Merayakan Sadisme ala Kick-Ass 17
Kamis, 27 Mei '10 10:27
"With no power, comes no responsibility", desis Dave Lizewsky (Aaron Johnson), seorang pemuda tanggung penggemar komik, yang bermimpi menjadi superhero. Jangan salah paham dulu, ini bukan salah satu parodi Spiderman berbujet rendah yang bersaing memenangkan Razzie Awards. Tapi silakan mengingat kembali film Kill Bill, Sin City, The Matrix atau Watchmen, lalu gabunglah menjadi satu. Hasilnya adalah Kick-Ass (2010). Dengan kemasan unik, film ini mengacak-acak paradigma kita terhadap film-film bertema superhero konvensional.
Kick-Ass diangkat dari komik berjudul sama karya Mark Millar dan John Romita, Jr. Uniknya, Marv Films memproduksi film ini bersamaan dengan penulisan komik, karena hak pembuatannya sudah dibeli sejak awal. Film ini rampung tidak lebih tiga bulan sejak komiknya diluncurkan. Strategi yang cukup jitu, karena tidak semua orang sempat mengetahui jalan ceritanya sebelum film diputar. Dalam konteks ini, Kick-Ass bisa dikatakan otentik dan baru.
Syahdan, Dave menjuluki dirinya "Kick-Ass"; nama yang cukup provokatif. "Untuk menjadi superhero hebat, yang dibutuhkan hanyalah optimisme dan sedikit kenaifan," begitu hipotesisnya. Dengan kostum hijau ketat yang dipesannya lewat eBay, ia mulai belajar "terbang" dan meloncat dari gedung tinggi, menelusuri kota untuk "menumpas kejahatan". Dave juga menggunakan penyamarannya untuk mengambil hati cewek pujaannya, Katie Deauxma (Lyndsy Fonseca), dengan cara yang lumayan berliku. Pencarian jati diri pun dimulai.
Sampai di sini kita mungkin masih dibuat tertawa cekikikan melihat aksi-aksi konyol Dave dan teman-temannya. Namun lima menit kemudian, dalam suatu aksi melawan para preman, penonton akan dibuat melongo dengan serangkaian adegan maut yang melibatkan sang pahlawan yang jelas-jelas kesiangan itu. Tanpa sadar, Matthew Vaughn telah menyeret kita ke dalam skema superhero-nya yang mengerikan. Penonton (saya) dibuat "tidak berdaya." Jika Joseph Campbell masih hidup, ia pasti mengutuk dirinya sendiri.
Gambar-gambar close-up penyiksaan, darah bercipratan, golok menancap dari punggu ke dada, atau berondongan peluru tajam menembus otak ditampilkan dengan banal dicampur dengan sumpah serapah, kokain dan dark humor. Masih kurang? Rekam adegan tersebut dan siarkan secara live-streaming via Internet untuk ditonton semua kalangan! Bagi yang bisa sangat menikmati imajinasi paling ekstrem ala Quentin Tarantino terhadap brutalisme pasti akan terkesan dengan Vaughn. Dan untuk antusiasmenya, saya sampaikan rasa salut.
Pakem anti-hero
Jika Clark Kent atau Peter Parker "dibesarkan" oleh headline koran pagi, Dave dalam dandanan Kick-Ass laris di dunia maya. Ia adalah simbol konsumerisme media digital, yang sehari-hari bergelut dengan komputer MacBook, iPhone, dan berinteraksi via jejaring sosial. Seperti halnya Justin Bieber, Dave menjadi terkenal setelah video aksinya diunggah ke YouTube dan disaksikan oleh jutaan orang. Ia segera menjadi Breaking News; replika kostumnya laris di mana-mana; dan ribuan orang antri menjadi teman di halaman MySpace-nya. Kick-Ass adalah "pahlawan" generasi 2.0.
Seperti kebanyakan film adaptasi komik, Kick-Ass juga memiliki resep yang kurang lebih sama: identitas rahasia, topeng dan kostum, dan tokoh jahat. Namun film ini menganut pakem yang bertolak belakang: anti-hero. Kick-Ass terobsesi menjadi superhero, ingin dianggap keren sehingga tidak lagi jadi olok-olok oleh teman-temannya. Chris D'Amico (Christopher Mintz-Plasse), yang menjuluki dirinya Red Mist, juga ingin membuktikan diri bahwa ia bukan anak mami yang dikawal ke mana-mana oleh bodyguard. Sedangkan Damon Macready (Nicolas Cage) alias Big Daddy mencuci otak anaknya, Mindy (Chloe Grace Moretz) a.k.a Hit Girl, agar dapat melampiaskan dendam terhadap geng Frank D'Amico. Dan, oh, sebelum kita sadar bahwa tidak seorang pun di antara mereka yang benar-benar ingin "membela kebenaran dan membasmi kejahatan", kita sudah terlanjur terpesona.
Keempat "pahlawan jadi-jadian" tersebut bertikai satu sama lain dengan cara yang tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya. Tidak banyak yang dapat dilakukan Dave, karena ia memang tidak memiliki kekuatan apa pun. Kick-Ass adalah tumbal dalam pertarungan antara Big Daddy dan D'Amico. Red Mist juga harus mengakui bahwa ia tidak sanggup melawan dominasi ayahnya. Dan di tengah badai kegilaan ini, satu-satunya tokoh yang terlihat waras hanyalah Sergeant Marcus, mantan rekan Damon ketika bertugas sebagai polisi. Marcus-lah yang dulu merawat Mindy ketika Damon masih di dalam penjara. Dan ironisnya, sekarang ia tidak bisa berbuat apa-apa menyaksikan perang terbuka yang berlangsung di depan matanya.
Walaupun sama sekali tidak memiliki kedalaman substansi seperti Kill Bill, Spiderman, atau Crouching Tiger, Hidden Dragon, namun dari segi teknis, Kick-Ass luar biasa rapi. Adegan ketika Hit Girl berkelebat melibas para kacung D'Amigo dengan berbagai macam senjata dan teknik bertarung, terlihat sangat keren dan tanpa cacat. Hit Girl mungkin terinsipirasi oleh film-film action yang diperankan Angelina Jolie (lihat wawancara Moretz di YouTube). Kita sepakat bahwa Kick-Ass justru "dikuasai" oleh gadis mungil ini dan karena perannya tersebut, ia akan menjadi bahan pembicaraan setidaknya untuk lima tahun ke depan, "OK you c*nts, let's see what you can do now!"
***
Kekerasan sebagai bagian dari jualan budaya massa memang tidak bisa disangkal. Hal ini juga bukan barang baru dalam dunia sinema. Tarantino bahkan terang-terangan mengatakan bahwa kekerasan dan darah adalah atraksi terbesar dalam sebuah film. Film ini pun diberi R-rated oleh MPAA, yang berarti tidak sesuai dengan penonton di bawah 17 tahun. Tetapi saya tetap harus mengambil jarak untuk benar-benar memahami apakah kita memang sudah begitu nyaman dengan kekerasan dan sadisme, terlebih jika dilakukan oleh dan terhadap anak kecil, yang bahkan gigi taring-nya pun belum tumbuh! Vaughn mengajak penonton tertawa menyaksikan kekerasan ekstrem yang melibatkan para pemain minor, dan inilah hal yang paling mengganggu ketika menonton Kick-Ass.
Film-film seperti Kick-Ass atau Inglourious Basterds sampai kapan pun akan terus ditonton, karena ia bekerja dalam bawah sadar menjadi sebuah "kebutuhan". Pertanyaan saya: Apakah kita siap mengangkat isu kekerasan, sadisme dan profanitas, lalu membicarakannya di atas sofa ruang keluarga?
Ivan Atmanagara
Tag: Tarantino, action, kick ass, hitgirl, bigdaddy, redmist, sadisme, profanitas, kekerasan, vaughn
Terkait:
-
Scott Pilgrimm vs the World: Sebuah Film Konyol
Rabu, 14 Mar '12 11:28 -
The Raid: Gedebak-gedebuk, Jleb-jleb dan Prok-prok-prok
Rabu, 23 Nov '11 14:07 -
INAFFF 2011 : Immortals (2011) (Opening Movie)
Sabtu, 19 Nov '11 22:56
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Nazieb: Box Office
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take
-
riri: Box Office
-
kucingsapi™: Good Take
-
kniwe: Good Take
-
sabai: Good Take
-
jamur: Good Take
-
Egar Hamzah: Good Take
-
AndriaGutama: Informatif
-
Gambliz: Box Office
-
penjaja popcorn: Good Take
-
Rijon: Informatif
-
Artmeza: Good Take
-
warm: Mencekam
-
Matt Zammy: Good Take
-
kartowidjojo: Good Take

Komentar:
FIlm ini memang bikin speechless. Pertanyaan di Dave itu yang masih terngiang2: "Kenapa tidak ada orang yang mau mencoba menjadi superhero?"
SuperHero Movie jgua seruuu!!
Lilikian de Marco: gw gak kebayang sekuelnya bakal kayak apa.
kurang lebih begitu. so... gimana ya? saya juga udah jatuh cinta sama ini film
Kemudian muncul pertanyaan dari saya, apakah banalitas karya seni akan menular pada penikmatnya?
@gambliz: mudah2an tidak. kalo kita menikmati sadisme dlm kehidupan nyata, wow, kode etik jurnalistik mungkin harus direvisi hehe. we appreaciate kick-ass in its pure artistic value & creativity.
Jadi, pertanyaan : Kenapa tidak ada orang yang mau mencoba menjadi superhero sudah terjawab di film itu, karena jadi superhero itu tidaklah mudah apalagi tanpa memiliki kekuatan super apapun
Gw ga nyangka banget kalau filmnya bakalan sebagus ini, diantara film2 superhero yg lain, ini merupakan yg tersadis, apalagi kebanyakan dilakukan anak kecil..!
Ini film benar2 nendang banget deh!!
tapi kalo nonton polem ini keingetnya ma si quentin tarantino
tapi di Indonesia, itu ndak berlaku. yg berlaku: mobil mewah, cewek cantik, sex, dan menyan!
Silahkan login untuk memberikan pendapat