3 HATI, DUA DUNIA, SATU CINTA 6

Minggu, 20 Jun '10 22:19

Jenis Film: Drama, Keluarga, Remaja
Tanggal Rilis: 1 Juli 2010
Produksi: Mizan Production.

Pemain: Reza Rahadian, Rasyid Karim, Laura Basuki, Arumi Bachsin, Henidar Amroe, Robby Tumewu, Ira Wibowo
Sutradara/Penulis: Benni Setiawan
Produser: Putut Widjanarko, Haidar Bagir, Bakhtiar Rakhman.

Reza Rahardian aktor muda berbakat yang pernah berperan sangat baik sebagai Zein dalam film Emak Ingin Naik Haji, tampil lagi di layar lebar. Kali ini dia berperan sebagai Rosid dalam film 3 Hati, Dua Dunia Satu Cinta. Sebuah film yang diadaptasi dari dua novel The Da Peci Code dan Rosid dan Delia karya Ben Sohib.

Di film yang disutradari Benni Setiawan ini, peraih penghargaan pemeran pria utama terbaik dalam ajang Indonesia Movie Award itu dipasangkan dengan Laura Basuk yang berperan sebagai Delia. Film yang akan beredar di bioskop-bioskop dalam negeri pada 1 Juli nanti ini bercerita tentang kisah cinta antara Rosid dan Delia.

Jalinan cinta antara Rosid dan Delia terjadi kala mereka masih menjadi mahasiswa di sebuah kampus. Ketertarikan antara Rosid dan Delia bermula dari karakter yang dimiliki masing-masing. Rosid adalah pemuda nyentrik dengan rambut kribo yang ingin menjadi penyair. Sedangkan Delia adalah pemudi manis dan cenderunt pendiam yang kepincut dengan syair-syair Rosid.

Namun cerita cinta keduanya terhalang jurang yang tidak bisa merka lalui. Mereka berbeda agama. Rosid berasal dari keluarga Arab-Betawi Muslim yang kuat memegang kuat tradisi. Dan dalam diri Delia mengalir darah Manado yang Katolik. Cerita makin dramatis ketika orang tua mereka tidak menyetujui jalinan cinta terlarang itu.

Ketika ditawarkan untuk berperan sebagai Delia, Laura Basuki langsung menerima tawaran tersebut. Bagi dara kelahiran Berlin, 9 Januari 1988 ini, cerita dalam film yang diproduksi Mizan Production itu sangat menarik dan masih jarang diangkat ke layar lebar. Ditambah cerita dalam film ini jelas tidak menyudutkan satu agama tertentu.

Selama terlibat dalam proses syuting, Reza dan laura saling memberikan pujian satu sama lain. Bagi Reza, Laura adalah aktris muda yang cantik dan berbakat. Makanya Reza begitu nyaman saat syuting adegan per adegan bersama Laura. Lain Reza, lain pula Laura. Bagi laura dipasangkan dengan Reza adalah kesempatan pertamanya. Dan Laura sangat menikmati berduet dengan Reza dalam film ini.


Tag: 3 hati dua dunia satu cinta

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kucingsapi™ 0 0
eh review film ini berasa artikel di koran2 maupun situs berita ya.... sampe bisa tahu tentang Laura dan Reza kalo saling puji.... : o
Si Nila 0 0
Eh iya sorry, lupa ngasih tau kalau tulisan ini bukan REVIEW tapi Release..
AndriaGutama 0 0
Laura Basuki: ))
Angga Scofield 0 0
tapi kenapa KRIBO...???
Si Nila 0 0
Sudah menonton film 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta produksi Mizan Productions? Film ini berkisah tentang seorang lelaki muslim dan gadis Katolik yang jatuh cinta dan berencana untuk menikah. Namun, kedua orang tua mereka menentang keras. Orang tua mereka tidak setuju, karena menurut keyakinan yang dianut, menikah beda agama tidak legal, alias haram.

Sepasang kekasih tersebut, yang diperankan oleh Reza Rahardian sebagai Rosid dan Laura Basuki sebagai Delia, kemudian berusaha mencari cara agar hubungan mereka disetui orang tuanya. Mulai dari menggugat dasar filosofis alasan pelarangan nikah beda agama. Kalau manusia di mata Tuhan sederajat, mengapa dikotak-kotakkan ke berbagai agama dan dilarang menjalin cinta? Jangan-jangan Tuhan diskriminatif kepada manusia? Atau manusianya yang salah menafsirkan kehendak Tuhan?

Pertanyaan-pertanya an seperti itulah yang diajukan oleh Rosid dan Delia. Tapi, orang tua mereka bergeming. Mereka kekeh dengan pandangan bahwa menikah harus dengan yang seagama.Bahkan, merekalah yang gentian mencari cara agar putra-putri mereka berpisah.

Sampai di titik ini, sebenarnya film ini bagus dan memperkenalkan gagasan pluralisme dan nikah beda agama. Tapi, akhir cerita yang membuat sebagian orang kaget. Bachtiar Effendy, intelektual muslim, dalam acara diskusi film ini di Pondok Indah Mall 10 Juli 2010 lalu, mengatakan bahwa akhir dari cerita film ini kurang berani, terlalu lembut dan moderat. Akhir kisahnya dianggap tidak tegas. Sebaliknya, pihak dari Mizan Productions justru melihat ending dari film itu sebagai konsistensinya dari sikap toleran, menghargai kebebasan beragama dan tidak memaksakan sesuatu kepada orang lain. Film ini, menurut Mizan, justru mengedepankan sikap-sikap toleran.

Mana yang benar? Benarkah film ini menunjukkan bahwa kini Mizan telah menjadi pluralis, liberal dan mendukung pernikahan beda agama? Atau sebaliknya, film ini justru mempropagandakan dakwah Islam dan tidak setuju dengan nikah beda agama?
jim96 0 0
karena nunggu nonton gratisan di tipi swasta, akhirnya nonton juga.

sebagai film adaptasi, eksekusinya termasuk baik. drama yg sedikit terseret ke komedi katanya para reviewer. setidaknya benni setiawan sudah terasah kemampuannya setelah menggarap beberapa film sebelumnya. sehingga hasil kerjanya di sini begitu enak dinikmati.

karena saya tidak membaca novel aslinya, jadi saya tertarik dengan film ini karena unik dan berani mengangkat:

* istikharah sebagai pedoman untuk pengambilan keputusan. biasanya film begitu klasik terombang-ambing dalam masalah hati. sementara film bernuansa agama tidak cukup detil untuk menyentuh hingga solusi istikharah. hal ini menunjukkan kedalaman riset/pengetahuan baik oleh penulis novel maupun pekerja filmnya.
* penggambaran subkultur keturunan arab dengan stereotipe berlabel pedagang, penganut islam yg kuat, termasuk juga 'tipu-menipu' yg lazim dilakukan : p ... cukup berani mengangkat, meskipun tidak mengherankan karena novelnya ditulis dari lingkungan dalam keturunan arab sendiri, alias menertawakan diri sendiri.

dibandingkan dengan film2 lain yg ditayangkan hampir bersamaan di tipi swasta lain dalam rangka maulid nabi muhammad, keliatan sekali 3 hati ini sangat menonjol dalam hal pengungkapan ide. didasari oleh kedalaman pengetahuan dan dipoles dengan cara tutur yg baik dan tidak menggurui. tidak perlu berkhutbah hingga mulut berbusa tapi tidak menyentuh hati.

setidaknya film ini tidak mengecewakan penggemar novelnya sebagaimana beberapa novel laris yg diangkat ke layar lebar.

yg jelas jempol dulu untuk benni setiawan. meskipun sayangnya kompetisi di FFI kurang mantap karena hanung tersingkir dari nominasi. mungkin apresiasi film indonesia tidak cukup hanya satu penghargaan, masih ada penghargaan lain di indonesia movie award (misalnya).

menanggapi keputusan membuat ending yg sedikit mengecewakan, sepertinya berkaitan erat dengan aliran si penulis novel sekaligus sikap moderat yg ingin ditonjolkan oleh penerbit Mizan. karena toh film ini bukan karya pribadi benni. meskipun kritik yang disampaikan dalam novel begitu keras, tapi hasil akhirnya masih tetap patuh pada pakem yg ada. sebagaimana quote dari tokoh yg diperankan haddad alwi,

"apakah kamu sudah memiliki pengetauan agama yang cukup untuk memilih (menikahi wanita berbeda agama)? saya saja yang lebih senior belum berani untuk menganjurkan (untuk menikahi wanita berbeda agama)"

jadi memang sikap dasarnya adalah main aman.

Silahkan login untuk memberikan pendapat