Sebuah Tribute Yang Menyenangkan 2
Selasa, 13 Jul '10 13:53
"Terminator, Predator dan Carok adalah 3 film yang membuat saya berkata 'gua musti bikin film'," demikian jawab saya pada semua pertanyaan tentang film apa saja yang paling menginspirasi saya. Saya tidak pernah menyebut segala masterpiece yang telah diciptakan oleh sineas-sineas legenda mulai dari Francis Ford Coppola, Steven Spielberg sampai Giuseppe Tornatore untuk menyebut film yang paling memicu saya untuk berkarya.
Masa kanak-kanak saya dekat dengan banyak hal yang berurusan dengan kelas bawah. Keluarga saya bukanlah datang dari keluarga yang berpendidikan tinggi, ayah dan ibu saya nyaris tidak mengerti bahasa asing apapun dan di saat saya kecil, keduanya masihlah lulusan SMA. Ibu saya menggemari segala hal yang berbau sinema India, ia memuja Shashi Kapoor dan Vinod Khanna yang ganteng-ganteng itu, sementara ayah saya adalah anak muda yang menggemari aksi kekerasan di dalam film. Ia pun sering menyebut dirinya mirip Charles Bronson, legenda film aksi Hollywood.
Maka dekatlah saya dengan film aksi dan sinema Bollywood. Saya memuja Franco Nero si Django dan tentu saja Clint Eastwood yang jago tembak itu di seri-seri koboinya sampai ke Dirty Harry. Di usia sekitar 8-10 tahun saya menemukan jagoan baru saya....Sylvester Stallon, Arnold Schwarzenegger dan Barry Prima. 3 orang yang terus membuat saya merengek-rengek untuk pergi ke bioskop melihat aksi-aksi heroik merea yang tak ada matinya itu.
Tentu saya menonton Terminator bukan karena James Cameron, siapa lha Jame bagi saya saat itu? Mana penting buat saya sutradara, yang terpenting adalah sang bintang utama yang mengagumkan, yang tak ada matinya itu dan dia adalah Arnold dalam bentuk Terminator T800. Saya terkesima melihat film ini dan tak pernah berhenti berucap "Film kayak gini yang suatu hari musti gue buat,"
Referensi yang kemudian membawa saya ke Commando setahun kemudian dan tentu saja Predator di tahun berikutnya. Inilah film aksi yang paling menakutkan bagi saya. Saat itu saya menduga akan menyaksika aksi tembak-tembakan di hutan (opening filmnya juga kayak gitu) tapi nyatanya saya disuguhi pembantaian yang dilakukan oleh makhluk tak terlihat.....dan ketika terlihat berbentuk tinggi, besar dan bagai tak terkalahkan. Makhluk dari angkasa luar yang sangat modern, berteknologi tinggi tapi tetap tribal dan kejam. Arnold sang jagoan saya yang tak terkalahkan itu dibuatnya bagai manusia lemah tak berdaya di hadapannya. Ia terpaksa kabur dan berlari menghindari kejaran si Predator sembari melihat anggota pasukan elitnya yang serem-serem itu terbunuh.
Predator karya John Mc Tiernan adalah sebuah karya monumental. Bagi saya apa yang ia capai mampu menyamai apa yang telah diperbuah dwilogi Godfather karya Francis Ford Coppola atau Apocalypse Now karya Sutradara yang sama. John sangat cerdas mengalirkan kisah ini dan memberi rasa seram dan tegang pada saya (setidaknya saya deh) yang terus bergidik melihat tentara elit bertubuh kekar dan menakutkan ini menjadi ketakutan dan dibunuh dengan sangat sangat kejam untuk ukuran film aksi masa itu. Kematian menjadi sangat menakutkan pada Predator. Untuk pertama kalinya saya menjadi ngeri melihat darah yang muncrat dari dada yang terbelah pada film ini.
23 tahun kemudian saya kembali ke bioskop dengan rasa antusiasme luar biasa untuk menyaksikan Predators karya Nimrod Antal, anak emas dari Hongaria, Sutradara yang namanya terus disebutkan oleh anak-anak muda penggila film di Hongaria sana. Tentu saya tidak berharap akan menyaksikan sebuah masterpiece baru lewat karya ini, karena saya sudah tahu seperti apa bentuk si Predator, sekejam apa dia dan semodern apa makhluk ini. Saya bahkan sudah tahu bahwa si Predator yang memiliki budaya berburu ini pada ujungnya juga akan kalah oleh si protagonis.
selengkapnya di http://www.andibachtiar.com/?p=592
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Good Take
-
sabai: Good Take
-
JuliaJessicaJennifer: Informatif

Komentar:
ntar siapa ya yang bikin tribute buat Romeo Juliet (2008)?
Silahkan login untuk memberikan pendapat