya bertahan di Boedi Oetomo cabang Batavia, sementara Hoofd-Bestuur Boedi Oetomo yang jatuh ke tangan kepemimpinan Bupati Karanganyar justru disenangi oleh pemerintah kolonial karena sikap dan pendiriannya yang sangat moderat dan jauh dari kata-kata dan kegiatan yang berlawanan dengan kebijakan pemerintah kolonial, apalagi memimpikan "Belanda akan tenggelam" seperti dikatakan Pangki Soewito.
Kedua, selisih usia antara Kiai Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan juga ganjil. Di awal-awal film, dalam sebuah adegan yang menggambarkan peristiwa padusan jelang Ramadhan, Siti Walidah (kelak Nyai Ahmad Dahlan) disebutkan berusia 14 tahun. Sehari kemudian, saat Darwis (kelak Kiai Ahmad Dahlan) datang ke rumah orang tua Siti Walidah di hari pertama Ramadhan atau sehari setelah peristiwa padusan, ia mengaku berusia 15 tahun. Jadi, selisihnya cuma setahun. Faktanya, Kiai Dahlan lahir pada 1868 dan Siti Walidah lahir pada 1872.
Ketiga, Tugu Jogjakarta yang muncul sekitar lima kali sepanjang film (termasuk di awal film jelang kelahiran Darwis, sekitar 1868) muncul dalam bentuk yang baru, yaitu dengan pucuk yang runcing. Padahal, tugu dengan pucuk yang runcing itu baru muncul pada 1889. Mestinya, bukan tugu dengan model itu yang muncul di separuh pertama film "Sang Pencerah". Untuk melihat perbedaannya, sila tengok gambarnya DI SINI.
Ketiga, mohon saya dikoreksi jika keliru, terutama tentang detail film ini. Manusia memang tempatnya khilaf. Semua kekhilafan adalah tanggung jawab saya, bukan Siti Jenar
Tag: Hanung Bramantyo, sang pencerah, kiai ahmad dahlan
Terkait:
-
Sang Pencerah Yang Tidak Cerah
Sabtu, 11 Sep '10 09:11 -
PENGEJAR ANGIN : PRETENTIOUSLY OVERLOADED, SAVED BY THE CASTS
Sabtu, 12 Nov '11 17:09 -
[Coming Soon] Pengejar Angin
Kamis, 6 Okt '11 18:15
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Box Office
-
AndriaGutama: Box Office
-
sabai: Informatif
-
arddhe: Good Take
-
Jarwadi Mj: Informatif
-
jujuk widyasaputra: Box Office
-
kakilangit: Informatif
-
Rijon: Informatif
-
JuliaJessicaJennifer: Box Office

Komentar:
ntar di rumah sambung baca deh..
betul, bs sekalian belajar sejarah. lewat film, sejarah bs lbh segar, tidak membosankan seperti pelajaran sekolah dulu
gw jd tambah penasaran ma nie film.. KUDU WAJIB nonton...
meski kata tulisan diatas td agak Garing untuk 60 menit berikut'na...
Tp kalo belum nonton gw belum berani Nyimpulin
oya, thx bt yg udah ngasih gw ttng film nie..
Thx bt penulis'na. ^_^
hmm... jadi tertantang, bisa nggak ya saya menulis dengan isi yang selengkap ini? *cross my finger*
Coba dulu saja. Pasti bisa, kok. Ayo ditunggu postingannya.
Silahkan login untuk memberikan pendapat