Menyiasati Keberakhiran 1

Minggu, 18 Jul '10 15:22

Saya mengenang masa kecil saya dengan limpahan mainan yang diberikan oleh orang tua saya. Sebagai anak lelaki yang dibesarkan dengan cara putra tertua, saya tentu saja memiliki kemewahan yang jelas tidak dimiliki oleh 2 adik saya kemudian. Selisih usia 5 tahun memberi saya kesempatan untuk mendapatkan segala fasilitas kesenangan seorang anak kecil sendirian. Saya memiliki berbagai jenis mainan yang di kemudian hari belum tentu dipunya oleh adik-adik saya. Mulai dari sekedar pistol mainan sampai mobil mainan adalah bentuk permainan yang saya punya hari itu.....saya mengenang dan terus teringat saat-saat itu dengan baik. Juga ingat saat sebagian mainan itu disumbangkan ke para tetangga, saudara-saudara sampai mereka yang tidak saya kenal dengan baik.

Hari itu tentu saya tidak pernah mencoba memahami "perasaan" yang dimiliki oleh mainan-mainan saya itu. Para tentara kecil yang selalu saya lempari bola tennis, boneka beruang yang selalu saya lemparkan sesukanya atau mainan koboi yang menemani saya saat ayah, ibu atau siapapun sedang membacakan saya cerita-cerita yang saya minta. Sampai 15 tahun kemudian saya "bertemu" dengan Woody, Buzz Lightyear dan kawan-kawannya. Karakter mainan milik Andy yang loyal pada pemiliknya itu. Perjumpaan pertama menggelitik saya untuk berpikir dan berandai-andai jika mereka benar-benar memiliki perasaan dan kegelisahan....seperti yang ditunjukkan oleh Woody dkk nya tersebut. 

15 tahun kemudian alias di tahun 2010 ini saya menemukan fakta lain dari para mainan ini. Kesadaran bahwa "Segalanya akan berakhir di suatu hari nanti," juga mereka "miliki. Saat Andy beranjak dewasa dan mulai mengepaki barang-barangnya demi kebutuhan lain yang lebih sesuai bagi usianya, inilah hari akhir bagi Woody, Mr-Mrs Potato, Buzz Lightyear dkk. 

"Kita tak pernah meninggalkan dunia kanak-kanak, sebaliknya kita justru selalu berusaha melupakannya," tulis sebuah buku psikologi yang saya baca hanya saat mengerjakan skripsi saya dulu. Andy pun demikian, situasi kampus dan kedewasaan yang diminta oleh sekelilingnya membuat dirinya "berusaha keras" meninggalkan segala kesenangan yang ia miliki di masa sebelumnya "Bawa yang penting-penting saja nak," ujar sang ibu saat membantu Andy mengepaki barang-barangnya. Tentu saja salah satu penekanan di kalimat ini adalah para mainan yang memang secara kasat mata hanya dimainkan oleh anak-anak.

Dengan cerdas Toy Story 3 lalu membawa penonton pada situasi psikologi yang dirasakan oleh para mainan ini. Situasi yang dialami oleh orang-orang yang ditinggalkan karena memang sudah masanya harus menyingkir. Saya lalu teringat pada ayah saya yang kini sudah pensiun, atau bapak saya almarhum yang jauh jauh jauh sekali dulu sudah pensiun. Dua lelaki yang menjelas habis masa baktinya selalu bercerita tentang segala pencapaian mereka di masa lalu. Saya mendengarkan keduanya dengan cara berpikir yang berbeda. Bapak saya almarhum "menceritakan" kegelisahannya saat saya masih sangat muda, sementara ayah saya bercerita saat saya sudah mulai memasuki usia matang untuk mendengarkan kegelisahannya tersebut.

Seperti Woody yang tetap percaya bahwa Andy masih membutuhkan dirinya, ayah saya pun masih rajin datang ke kantornya di masa-masa awal pensiunnya sembari berkata pada saya "Kalo bukan karena papah, mereka bisa kacau," kalimat yang semakin saya pahami saat Woody pun mengalami kegelisahan yang sama.....bahwa tanpa dirinya, Andy akan kesepian. Padahal kesepian apa yang bisa dialami oleh Andy? Teman-teman baru yang bermunculan, gadis-gadis manis di asrama atau pesta satu ke pesta para remaja adalah hiburan baginya seperti yang dialami oleh remaja-remaja lainnya.

selanjutnya di http://www.andibachtiar.com/?p=604

 


Tag: pixar, Toy Story 3

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
Waktu kecil saya jarang banget dibeliin mainan kak... huaaaa... *nangis bombay!*

Silahkan login untuk memberikan pendapat