Sang Pencerah yang Mencerahkan! 17

Minggu, 5 Sep '10 12:18

Waktu SD, saya tahu bahwa Muhammadiyah didirikan tahun 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan, yang kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya dalam mempelopori kebangkitan umat Islam serta mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan. That's all.

Tapi, saya dan banyak orang mungkin tidak tahu bagaimana kisah dibalik kepeloporan K.H. Ahmad Dahlan itu. Mungkin karena tertutup kisah-kisah pahlawan nasional lain yang terlihat lebih heroik.

Saat menonton premier film "Sang Pencerah" inilah tabir kehidupan sosok K.H. Ahmad Dahlan mulai terungkap. Lewat riset yang mendalam, Hanung Bramantyo berhasil menuturkan dengan sangat baik detil kisah dibalik kehidupan sosok K.H. Ahmad Dahlan sejak beliau lahir pada tahun 1868 hingga masa pendirian Muhammadiyah pada tahun 1912.

K.H. Ahmad Dahlan naik haji di usia 15 tahun dan tinggal di Mekkah selama 5 tahun. Pada periode inilah beliau mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah tentang pembaharuan Islam.

Saat kembali ke tanah air, kisah hidupnya mulai seru. Beberapa praktek keliru dalam beribadah yang berkembang di masyarakat mulai coba dibetulkannya. Beliau mengamalkan dan mengajarkan cara berpikir dan beramal menurut tuntutan Islam yang berbeda dengan praktek yang berkembang saat itu. Hal ini tentu saja mendapat reaksi keras dan perlakuan kasar dari pihak-pihak yang tidak suka dengan perubahan. Apalagi saat beliau yang masih berusia 21 tahun itu ingin mendirikan perkumpulan Muhammadiyah.

Sounds familier, right? Yup, karena kejadian-kejadian dalam film itu sangat kontekstual sekali. Perusakan rumah ibadah dan kekerasan dengan membawa-bawa agama yang ditampilkan dalam film itu seolah ingin menunjukkan bahwa peristiwa saat ini sebenarnya telah memiliki akar di masa lalu. 

Bagusnya film ini, sisi-sisi manusiawi dari tokoh sekaliber K.H. Ahmad Dahlan juga ditampilkan. Meski umumnya beliau terlihat tenang dan sabar, namun ada juga saat-saat beliau kecewa, marah, sedih dan ingin menyerah ketika mendapat tentangan dan perlakuan kasar dari berbagai pihak. Hal ini melahirkan dialog yang inspiratif antara K.H. Ahmad Dahlan dan istrinya, Siti Walidah, yang mencoba mengobati kegundahan hati suaminya.

Saya juga suka dengan jawaban-jawaban santun nan cerdas yang dilontarkan K.H. Ahmad Dahlan pada beberapa dialog di film ini, misalnya saat beliau ditanya tentang arti agama oleh muridnya, saat beliau menanggapi pernyataan pemuka agama yang mengganggap dirinya menggampangkan agama, dan saat beliau menanggapi kecaman seorang pemuka agama karena menggunakan cara dan peralatan buatan orang kafir (baca: non-muslim) saat mendirikan sekolah madrasah.

Saya tidak begitu mengerti soal teknis perfilman, tapi menyaksikan film dengan setting sudut-sudut kota Jogja pada sekitar 100 tahun lalu yang apik, dipadu dengan aransemen musik garapan Tya Subiakto yang menggetarkan jiwa, serta adu akting antara artis-artis senior dan junior, seperti Lukman Sardi (K.H. Ahmad Dahlan), Zaskia Adya Mecca (Istri K.H. Ahmad Dahlan), Giring Nidji, Ihsan Idol, Slamet Rahardjo, Ikrarnegara, Dennis Adiswara, Mario Irwinsyah dan Abdurrahman Arif, merupakan pengalaman menonton yang menyenangkan dan mencerahkan.

Hanung Bramantyo yang awalnya kesulitan untuk mendapatkan mitra dalam menggarap film berdurasi 112 menit ini patut berbangga. Setidaknya komentar di Twitter dari beberapa orang yang telah menonton film itu hampir seluruhnya bernada sangat positif. Mudah-mudahan hal ini mendorong diwujudkannya rencana produksi dan rilis bagian kedua dari film ini yang berkisah peristiwa sejak K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah hingga wafatnya beliau.


Tag: islam, muhammadiyah, muslim, pembaharuan, ahmad dahlan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

itsmaudy 0 0
btw, kenapa ya film film indonesia zaman sekarang posternya pasti semua pemain nampang semua? tapi ini masih bagus sih, kalo dibandingin poster pelem horor horor indonesia yang semua pemainnya dijejerin satu satu rada freak. is it really good? jujur ekspektasi gue terhadap karya hanung biasa aja. dia cuma berhasil di Catatan Akhir Sekolah dan Perempuan Berkalung Sorban menurut gue. AAC failed. Dan ohh..lukman sardi selalu berusaha bermain film 'bagus'.
Cinetariz 0 0
sejauh ini sih review Sang Pencerah pada ngasih respon positif, jadi aku cukup tertarik dengan film ini.
Cuma, kenapa harus ada Ihsan Idol dan Giring Nidji? bikin ga semangat nonton.
itsmaudy 0 0
Cinetariz: kan lagi zaman vokalis move to act the movie kaya ariel peterporn itu loooh ;p
sabai 0 0
jd pengin nonton... mudah2an semenarik review ini yaaaa..

itsmaudy: 'dia' bukannya memang ada di nyaris seluruh film ind masa kini? hihihi...
Rijon 0 0
Gak terlalu suka film-film Hanung. Setuju dengan itsmaudy: film-film Hanung banyak yang mengecewakan, tidak ada yang berhasil memuaskan malah. Maaf.

Sejauh ini Hanung memang berusaha angkat film-film "bagus," sayang hasilnya "tidak bagus." Penyebab utamanya, menurut saya, adalah over-dramatis yang selalu diterapkan Hanung di film-filmnya.
Ari Juliano Gema 0 0
@itsmaudi Rijon:

Saya juga bukan fans film2-nya Hanung. Tapi film yang ini memang benar2 berbobot dari berbagai segi. Bahkan menurut seorang yang mengaku tdk menyukai film religius, saat nonton premier film ini sangat menikmatinya dari awal sampai akhir.

Jadi, silakan dibuktikan sendiri pada tanggal 8 Sept nanti : )
anak kecil 0 0
ini yang kiblatnya bergeser tuh kan??? saya sudah lihat iklannya : D sudah ada belum yah di bioskop???
apatisvian 0 0
hanung? errrrrrrrrrrrrrrrrrr.......
*mikir lama mo nonton apa nggak*

terahir gw ntn film nya dia sbelum film ini Menebus Impian, dari segi teknis bagus, tapi skali lagi terjebak dengan pola eksekusi yg kalo kata Rijon diatas... over dramatis...
AndriaGutama 0 0
Hari ini udah keluar di bioskop kan? Waduh ... Lagi mudik di tempat yg gak ada bioskopnya : (( Trailer film ini menjanjikan sekali
Nyc-dj 0 0
sebuah biopik dari Hanung????
Filmography dia :

Catatan Akhir sekolah ; 7/10
Jomblo ; 6/10
AAC : 6/10
Get Married 1 dan 2 : Rubish!!!
Perempuan berkalung sorban : I skipped it!!
Meneus Impian : I skipped it!!
Sang Pencerah : ????

So far belum ada film dia yang memuaskan!!!
AndriaGutama 0 0
Nyc-dj: Catatan Akhir Sekolah lumayan lahh ... En Saya paling senang ama opening film CAS itu, mengelilingi sekolah tanpa ada CUT!!! Keren sekali : )
Rijon 0 0
Entahlah, masih mikir-mikir nonton. Secara Hanung selalu over-dramatis kalau bikin drama. Tema bagus. Premis bagus. Eksekusinya over-dramatis.

Nonton Ayat-Ayat Cinta dan Menembus Impian serasa nonton sinetron (cuma teknisnya doang yang selevel layar lebar).
seeska 0 0
hm belum nonton sih. tapi tidak ada salahnya ditonton kan? : )

tapi, over dramatis? well, mungkin request dari sang produser yang bervisi dagang? : D
Rijon 0 0
seeska:

Rasanya gak mungkin menyalahkan ke-overdramatis-an Hanung ke produser. Secara overdramats-nya sudah hampir di semua "drama" yang disutradarai Hanung: Ayat-Ayat Cinta dan Menembus Impian impian paling parah. Belum nonton Doa Yang Mengancam, Perempuan Berkalung Sorban juga masih terasa jelas overdramatisnya.

Mungkin aliran Hanung memang film-film "melodramatis," but come on, setidaknya sajikan dramatisme dengan kadar yang pas. Volver-nya Pedro Almodovar juga melodramatis. A Single Man bikinan Tom Ford juga melodramatis. Mungkin cocok juga rasanya istilah "overrated" diterapkan di kasus Hanung?

Yah, bolehlah ditonton untuk sekedar pembanding (atau sekedar iseng-iseng). Tapi ekspektasiku dengan film ini tetap gak tinggi, sekalipun premis dan temanya cukup menjanjikan.
itsmaudy 0 0
"Sejauh ini Hanung memang berusaha angkat film-film "bagus," sayang hasilnya "tidak bagus." Penyebab utamanya, menurut saya, adalah over-dramatis yang selalu diterapkan Hanung di film-filmnya"
Bener banget! Rijon: menurut saya sendiri, kelemahan hanung pada film filmnya adalah dia berusaha ingin menjawab pertanyaan2 dari isu isu utama di film film nya, tapi dia sendiri malah tidak punya jawaban sama sekali. perempuan berkalung surban mungkin punya gagasan lebih kuat, tapi pada akhirnya tetep tidak ada jawaban atau solusi dari cerita yang sudah dia olah. Kalau Catatan Akhir Sekolah mungkin karena berkaitan dengan pengalaman personal (maklum anak sma) jadi ini bisa dibilang salah satu favorit saya. Emm malah dulu waktu awal ga pernah tau siapa hanung bramantyo, saya kira CAS itu dibikin sama anak sma beneran.
Rijon 0 0
itsmaudy:

Kurasa film gak harus "bersolusi" terhadap "pesannya." Terkedang sebuah film cukup sekedar memaparkan gambaran apa yang ingin dipaparkan apa adanya, tanpa solusi, tapi pada akhirnya mampu membuat penontonnya merenungkan sendiri apa yang baru sajadi tonton. Lihat "Ajami" (flm dari Israel) atau "Taxi Driver" atau "Mon fils a moi," itu contoh film tidak memberikan solusi yang dieksekusi bagus.

"Identitas" yang menang Piala Citra kemarin juga contoh film yang tidak bersolusi, cuma sekedar gambaran alegoris kondisi bangsa, tapi menang Piala Citra (walaupun saya tidak terlalu menikmati filmnya).

Yah, kalau memang Hanung selalu gagal memberi solusi, kenapa harus memaksa memberi solusi di filmnya?

Kalau aku sih, selalu kecewa dengan eksekusi over-dramatisnya Hanung.
itsmaudy 0 0
Rijon: yeah, faktor over dramatis mungkin juga adalah kelemahannya. makanya kalo saya biasa aja, lebih baik nunggu di rental aja (atau saya dapet feeling nanti akan diputer di tv taun depan)
belum liat film2 yang anda rekomen itu, coba ah ntar nonton ; )

Silahkan login untuk memberikan pendapat