Minggu Pagi di Victoria Park (2010) 14
Kamis, 10 Jun '10 23:24
TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
SAAT ini saya sedang tertarik menulis tentang dramatisme vs realisme. Mungkin bisa dibilang juga saya lagi pingin sok-sok tahu sebagai penonton ala kadarnya.
Dalam pemahaman saya, sebuah film yang baik, khususnya drama, hakikatnya mampu menyajikan gambaran yang nyata, riil, dan apa adanya. Lantas apa jadinya film yang hanya menampilkan potret nyata? Potret riil? Potret yang tidak dilebih-lebihkan? Atau saya lebih suka menyebutnya (istilah karang-karangan saya sendiri: "film dengan pendekatan realisme" atau singkatnya "film realisme." Hasil film semacam ini bisa dilihat dari nasib beberapa judul yang memang ditujukan festival. Sebut saja: "The Wind That Shakes the Barley," "De battre mon cœur s'est arrêté," "Un prophète," atau dari Indonesia "3 Doa 3 Cinta."
Pernah saya suguhkan"(Ajami) عجمي" ke beberapa teman saya. Ada yang bilang , "Filmnya bikin ngantuk!" Ada juga yang bilang, "Filmnya gak jelas!"
Film realisme tidak laku di pasaran.
Saya pun sadar film realsime memang bukan konsumsi penonton awam pada umumnya. Saya juga sadar, sebagai bagian dari seni yang merupakan media penyampaian pesan, film pun digunakan sebagai media pengeruk uang. Atau singkat saja, film itu juga bisnis. Dan saya rasa, produser film - terutama produser rumah-rumah produksi mayor, jauh lebih sadar dari saya akan hakikat film ini.
Maka tidak cukup sekedar menyajikan gambaran yang nyata, riil, dan apa adanya dalam film. Konflik harus dipoles. Susana harus dipoles. Cerita harus dipoles. Penampilan para pemain pun harus dipoles. Koneskuensi pemolesan-pemolesan tersebut tentunya berkurangnya nilai nyata, riil, sekaligus kesan apa adanya dari film tersebut. Atau singkat saja, pendekatan realisme di film tersebut semakin tipis.
Atau singkatnya, "Untuk laku di pasaran, film butuh dramatisasi."
Tidak ada salahnya sebuah film melakukan dramatisasi. Toh pada kenyataannya, sebagain besar penonton "awam" lebih menikmati dramatisasi ketimbang realisme, sekalipun para wartawan, kritikus terkemuka, bahkan festival hingga penghargaan memuji habis-habisan film realisme tersebut. Bukti nyatanya bisa dilihat jelas di ajang Oscar terakhir ini: "Avatar" vs "The Hurt Locker." Yang mana yang lebih sukses secara finansial?
Dramatisasi pun ternyata tidak selamanya mampu mengangkat nilai komersialitas sebuah film. Bila dramatisasi yang dilakukan sudah overdosis, maka film pun akan terasa overrated dan jelas sekali merusak nilai estetikanya. Sebut saja film-film semacam "Belum Cukup Umur," "Ayat-Ayat Cinta," "18+," dan sebagainya.
Bicara tentang film realisme, untungnya, memang masih ada beberapa sutradara ternama yang nyatanya tidak terbuay rayuan-rayuan finansial dan masih berpegang teguh pada idealisme realismenya. Sebut saja yang paling dikenal, Ken Loach, sutradara dari Irlandia.
Sutradara: Lola Amaria
Pemain:
Lola Amaria
Titi Sjuman
Donny Alamsyah
Donny Damara
Imelda Soraya
Permatasari Harahap
Tanpa saya sadari saya sudah menulis paragraf panjang soal realisme vs dramatisme dan sama sekali belum menyebut-nyebut nasib "Minggu Pagi di Victoria Park." Film ini dibesut oleh Lola Amaria, pemeran "Ca-Bau-Kan." Ini film kedua yang disutradarai Lola Amaria. Film debutannya sebagai sutradara berjudul "Betina," sebuah film surrealisme (bentuk ini tidak saya bahas di sini) yang tidak diedarkan di bioskop melainkan di kampus-kampus.
Berbeda dengan film pertamanya yang surrealisme, tebakan saya sebelum memasuki bioskop tentang film keduanya ini adalah film realisme. Dalam promosinya film ini menjanjikan sebuah gambaran tentang keidupan TKW di Hongkong, wajar saya ekspektasi saya sebuah gambaran realisme yang jujur tanpa poles-polesan di sana-sini. Sayangnya, sebuah adegan pembuka sudah lebih dahulu menyibak ekspektasi film realisme saya. Dialog pembuka itu kentara sekali unsur dramatismenya. Tapi saya tidak kecewa, saya tetap melanjutkan film ini tanpa ada rasa kecewa dari pembukaannya.
Untungnya, semakin film berjalan, dramatisme yang saya rasakan semakin tidak kentara. Film ini semakin terasa riil. Cerita film ini bisa dibilang sangat sederhana. Mulanya saya mengira film ini bakal memaparkan persoalan kekerasan terhadap TKW di Hongkong. Mulanya saya mengira akan muncul adegan majikan menampar TKW, majikan mencambuk TKW, majikan menzinahi TKW, atau sekedar majikan memarahi TKW. Ternyata tidak sama sekali. Garis besarnya, film ini menceritakan tentang pencarian Mayang (Lola Amaria), seorang TKW di Hongkong, terhadap adiknya Sekar (Titi Sjuman) yang juga TKW di Hongkong. Melalui pencariannya ini lah kehidupan TKW yang berbeda sama sekali dari apa yang pernah saya bayangkan digambarkan. Di film ini, TKW tidak digambrkan sebagai pekerjaan yang mengerikan, tidak pula digambarkan sebagai pekerjaan yang tidak layak dikerjakan, Namun, dengan segala kekurangan dan keuntungannya, TKW digambarkan sebagai pekerjaan yang sama saja derajatnya dengan pekerjaan-pekerjaan layak lainnya.
Seperti yang saya bilang sebelumnya, semakin film berjalan, film ini semakin terasa realisme. Mulai dari penampilan. Penampilan Lola Amaria, si pelakon tokoh sentral film ini, lumayan lebih meyakinkan ketimbang penampilannya di film sebelumnya, "Ca-Bau-Kan." Pemain-pemain pendukung lainnya pun tampil cukup natural sesuai dengan porsi masing-masing. Kalaupun ada pemain yang patut dikecewakan, saya rasa cuma Donny Damara yang kadang-kadang tampil dengan gestur tubuh dan ekspresi wajah yang tidak sedap dipandang mata (singkatnya: menganggu). Yang paling menarik perhatian saya, lagi-lagi Titi Sjuman, sekalipun penampilannya di film ini masih kalah dengan pencapaiannya di "Mereka Bilang Saya Monyet!"
Sayangnya masih ada kekurangan-kekurangan kecil di film ini, seperti adegan-adegan yang mubazir. Hingga dialog-dialog yang masih terasa plastik (tidak riil). Sekalipun film ini belum bisa disebut sebuah masterpiece atau maha karya, film ini (dan film sebelumnya: "Betina") memberikan ekspektasi yang cukup menjanjikan untuk karya-karya selanjutnya dari Lola Amaria.[Rijon]
Tag: drama, Film Indonesia, Titi Sjuman, Minggu Pagi di Victoria Park, Lola Amaria
Terkait:
-
Hongkong, TKI, dan Film: Minggu Pagi di Victoria Park
Senin, 14 Jun '10 19:59 -
Sang Penari: Ronggeng Sebagai Penebus Dosa Orang Tua Dan Pengorbanan Cinta
Jumat, 4 Nov '11 07:24 -
Toleransi Beragama
Kamis, 7 Apr '11 11:41
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
moti: Good Take
-
kniwe: Informatif
-
Egar Hamzah: Good Take
-
Haris Fadli: Good Take
-
sabai: Good Take
-
jamur: Good Take
-
babikasur: Informatif
-
tnt: Informatif
-
Taruma: Good Take

Komentar:
dan as we may see.. film2 kayak gini akhirnya nyusruk di bioskop2 (maaf) kelas 2.. sungguh disayangkan.
oya, adegan TKW yg lesbi juga sedikit ganggu sih, cuma gpp masih dimaafkan, karena gue sukaa filmnya hehehee
bener!
too much ado about nothing, di beberapa tempat ya... malah sisi yg menarik, misalnya knp Sekar sampe terlilit utang sebnyk itu gak dikulik.
Masalah Sekar terlilit hutang rasanya dijelaskan sekilas melalui temannya Mayang. Tersirat sih. Itu juga sepenangkapan saya. Yang dialog: Kalau mau jadi TKW harus tahan-tahan nafsu. (Lupa dialog persisnya)
Kalau aku sih nangkepnya Sekar terlilit hutang karena masalah itu.
Anyway, sekalipun film ini masih ada bolong-bolongnya (kekurangan), rasanya tetap patut juga diperhitungkan.
Dan saya bukan TKI. Saya bukan seorang TKI dan tidak pernah "benar-benar" tahu bagaimana rasanya jadi TKI. Jadi wajar saja kalau saya hanya menilai berdasarkan apa -apa saja yang saya rasa ketika menonton di film ini.
Kangmas,, kadang kadang kita mungkin melihat dari luar jendela saja sudah cukup, untuk bercerita tentang isi rumah tetangga kita ?
Saya paham kok kalau kajian film itu bukan cuma sekedar style. Nah, yang saya maksud dengan style itu, ya pendekatan realismenya. Bukan sejauh mana konteks film ini dekat dengan realitanya.
Si apakabar kan mempermasalahkan reaisme yang saya sebut, saya cuma meluruskan kalau "realisme" yang saya maksud di situ lebih ke gaya filmnya.
Begitulah.
Beda dengan Om-Om sekalian yang di profinya bilang "tidak hanya OMONG KOSONG BICARAFILM." Saya masih jauh dari itu (dan belum tentu juga ke situ). Cuma sekedar tukang omong kosong.
Bagi saya, siapapun adalah guru, dan setiap tempat dimanapun adalah sekolah. Mari terus belajar dan rendah hati.
"semoga lekas sembuh !"
demikian kata kata di luar kemasan obat racikan dari apotik
Silahkan login untuk memberikan pendapat