Membaca Inception, Nolan, dan Kegemarannya Berbicara Soal Kenangan 37
Selasa, 20 Jul '10 22:20
Barangkali tidak ada sutradara manapun saat ini yang terpukau teramat akut pada kenangan sebagaimana dialami oleh Christopher Nolan. Untuk pemirsa yang telah menyempatkan diri menyaksikan katalog Nolan sebelumnya, maka adegan-adegan yang dijalin begitu rumit oleh Nolan dalam karya terbarunya, "Inception", tak lebih dari penegasan bahwa sejauh ini ia hanya menggarap satu tema, satu benang merah, dalam tiap karyanya.
Pesan itu berbunyi cukup jernih tentang luar biasanya kenangan. Menyadari keberadaan konflik yang dibangun dengan melibatkan wacana kenangan, adalah bingkai untuk menikmati film-film garapan Nolan dan menerka pesan yang ingin ia sampaikan.
Saya pribadi belum pernah melihat karya independennya sebelum ia menggarap "Memento". Untuk itu mohon dimaklumi apabila karya itulah yang saya jadikan acuan pertama untuk memulai upaya penelusuran kembali ini. Lagipula berkat "Memento"-lah Nolan bisa dikenal dalam percaturan sineas dunia. Baiklah, ijinkan saya mengajak anda mengingat lagi "Memento" barang sejenak sebelum beranjak pada pembahasan utama lebih lanjut. Tentu ada yang jauh lebih esensial sehingga ia mau bersusah-susah membuat kronologi mundur bagi kisah orang yang punya masalah hilang ingatan sesaat itu.
Setiap adegan di "Memento" merupakan penggambaran begitu rapuhnya ingatan memberi kesempatan kita berpijak. Kalaupun ada landasan yang bisa menyelematkan kita, maka jawabannya adalah kenangan. Resolusi di klimaks "Memento" yang getir tak lebih dari sebuah penambatan jangkar agar kita (baca: penonton) pada akhirnya mampu menyerap pesan utama di balik rangkaian kilas balik yang kemudian diuputar ulang kembali tersebut.
Untuk kasus "Memento" hal itu cukup jelas terlihat, karena pengaturan sekuens mundur di tiap tahapan plot (yang ironisnya linier) merupakan strategi naratif agar setiap pemirsa langsung mengidentifikasikan diri pada tokoh utama. Agar setiap pemirsa merasakan pedihnya hanya mampu mengingat kejadian dalam beberapa saat saja. Dalam situasi ingatan chaos itu, terbukti hanya kenanganlah yang mampu menyuplai daya hidup bagi si tokoh utama yang diperankan oleh Guy Pearce itu.
Film Nolan berikutnya bahkan bicara dengan lebih lugas dari awal dengan memasang tajuk "Insomnia". Di drama thriller itu, Al Pacino sebagai tokoh utama berkonfrontasi lebih banyak bukan dengan Robin William, si penjahat yang sedari awal sudah ketahuan dan bertahan hingga klimaks lebih karena licin ditangkap, melainkan pada kenangannya sendiri yang menghantui, ditambah dramatisnya konfrontasi dengan diri sendiri itu, ketika ia tidak mampu tidur di setting noir Alaska.
Dua film soal Batman yang ia garap pun tetap mendukung pola pembangunan kisah yang sama, terutama "Batman Begins" yang dengan sengaja memilih novel grafisnya Frank miller "Year One" - yang intens mengeksplorasi trauma masa kecil Wayne sebagai sumber motivasinya di fase dewasa menjadi Batman - untuk diadaptasi. Trauma Wayne kecil atas pembunuhan orang tuanya dan implikasinya terhadap pilihan-pilihan hidup, termasuk cara pandangnya pada kebaikan dan kejahatan, semuanya merupakan konflik yang dibangun oleh Nolan dari wacana kenangan yang traumatis. Sempat ada alternatif pilihan mengatasi segala dampak yang muncul dari diskursus kenangan, direpresentasikan oleh karakter Joker dengan anarkinya, tapi sampai akhir Nolan lebih condong memihak pada wacana yang selalu ia jadikan pijakan utama tema ceritanya. Bukti argumen tersebut dapat dilihat ketika penumpang dua kapal menolak meledakkan satu sama lain, sesuai scenario anarkis Joker, karena "kenangan kolektif" mereka pada kemanusiaan belum mati.
Jangan lupakan juga persaingan sengit dua pesulap di "The Prestige" yang dimulai dari kenangan pahit Hugh jackman pada kematian sang istri karena kelalaian Christian bale saat menjalankan atraksi sulap berbahaya. Jika boleh dibuat sebuah formula sederhana, cara konflik dibangun oleh Nolan mulai dari "Memento" sampai "The Dark knight" yang khas adalah keberadaan kenangan (yang traumatis) dan hal itu memberi daya hidup bagi sang protanonis untuk bangkit dari trauma itu sendiri. Tapi implikasi adanya daya hidup baru itu adalah terciptanya nemesis (bisa dalam bentuk tokoh antagonis lain, maupun diri sendiri), dari situ kemudian dilema final bakal dihadapi di fase resolusi konflik oleh sang protagonis dalam kisah-kisah bikinan Nolan.
Entah pakem semacam itu muncul dari bawah sadar Nolan atau tidak, yang jelas, ia mempertahankan pakem itu baik-baik dalam "Inception". Bicara soal konsep "bawah sadar", plot "Inception" digerakkan dengan memandu penonton menikmati lapis demi lapis wisata ke alam bawah sadar manusia. Secara kasar garis besar kisah "Inception" dapat digambarkan sebagai berikut. Kisah terjadi di sekitar kejadian yang melibatkan sekolompok pencuri mimpi di masa ketika memasuki mimpi milik orang lain bukanlah upaya mustahil, karena dukungan teknologi dan bahan kimia.
Maling-maling mimpi yang aktivitasnya merebut "ide" penting dari seseorang untuk kepentingan orang lain itu kini mendapatkan tantangan baru untuk melakukan sebuah upaya kebalikan dari mencuri (diistilahkan sebagai extraction), melainkan "menanamkan" ide alias inception. Misi berat sebagai plot utama "Inception" adalah menanamkan ide pada seorang calon pewaris perusahaan energi nomor dua dunia agar membatalkan keputusannya mewarisi perusahaan ayahnya, lantas beralih ke jenis usaha lain. Klien yang berkepentingan dengan itu adalah perusahaan energi nomor satu saat ini yang khawatir si pewaris itu nantinya akan mampu menjadi pesaing yang berbahaya.
Anda merasakan aura kombinasi "James Bond" dan "The Matrix"? Ya pada mulanya saya juga berpendapat seperti itu sekilas usai menyaksikan film ini. Namun, jika jeli, konflik tetap berpusat pada protagonis utama, yaitu karakter Dominic Cobb yang diperankan Leonardo DiCaprio. Nolan memberi porsi perkembangan karakter yang signifikan baginya, terutama saat sekuens-sekuens yang menggambarkan kenangan istrinya Mal, kedua anaknya yang tidak ditampakkan wajahnya, hingga kenangan di fase "limbo" yang kaotis dan nihilis itu (berbeda dengan konsep dalam mitologi "The Matrix", orang yang mati dalam dunia mimpi "Inception" hanya akan terbangun dari tidur, masalah baru muncul jika kematian terjadi dalam dunia rekursif "mimpi dalam mimpi" yang membuat orang tersebut terancam kehilangan memori di dunia nyata usai terbangun karena ia terbuang ke area mimpi bernama limbo, dan mengalami kebingungan abadi dalam menilai mana yang realitas dan mana yang bukan).
Kegigihan Nolan mempertahankan pakem cerita yang harus berpusat pada protagonis utama membuat karakter lain, semisal tokoh Arthur sebagai sidekick Cobb yang diperankan Joseph Gordon-levitt (ia mampu sepanjang film tampil cool, berbeda sekali saat ia tampil sebagai tokoh utama culun di "(500) Days of Summer") ataupun Ellen Page yang tampil lumayan dalam mengimbangi DiCaprio, tetap tidak berkembang sebagai karakter. Mereka sekadar sketsa tanpa jiwa, dan tampak dihadirkan sekadar untuk menyukseskan aspirasi personal dari konflik internal yang dialami si tokoh utama.
Selain bertebarannya karakter flat yang mengurangi emosi film ini, Nolan juga kurang rapi menyelaraskan aspirasinya untuk menciptakan dunia rekaan yang bisa tanpa masalah diterima penontonnya. Penonton kritis boleh jadi akan mempertanyakan motivasi Nolan harus selalu menampilkan dunia mimpi yang memiliki "seting" yang mendukung terciptanya serangkaian aksi laga yang menghibur mata.
Berbeda dengan "The Matrix", Nolan tidak memberi justifikasi memadai untuk kehadiran adegan laga di filmnya ini. Seakan banyak orang yang bermimpi di "Inception" sering bermimpi buruk dengan seting kaotis dan penuh ledakan serta mesiu. Saya hanya tersenyum sendiri memikirkan kemungkinan jawabannya, bisa saja "alam bawah sadar" produser Hollywood menuntun Nolan untuk memikirkan juga faktor kesuksesan komersial ketika film ini diluncurkan.
Selain temuan beberapa cacat dalam "Inception" tadi, melalui upaya serupa penelusuran benang merah cerita karya Nolan sebelumnya, saya menemukan kemungkinan aspirasi utama yang menjiwai setiap karyanya sebagaimana terangkum dalam "Inception". Meminjam konsepsi Gilles Deleuze dari bukunya Cinema vol.2, sutradara macam Nolan adalah pengikut aliran Robert grillet ataupun jean Luc-Godard, yang mengksploitasi "kesalahan analisis awal" para penonton sebagai jalan menyampaikan pesan utamanya. Dalam bahasa Deleuze, hal itu disebut "the power of false".
Pada hakikatnya setiap langkah menyampaikan narasi adalah mengajak penonton untuk memberikan penilaian (berkaca pada argumen Deleuze bahwa narasi adalah system of judgment). Pihak yang disodori narasi dalam kategori narasi konvensional atau sering disebut truthful narration akan langsung mendapatkan satu perangkat identifikasi untuk menilai tentang apakah tema utama kisah itu sebenarnya.
Sebaliknya, ada kategori narasi lain yang menampilkan gaya falsifying narration, yaitu model penceritaan yang menyamarkan tema utama dengan balutan kisah lain, dengan maksud membebaskan penonton dari sistem yang memaksa mereka menjadi penonton yang murni berada di luar kisah, untuk lebih merasuki pengalaman karakter beserta segala konflik yang mereka hadapi. Dalam model narasi seperti ini, penonton alih-alih melakukan penilaian "film ini bertemakan blab la bla", mereka akan lebih banyak berada dalam posisi "sesuai yang saya rasakan tema film ini adalah bla bla bla".
Nolan masuk pada sineas yang menerapkan strategi penceritaan di kategori kedua dengan mengaburkan kisah utama "Inception" yang cukup "sederhana", yaitu berpusat pada bagaimana DiCaprio berhadapan dengan kenangan traumatis bersama istrinya, terlepas dari balutan kisah sains fiksi soal memasuki dunia mimpi dan intrik antar perusahaan yang melingkupinya. Karakterisasi bikinan Nolan tidak ditujukan agar muncul sebuah karakter yang bulat, yang bisa kita amati dan analisis. Namun lebih agar penonton berada dalam kondisi "I is another", dimana kesadaran kita selaku penonton kita curahkan pada aspirasi karakter utama yang tampil.
Wacana tentang bagaimana manusia memiliki keterikatan emosional yang akut pada kenangan dan bagaimana mereka membuat pilihan untuk menghadapinya masih saya dapatkan saat membaca katalog Nolan hingga karyanya yang paling anyar ini. Tak peduli latar kisahnya di wilayah sub-urban Amerika, Gotham City, ataupun dunia antah berantah bernama mimpi. "Inception" barangkali akan lebih lengkap jika dibaca melalui perspektif analisis "bawah sadar" ala Freud ataupun skema milik Lacan, bahkan bila perlu melibatkan analisis tentang relativitas waktu Bergsonian yang sayangnya tidak saya kuasai betul.
Tapi kalaulah saya diijinkan menerka-nerka, alasan Nolan mempertahankan skema konflik macam itu bolehlah disebabkan kesamaan visinya dengan Nietzsche yang pernah berucap "(even) the truthful man ends up realizing that he has never stopped lying". Orang yang paling jujur sekalipun, bisa menipu dirinya sendiri ketika gagal menghadapi sisi gelapnya yang muncul karena kenangan traumatis, jika saya boleh menerjemahkan visi utama dari mayoritas karya-karya Nolan sesuai hasil pembacaan saya.
Untuk keteguhan dan konsistensi itu saya pikir Nolan harus kita akui memiliki integritas, dan walau latar belakang kisahnya beragam dari yang realistis sampai imajinatif, ia konsisten bicara hal-hal yang manusiawi. Pada akhirnya, saya mencuplik adegan memorable dalam "Inception", yaitu pada dialog yang diucapkan tokoh Eames terutama ketika ia mewanti-wanti karakter Saito yang masih awam akan bahaya yang mengancam di balik aktivitas masuk ke dalam dunia mimpi, "this is not the place for the tourist'. Anda tidak menikmati suguhan aksi di dunia mimpi laiknya turis dalam film ini, sebaliknya anda akan menjalani meditasi diri yang intens dan subtil tanpa anda sadari.
Demikian.
n.b: Senang sekali rasanya menulis lagi di Bicarafilm.com setelah sekian lama absen dan terpaksa puas jadi silent reader saja karena disandera rutinitas. Makin banyak kawan baru yang tulisannya keren-keren. Salam kenal lah. Saya banyak belajar dari kawan-kawan semua. Tabik!
Tag: Nolan, kenangan, falsifying narration
Terkait:
-
Hubungan Antara Film Inception dan Paman Gober
Minggu, 10 Jul '11 14:27 -
Nostalgia Bioskop-Bioskop Jadul
Kamis, 2 Jun '11 17:21 -
Nostalgia Menonton Film Bioskop Pinggiran Makassar
Senin, 31 Jan '11 14:28
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
heartles3oul: Informatif
-
kniwe: Box Office
-
kartowidjojo: Good Take
-
Adhitya Dipohusodo: Good Take
-
Krisna Sukmaputra: Box Office
-
riri: Box Office
-
jamur: Box Office
-
moti: Box Office
-
kucingsapi™: Box Office
-
putridmr: Informatif
-
sabai: Box Office
-
Afris: Good Take
-
benisuryadi: Good Take
-
raditherapy: Box Office
-
AndriaGutama: Box Office
-
bajul: Good Take
-
discobabe: Box Office
-
oksbangs: Box Office
-
JuliaJessicaJennifer: Box Office
-
ivanagara: Informatif
-
Di Ario: Good Take

Komentar:
btw, kenapa komen bung @kniwe dihapus ya??? Apakah mengandung SARA??? Tampang sealim itu sepertinya kok tidak mungkin melakukan perbuatan keji...
boleh loh dibahas kaitannya dengan konsep Freud dan Lacan. banyak yang bisa ditarik dan dibahas tuh
ah itu yang saya penasaran, semoga ada ahli mimpi atau psikologi yang bisa menjelaskan hal itu, saya penasaran soalnyaaaa
Following yg digarap dengan budget sangat rendah, dimana Nolan merangkap jd sutradara, penulis, editor, kameramen, dan produser, sungguh memukau dan memang sarat kenangan.
Oya, untuk para aktor di Following Nolan memberdayakan teman-teman kuliahnya dan... bapaknya sendiri! Pasti film ini menjadi kenangan tak terlupakan bagi Nolan
denger2 peran adiknya nolan justru lebih besar dalam penggarapan cerita inception ini?
kucingsapi™: mimpinya kucing yang merasa dirinya sapi?
Namun sambil berbagi pendapat pribadi, ada beberapa hal yang masih jadi pertanyaan di otak Saya.
Leonardo DiCaprio main di filmnya Christopher Nolan? Waw, ini jelas-jelas jualan utama yang begitu kuat menarik Saya ke bioskop. Apa lagi yang mau dipertanyakan. Leonardo DiCaprio yang membuat Saya berdecak kagum akan acting-nya di The Departed, dan diulanginya dengan sangat baik di Shutter Island. Christopher Nolan dengan dua seri terakhir Batmannya, mengaduk imajinasi Saya akan superhero. Lebih dari sosok Joker yang diciptakannya, Saya datang menonton film ini dengan harapan akan muncul sebuah karakter baru yang lebih membuat Saya merinding, seperti yang Saya rasakan akan hawa si Hannibal Lecter yang diperankan oleh Anthony Hopkins.
Namun, sepertinya film ini punya interpretasi sendiri akan harapan Saya. Mimpi dalam mimpi orang yang bermimpi memang menjadi sebuah ide yang mampu memicu turbulensi otak. Dengan skema cerita yang seakan sama dengan apa yang sudah ditampilkan Martin Scorsese di Shutter Island, membuat film ini sangat mudah ditebak. Saya cukup menikmati setiap adegan dari film ini, bagaimana sebuah dunia dibangun dengan ide melipat kotanya, dan juga dengan pertarungan zero gravity-nya, namun sepanjang itu pula skeptis bermunculan di otak Saya.
Om, atau rekan lain yang sudah menonton, ada yang mau bantu menjelaskan apa sih sebenarnya peran dari si Juno (ya, Saya tetap lebih senang memanggil Ellen Page atas perannya yang sangat baik sebagai Juno) di dalam alur cerita tersebut, toh pada kenyataannya mereka beraksi dalam mimpi bertingkatnya si Scarecrow (dan ya, Saya merasa Cillian Murphy lebih pas memerankan si Monster Orang-orangan Sawah).
Dan kereta yang tiba-tiba muncul, juga serbuan para pasukan penjaga si Scarecrow, mengacaukan konsep membangun mimpi yang dijelaskan dari awal film tersebut.
Dan sepertinya kita dianggap lupa bahwa di awal film ini juga sudah dengan gamblangnya menjelaskan bahwa jika mati tidak mungkin kembali ke dunia nyata.
Jadi bagaimana mungkin masih ngotot untuk menampilkan totem yang terus berputar di akhir ceritanya.
Dan pertanyaan terakhir Saya, anggaplah tadi malam Saya di-Inception saat Saya tertidur, ditanamkan ide bahwa Saya harus mengawini Dian Sastro, apakah paginya Saya terbangun dengan semangat empat lima tak tengok kiri kanan tak nyadar muka bakal kujuk-kujuk ngelamar Dian Sastro?
Dengan tidak mengurangi rasa hormat Saya pada penilaian rekan yang lain, tetapi Shutter Island jauh lebih baik untuk cerita, dan Brooklyn's Finest jauh lebih baik dalam menampilkan karakter abu-abu.
Salam.
farhanvsgnk: kalo Memento cari aja di lapak DVD, ada kok.. ini salah satu film lama yang masih bisa dijumpai di lapak-lapak itu.
Habis ntn Following masih terbayang2 hingga kini.
Ada tuh DVD ori-nya di rumah...
saya dapat banyak informasi dari tulisan ini.
"ada yang mau bantu menjelaskan apa sih sebenarnya peran dari si Juno... di dalam alur cerita tersebut, toh pada kenyataannya mereka beraksi dalam mimpi bertingkatnya si Scarecrow (dan ya, Saya merasa Cillian Murphy lebih pas memerankan si Monster Orang-orangan Sawah)."
- kalau ingatan saya tak silap, waktu semua anggota tim Cobb panik pasca diserang, Arthur menyimpulkan bahwa si Fischer sudah well trained dari aktivitas extraction untuk menanggulangi kehadiran maling mimpi macam mereka. Ingat juga bahwa dalam dunia "Inception", masuk ke dalam mimpi adalah aktivitas yang sudah tergolong lumrah, just imagined para pasukan bersenjata di mimpi Fischer adalah antivirus yang membasmi spyware dan virus.
"Dan sepertinya kita dianggap lupa bahwa di awal film ini juga sudah dengan gamblangnya menjelaskan bahwa jika mati tidak mungkin kembali ke dunia nyata.
Jadi bagaimana mungkin masih ngotot untuk menampilkan totem yang terus berputar di akhir ceritanya."
- Buatku, kehebatan "inception" ada karena bentuk penyampaian ceritanya yang memaksa setiap orang tidak melihat film ini dengan pola pkir standar, namun tentu dengan pola pikir khas dunia mimpi. Nolan paling berjihad untuk style di film ini, bahkan dibanding alur rumit yang ia bangun di Memento. Sedikit spoiler, jangan perhatikan totem saja, tapi lihat cincin Cobb, karena setiap masuk dunia mimpi, Cobb selalu pakai cincin, nah di adegan terakhir, cincinnya sudah ga ada. You decide then itu mimpi, kenyataan, atau mimpi "baru" setelah ia tuntas berkonfrontasi dengan ingatan soal Mal.
"Dan pertanyaan terakhir Saya, anggaplah tadi malam Saya di-Inception saat Saya tertidur, ditanamkan ide bahwa Saya harus mengawini Dian Sastro, apakah paginya Saya terbangun dengan semangat empat lima tak tengok kiri kanan tak nyadar muka bakal kujuk-kujuk ngelamar Dian Sastro?"
- Efeknya tidak seinstan itu juga, tapi anda bisa browsing atau baca2 pemikiran Richard Dawkins soal konsep "meme". Sangat ilmiah dalam menggambarkan bagaimana peradaban dan evolusi manusia digerakkan oleh "ide" yang dalam bahasa Dawkins disebut "meme".
Konklusinya, saya menghargai pilihan anda bahwa "Shutter Island" dan "Brooklyn Finest" lebih bagus, tapi kekuatan "Inception" terbukti bukan di wilayah penggambaran tokoh abu2 atau inti cerita, tapi bagaimana ia memaksa penonton mengikuti alurnya yang njelimet dan patuh pada mitologi yang dibangun di dalamnya agar mampu masuk ke dalam struktur inti pesan yang Nolan sampaikan.
Tabik!
Terimakasih atas tanggapannya, Om Gambliz (maaf, disebelumnya Saya menulis Gamblitz).
Arthur menyimpulkan bahwa si Fischer sudah well trained dari aktivitas extraction untuk menanggulangi kehadiran maling mimpi macam mereka
Kalau Fischer sudah "well trained", harusnya dia punya kemampuan juga untuk menyadari mana yang mimpi dan mana yang bukan, atau paling tidak, tidak semudah itu terperangkap dalam skenario si Cobb. Kemunculan kereta tiba-tiba ditengah jalan tersebut mengindikasikan hal ini, juga serangan dari para pengawal Fischer, tetapi kenapa Fischer sepertinya tidak menyadari.
just imagined para pasukan bersenjata di mimpi Fischer adalah antivirus yang membasmi spyware dan virus.
Analogi yang menarik, dengan catatan kita asumsikan si antivirus tersebut bekerja sendiri tanpa diketahui oleh si empunya antivirus.
lihat cincin Cobb, karena setiap masuk dunia mimpi, Cobb selalu pakai cincin, nah di adegan terakhir, cincinnya sudah ga ada. You decide then itu mimpi, kenyataan, atau mimpi "baru" setelah ia tuntas berkonfrontasi dengan ingatan soal Mall
Jadi ini mengindikasikan si Cobb sadar dia sudah mati, hidup di dalam mimpi, dan memutuskan untuk menerima kondisi tersebut? atau dia sendiri tidak tahu kalau dia akhirnya hidup di dalam mimpi? Sepertinya cukup aneh jika berakhir seperti ini karena pada awalnya ditampilkan bagaimana dia sangat master sekali tentang dunia mimpi.
Efeknya tidak seinstan itu juga, tapi anda bisa browsing atau baca2 pemikiran Richard Dawkins soal konsep "meme". Sangat ilmiah dalam menggambarkan bagaimana peradaban dan evolusi manusia digerakkan oleh "ide" yang dalam bahasa Dawkins disebut "meme".
Sudah pernah baca beberapa artikel RD tentang konsep pemikiran, tetapi kalau dalam konteks film ini penterjemahan Nolan terhadap hal ini terlalu dahsyat untuk mengandalkan konsep mimpi satu kali.
Kalau menurut Saya film ini dibangun dengan rangkaian adegan yang membingungkan sehingga menjadi terkesan njelimet dan dahsyat.
Pertanyaan terakhir Saya, sebenarnya yang dibangun dalam mimpi itu apa?
Apa Konstruksi ruangnya? Ditampilkan dalam adegan si Ariadne membangun kota dan melipatnya. Kalau ya, kenapa dia tidak juga melakukannya di dalam misi tersebut
Atau pengendalian pikirannya?
Terimakasih atas diskusi yang menarik.
terimakasi atas sarannya untuk menonton lagi, tetapi sudah tidak ada anggaran euy, hehehe.
Secara pribadi, menurut Saya, film itu harus selesai disaksikan dalam satu kali menonton. Menonton untuk yang kedua, ketiga, dan seterusnya adalah untuk sesi menikmati ulang saja.
Itulah mengapa, Saya mencoba untuk menikmati setiap film dengan sebaik-baiknya. Dan peran si sutradara, menurut Saya adalah untuk membantu ini terwujud. Kocak rasanya jika sutradaranya bilang, kamu harus nonton film ini minimal tiga kali agar bisa mengerti.
Kalau kata Saya sih itu si sutradaranya yang ngejelimet.
Tapi tidak bisa dipinggirkan tingkat kepemahaman setiap orang dalam menikmati sebuah film. Saya sadari itu. Tetapi karena duit saya pas-pasan dan hanya cukup untuk menonton sekali saja, maka dengan sangat hormat Saya minta para sutradaranya lah yang membantu Saya, hehehehe.
Dan oh ya, salam kenal juga ya.
Ayo, mulailah juga menulis.
Saya tunggu ulasannya.
Itu juga sebabnya, mimpi di benteng bersalju sudah tidak bisa diatur lagi oleh Cobb c.s, karena itu sudah masuk wilayah mimpi "aslinya". Fischer Jr. Jika diklasifkasikan mimpi yang by Ariadne design adalah level pertama (seting hujan jalan raya) dan kedua (hotel dengan kamar 528).
Soal analogi antivirus yang bisa aktif tanpa pengguna sadari, aku merasa program antivirus "pembajak mimpi" dijalankan oleh third party, jika mengacu pada presentasi bisnis Cobb pada Saito di awal film, jadi jadi Fischer tinggal bayar doang, dan paling dikasih tips dikit2 untuk "bunu diri agar bangun", seperti saat dia akan menembak dirinya di toilet mimpi kedua.
N.B: Sori kalo masih ga memuaskan, hehehe, basisnya asusmsiku doang sih. Jadi ga valid barangkali, huahahaha. tapi jujur, film ini seperti yang bisa anda baca dari ulasanku, memang hanya film cerdas. sebuah "self-contained gadgets" yang cool, sifatnya amusing but mechanical. Mimpi kok by design, huahahahahaha.....
[ Kalau Fischer sudah "well trained", harusnya dia punya kemampuan juga untuk menyadari mana yang mimpi dan mana yang bukan, atau paling tidak, tidak semudah itu terperangkap dalam skenario si Cobb. Kemunculan kereta tiba-tiba ditengah jalan tersebut mengindikasikan hal ini, juga serangan dari para pengawal Fischer, tetapi kenapa Fischer sepertinya tidak menyadari. ]
istilah "well trained" sbnrnya kurang cocok. karena di film dijelaskan bahwa pengawal Fisher sendiri bentuknya unconscious security. FIsher tidak sadar akan pengawalannya sendiri.
[ Dan pertanyaan terakhir Saya, anggaplah tadi malam Saya di-Inception saat Saya tertidur, ditanamkan ide bahwa Saya harus mengawini Dian Sastro, apakah paginya Saya terbangun dengan semangat empat lima tak tengok kiri kanan tak nyadar muka bakal kujuk-kujuk ngelamar Dian Sastro? ]
tidak semudah itus aya rasa, uda. insepsi yang dilakukan harus berdasarkan memori asli. ini yang membuat arsitek dalam mimpi fisher berlatar di Swiss. karena memang brankas/wasiatnya berada di dua tempat, swiss dan rumah.
[ lihat cincin Cobb, karena setiap masuk dunia mimpi, Cobb selalu pakai cincin, nah di adegan terakhir, cincinnya sudah ga ada. You decide then itu mimpi, kenyataan, atau mimpi "baru" setelah ia tuntas berkonfrontasi dengan ingatan soal Mall ]
saya juga sadar tentang ini.
dari artikel yang saya baca, ada kemungkinan sbnrnya film ini bukan bercerita ttg insepsi kpd Fisher tapi justru insepsi terhadap Cobb. agar dia bisa menghadapi kenyataan dan menjauh dari Mal.
lihat saja kedua anaknya sbnrnya bertambah usia. (di imdb, cast tidak cuma satu.)
diskusinya sangat menarik.
Saya malah melihat bolong filmnya semakin besar.
Arsitek dibutuhkan untuk merancang mimpi.
Agar si orang tersebut tidak sadar bahwa dia sedang ada di alam mimpi, maka "dunia" yang diciptakan haruslah sama persis. >> Kasus pada karpet yang terlewat.
Swiss, rumah, benteng bersalju >> tercipta tanpa disadari berbeda dengan aslinya oleh Fischer.
Apakah ini berarti si arsitek tersebut berhasil menciptakan setingan kota di Swiss, rumah, benteng salju dan lainnya dengan begitu sempurna?
Atau yang terjadi adalah kondisi dalam mimpi dimana acapkali kita merasa aneh dan berbeda tetapi tidak bisa menyangkalnya dan mengatakan bahwa kita sedang bermimpi?
Saya tidak menyangkal ide inception ini sebagai hal yang luar biasa. Memutar konsep mencuri ide dari mimpi menjadi memasukkan ide lewat mimpi. Sama briliannya dengan konsep terbalik yang ditawarkan oleh film Benjami Button.
Namun, beberapa adegan yang saling bertentangan membuat Saya sampai pada kesimpulan bahwa film ini adalah fiksi belaka.
Buat Om Gambliz, "memaksa penonton mengikuti alur ceritanya", itu apa maksudnya ya?
Buat Om Nandojamur, "tapi justru insepsi terhadap Cobb.", berarti bisa kita bandingkan dengan Shutter Island kah? Lebih dahsyat mana?
dan shutter island? sama dahsyatnya!
cuma Inception lebih memanjakan mata. adegan hotel yang berputar dan antigravitasi, ah, saya suka sekali.
@benisuryadi: hehehehe, diskusinya asik. Saya suka sekali. Soal bolong yang kamu bilang, saya menyepakatinya, yang aku bingung malah ketika kamu bilang ini film "fiksi belaka", bukannya emang fiksi ya???
btw, untuk pertanyaanmu, maksudku simpel kok, film ini punya nilai lebih ketika kita "merelakan diri" dipermainkan plot, menikmati setiap sekuens, menikmati njelimetnya, hahahahha, karena di saat itulah kita sebagai penonton akan memahami dan cenderung "merasakan" dilema Cobb yang sesungguhnya.
dan adegan antigravitasinya memang sungguh segar, walau sedikit terganggu dengan posisi jatuhnya si mobil dari jembatan yang "kurang mulus".
Gambliz: sepertinya Saya salah pemilihan kata. maksudnya, film ini cenderung menggiring kita ke pembicaraan ilmiah yang memicu begitu banyak perdebatan. atau izin pakai istilah situ, another movie yang punya potensi untuk membaut penontonnya berdiskusi.
sedangkan maksud fiksi belaka itu ya filmnya dinikmati saja seperti cerita dongeng ga usah dipikir, hehehe.
"menikmati njelimetnya", hahahaa, Saya juga suka dekan istilah ini. Dan terimakasih sangat memang buat Nolan yang telah membuat Saya merasa dianggap sebagai penonton yang cerdas, hehehe.
Ayo, ayo, mana ulasan film lainnya. Salt, Broklyn's Finest atau Shanghai mungkin?
Siapa yang melakukan ini?
Bagaimana kok adegan terakhir ini bisa terjadi?
Bagaimana Cobb tiba-tiba berubah menjadi "terjebak"?
Om Gambliz, mungkin bisa bantu jelasin? Terimakasih.
Silahkan login untuk memberikan pendapat