Sekilas Sinema Indonesia 10 Tahun Terakhir (2000-2010) 6

Sabtu, 12 Jun '10 23:44

Catatan:

- List di bawah ini bisa berubah kapan saja
- List di bawah ini bersifat subyektif

- O -

10 Film Terbaik Indonesia 2000-2010

10. Laskar Pelangi (2008)

Film Indonesia mana yang paling mampu menyeimbangi kesuksesan festival dan kesuksesan komersial secara bersamaan? Jawabannya adalah Laskar Pelangi. Saya tidak akan bilang ini film sempurna, atau bahkan film yang bagus sekali - seperti yang para fanatik bilang. Film ini masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan Children of Heaven atau Billy Elliot, misalnya. Namun, kemampuan Laskar Pelangi menyeimbangkan antara mutu dan komersial seharusnya patutlah dijadikan cambuk baik bagi produser film yang keras kepala ataupun dijadikan tombak bagi penonton yang masih gelap mata.

9. Kala (2007)

Tidak banyak film-film suspense yang mampu memberikan pesan lebih di masa modern ini. Padahal, kalau kita lihat ke masa-masa Fritz Lang dan Hitchcock dulu, film-film suspense bermodel noir mereka mampu memberikan nilai-nilai yang membuat film-film tersebut setara dengan pesan yang diberikan judul-judul drama. Joko Anwar, dalam Kala, bisa menyulap potret kondisi bangsa menjadi sebuah latar baru.

8. Under the Tree (2008)

Garin Nugroho adalah sutradara pertama Indonesia yang mampu menembus Cannes dengan filmnya Daun di Atas Bantal. Garin juga termasuk sutradara idealis. Film-filmnya ditayangkan terbatas. Opera Jawa dan Under the Tree hingga sekarang pun belum bisa ditemukan kotak-kotak DVD-nya. Saya rasa keterbatasan film-film Garin memang sesuai dengan kualitas yang dia suguhkan. Under the Tree merupakan film terbaiknya. Film ini bukan hanya menyajikan cerita yang potensial, tapi juga berhasil menyulapnya menjadi sesuatu yang simbolik, artistik, bahkan kultural.

7. Berbagi Suami (2006)

Nia di Nata, sutradara yang kerap kali membawa masalah perempuan ke layar bioskop, mengusung kritik-kritik soal poligami di film ini. Sebuah kemajuan yang patut dijempoli di masa kekrisisan mutu film Indonesia. Saya heran, dari sisi mana film ini bisa dikalahkan Ekskul di ajang Piala Citra?

6. Mereka Bilang Saya Monyet! (2007)

Tidak banyak sineas Indonesia yang mau bercerita dengan cara yang tidak-pop dalam filmnya. Sebut saja salah satunya Garin Nugroho yang kerap memberikan simbolisme-simbolisme (yang bisa membuat dahi berkerut kalau tidak menyimak). Wajar saja, gaya bercerita di luar mainstream rentan dijauhi penonton lokal. Termasuk juga filmnya Djenar Maesa Ayu yang satu ini. Film ini penuh dengan metafora-metafora, seperti pembukaan dengan narasi bertabur majas, penggambaran pelecehan seksual Adjeng kecil dengan lintah, hingga ending yang sangat nyastra sekali.

5. fiksi. (2008)

Skenario film ini tidak lain dibesut oleh Joko Anwar. Jelas sekali di film ini kita bisa merasakan perpaduan skenario barat bercampur suasana timur (terasa nuansa film-film Korea di sini). Layaknya Kala, thriller psikologis yang satu ini tidak berisi tegang-tegangan semata. Lebih dari itu, kita bisa melihat pergulatan sirkus kehidupan yang unik di dalam Fiksi.

4. 3 Doa 3 Cinta (2008)

Dari sekian banyak judul-judul (yang katanya) mengangkat persoalan Islam. Film ini lah yang paling jujur dalam berbicara. Tidak seperti film-film Islam bikinan Indonesia lainnya yang tampil serba sempurna, film ini justru tampil sederhana. Realisme di film ini patut diacungi jempol.

3. Impian Kemarau (2004)
(Posternya tidak saya temukan di Google)
Sangat disayangkan, tidak banyak yang kenal judul film besutan Ravi Bharwani (sutradara India (?) - Jermal). Padahal film ini berhasil mengalahkan sembilan judul film lainnya di sebuah ajang di Shanghai. Wajar saja kalau film ini dilecehkan oleh penonton-penonton lokal. Format film ini setipe dengan Mereka Bilang Saya Monyet!, Pasir Berbisik dan Under the Tree, menggunakan metafora-metafora tajam dalam menyampaikan ceritanya. Impian Kemarau adalah sebuah kisah mengenai tiga manusia, dengan tujuan hidup masing-masing, yang berinteraksi di sebuah desa yang tandus dan kering.

2. Pasir Berbisik (2001)

Kalau ditanya film apa yang paling berhasil bercerita dengan gambar. Film ini lah jawabannya. Dari sekian banyak judul yang keluar selama 2000-2010, film ini adalah film Indonesia dengan bahasa gambar terbaik. Tiap-tiap adegan di film ini berbicara.

1. Jermal (2009)

Film ini dibikin oleh Ravi Bharwani (sutradara India yang menelurkan Viva Indonesia, dan Impian Kemaru) bersama dua co-sutradara lainnya. Film ini memang bukan murni produksi Indonesia. Sebagian besar biayanya memang didapat dari negara-negara lain. Ironis bukan? Film bernuansa lokal yang bermutu malah dibiayai oleh negara lain? Film ini tidak bisa diikut sertakan dalam Piala Citra karena dianggap bukan produksi Indonesia. Masih ingat Chrouching Tiger, Hidden Dragon, film mandarin yang masuk nominator film terbaik Oscar, atau La Vitta Bella, dari Itali yang juga masuk nominator film terbaik Oscar. Bayangkan kalau Jermal masuk jajaran nominator Piala Citra.

Judul-judul ini memang tidak masuk urutan 10 besar terbaik, tapi bolehlah dibilang patut dipertimbangkan:
- Ada Apa Dengan Cinta?
- Arisan!
- Biola tak Berdawai
- Claudia/Jasmine
- Eliana, Eliana
- Gie
- Janji Joni
- May
- Minggu Pagi di Victoria Park
- Nagabonar jadi 2
- Radit dan Jani
- Ruma Maida
- Pintu Terlarang
- The Photograph

- O -

10 Penampilan Terbaik Indonesia 2000-2010

Wanita:
10. Cut Mini (Laskar Pelangi)
9. Shanty (The Photograph)
8. Aty Cancer Zein (Emak Ingin Naik Haji)
7. Ladya Cheryll (Fiksi)
6. Widyawati (Perempuan Berkalung Sorban)
5. Dina Olivia (Mengejar Mas-mas)
4. Titi Sjuman (Mereka Bilang Saya Monyet!)
3. Henidar Amroe (Mereka Bilang Saya Monyet!)
2. Christine Hakim (Pasir Berbisik)
1. Dian Sastrowardoyo (Pasir Berbisik)

Pria:
10. Yayuk Aw Unru (Jermal)
9. Nicholas Saputra (Gie)
8. Albert Fakdawer (Denias, Senandung di Atas Awan)
7. Vino G. Bastian (Radit dan Jani)
6. Reza Rahardian (Emak Ingin Naik Haji)
5. Reza Rahardian (Perempuan Berkalung Sorban)
4. Deddy Mizwar (Nagabonar jadi 2)
3. Iqbal S. Manurung (Jermal)
2. Yoga Pratama (3 Doa 3 Cinta)
1. Didi Petet (Jermal)

- O -

10 Sutradara Terbaik Indonesia 2000-2010

- Ari Sihasale (King; Tanah Air Beta)
- Djenar Maesa Ayu (Mereka Bilang Saya Monyet!; SAIA)
- John de Rantau (Mencari Madonna; Denias, Senandung di Atas Awan)
- Joko Anwar (Janji Joni; Kala; Pintu Terlarang)
- Lola Amaria (Betina; Minggu Pagi di Victoria Park)
- Garin Nugroho (Puisi tak Terkuburkan; Layar hidup: Tanjang priok/Jakarta; Aku Ingin Menciummu Sekali Saja; Rindu Kami Padamu; Serambi; Opera Jawa; Generasi Biru; Under the Tree)
- Nan Triveni Achnas (Pasir Berbisik; The Photograph)
- Nia diNata (Ca-Bau-Kan;Arisan; Berbagi Suami; Perempuan Punya Cerita)
- Ravi Bharwani (Viva Indonesia; Impian Kemarau; Jermal)
- Riri Reza (Petualangan Sherina; Eliana, Eliana; Untuk Rena; 3 Hari Untuk Selamanya; Laskar Pelangi; Takut; Drupadi; Sang Pemimpi)

 

 


Tag: Iseng-iseng

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

santador 0 0
Wow, yang pernah ditonton cuma Laskar Pelangi dan (mungkin, udah lupa) Pasir Berbisik.

Film Indonesia, yang bagus2 kayanya seperti jarum di tumpukan jerami.

Box Office!
ima an 0 0
nice post !!!!

Under the tree by garin aku belum nonton, pengen banget nonton film ini, dan yang belum aku tonton lainnya:
May
Ruma Maida
Mereka Bilang Saya Tampan


kalo boleh nambahin list "patut dipertimbangkan" diatas:
Rindu Kami Padamu
Perempuan Punya Cerita
Cin(T)a
kucingsapi™ 0 0
penasaran sama under the tree dan drupadi, di mana saya bisa nonton filmnya ya? ada yang tahu info pemutarannya kah?
Haris Fadli 0 0
Yep, setuju kalau Cin(ta) dimasukkan. Dan 3 Hari Untuk Selamanya juga worth to mention, meski untuk 10 besar sepertinya sih tidak. Dan tentu saja Sang Pemimpi, secara pencapaian teknis, it's better than Laskar Pelangi
Rijon 0 0
Haris Fadli: But the thing is not just about techical stuff, isn't it? Kalau yang dinilai cuma dari segi teknis, "Transformer 2" pun sangat mumpuni dri segi teknis, tapi toh tidak dilirik Oscar sama sekali kan?
Rijon 0 0
Haris Fadli: But the thing is not just about techical stuff, isn't it? Kalau yang dinilai cuma dari segi teknis, "Transformer 2" pun sangat mumpuni dri segi teknis, tapi toh tidak dilirik Oscar sama sekali kan?

Silahkan login untuk memberikan pendapat