A Map For Saturday: Film Dokumenter Mengangkat Sisi Humanisme Backpackers 14
Sabtu, 12 Jun '10 09:28
Siapa sih yang nggak pengen jalan-jalan keliling dunia? Siapa sih yang nggak pernah denger istilah backpacker? Gimana ya, rasanya jadi backpacker?
A Map for Saturday, film dokumenter perjalanan yang dibuat oleh Brook Silva-Braga, seorang backpacker asal New York, membawa kita untuk melihat sisi humanisme dari seorang backpacker. Menonton film yang pernah memenangkan cukup banyak penghargaan ini membawa kita untuk seolah ikut serta dalam kehidupan seorang backpacker, merasakan suka-dukanya, dan membuat saya pribadi "terbuka pikiran" tentang apa itu aktivitas backpacking yang sesungguhnya.
Cerita berawal dari Brook, pekerja kantoran yang akhirnya memutuskan berhenti kerja karena bosan dengan rutinitasnya. Dia membuat keputusan yang cukup membuat kaget keluarganya: bepergian keliling dunia dalam waktu satu tahun!
Brook pun harus mengalami masa-masa transisi. Apa yang backpacker rasakan ketika mereka pertama kali hendak bepergian. Perasaan ketika dilepas oleh keluarga dengan linangan air mata haru di bandara, merasakan kesendirian, dan menghadapi masa-masa sulit.
Di Sidney, Australia, tujuan pertamanya, Brook bertemu dengan sesama pejalan yang "bernasib sama". Karena merasa senasib ini, mereka kemudian dekat dan akhirnya menjadi akrab. Mereka bahkan memutuskan untuk bepergian bersama, bahkan terjadi hubungan asmara antara Brook dan Sabrina, perempuan pejalan dari Jerman.
Apa arti pertemanan bagi para backpackers? Sebuah pertemanan erat namun sangat singkat. Kau bisa berteman dengan A saat ini, menuju ke suatu tujuan, kemudian berpisah di persimpangan, berjalan sendirian, dan bertemu orang yang berbeda, dan situasi kembali berulang. Bahkan hubungan asmara antar sesama pejalan pun demikian.
Aktivitas backpacking tidak hanya berkunjung ke tempat-tempat eksotis, bersantai-santai seolah setiap hari adalah Sabtu, tapi lebih dari itu. Para backpacker tentu dihadapkan pada berbagai kendala, mulai dari perbedaan budaya, perbedaan bahasa, perbedaan tata krama, cara hidup, dan sebagainya.
Para backpacker dituntut untuk bisa menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitar. Bahkan beberapa orang backpacker terlibat dalam pemulihan akibat bencana tsunami yang melanda Phi-Phi Island, Thailand pada tahun 2004, merasakan sulitnya kehidupan ekonomi dan politik di Nepal, serta bagaimana sulitnya menjaga diri dari ulah para pencopet di Brazil.
Bicara tentang politik, para backpacker juga merasakan dampak dari gejolak politik yang terjadi di negara asal mereka. Beberapa backpacker asal Amerika Serikat, bahkan terang-terangan mengaku berasal dari Kanada. Alasannya, beberapa negara sangat membenci Amerika sehingga berimbas kepada perlakuan kepada para backpackers.
Cerita pun terus berlanjut. Melakukan perjalanan dalam waktu yang lama, memberikan kejenuhan tersendiri. Bertemu muka-muka yang "dikenal" menjadi "kebosanan" tersendiri. Dan yang paling menjengkelkan menurut para backpacker adalah pertanyaan-pertanyaan "standar" macam: kamu dari mana, berasal dari mana, sudah berapa lama bepergian, tujuanmu berikutnya ke mana, dan yang lebih menyedihkan, menanyakan nama adalah urutan pertanyaan nomor kesekian.
Tinggal bersama di dalam hostels, asrama, dan tempat yang memungkinkan terjadi interaksi antar pejalan yang akhirnya menjadikan para pejalan yang tinggal di sana berada dalam komunitas kecil. Sikap peka-peka-acuh, yang artinya pejalan harus peka kapan harus acuh dan kapan harus berinteraksi dan peduli, menjadi sikap yang perlu dipegang.
Namun kehidupan adalah kehidupan. Kehidupan adalah rangkaian dari potongan-potongan adegan yang terjadi berulang-ulang, yang akhirnya menjadi rutinitas. Para backpackers pun menyadari, bahwa perjalanan mereka pun akhirnya menjadi rutinitas. Padahal menghindari rutinitas adalah salah satu alasan para backpacker ini untuk melakukan perjalanan. Pulang, kemudian menjadi tujuan akhir dari seluruh rangkaian perjalanan mereka.
Brook pun akhirnya mengakhiri filmnya dengan cantik. Setelah berkeliling selama setahun ke 26 negara, menghabiskan 20 ribu dolar, Brook akhirnya menemukan arti dari kehidupan itu sendiri. Brook pun akhirnya kembali ke "rutinitas" yang dulunya dia tinggalkan, memulai "perjalanan" baru.
Sesungguhnya hidup ini adalah rangkaian dari rutinitas dan rutinitas yang berbeda.
Tag: dokumenter, backpacker, travel
Terkait:
-
1208 pengunjung ikut meramaikan Malang Film Festival 2012
Selasa, 10 Apr '12 03:18 -
The September Issue: Cool Documentary
Selasa, 21 Feb '12 13:10 -
5 must see movie - traveling edition
Senin, 31 Okt '11 20:02
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
jamur: Good Take
-
warm: Box Office
-
sabai: Good Take
-
moti: Good Take
-
Satoras: Good Take
-
globe: Informatif
-
kniwe: Good Take
-
oksbangs: Informatif
-
JuliaJessicaJennifer: Informatif
-
hailmichaelarndt: Good Take

Komentar:
kapan nih acara ginian di puter di tempat lain
di jogja misalnya ?
Cuma masalah klasik adalah nilai rupiah yg sangat lemat kalo buat bekal traveling keliling dunia daaaaan... masalah VISA!!!
parah emang negeri ini kalo soal Visa, kemana2 kudu bikin. i hate visa application procedure!
nyari DVDnya dimana yaaa?
ntar klo udah di jogja bilang-bilang yak
Sesungguhnya hidup ini adalah rangkaian dari rutinitas dan rutinitas yang berbeda.
tapi menurutku buku LP juga penting buat ngungkap destinasi yg lebih dalam, misal sejarah, tradisi, iklim, dsb. kalo cuma how to get there, what to do, internet udah cukup.
kalo aku, rujukan awal ke wikitravel.org, di situ lumayan lengkap, walau gak sedetil LP.
Silahkan login untuk memberikan pendapat