THE EXPENDABLES, ARENA PARA JAWARA 26
Sabtu, 14 Agu '10 23:54
Luar biasa!! Wow!! Mantap!!
Tiga kata itu sering terucap ketika saya menonton film terbaru si kakek berotot Sylvester Stallone (sutradara, penulis skrip, dan lead actor), The Expendables. Di proyek ambisiusnya tersebut, Sly mengumpulkan aktor-aktor dan ikon-ikon action lintas arena dan generasi. Dari generasi lama muncul nama Mickey Rourke dan Dolph Lundgren (sekaligus reuni Stallone-Lundgren sejak Rocky bertarung dengan Ivan Drago di Rocky IV (1985)), plus cameo dari Arnold Schwarzenegger dan Bruce Willis. Dari era lebih modern Stallone mengajak idola warga Asia, Jet Li, dan aktor action terdepan saat ini, Jason Statham (keduanya pernah bertemu 2 kali dalam The One (2001) dan War (2007) dimana Jet Li sebagai lead cast, namun di The Expendables Jet Li harus "mengalah"). Belum cukup dengan "amunisinya", Stallone juga merekrut Randy Couture dari ajang tarung bebas UFC dan Steve Austin dari arena WWF, plus aktor langganan film action kelas B, Gary Daniels.
Jika melihat nama-nama di atas, dapat saya simpulkan bahwa The Expendables adalah film para jawara. Jet Li di kehidupan nyata adalah juara wushu se-China beberapa kali (pertama kali pada saat dia berusia 11 tahun). Selain itu, dia adalah aktor action terdepan Asia bersama Jacky Chan (sebelum sekarang tergusur oleh Donnie Yen). Dolph Lundgren adalah juara karate kelas berat Eropa tahun 1980-1981 dan tahun berikutnya juara se-Australia. Dia adalah pemegang Dan 3 Kyokushinkai Karate yang diraihnya tahun 1998. Randy Couture dikenal sebagai pemegang rekor 2 kali juara kelas berat-ringan dan 4 kali juara kelas berat di ajang Ultimate Fighting Championship (UFC). Steve Austin adalah atlet dari arena World Wrestling Federation (WWF) dengan torehan 6 kali juara WWF, 2 kali juara WWF Intercontinental, dan 3 kali juara WWF Tag-team. Jangan lupakan juga Gary Daniels, seorang aktor kelahiran Inggris yang mahir Kick Boxing, Tae Kwon Do (meraih Dan 1 di usia 16), Kungfu, dan Ninjitsu. Daniels adalah juara dunia Kick Boxing kelas berat-ringan pada awal 90'an, yang lebih sering bermain di ranah film kelas B (filmnya yang lumayan selain The Expendables adalah Tekken(2010), dimana dia berperan sebagai Bryan Fury).
Kemunculan Gary Daniels secara tidak langsung mengingatkan saya pada era 90'an ketika salah satu TV swasta menayangkan program "Layar Emas" dengan deretan film action kelas B (kebanyakan dari film tersebut bertema kumite atau kejuaraan bela diri). Dari sinilah saya dikenalkan dengan aktor-aktor laga kelas B selain Gary Daniels, seperti Sasha Mitchell (franchise Kickboxer, mewarisi peran Jean Claude "The Muscle from Brussel" Van Damme), Daniel Bernhardt (franchise Bloodsport, juga mewarisi peran JCVD), Phillip Rhee (franchise Best of the Best), Jeff Wincott (Last Man Standing), Don "The Dragon" Wilson (franchise Bloodfist dan Ring of Fire), Billy Blanks (Expect No Mercy), Mark Dacascos (Only The Strong), dan tentu saja Michael Dudikoff dan David Bradley (franchise American Ninja).
Kembali ke The Expendables, ceritanya sendiri sebenarnya sangat sederhana. Stallone berperan sebagai Barney Ross, seorang pemimpin sebuah pasukan bayaran bernama The Expendables yang beranggotakan Lee Christmas (Statham), Ying Yang (Li), Toll Road (Randy Couture), Hale Ceasar (Terry Crews), dan Gunnar Jensen (Lundgren), yang masing-masing mempunyai keahlian khusus. Setelah misi pembebasan sandera sebagai adegan awal yang digambarkan sangat brutal, The Expendables disewa oleh Mr. Church (Bruce Willis), seorang agen CIA, dalam misi menggulingkan kepemimpinan diktator Jenderal Garza yang penuh kekacauan di sebuah pulau kecil, Vilena. Belakangan diketahui, latar belakang Church sebenarnya adalah untuk menyingkirkan James Monroe (Eric Roberts), seorang agen CIA yang berada di belakang rezim Jenderal Garza. Dalam adegan negosiasi harga antara Ross dan Church, sebuah peristiwa bersejarah terjadi ketika tiga bintang action terbesar, Stallone, Arnie, dan Willis beradu akting untuk pertama kalinya dalam satu scene. Adegan tersebut dibuat sangat santai dengan beberapa dialog yang lucu antara ketiganya, salah satunya adalah joke mengenai ambisi "Gubernur" Arnie untuk jadi presiden.
Misi Ross cs tidaklah mudah karena Monroe mempunyai 2 bodyguard, Paine (Austin) dan The Brit (Daniels). Selain itu, mereka harus menghadapi pasukan baret merah sebagai tameng Jenderal Garza (pasukan baret merah ini diperankan oleh atlet-atlet MMA (Mixed Martial Arts) Brasil secara sukarela) dan salah satu anggota The Expendables yang membelot.
Endingnya bagaimana? Pasti Anda sudah bisa menebaknya karena formula cerita seperti ini amatlah klise. Tapi, siapa yang butuh cerita berbobot jika action dalam film ini masuk dalam kategori kelas berat. Berbagai jenis adegan action ada di sini, mulai dari duel jarak dekat tangan kosong ataupun dengan senjata (terutama pisau, dan pistol/senapan/shotgun), duel one on one ataupun keroyokan, baku tembak, baku kejar mobil, sampai adegan yang gore dan brutal. Semua adegan digambarkan sangat baik, apalagi untuk duel jarak dekat yang digambarkan sangat cepat dan mematikan. Salah satu adegan duel yang mengesankan adalah ketika Yang dan Christmas bertarung melawan The Brit dan diakhiri dengan tendangan Yang yang mematahkan leher The Brit, fantastic sequence! (perlu dicatat bahwa di film ini Jet Li membawa sobatnya Yuen Woo-ping sebagai koreografer aksinya).
Sedikit kekurangan dari film ini adalah spesial effect yang kurang halus (total bujet US$ 70-80 mungkin habis hanya untuk aktornya saja), terlihat jelas pada adegan orang terbakar, serta lawan yang kurang seimbang secara personal bagi The Expendables. Di sini, Jason Statham -yang mempunyai keahlian istimewa, handal dalam melempar pisau- tidak mendapatkan lawan yang sepadan. Mungkin akan lebih baik jika di akhir film, Statham duel secara intens dengan Gary Daniels, sebagaimana halnya Randy Couture vs Steve Austin.
Overall, The Expendables is a high octane action movie. Hardcore and brutal. Film ini semakin membangkitkan gairah saya akan film action setelah sebelumnya dipancing oleh The Tournament (2009), Undisputed 3 : Redemption (2010), dan Ip Man 2 (2010). Dua film pertama dibintangi oleh Scott Adkins (meskipun di The Tournament hanya sebagai peran pendukung, namun skill laganya sangat memukau), yang ternyata sebelumnya ditawari Stallone untuk memerankan Paine.
Berdasarkan sambutan positif penonton, beredar kabar bahwa Stallone berencana membuat sekuel The Expendables. Akankah Stallone membawa bintang-bintang baru (jika iya, mari berharap pada Donnie Yen, Scott Adkins, Tony Jaa, dan Mark Dacascos) atau tetap dengan cast yang sama? Sangat menarik menunggunya.
Tag: action, jet li, donnie yen, jason statham, Sylvester Stallone, Mark Dacascos
Terkait:
-
'The Expendables' Trailer HD - Mega Bintang, Mega Aksi
Kamis, 1 Jul '10 13:50 -
SAFE : AN ACTION THAT TRIES TOO HARD
Rabu, 16 Mei '12 19:17 -
Scott Pilgrimm vs the World: Sebuah Film Konyol
Rabu, 14 Mar '12 11:28
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
riri: Informatif
-
ima an: Informatif
-
kniwe: Good Take
-
arddhe: Good Take
-
discobabe: Informatif
-
oksbangs: Informatif
-
JuliaJessicaJennifer: Informatif
-
Rijon: Mencekam
-
Egar Hamzah: Informatif
-
jamur: Mencekam
-
AndriaGutama: Informatif
-
Haikalajadeh: Mencekam
-
anak kecil: Box Office

Komentar:
Aku tahu "aksi" adalah menu utama film ini. Tapi bukan berarti "aksi" semata bisa memaafkan kedangkalan cerita. Maaf saja, film ini buruk - sangat buruk - di mataku.
ah sepertinya menarik ngajak nonton bokap di bioskop
Well, saya jg sbenarnya bukan penggemar action murni (fav saya adl sci fi dg Donnie Darko sbg film terbaik spanjang masa), tp menurut saya, The Expendables pantas ditempatkan di barisan terdepan utk kelasnya.
Dua-duanya bisa dibilang menyuguhkan plot yang sangat simplistik. Sangat simple. Atau katakanlah, menu utamanya bukan cerita, tapi aksinya.
Walaupun begitu, bagiku, cerita tidak bisa juga serta-merta harus diabaikan. Di sini lah letak perbedaan signifikan "Rambo" dan "Expandables."
Ceritanya sama-sama naif dan simpel. Bedanya, ada semacam sentuhan relita dalam "Rambo" yang kurang lebih berhasil memaparkan kekejaman dan dilema perang, dan film itu juga menuntut penonton untuk bereaksi akan fakta tersebut. Tapi tidak di "Expandables." Film ini cuma aksi-aksi belaka tanpa ada "something more" sedikitpun.
Maaf.
dialog super jayus dan ga mutu, aksi yang sama sekali tak punya "wow" effect sekalipun, basi...
romantisme kelas rendah..
editing hancur2an...penyutradaraan yang jelek...
score musik ala ftv indosiar
efek yang hancur
bad to the core
piss
Di review ini saya memang hanya menyoroti segi aksinya saja (soalnya saya memang hanya bisanya itu hahaha), dan menurut saya action-nya masih level atas lah... Dan yg jadi nilai lebih (bagi saya lho) adalah bergabungnya ikon2 action, walaupun sebenarnya skrg sudah bukan eranya lagi (akan lebih bagus jika ini terjadi 15 - 20 tahun yang lalu).. Tapi, bagi saya, action di IMDb tetaplah over the top. Hardcore and brutal!
Van Damme menolak karna di skenarionya dia musti kalah pas kelahi lawan Jet Li, dia ga bisa terima hal itu jadinya ga mau gabung.
Silahkan login untuk memberikan pendapat