THE LAST AIRBENDER (2010) - A Review 26
Sabtu, 7 Agu '10 22:58
Sebenarya sudah banyak ulasan-ulasan sebelumnya dari rekan-rekan tentang film ini. Mayoritas menyatakan kekecewaannya terhadap karya termutakhir dr pak Shyamalan. Dan gak bs dipungkiri, begitu juga dengan saya. Kalau dibilang penggemar setia serial animasinya di tipi, kok rasanya ya nggak juga. Tp yg jelas, saya ngikutin juga serial ini karena yaaa... Menurut saya ceritanya asyik. Dan kalau harus membandingkan 2 karya ini, ada 3 hal yg menjadi fokus perhatian yg ingin saya bahas. Apa saja, yuk, kita lihat.
Pertama, esensi Aang. Sejatinya, di mata saya yg awam ini, Aang dilukiskan sebagai anak kecil dengan beban besar. Bottom line nya, dia ttp anak kecil. Noah Ringer secara fisik mungkin mendekati penggambaran fisik Aang di dunia nyata. Akan tetapi, dalam terjemahan bebas om Shyamalan, entah siapa yg salah, karakter Aang jd terlalu serius. Udah gitu, diperparah dgn ketidak mampuan Ringer utk berakting natural, sehingga terkesan kaku, serius, en benar-benar tertekan. Waduh, kok jadi serius gini ya, Aangnya, kira-kira gitu gambaran saya sepanjang menyaksikan film ini. Padahal Aang tetaplah anak-anak, yg dalam serial animasinya digambarkan sedikit badung, suka bercanda, usil, dan senang bermain. Tp disaat harus serius, dia bs jadi sosok yg benar2 bisa diandalkan. Jadi, Aang versi Shyamalan bener2 meluluhlantakkan image Aang sebagai karakter sentral. Entah salah Shyamalan yg menerjemahkan, atau Noah Ringer yg terlalu serius memerankannya.
Kedua, film ini kehilangan sisi FUN-nya. Padahal film-film petualangan seperti ini perlu unsur fun itu, agar enak dinikmati, terasa seru, dan menegangkan. Ato minimal penontonnya bisa merasa empati lah, dgn apa yg dirasakan oleh tokoh-tokoh yg ada dalam film. Ini nggak sama sekali. Film aksi petualangan dengan efek fantastis ini justru terasa membosankan, datar, tanpa berasa seru sama sekali. Cenderung garing malah! Plotnya bener-bener terasa random, parah, dan kaya ditulis ma penulis amatiran. Mengecewakan. Yang mengikuti serial tvnya pasti sudah sangat familiar dgn potongan-potongan sequence yg disusun secara kasar oleh om Shyamalan. Udah ceritanya gak enak dinikmati, gak mulus, filmnya juga benar-benar kehilangan unsur magisnya. Alhasil, penonton seolah-olah dipaksa untuk mencerna interpretasi kasar dari bapak itu tentang Aang dan teman-temannya.
Ketiga, nampaknya dalang dibalik semua kekacauan film ini ada di tangan sang kreator. Bapak yg satu ini memang seolah-olah hidup di dunianya sendiri, gak pernah mendengarkan input orang lain tentang filmnya. Di satu sisi, mungkin oke untuk beberapa kasus tertentu. Tapi untuk sutradara film yang pernah menghasilkan karya jempolan, 3 film terakhirnya bener2 memiliki kualitas mengkhawatirkan. Film ini jadi berasa digarap sama amatiran. Ibaratnya, nonton film ini jadi berasa kaya nonton wayang kulit, dimana sang dalang gagal memberikan ruh kepada "puppet"nya, sehingga yg terlihat cuma sekelebatan kulit kesana kemari tanpa terlihat menarik sama sekali.
Tulisan ini memang seolah melengkapi tulisan-tulisan sebelumnya yg berisi kecaman terhadap karya Shyamalan. Mengecewakan.
This time, save your money guys! Invest it on something better. A better movie, of course.
Rating : 3 / 10
Terkait:
-
RED - Resensi Film: Aksi Keren Bintang Gaek
Senin, 15 Nov '10 12:31 -
The King of Fighters
Minggu, 10 Okt '10 16:52 -
Madame X
Sabtu, 9 Okt '10 14:36
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sabai: Good Take
-
Niee: Informatif
-
kniwe: Good Take
-
moti: Good Take
-
kucingsapi™: Informatif
-
AndriaGutama: Good Take
-
Egar Hamzah: Good Take
-
discobabe: Informatif
-
oksbangs: Informatif
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take

Komentar:
cuma mikir, kalo mo cabut trus pulang nanggung juga, jalanan masih maceeet... alhasil daku live-tweet film ini selama nonton
Mustinya film ini disutradarai Andrew Lau atau siapalah sutradara ngetop dari Hong Kong yg lain...
Ane kuciwa... Kuciwaaaa banget...
Ibarat kata kaya ngguntingin cerita animasinya, trus ditempel ngasal ma om2 itu..
Cuma bedanya ini live action..
Dia pikir hanya karena efeknya keren, trus dosanya di plot kita maafkan?
Hmmph, enggak lah yaaaw...
*maap, jd agak lebay
ost nya Om Shyamalan.
Kaya'nya gak perlu jd sempurna deh om...
Cukup sadar diri, ngukur kemampuan, en belajar dari pengalaman..
Om shyamalan kayanya kok bebel banget sama feedback dr org lain...
Jd sangsi ma karya nya yg berikutnya...
akankah bernasib sama, atau.... lebih baik?
kita tunggu saja....
Tapi semua karya-karya Night yang lain (yak, *semua*) saya suka loh:
- The Sixth Sense ga sengaja denger spoiler teman sekelas tapi lagi-lagi tetap seru.
- Unbreakable seru sekali, baguslah kata saya.
- Sign oke punya.
- The Village: (terlepas dari kontroversi plagiarisme) saya pikir cukup brilian.
- Lady in The Water: dongeng fantasi yang bisa dinikmati.
- The Happening meski akhirnya "begitu saja" tetap "nendang" terutama di awal-awal.
The Last Airbender belum saya tonton, juga film-film pertama Night sebelum The Sixth Sense.
saya nggak bilang semua karyanya shyamalan kacrut. saya juga suka sixth sense dan signs. happening sebenarnya terlihat sangat menjanjikan di bagian awal, tapi begitu mengecewakan di bagian tengah dan endingnya...
beban berat memang, kalau mau adaptasi dari media lain yang sebelumnya sudah sukses. tapi kalau dengan apa yang sudah dicapai sebelumnya, dan kemudian hasil karyanya di last airbender cuma segitu, kok kayanya sebuah kemunduran deh...
ato gini aja, coba buktikan sendiri deh, dan nanti share penilaian anda disini...
mari kita berharap semoga yg ini lebih baik... *cross fnger
http://movreak.co…?movieID=708
Yuk, mari sama2 kita tunggu sinetron the last airbender yg digadang2 bakal menandingi kehebatan tersanjung yang sampe berjilid2 itu....
eh, emang pak siyalan ini pernah bikin film yang worthed ditonton gitu?
Setelah itu, hampir semua karya sesudahnya kok jadi kaya antiklimaks...
Silahkan login untuk memberikan pendapat