Bagaimana Menentukan Film Yang Berkualitas 11
Senin, 9 Agu '10 14:51

Kalau saja Roger Ebert membaca tulisan ini pasti dia akan tertawa terbahak-bahak karena pasti standar film yang berkualitas menurut saya dan dia akan sangat-sangat berbeda. Dia telah menonton banyak film, mulai dari film yang populer sampai film yang terbilang langka sedangkan saya hanyalah sekedar penikmat film biasa yang baru sedikit menonton film yang berkualitas dan miskin pengalaman. Namun disisi lain saya yakin bahwa film merupakan media yang universal, seperti halnya lagu, yang dapat dimengerti oleh setiap orang dimanapun mereka berada.
Menentukan standar film yang berkualitas pastilah akan sangat subjektif dan akan sangat tergantung dari selera dan sudut pandang dari penulisnya masing-masing. Itulah mengapa daftar-daftar film terbaik sepanjang masa dipilih oleh panel yang terdiri dari banyak orang yang kiranya dapat mengakomodasi semua selera dari masing-masing penonton. Namun juga, tak salahnya jika perorangan membuat daftar tersebut, sebut saja dimulai dari saya sendiri:
Jadi bagaimana saya menentukan apakah sebuah film termasuk film yang berkualitas yang layak ditonton oleh saya sendiri karena sekali lagi saya tidak menonton semua film. Selama ini saya telah membuat semacam standar yang baku untuk film-film tertentu, semisal:
1. Film yang berkualitas adalah film yang endingnya tidak dapat ditebak
Banyak film-film yang beredar sekarang adalah tipikal film yang dapat dengan mudah kita tebak ending-nya bahkan sebelum kita tonton. Sebut saja film-film dengan tema superhero yang pastinya pembela kebenaran akan menang atau film drama romantis yang mana kedua sejoli akan bersatu dan hidup bahagia selamanya. Saya memegang tegu h prinsip bahwa film yang berkualitas adalah film yang dapat membawa penontonnya menebak atau bingung akan ending dari film tersebut atau setidaknya sebuah film dengan ending yang mengejutkan atau tidak standar. Untuk apa kita menonton sebuah film kalau kita telah tahu ending-nya akan seperti apa. Saya teringat salah satu dialog dari salah satu film favorit saya, Adaptation, dia bilang bahwa
ending adalah impresi klimaks dari sebuah film. Kau dapat membawa cerita kemana saja, bahkan jika cerita itu terasa murahan, namun jika kau dapat meramunya menjadi ending yang mengejutkan dan masuk akal maka kau dapat dikatakan telah sukses.
2. Film yang berkualitas adalah film yang tidak biasa.
Pernah nonton film Gus Van Sant, Elephant, film ini saya masukan ke dalam kategori tidak biasa walaupun dengan tema cerita yang biasa saja mengenai penembekan oleh dua orang murid di salah satu sekolah di Amerika. Namun apa yang membuat Elephant menjadi tidak biasa, tak lain dan tak bukan adalah teknik pengambilan gambar yang sangat actor-oriented. Mungkin inilah satu-satunya film yang saya tonton yang dari awal sampai akhir yang kameranya hanya menyorot aktor/aktrisnya berkepanjangan. Kamera hanya mengikuti kemana arah subjeknya bergerak tidak ada hal lain selain itu. Namun yang spektakuler adalah bagaimana sutradara dan tentu saja editornya, membuat adegan-adegan tersebut saling berhubungan satu sama lain. Kita terasa masuk ke dalam sebuah labirin besar yang sangat membingungkan pada awalnya namun akan kelihatan jelas pada akhirnya. Pendekatan personal yang baik menurut saya. Itulah kenapa film yang berkualitas adalah film yang tidak biasa. Tidak heran kenapa sutradara-sutradara legendaris semisal Alfred Hitchcock atau Stanley Kubrick dikagumi oleh dunia , ya karena mereka berani mengebrak pakem-pakem film yang berlaku pada masanya dan karena ketidakbiasaan itulah mengapa film-film mereka mampu menjadi standar sebuah film.
3. Film yang berkualitas adalah film yang dapat mempengaruhi penonton.
Disini dapat dibedakan dengan tegas antara film berkualitas dengan film feel good. Film feel good adalah film yang ditujukan untuk penonton dengan tema yang bahagia dengan ending yang menguntungkan dan penonton dapat pulang dari bioskop dengan perasaan yang bahagia juga tanpa perlu berpikir apa-apa. Penonton cukup datang ke bioskop, tonton dengan khidmat, dan pulang dengan senyum dimuka dan bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa keesokan harinya. Siklus semacam ini sangat-sangat saya hindari ketika memutuskan menonton sebuah film. Saya sangat suka sekali film yang mampu membuat saya emosi, membuat banyak kerutan di kening atau membuat saya harus berpikir berhari-hari setelahnya. Film yang berkualitas bagi saya adalah film yang mampu memberikan sesuatu yang berbeda atau dengan kata lain film tersebut memberikan pilihan-pilihan kepada penontonnya. Apakah orang baik tersebut harus mati? Atau apakah dia benar-benar baik, apakah dia adalah pembunuhnya, apakah yang jahat itu baik atau siapa sebenarnya orang itu, adalah contoh-contoh pertanyaan yang menarik buat saya setelah menonton film. Jadi disini film adalah sebagai media visual bagi penonton untuk mencerna makna sebenarnya dari karakter tokohnya, atau aliran dari ceritanya sendiri. Bukan seperti film"tipikal" yang hanya memberikan point baik dan jahat kepada penontonnya tanpa memberikan pilihan yang rasional. Ketegasan seperti itu cenderung menggurui dan mengajak untuk menjadi penonton yang bodoh. Bukankah di dunia ini sebenarnya banyak hal-hal yang ambigu dan kadangkalahnya berada di area abu-abu? Penonton yang baik adalah bukan penonton yang didekte namun lebih kepada penonton yang diajak untuk merenung dan berpikir sambil menelaah makna dari film yang ditontonnya.
4. Film yang berkualitas adalah film yang mendapat penghargaan?
Well, sebenarnya hal ini juga sangat subjektif dan dapat diperdebatkan dengan mudah. Namun perlu diingat sampai saat ini indikator yang nyata dari standar film yang berkualitas adalah film yang pernah memenangi penghargaan atau setidaknya pernah dinominasikan. Saya pikir semua hal terbaik didunia ini akans selalu dikaitkan dengan penghargaan. Siapa pemain sepakbola terbaik didunia? Siapa petenis terbaik didunia? Siapa pelukis terbaik didunia? Siapa penyanyi terbaik didunia atau bahkan siapa CEO terbaik didunia? semuanyanya ditentukan oleh penghargaan dan pengakuan dunia. Sejujurnya saya memiliki dua buah pendapat yang mungkin saling bertentangan. Yang pertama saya mendukung standar film yang berkualitas adalah film peraih penghargaan namun disatu sisi saya juga berpendapat bahwa film yang berkualitas adalah film yang berhasil mempengaruhi pikiran penontonnya. Namun karena alasan yang kedua ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang maka akan sangat sulit untuk menjelaskannya. Mari kita berbicara mengenai penghargaan untuk film berkualitas. Sejauh ini, penghargaan tertinggi untuk sineas Amerika adalah Academy Awards dan karena film-film Hollywood adalah film yang populer dan banyak ditonton oleh masyarakat dunia maka Academy Awards dapat dijadikan patokan standar bagi film yang berkualitas. Katakanlah, film peraih Best Picture dapat dengan mudah termasuk film berkualitas daripada film biasa yang tidak pernah mendapatkan penghargaan apapun. Dewan panel AMPAS pastilah bukan sekumpulan orang yang bodoh dalam pengetahuan film untuk dapat memutuskan sebuah film layak mendapatkan sebuah predikat di ajang sekelas Academy Awards. Dan saya yakin pula tidak sembarang film bisa masuk dalam nominasi Academy Awards. Kalau ditanya, apakah saya selalu menyandarkan pilihan saya terhadap film-film Academy Awards? Saya akan jawab tidak selalu. Jujur, walaupun saya menghormati film-film Academy Awards namun saya lebih suka film-film hasil saringan dari dewan juri Cannes Film Festival di Perancis. Bagi saya Cannes lebih baik daripada Academy Awards dari segi kualitas film yang dilombakan. Film-film Cannes biasanya adalah film-film dari negara-negara Eropa ataupun diluar Eropa yang memiliki keunikan tersendiri baik dari segi jalan cerita maupun temanya. Itulah sebabnya jika saya melihat sebuah film yang dicovernya ada lambang Cannes walaupun hanya official selection maka tak ragu saya akan menontonnya.
Dan sebagai gambaran seperti apa perwujudan dari film-film berkualitas seperti kategori diatas maka saya sertakan juga 10 judul film favorit saya sampai saat ini (karena mungkin akan berubah dikemudian hari jika saya menonton film berkualitas yang baru lagi), film tersebut yakni, The Third Man, The Elephant Man, What's Eating Gilbert Grape, Memento, The Boondock Saints, Eternal Sunshine of The Spotless Minds, The Three Burials of Melquiades Estrada, Lock Stock and Two Smoking Barrels, Into The Wild, Adaptation, Eraserhead, Mulholland Dr. dan Amadeus.
Keempat kategori yang saya tulis diatas mungkin akan sangat berbeda dengan orang lain karena saya yakin setiap orang memiliki selera filmnya masing-masing. Saya bukanlah orang yang terpukau dengan banyaknya film yang pernah ditonton sesorang karena bagi saya kualitas paling penting daripada kuantitas. Lebih baik menonton 10 film terbaik sepanjang masa daripada menonton 100 film "tipikal". Penonton film yang baik ditentukan oleh judul yang dia tonton bukan dari banyaknya film. Dan mulailah menjadi penonton film yang dapat bersikap kritis dan jangan hanya menjadi sapi perahan dari para pembuat film yang tidak bertanggung jawab.
Dapat dibaca juga di blog saya Klik disini.
Tag: film, Hollywood, Kualitas
Terkait:
-
Savage Grace (2007)
Selasa, 25 Jan '11 13:01 -
Rabbit Hole (2010)
Rabu, 22 Des '10 15:47 -
The Dangerous Lives of Altar Boys (2002)
Kamis, 3 Jun '10 13:28
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
AndriaGutama: Good Take
-
bnugroho: Good Take
-
kucingsapi™: Good Take
-
santador: Good Take
-
kniwe: Informatif
-
mbahdiddo: Good Take

Komentar:
Feel good movie versi saya (yang buat saya sama sekali bukan popcorn movies): "In Good Company", "The Family Stone", yang kebetulan keduanya bisa digolongkan romantic comedy.
tapi satu yang paling gw sepakat dari anda, hehe saya juga suka film yang jebolan Cannes entah kenapa
kalo emnurut gue sih, film yang bagus itu tuh yang bikin penontonnya kepikirannnn terusss berhari-hari (hahaha, subjektif banget ya), kayak baru2 ini Inception, trus Inglourious Basterds, ada sensasi yang berbeda yang penontonnya rasakan.
Ending yang nggak ditebak, sih lebih ke ending yang bikin penontonnya mikir, jadinya diajak berpikir = diajak jadi pinter, dan menambah prespektif baru yang bisa dijadikan salah satu pegangan hidup (ada lho yg sampe segitunya).
kalo menang banyak penghargaan? hmm gimana yaa.. Menurut gue American beauty film yang bagus, favorit gue juga.
Hurt Locker powerful, Elephant juga disturbing.
seringnya film yang gue anggap bagus, bukan favorit gue, ataupun sebaliknya, gue sukaaa banget, tapi penilaian orang itu bukan film yg bagus.. hahahaha..
nice post !!!
putridmr: penggemar studio ghibli ya?
setuju ama kucingsapi™: saya juga nonton tergantung mood juga, ada film bagus tapi otaknya kmana-mana juga ga bakal bisa nyambung ama filmnya..
ada nih salah satu blog yang menceritakan pengaruh film ini kepada individu tertentu (fakta tentunya), http://knightshif…le-real.html
GAK SETUJU!
Aku suda menonton, bukan cuma satu, malah lebih dari sepuluh, film dengan ending "TERTEBAK" tapi tetap saja "BERMAKNA / BERKESAN."
Salah satunya "Billy Elliot." Aku sudah tahu bakal dibawa ke mana film itu bahkan sejak "membaca sinopsisnya." Dan arah endingnya pun sudah bisa ditebak sejak membaca endingnya. Tapi tetap saja aku terkesima dengan drama itu. Endingnya pun, sekalipun sudah terpikirkan di kepalku, tetap saja bisa kunikmati.
Lalu ada "The Karate Kid" (1984), "The Blind Side" (nominator Oscar), "Driving Miss Daisy" (pemenang Oscar), dan bla-bla-bla...
Buatku, ending "BISA DITEBAK" atau "TIDAK BISA DITEBAK" gak bisa jadi patokan mutlak. Nyatanya banyak juga ending "TIDAK BISA DITEBAK" yang gagal. Buatku, ending yang baik adalah ending yang mampu mewakili semua yang terjadi dari awal dan menyimpulkan substansinya dengan baik.
Saya rasa "kekuatan" ending sama sekali tidak bergantung pada "tertebak" atau tidak "tertebak," tapi kembali lagi ke eksekusinya.
Ada film berending "tertebak" tapi diekseuksi dengan sangat baik, dan hasilnya keseluruhan filmnya pun jadi sangat baik. Ada juga film berending 'tidak tertebak" tapi dieksekusi dengan sangat tidak baik, dan akirnya ending tidak tertebak itu malah jadi benalu bagi keseluruhan film.
Silahkan login untuk memberikan pendapat