Alice in Wonderland 2
Kamis, 3 Jun '10 19:32
Mimpi . . . kau pejamkan mata . . . pasti akan terlihat masa depan dirimu . . . (Victor Hasiholan)
Alice in Wonderland. Masih kalah bagus sih dibanding Avatar. Menurut saya, Avatar adalah film dengan animasi dan ide paling brilian dari semua film sejenis yang pernah saya tonton. Itulah kenapa, saya agak kecewa ketika film Hurt Locker mengalahkan Avatar di ajang penghargaan Oscar. Tapi, kenapa enggak? Pastilah juri di ajang penghargaan tertinggi untuk dunia perfilman tersebut, mempunyai alasan yang bagus mengapa memilih film Hurt Locker menjadi juaranya.
Alice in Wonderland, bercerita tentang seorang gadis yang masuk ke dalam dunia mimpi di masa kecilnya. Seiring perkembangan usianya, dia sudah mulai melupakan mimpinya, dan meragukan semua impian masa kecilnya.
Memang, saat manusia bertambah dewasa, pikiran logis lebih sering dipakai daripada khayalan tentang impian dan cita-cita. Pikiran manusia dewasa sering dibatasi dengan bisa/tidak, mungkin/tidak, dan logis/tidak. Itulah yang dilakukan Alice saat masuk ke dalam dunia impian masa kecilnya, hingga mimpinya, meragukan siapakah dirinya, apakah dia Alice yang sama atau bukan.
Apa impian kita saat kita masih kecil?
"Aku ingin menjadi presiden" atau,"aku ingin menjadi dokter" atau,
"aku ingin menjadi pilot" atau,
"aku ingin menjadi seorang penulis terkenal, yang mengeluarkan buku best seller, yang mampu menginspirasi banyak orang".
Itu adalah mimpi-mimpi saat usia kita masih 1 digit. Seiring perkembangannya, kita mulai melupakan impian-impian dengan batasan-batasan, kemungkinan-kemungkinan, bahkan mendengarkan perkataan-perkataan yang mematikan impian, yang ironisnya, datang dari orang-orang yang kita sayang, keluarga kita.
Hingga saat impian itu datang menyapa, memberi kesempatan kepada kita untuk memasukinya, pikiran realis dan rasional kita lebih banyak bekerja. Sebenarnya, kita sendirilah yang mematikan impian kita. Mimpi untuk mengubah dunia, mimpi untuk ke luar angkasa, mimpi untuk menyentuh bulan, mimpi menjadi artis, mimpi untuk menjadi menjadi penulis, bahkan mimpi untuk menjadi seorang presiden.
Saat Alice, di film itu, bertemu kelinci yang memakai jas, yang merupakan impian masa kecilnya, yang dilakukannya adalah berlari mengejarnya. Meninggalkan sebuah kenyataan di depannya, dia akan bertunangan. Dia berlari, dan mendapatkannya. Tapi dia mulai ragu saat melangkah dalam mimpinya. Hingga dia sadar akan satu hal :
... yang menentukan hidup dan mimpi-mimpinya, ya dia sendiri. Bukan orang lain. Dan dialah penguasa alam mimpinya.
Apakah saat ini kita masih hidup di dunia mimpi kita? Masih mengerjakan cita-cita kita? Atau sudah mulai meninggalkan dan melupakannya? Hingga suatu hari, impian itu datang dalam sebuah kesempatan, menghampiri, saat kita juga dihadapkan pada sebuah hal lain yang sepertinya lebih realistis dan logis, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita menjadi seperti Alice yang mengejar mimpinya dan meninggalkan hal yang nyata di depannya?
Atau . . . menghiraukannya?
Semoga kita masih bisa bermimpi, masih mempunyai sebuah impian. Bukan sebuah kebetulan, Tuhan, menaruh sebuah harapan dan impian dalam benak kita, saat kita terlelap. Bisa jadi, itulah komunikasi yang Dia lakukan, untuk membisikkan rencanaNya dalam hidup kita. Tapi kembali kepada kita, apakah akan mempercayai dan melakukannya, atau malah melupakan, dan hanya menganggapnya sebagai sekedar bunga tidur kita.
Jangan sampai, saat kita dewasa dan "masuk" ke dalam mimpi masa kecil kita, dunia mimpi kita malah menjadi meragukan siapa diri kita sebenarnya, karena kita tidak mempercayainya.
Jika Alice in Wonderland adalah film Indonesia, dan saya menjadi music scoringnya, saat adegan Alice berperang dengan pikirannya sendiri, berusaha meyakinkan dirinya terhadap mimpi-mimpinya, dan yang bisa dia lakukan terhadapnya, lagu berikut akan saya masukkan ke dalam adegan tersebut.
Ku berjalan,
raih cita,
untuk dunia baru,
di depan mataku.Tak ada ketakutan,
akan gelapnya malam,
fajar 'kan beri arti,
dan sinari dunia.Mimpi 'kan menjadi nyata,
bila 'ku tetap percaya.
Walau rintangan menghalang,
kekuatan masih ada.Kubernyanyi hingga fajar,
cinta dan keyakinanku.
Percaya akan diriku,
mampu jalani hidupku.Kau takkan tahu,
bila tak mencoba,
jalanmu masih panjang...
percayalah.(Gita Gutawa - Meraih Mimpi)
"...karena yang bisa dilakukan seorang makhluk bernama manusia terhadap mimpi-mimpi dan keyakinannya adalah mereka hanya tinggal mempercayainya..." (Donny Dhirgantoro - 5 cm).
PS. Pernah ditulis di ngerumpi
Terkait:
-
The Cherry Project
Rabu, 2 Mei '12 07:44 -
1208 pengunjung ikut meramaikan Malang Film Festival 2012
Selasa, 10 Apr '12 03:18 -
Zhendy Zain: Film Ini Mengubah Hidup Saya
Kamis, 29 Mar '12 15:10

Komentar:
Bagi saya, fantasi terbaik sepanjang masa itu THE WIZARD OF OZ (1930-an), nomor duanya THE THIEF OF BAGHDAD (1940-an)
AVATAR bagus. Tapi tidak orisinil. Kisahnya nyaris 90% mirip DANCE WITH THE WOLVES.
DANCE WITH THE WOLVES menang (kalau gak salah menang) kategori Film Terbaik Oscar (lupa tahun berapa). AVATAR bisa dibilang versi sci-fi dari DANCE WITH THE WOLVES. Saya lebih suka DANCE WITH THE WOLVES ketimbang AVATAR.
Silahkan login untuk memberikan pendapat