[Review] Dawai 2 Asmara - Kembalinya Sang Ksatria Bergitar 2

Kamis, 9 Sep '10 00:15

Revolusi musik dari orkes melayu ke dangdut dulu pernah dilakukan Rhoma Irama, dan berhasil. Dan bahkan, sejak saat itu dangdut dianggap sebagai musik asli Indonesia, di mana mana pasti ada dangdut. Bahkan, Project Pop pun membuat lagu yang mendukung hal tersebut, berjudul 'Dangdut is the Music of My Country'.

Sekarang, era telah berubah. Musik Melayu kembali mewabah di negeri kita tercinta ini. Hadir dengan spirit untuk mengembalikan era kejayaan dangdut, Rhoma Irama pun memanggil anaknya dari Australia, Ridho, untuk pulang kembali ke Indonesia, dan membentuk grup band baru yang diberi nama Sonet2.

Di musim lebaran yang seakan-akan menjadi "Summer Movies" nya Indonesia ini, semangat Bang Rhoma ditantang para pesaingnya dari berbagai genre, film perang berbau nasionalisme, film biopik seorang tokoh besar, dan bahkan ia ditantang oleh seorang penyanyi dangdut lainnya yang mengusung tema komedi. Tapi, hati gue jatuh pada trailer yang memperlihatkan tarian ala Bollywood di bandara yang sangat menggoda iman itu.

Pak Haji yang tetap masih terlihat bugar setelah sekian lama meninggalkan dunia akting, berakting well yahh.. cukup oke - terutama untuk ukuran orang yang terakhir berakting adalah kira-kira 20 tahun lalu. Walau tampak tak bisa mengikuti perkembangan zaman ini -- terbukti dari gaya berpakaiannya yang 'Bang Rhoma' banget, plus kuda-kudaan dan segala macam pernak pernik penanda masa-masa gemilang nya dulu. Terlepas dari akting yang sangat standar itu, Bang Rhoma tetap memilik i suara maut yang tak akan pernah bisa dikalahkan pedangdut manapun, termasuk anaknya sendiri, Ridho.

Di s isi lain, Ridho, yang benar-benar bisa dikatakan newbie di dunia entertainment (apalagi akting), sayangnya berakting di bawah standar. Bukan ekspresinya saja yang datar, tapi juga artikulasi nya sangat buruk. Jujur, gue lumayan kesulitan mendengarkan dialog demi dialog yang ia ucapkan. Tapi selain itu, suara dan joged nya cukup baik, dan cukup kekinian.

Cathy Sharon dan gadis bule satunya.. Sama seperti Ridho dan Bang Haji.. Berakting cukup standar dan hanya sekedar Acceptable. Sementara Delon di film keduanya ini berakting cukup... Menyebalkan. Tapi itu memang perannya.. Hahahaha.. Dia menjadi sosok yang sangat menyebalkan, hingga ingin rasanya gw tonjok saking arogannya.

Tapi penampilan mengejutkan datang dari Pepeng Naif si supir taksi, yang notabene baru pertama kali terjun ke dunia akting. Buat gue, he's the star of the show. Ia sangat menjiwai perannya, dan memberikan penampilan yang sangat impresif, terutama di sebuah scene di atas bebatuan yang sangat Bollywood sekali itu.

Dari segi teknis, gue cukup terganggu dengan angle-angle kamera yang diambil Gunung Nusa Pelita, sang sinematografer yang juga pernah mengambil gambar untuk Bukan Cinta Biasa, Musik Hati, Emak Ingin Naik Haji, serta pernah menjadi sutradara untuk film 'fenomenal' Hantu Binal Jembatan Semanggi. Entah mengapa, gambar-gambarnya membuat mata gue cukup pusing di bagian awal, dan kurang 'wah' untuk sebuah film drama musikal bergaya Bollywood ini.

Perasaan sewaktu menonton film ini hampir mirip dengan perasaan gue waktu nonton The Expendables. Senang waktu adegan-adegan berantem (kalo di sini, adegan nyanyi-nyanyi dan nari-nari), dan kebosanan sewaktu adegan berisikan dialog-dialog yang seolah hanya selipan saja.

Untuk yang kangen Bang Rhoma, suaranya, kebolehannya dalam ilmu beladiri, serta ingin melihat tari-tarian dan nyanyi-nyanyian ala India (jangan beranjak dari tempat duduk anda sampai ada adegan menari rame-rame di bandara!), boleh lah mengisi liburan Lebaran nya dengan film yang ringan dan cukup bisa membuat tersenyum ini. :)

 


Tag: Film Indonesia, review, Ridho Rhoma, Rhoma Irama, Cathy Sharon, Delon, Pepeng Naif, Gunung Nusa Pelita

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kniwe 0 0
KAlau dulu film Rhoma Irama selalu sukses di Box Office, kali ini kira-kira bakal seperti dulu nggak ya?
apatisvian 0 0
wahhh.. sis kania makin mantab aja nih reviewnya :thumbs up

dan salut buat kepercayaannya masih mau menonton film2 indonesia....
ditengah invasi film2 indo kacangan yang dibikin asaljadi...

dan ini...
"... Gunung Nusa Pelita, sang sinematografer yang juga pernah mengambil gambar untuk Bukan Cinta Biasa, Musik Hati, Emak Ingin Naik Haji, serta pernah menjadi sutradara untuk film 'fenomenal' HANTU BINAL JEMBATAN SEMANGGI. ... "

SERIUS NIH???
parah.. gw kira nama sutradara di Habijeseng itu cuma alter-ego nya KK Dheraj... kayak nayato dan koya pagayo nya..
ternyata beneran ada???? :no hope

Silahkan login untuk memberikan pendapat