[Review] Inception: Di manakah Batas Kenyataan dan Mimpi? 3

Selasa, 20 Jul '10 14:18

Perkenalan pertama saya dengan Christopher Nolan terjadi dalam Memento (2000). Film ini berkisah tentang penyelidikan seorang penderita short-term memory loss terhadap apa saja yang telah terjadi padanya berdasarkan tulisan tangan yang memenuhi tubuhnya. Alurnya diceritakan secara terbalik, dari akhir maju ke depan. Salah satu film paling jenius yang pernah saya tonton.


Lalu, tentu saja, The Dark Knight (2008). Di tangan Nolan, franchise yang sebelumnya bisa ditonton sambil mengunyah popcorn ini berubah menjadi mahakarya yang menstimulasi otak dan emosi saya.


Kini, Inception (2010). Dengar-dengar, Nolan membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk menulis skenarionya saja. Wow! Bayangan saya, pasti dibutuhkan konsentrasi yang luar biasa untuk menuntaskannya. Dibandingkan film ini, Memento jadi terasa seperti pemanasan saja laiknya.


Inception adalah contoh tepat perpaduan antara naskah cemerlang, sutradara jenius, dan barisan pemain hebat. Film ini dibuka dengan adegan awal yang spektakular. Belum-belum kita sudah dibawa Nolan menjelajah apa yang paling jago dilakukannya: mengobrak-abrik emosi dan pikiran audiensnya. Kali ini yang ditawarkannya adalah tur ke dalam labirin mimpi.


Perkenalkan, Cobb (Leonardo DiCaprio), penjarah ide. Metode yang digunakannya dalam menjarah ide orang lain adalah menginfiltrasi mimpi target-targetnya, untuk kemudian mencuri ide mereka. Bahasa kerennya, extraction. Dalam menuntaskan misinya yang terdengar absurd itu, tak jarang Cobb menciptakan dua tingkat mimpi (mimpi di dalam mimpi). Reputasinya sebagai extractor ulung tentunya menjadikan Cobb penjahat kelas kakap. Ditambah lagi tuduhan pembunuhan atas istrinya sendiri Mal (Marion Cotillard) yang membuat Cobb diasingkan dari negaranya sendiri.


Adegan pembuka film menggambarkan misi Cobb untuk menjarah ide Saito (Ken Watanabe), biliuner asal Jepang. Seusai misi ini Cobb berniat pulang kampung untuk bertemu kedua anaknya yang masih kecil. Tapi ternyata misinya gagal. Alih-alih melaporkannya ke polisi, Saito menawarkan Cobb tugas baru. Namun kali ini sesuatu yang kedengarannya mustahil: bukannya memasuki mimpi seseorang untuk mencuri ide mereka, melainkan menanamkan ide baru ke dalam pikiran orang lewat mimpi. Metode ini dinamakan inception, dan tidak pernah dicoba sebelumnya karena tingkat kesulitannya lebih tinggi. Seperti sistem kekebalan tubuh kita terhadap patogen, pikiran kita pun sama waspadanya terhadap kehadiran ide asing. Karenanya, inception perlu dilakukan dengan sangat halus sehingga target meyakini ide itu berasal dari mereka sendiri.


Target Saito adalah biliuner saingannya, Robert Fischer, Jr (Cillian Murphy), pewaris tunggal kerajaan bisnis ayahnya. Tugas Cobb adalah menanamkan ide ke pikiran Robert supaya menolak mewarisi tahta sang ayah (yang kini sedang sakit) dan memilih jalannya sendiri. Jika Cobb berhasil, Saito berjanji menggunakan pengaruhnya untuk memuluskan rencana pulang kampungnya.


Cobb lalu membentuk tim. Dan di sinilah film bergantung pada prosedur yang saya anggap paling canggih dari film-film heist yang pernah saya tonton (Ocean's Eleven & Ocean's Twelve, The Italian Job, The Usual Suspect, Reservoir Dogs). Tapi sebelumnya mari kita berkenalan lebih dulu dengan anggota timnya: Arthur (Joseph Gordon-Levitt), rekan kerja abadi Cobb; Earnes (Tom Hardy), pakar tipu muslihat; Yusuf (Dileep Rao), ahli kimia; dan Ariadne (Ellen Page), arsitek muda brilian yang sangat berbakat dalam bidang cipta ruang. Cobb dan Ariadne diperkenalkan oleh ayah mertua Cobb (Michael Caine), yang sudah lama mengetahui sepak terjang menantunya itu.


Tapi kenapa pula Cobb memerlukan arsitek lain untuk menciptakan ruang dalam mimpi? Bukankah ia sendiri arsitek hebat? Di sinilah saya mempersilakan Anda menonton sendiri filmnya untuk menemui, menikmati dan memahami jawaban atas pertanyaan besar ini.


Penjelasan filosofisnya mungkin begini: kita, audiens, lah yang memerlukan Cobb merekrut Ariadne. Karena saat Cobb melatih seni menginfiltrasi, mengontrol dan mengarahkan mimpi pada gadis itu, ia juga sedang melatih kita. Cobb dan Ariadne adalah alat Nolan untuk melatih kita bagaimana mimpi bekerja. Mimpi, menurut pakar mastermind ini, mempunyai arsitektur yang berpindah. Cobb membutuhkan Ariadne untuk menciptakan rang labirin tipuan dalam mimpi Robert Fischer sehingga pikiran baru bisa diselipkan di dalamnya tanpa disadari oleh si target.


Selain itu, sesi-sesi kuliah Cobb ke Ariadne juga merupakan kesempatan untuk menampilkan sejumlah efek spesial yang menakjubkan. Semua bangunan seperti mempunyai cara untuk melawan gravitasi. Gedung-gedung miring. Jalan-jalan menggulung. Para karakter tidak menjejak tanah. Terus terang, waktu efek spesial ini muncul di trailer, saya tidak menyangka penjelasannya akan sangat masuk akal seperti ini. Yang paling mengesankan adalah ketika Cobb dan Ariadne berada di sebuah kota yang sepertinya Paris, lalu secara harafiah kota itu tergulung sendiri seperti gulungan bolu.


Kembali ke misi inception Cobb dkk terhadap Robert Fischer: ternyata yang tidak mereka antisipasi adalah ketika dalam mimpi-pun, Fischer tetap terlindungi oleh serombongan tukang pukul bersenjata yang tampaknya cara kerjanya setara dengan antibodi di tubuh kita. Dari sini kita mulai diajak masuk semakin dalam ke labirin kreasi Nolan. Karena, ketika Cobb memberikan waktu 2 menit bagi Ariadne untuk menggambar labirin yang tidak bisa diselesaikannya dalam waktu 1 menit, Nolan juga sedang menguji kita dengan labirinnya sendiri yang memukau. Kita harus sepenuhnya percaya pada akhirnya ia akan mengeluarkan kita karena hampir sepanjang perjalanan kita merasa tersesat dan ter-disorientasi.


Film ini bercerita tentang proses: perjuangan menempuh tujuan melalui lembaran kenyataan dan mimpi, kenyataan dalam mimpi, mimpi dalam mimpi dan mimpi tanpa kenyataan. Ketika Cobb menjelaskan pada Ariadne orang tidak dapat mengingat awal mimpinya, dan mimpi yang tampaknya berlangsung berjam-jam kenyataannya hanya berlangsung beberapa menit saja, kita tidak tahu apakah saat itu kita sedang bermimpi atau tidak. Lalu bagaimana caranya berada dalam mimpi orang lain? Atau menyelaraskan mimpi kita dengan mimpi mereka?


Di tengah kepungan film sekuel, remake, franchise dan adaptasi, Inception menawarkan orisinalitas dengan barisan pemain kelas satu yang semakin membuatnya sedap ditonton. Leo DiCaprio dan Marion Cotillard menawarkan chemistry yang emosional. Ellen Page keluar dari zona amannya, tapi aktingnya sama bagusnya seperti biasanya. Karakter yang dimainkan Joseph Gordon-Levitt - yang sebelumnya cemerlang di (500) Days of Summer - kelihatannya oke juga kalau dibuatkan spin-off-nya.


Saya sangat menyukai film ini. Inilah film yang layak ditonton di bioskop dan dikoleksi DVD-nya.


Tag: Christopher Nolan, Inception, Leonardo DiCaprio

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

moti 0 0
"Karena saat Cobb melatih seni menginfiltrasi, mengontrol dan mengarahkan mimpi pada gadis itu, ia juga sedang melatih kita. "

setuju.
ima an 0 0
"Ellen Page keluar dari zona amannya".... outstanding

apakah masyarakat indoensia akan "nunut"/mengikuti/mengerti ttg film ini? karena film ini tidak bisa disetarakan dg sinetron/....

nice review !!
putridmr 0 0
Hai, n am, thanks for the compliment. : )

Yang jelas film ini marketnya emang bukan untuk yang doyan nonton sinetron, sih. Ups. : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat