Sang Pencerah Yang Tidak Cerah 3

Sabtu, 11 Sep '10 09:11

Di antara pekatnya malam, belasan laki-laki berbondong-bondong menuju Langgar Kidul Kauman. Sambil memekikkan asma Allah, gerombolan itu mengangkat obor tinggi-tinggi, dan sesampainya di musholla milik Ahmad Dahlan, mereka meringsekkan tempat ibadah itu hingga rata dengan tanah. Mereka memang dibakar kebencian. Gagasan pembaruan Islam oleh Ahmad Dahlan telah membuat gusar para penghulu Masjid Gede Jogja. Dan kegusaran itu kemudian berkembang menjadi benci yang ditularkan.

Itulah sepotong adegan di awal Sang Pencerah karya Hanung Bramantyo. Nampaknya Hanung dan keluarga Punjabi memang bermaksud membawa isu kerukunan beragama seabad lalu ke dalam konteks jaman sekarang. Dalam film ini, kasus Ahmadiyah, JIL, FPI; nampak seperti perulangan sejarah dengan pemain yang berbeda. Niat baik Hanung memberikan sentilan sosial dalam suasana kekakuan beragama abad 21, tentu harus diberi acungan jempol.

Tapi sayangnya, Hanung cuma berhasil menyentil aspek itu aja. Ahmad Dahlan yang diklaim sebagai "Sang Pencerah" tidak nampak cerah di film ini. Tanpa mengemas latar belakang masyarakat zaman itu yang sangat kejawen, pemikiran Ahmad Dahlan yang mutakhir di eranya, terlihat biasa bagi permirsa zaman sekarang. Ketika konteks budaya kejawen disajikan alakadaranya, penonton yang minim pemahaman sejarah Muhammadiyah, akan melihat Ahmad Dahlan seperti ulama biasa. Akhirnya kemutakhiran itu cuma dikatakan, tapi tidak dirasakan.

Di film ini, Lukman Sardi membawakan Ahmad Dahlan yang hati-hati, dan sesekali rapuh. Dakwahnya biasa, tidak menggugah. Tutur katanya lempeng. Ini tentu menimbulkan pertanyaan, apakah pendiri Muhammadiyah itu memang sosok yang lemah, ataukah ini cuma imbas dari kehati-hatian yang berlebihan ketika mereka-cipta tokoh legendaris. Jika Ahmad Dahlan memang lemah, leadership bagaimanakah yang ia gunakan ketika merintis organisasi islam yang besar?

Sang Pencerah tidak menjawab pertanyaan itu.

Pada akhirnya, ia memang sekadar film-film pendek bagus yang disambung-sambung, tetapi tanpa kesan tunggal yang kuat. Ia memang masih jauh dari film yang akan membanggakan Indonesia, tetapi sebuah langkah besar untuk ke sana.

Baca juga:


Tag: review, Hanung Bramantyo, muhammadiyah, ahmad dahlan, sang pencerah, lukman sardi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

itsmaudy 0 0
nah looo ada yang bilang 'mencerahkan' ada yang bilang tidak. makin ga mau buat nonton. nunggu dirental sajalah..
srimatrix be 0 0
seperti iya, tp blm ditonton c..

haha
kartowidjojo 0 0
Siapa yang bisa tampil cerah apabila dimusuhi orang banyak (dan ulama-ulama tinggi saat itu), apalagi dia hanya manusia biasa? : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat