[Review] StreetDance: When Street Dance and Ballet Collide 7
Senin, 9 Agu '10 16:13
Setelah (lebih banyak) diterapkan dalam film animasi atau film kolosal, teknologi 3D kini juga bisa dinikmati dalam film tari (dance movie). Bagi penggemar genre ini, bersiaplah ke bioskop untuk menyaksikan gerak energik tari jalanan berformat 3D dalam StreetDance.
Buat saya, faktor utama film tari terletak pada koreografi dan lagu-lagu di dalamnya. Cerita biasanya jadi faktor kesekian. Pendapat ini didasarkan dari beberapa film tari yang sudah saya tonton: Dirty Dancing, Flashdance, Center Stage, Bring It On, Honey, Step Up I & II, Showgirls. Plot film-film ini tidak jauh-jauh dari perjuangan seseorang (atau kelompok tari baru) untuk mendapatkan pengakuan di bidang tari. Atau tentang persaingan dua kelompok tari; yang satu legenda, satu lagi underdog, dan di sepanjang film kita disuguhi proses perjuangan si underdog untuk merebut singgasana si legenda.
Cerita yang agak beda saya temukan pada Save The Last Dance - di dalamnya diselipkan isu rasial - dan Shall We Dance - remake film Jepang 1996 berjudul sama yang dengan manis menempatkan tarian sebagai pengikat isu rumah tangga.
Selebihnya, film tari dan saya memang tidak begitu dekat.
StreetDance mungkin film tari pertama yang menggunakan format 3D (cmiiw). Tapi sayang, film yang saya tonton berformat biasa. Tapi rasanya tetap tidak mengurangi kenikmatan menontonnya.
Film bersetting Inggris ini bercerita tentang Carly (Nichola Burley), pelayan restoran cepat saji merangkap street dancer yang sedang hidup dalam mimpinya. Ia berpacaran dan jatuh cinta dengan Jay (Ukweli Roach), pemimpin penari jalanan karismatis tempat Carly bergabung, yang baru saja lolos ke babak final kejuaraan StreetDance Inggris. Hidupnya berubah ketika tanpa alasan Jay mundur dari kelompok tarinya, sekaligus minta break dari hubungan cintanya dengan Carly.
Sebagai (mantan) pacar, Carly ketiban pulung menggantikan posisi Jay sebagai pemimpin. Ia pun berusaha membuktikan diri untuk sanggup membawa kelompoknya menuju kemenangan. Tapi, setelah beberapa kali kejadian yang tak mengenakkan menimpa kelompok tari mereka, termasuk kehilangan tempat berlatih, beberapa orang anggotanya mulai tidak percaya pada kemampuan kepemimpinan Carly. Mereka pun memilih mundur.
Di tengah keputusasaannya, Carly bertemu dengan Helena (Charlotte Rampling), kepala sekolah sebuah akademi balet di London. Helena sendiri sedang ditekan pemilik akademi karena murid-murid balet asuhannya, yang akan diaudisi untuk The Royal Ballet yang bergengsi itu, dinilai loyo dan kekurangan darah. Terkesan dengan kemampuan dan antusiasme Carly dan kelompok street dancer-nya, Helena menawarkan mereka untuk latihan di studio tari akademi baletnya yang mewah, tapi dengan satu syarat: Carly dan teman-temannya harus mau melatih tarian jalanan kepada anak-anak didik Helena, dengan harapan mereka dapat menularkan intensitas dan semangat kepada para penari balet itu.
Tentu saja, saat dua gaya tari yang sangat berbeda itu disatukan, yang terjadi adalah benturan dua kebudayaan. Setelah bertahun-tahun berlatih balet klasik, para penari balet Helena terkaget-kaget pada gaya tari jalanan Carly cs yang menabrak semua aturan. Carly sendiri tidak tahan dengan sikap tak cuh dan gaya menari mereka yang dianggapnya terlalu kaku dan tidak lepas. Pada akhirnya, setelah berdamai dengan ego masing-masing, murid-murid Helena bisa juga menghargai gerakan spektakuler tarian jalanan. Carly-pun tidak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta pada pebalet pria yang tampan, Tomas (Richard Winsor).
Tapi bagaimana dengan Jay? Bagaimana pula dengan final kejuaraan StreetDance, yang rupanya jatuh di hari yang sama dengan audisi The Royal Ballet? Mampukah Carly dan pasukannya mewujudkan mimpi mereka, yaitu mengalahkan The Surge, juara bertahan kejuaraan tarian jalanan bergengsi itu? Terutama karena adanya kejutan besar yang menanti Carly di belakang?
StreetDance lahir dari ambisi produser James Richardson untuk membuat film tentang tarian jalanan yang tidak melibatkan narkoba dan geng-geng bergajulan. Sebagai pencinta film-film tari Amerika '80-an semacam Flashdance, Dirty Dancing dan Footloose, keinginan Richardson adalah membuat film tari yang keamerikaan, tapi dengan setting Inggris. Setelah melakukan observasi langsung ke penari-penari jalanan Inggris, Richardson sadar negara itu bukan saja menyimpan penari dan koreografer terbaik di dunia, tapi juga menyediakan lokasi-lokasi syuting yang indah secara visual.
Tapi salah satu pendiri Vertigo Films ini ingin memberikan tantangan lebih pada filmnya. Karena dunia tari memiliki banyak spesialisasi, ia berpikir apa yang akan terjadi apabila dua dunia yang bertolak belakang itu disatukan? Bagaimana para penari - yang sering membawa fanatisme masing-masing - mengatasi perbedaan itu? Bagaimana koreografi tarian yang dipadukan itu akan tercipta? Dan istilah baru apa yang akan muncul untuk menyebut perpaduan tersebut?
Jadi, dengan bantuan penulis skenario Jane English (dipilih karena dinilai mampu berbicara pada audiens muda usia), dibuatlah cerita tentang dua dunia - dunia tradisional Inggris yang diwakili oleh para penari balet klasik dan The Royal Ballet (perusahaan balet klasik yang terkenal secara internasional, berpusat di Royal Opera House di Covent Garden, London - hanya lulusan terbaik dari sekolah balet yang diterima di sini, itupun harus melalui audisi yang super-ketat) , dan Inggris modern yang direpresentasikan oleh para street dancer.
Proses audisi film ini makan waktu berminggu-minggu. Richardson dan krunya menginginkan karakter-karakternya diisi oleh para penari jalanan yang juga piawai berakting. Mereka membuat website untuk mengumumkan tanggal-tanggal audisi, dan dalam waktu cepat website itu crash karena begitu banyak orang yang mendaftar. Pada akhirnya, audisi film ini diikuti oleh ribuan orang dari kota-kota sekitar Inggris, termasuk Manchester, Birmingham dan Glasgow. Peserta audisi yang lolos dipersilakan ke London untuk proses eliminasi final.
Proses ini meloloskan nama-nama yang masih asing bagi saya, seperti Nichola Burley, Rachel McDowall, Richard Winsor, Ukweli Roach, dan Steph Nguyen. Nama terakhir ini ternyata pernah memenangkan kejuaraan street dance terbesar di dunia, Juste Debout di Paris.
Hasilnya, cerita yang standar, tapi koreografi dan soundtrack yang edan (in a good way). Saya bukan penggemar dance movie ataupun musik hip hop, R&B atau rap, tapi saya menikmati benar film ini. Salah satu pemikatnya - selain si mungil Nichola Burley yang menggemaskan - adalah koreografi street dance yang bertaburan di sepanjang film, dibawakan dengan luar biasa keren oleh para penari jalanan Inggris jebolan Britain's Got Talent, seperti George Sampson, Diversity (juara BGT musim ketiga) dan Flawless - rombongan street dancer yang berperan sebagai The Surge, saingan Carly cs di film ini.
Faktor lainnya tentunya adalah gaya penyutradaraan Max Giwa dan Dania Pasquini, sutradara yang sudah 15 tahun menangani proyek-proyek video musik. Pemilihan duo ini didasari dari keinginan Richardson akan sutradara yang memiliki pemahaman tentang tari, dan mampu mengarahkannya ke dalam bahasa film dengan keren. Hasilnya, tidak jelek. Lewat pengarahan Giwa dan Pasquini, pergantian adegan terasa mulus, sudut-sudut pengambilan artsy tapi tidak berlebihan, dan, yang terutama, penonton dimanjakan oleh aksi-aksi tarian jalanan memukau.
Apalah film tari tanpa dukungan soundtrack yang pas. Untuk penggemar jenis musik lain, maaf-maaf saja, this movie is about R&B, hip hop dan rap. Tidak heran, gerakan energik dan bebas-lepas a la street dance memang paling cocok disandingkan dengan ketiga genre musik ini. Menariknya, tidak ada nama-nama raksasa 'black music' di sini, semacam Jay Z, Usher, Timbaland, dll. Sesuai dengan semangat film ini untuk mencoba sesuatu yang baru dalam fiml tari, soundtrack film ini ditulis dan dibawakan oleh artis-artis urban, seperti pop rap trio N-Dubz, Tinie Tempah, Lightbulb Thieves, Dhipmunk, dan Cheryl Cole. Ada juga nomor slow R&B yang manis, Broken, dari McLean, dan -- surprise surprise -- pop alternatif yang catchy, Life is Beautiful, dari Vega4.
Bagi penggemar dance movie, film ini benar-benar untuk Anda. Oya, album soundtrack-nya rasanya lucu juga untuk dikoleksi.
Sutradara: Max Giwa, Dania Pasquini; Pemain: Nichola Burley, Richard Winsor, Charlotte Rampling, Rachel McDowall, Steph Nguyen, dll; Produksi: Vertigo Film & BBC Film; Genre: Dance movie; Durasi: 98 menit
Tag: film, streetdance, dance movie
Terkait:
-
The Cherry Project
Rabu, 2 Mei '12 07:44 -
1208 pengunjung ikut meramaikan Malang Film Festival 2012
Selasa, 10 Apr '12 03:18 -
Zhendy Zain: Film Ini Mengubah Hidup Saya
Kamis, 29 Mar '12 15:10
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Good Take
-
santador: Informatif
-
kucingsapi™: Informatif
-
AndriaGutama: Good Take

Komentar:
Sudah pernah dengar L
Btw, "partner nonton"?
Oh, oke, nevermind me.
Saran kucingsapi™ silakan dicoba. Intinya upload foto2 dulu baru buat "Artikel Foto". Foto pertama otomatis jadi thumbnail post.
Silahkan login untuk memberikan pendapat