This Is It, Kesempurnaan Sang Legenda 0
Selasa, 15 Jun '10 12:02
Saya pernah membaca sebuah ungkapan yang kurang lebih berbunyi "Persiapan sebuah pesta, terkadang jauh lebih meriah daripada pestanya sendiri".
Saya sendiri sepakat dengan ungkapan tersebut. Pesta atau acara apapun yang kita tentu lebih panjang durasinya. Hari-H biasanya hanya berlangsung 1 hari, sementara untuk mempersiapkan 1 hari itu dibutuhkan waktu berbulan-bulan agar jangan sampai ada kesalahan, menggarap beragam detail, menyatukan karakter masing-masing dan menumbuhkan kekompakan dalam bekerjasama. Saya rasa disinilah "makna" kemeriahan yang dimaksud.
"This Is It" film dokumenter tentang persiapan konser Michael Jackson berjudul sama yang dirilis akhir 2009 lalu benar-benar merefleksikan ungkapan di atas. Sayangnya sebelum "pesta" itu digelar, Michael Jackson sudah meninggalkan dunia ini.
Selama sekitar 2 jam, kita akan disuguhkan dokumentasi persiapan konser "This Is It" yang sedianya dilaksanakan di London bulan Juni tahun 2009. Mungkin film dokumenter ini berbeda dengan film dokumenter lainnya, karena cuplikan wawancara yang biasanya cukup kental di film-film dokumenter lainnya muncul sedikit sekali di film ini. Bisa dimaklumi karena pada awalnya Kenny Ortega sang sutradara hanya berniat untuk mendokumentasikan persiapan konser ini dalam bentuk dokumentasi pribadi tim persiapan konser, bukan untuk dipublikasikan.
Lupakan banyaknya hal yang kontroversial semasa hidup MJ, suguhan dari "King Of Pop" ini menyadarkan saya bahwa dia adalah sejatinya entertainer, penghibur yang dengan niat bulat memberikan yang terbaik untuk penggemarnya. Menyanyi, menari, akting, tata panggung, musik dan video yang menjadi latar setiap lagunya dalam konser semuanya dipersiapkan dengan detail. Dalam film ini kita akan menyaksikan persiapan MJ menyanyikan lagu-lagu dari repertoirnya, dan setiap lagu akan disajikan versi dua latihan dan versi gelada resiknya, dimana dalam versi geladi resiknya, bisa dikatakan 90 % lagu-lagu tersebut siap dimainkan, lengkap dengan penari yang mengiringi MJ, video latar, tata panggung beserta efek-efeknya.
Sesungguhnya saya bukan penggemar MJ, namun memang saya memang menyukai sebagian besar lagu-lagunya. Dengan menonton "This Is It" ini adalah sebuah penegasan bahwa legend musik seperti MJ sangatlah langka, di tengah industri musik semakin kompetitif ini ada berapa banyak sih musisi yang melakukan kegiatan bermusiknya dilandasi kecintaannya terhadap musik? Saya pernah membaca di sebuah majalah musik lokal, wawancara dengan seorang produser musik beberapa band ternama, ia mengungkapkan bahwa musisi sekarang, khususnya band banyak ingin yang serba instan membuat album dan merilisnya. Ini masih ditambah lagi jumlah kontes pencarian bakat, yang sebagian besar basisnya adalah mencari bakat menyanyi. 2-3 bulan mereka sudah bisa dikatakan artis. Saya bukannya tidak menyukai penyanyi jebolan kontes tersebut, banyak dari mereka yang bisa dikatakan punya kualitas "bintang", sayangnya totalitas adalah satu hal yang kebanyakan musisi kita belum dimiliki. Maka kita akan lihat si A nyanyi dan main sinetron, si B nyanyi dan main film plus presenter. Wajar memang, tapi bicara totalitas adalah bicara kesempurnaan persembahan sebuah karya kepada publik, dan menurut saya artis kita yang masih bercabang seperti itu belum bisa dikatakan total berkarya pada publik, khususnya fansnya, itu tidaklah semata karena popularitas yang berujung pada uang.
Kembali kepada MJ (maaf kalau sedikit melenceng sebelumnya). Momen-momen dalam film ini menunjukkan MJ melakukannya karena kecintaannya terhadap musik. Oke mungkin pada awalnya dia dipaksa oleh ayahnya agar terjun ke dunia musik bersama saudaranya dalam Jackson 5 / The Jacksons. Namun lihat bagaimana perjalanan karirnya, aksi-aksinya di panggung yang selalu spektakuler dan energik seolah menyampaikan "Yeah, I'm love doing this!". Love the music, love the work. Itu yang ingin ditegaskan oleh MJ, dalam film ini pun hal ini diungkapkan langsung. Satu contoh, ketika usai latihan pada lagu "I Want You Back", MJ merasa kurang nyaman dengan suara di earphone-nya yang terlalu keras. Kemudian ia berkata "I'm trying to adjust to the ear, the inner ear okay? With the love, with the love. L-O-V-E" MJ menginginkan kesempurnaan, meski itu baru latihan, ia memperhatikan setiap detail dan ingin semua itu dilakukan atas dasar kecintaan terhadap musik, terhadap apa yang setiap anggota tim kerjakan. Beberapa improvisasi aksi, seperti membakar jaket, bagaimana musik harus berhenti, improvisasi vokal juga sering dilontarkan MJ kepada band pengiring, penari atau Kenny Ortega. Hal itu bukan menunjukkan keangkuhannya, justru dia nampak sebagai artis yang kreatif dan benar-benar paham apa yang ingin ditampilkan pada penonton. MJ juga tidak berusaha menjadi menampilkan "One Man Show" meskipun ini adalah konser tunggalnya. Seperti yang dikatakannya pada gitaris band pengiringnya Orianthi Panagaris. Ia memberikan saran bagaimana sebaiknya melodi penutup dari gitarnya itu dimainkan "When they stop, you have to just keep.. just hit your highest note... It's time for you to shine".
Dalam usia yang sudah 50 tahun-an, MJ masih mampu menyanyi sambil menari. Padahal menyanyi dengan tarian yang begitu banyak ragam gerakannya sangatlah tidak mudah. Dibutuhkan nafas yang panjang. Sementara kita tahu sendiri, MJ tidak pernah fals dalam menyanyikan lagu-lagunya. Nafasnya tetap teratur dan ritme serta temponya terjaga, momen-momen dalam film ini menunjukkan itu. Menonton film ini adalah menonton sebuah suguhan pencapaian akan kesempurnaan, kecintaan terhadap musik, passion akan pekerjaan kita.
Tag: Michael jackson, Kenny Ortega, Konser This Is It
Terkait:
-
Ada Indonesia di We Are The World 25 for Haiti
Minggu, 14 Feb '10 20:35 -
This Is It : MJ's last action
Jumat, 20 Nov '09 08:07

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat