Kenapa Harus Berharap Banyak pada Film Adaptasi? 14
Rabu, 26 Mei '10 11:55
Sebagai warga baru Bicara Film, saya ingin berbagi pendapat saya tentang film adaptasi selain tentunya salam kenal untuk semua warga Bicara Film lainnya.
Berbicara soal film adaptasi, nampaknya semakin ke sini, jumlahnya semakin banyak saja. Baik itu adaptasi dari novel, komik, game, cerpen dll. Dalam beberapa artikel yang saya baca, ada yang berpendapat bahwa semakin banyaknya film-film adaptasi khususnya Hollywood sebagai "kiblat" dunia perfilman karena berkurangnya kreativitas sineas, entah apakah memang benar kekeringan ide, maka adaptasi menjadi opsi untuk membuat film.
Saya mencoba fokus pada film yang diadaptasi dari novel. Kenapa? Karena biasanya film adaptasi novel ini seringkali menuai banyak protes dari penggemar novelnya, entah karena bagian cerita yang dihilangkan, tokoh yang dihilangkan, bagian cerita yang tidak sesuai dan detail-detail lainnya. Yang mungkin cukup hangat dalam memori penikmat film Indonesia (dan tentunya pembaca novelnya) adalah betapa melencengnya kisah dalam film "Ayat-Ayat Cinta" dibanding dengan novelnya, namun toh tetap saja film ini laris.
Sebenarnya kalau menurut saya, kita tidak perlu punya ekspetasi yang terlalu tinggi terhadap film-film adaptasi. Cukuplah kita menikmatinya sebagai "film" semata, bukan dengan embel-embel "adaptasi". Bagaimana mungkin seorang sutradara bisa mengadaptasi penuh misalnya 600 halaman novel, ke dalam film berdurasi 2 jam? Pasti akan ada bagian yang terpotong, tidak utuh. Lalu bagaimana pula seorang sutradara memenuhi imajinasi setiap pembaca novelnya? Karena sebagai sebuah bacaan tanpa gambar, novel akan membuat pembacanya punya imajinasi yang terekam di otaknya masing tentang ini itu dalam filmnya, dan bukankah imajinasi setiap orang itu berbeda? Sedetail apapun penuturan si novelis.
Sebuah pernyataan menarik dari Andre Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi yang novelnya diadaptasi menjadi dua film. Alasan kenapa ia mau Laskar Pelangi dijadikan film adalah karena sebagai sebuah medium penyampai pesan film punya pasar yang jauh lebih besar ketimbang dalam bentuk novel. Andrea ingin pesan-pesan positif dalam novelnya sampai kepada masyarakat secara lebih luas. Dan bukankah memang novelnya sarat dengan pesan-pesan positif? Padahal kalau dibandingkan, perbedaannya juga ada. Antara lain tokoh guru yang dibuat meninggal dan tokoh guru yang diperankan Tora Sudiro yang tidak ada dalam novelnya.
Berikut saya cantumkan dua film adaptasi novel, yang baik novel mapun filmnya sudah saya konsumsi. Beserta alasan-alasan yang semoga bisa mempertegas bahwa nikmatilah saja ini sebagai sebuah "film", tanpa embel-embel "adaptasi".
1. Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2
Meski sebagai novel, ini merupakan salah satu karya Habbiburahman El-Shirazy yang populer, namun sejujurnya saya lebih menyukai karya lainnya yang berjudul "Dalam Mihrab Cinta". Dengan "Ayat-Ayat Cinta" yang juga punya konflik utama sama seputar laki-laki yang mencari istri, jujur saya harus bilang saya bosan. "Dalam Mihrab Cinta" yang berbentuk novelet, tidak hanya berkisah tentang pencarian istri, tapi mengenai perbuatan baik buruk manusia yang selalu akan dibalas oleh Tuhan (Dalam novelet ini ada tiga cerita).
Mengenai filmnya, untuk adaptasi dari novel memang bagus dan tepat. Saya percaya kok dengan slogan 100% Mesir, yang meskipun tidak di Mesir buat saya juga tidak masalah. Setidaknya novelnya tidak dipelesetkan terlalu jauh seperti "Ayat-Ayat Cinta", meski begitu biarpun adaptasinya sudah seluruhnya sama, tetap saja ada kok yang berbeda dan ini memang sepatutnya dimaklumi. Ending di novel KCB 2 menceritakan kedua tokoh utamanya sudah menikah lalu mereka di dalam kamar pengantin dan memadu kasih di malam pertama. Nah sekarang misal dimasukkan di film apakah mungkin adegan ini masuk? Maka sutradara merubahnya adegan berdua di kamar tetap ada, tapi hanya saling bertatapan. Lalu adegan selanjutnya adalah tokoh pria bersama istri dan adik-adiknya di dalam mobil bercengkerama dengan canda. Perubahan seperti ini mungkin kecil, tapi ini penting karena sekali lagi tidak mungkin sutradara mengadaptasi bulat-bulat novelnya, terlepas dari novel dan filmnya yang islami.
2. Angels & Demons
Saya jauh lebih menikmati film adaptasi kedua dari novel Dan Brown ketimbang "The Da Vinci Code" sebagai yang pertama. Film kedua jauh lebih "aksi" namun tetap mempertahankan aspek penelusuran sejarahnya. Jeda antara saya membaca novel dan filmnya sudah cukup lama, maka seusai saya menonton filmnya saya cek lagi di novel. Dan ternyata memang banyak perbedaan kok. Perbedaan pertama yang saya sadari sewaktu menonton filmnya adalah tidak ada adegan-adegan Prof. Langdon di CERN (Fasilitas ilmu pengetahuan terbesar di dunia yang terletak di Eropa) yang secara otomatis menghilangkan tokoh Maximilian Kohler, adegan di CERN hanya menunjukkan Vittoria Vetra melakukan percobaan dalam pembuatan anti materi, bersama Silvano rekannya dalam penelitian, bukan Leonardo Vetra seperti dalam novelnya.
Seperti diketahui novel Dan Brown yang pertama "The Da Vinci Code" diprotes banyak orang karena dianggap anti-Kristus, novel "Angels & Demons" ini pun sebenarnya juga punya kontroversi yang hamp ir sama, dimana dikisahkan di bagian akhir bahwa tokoh Paus yang meninggal pada masa mudanya menikah dan memiliki anak. Bayangkan kalau ini dimuat di dalam film? Bisa-bisa akan dilarang tayang, Ron Howard mempertegas konfliknya sehingga murni hanya menjadi pertarungan "ilmu pengetahuan dengan agama" saja. Dan buat saya pribadi terbukti berhasil, lebih menghibur. Dan saya merasa cocok-cocok saja kalau Robert Langdon tetap diperankan oleh Tom Hanks.
Tentu masih banyak film adaptasi yang juga memiliki perbedaan dengan novel sebagai kisah aslinya, saya sendiri mencoba menyimpulkan ada beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan ketika novel diadaptasi ke dalam film. Selain durasi, juga pertimbangan pantas tidaknya suatu adegan divisualisasikan di film, keinginan menyampaikan pesan dalam medium yang lebih luas seperti Andrea Hirata di atas. Tentunya tidak lupa, pertimbangan komersil sehingga beberapa bagian mungkin dirasa perlu untuk diubah. Menurut saya memang tidak semua adaptasi malah bisa dinikmati positif oleh penonton yang membaca novelnya. Lagi-lagi "Ayat-Ayat Cinta" yang mungkin bisa saya sebutkan, karena sebagai penonton yang membaca novelnya, saya kehilangan banyak pesan Islami yang sebenarnya bisa banyak digali, seperti misalnya pembahasan bahwa wanita ketika mandi sebaiknya tetap mengenakan kain dan adegan tokoh utama pria mencium kening dan membaca doa sebelum malam pertama mereka, itu semua tidak ada dalam film.
Pada akhirnya, saya rasa kita memang jangan berharap banyak pada film adaptasi, khususnya berharap adaptasi bulat-bulat, novel dan film adalah medium yang berbeda. Kalau anda penonton yang belum membaca novelnya mungkin bisa lebih menikmati, tapi kalau yang sudah baca memang biasanya agak susah. Tapi buat apa pula memperdebatkan perbedaan detail dari dua medium yang berbeda? Maka nikmati sajalah filmnya, mari kita tonton.
Tag: Film Adaptasi Novel, ketika cinta bertasbih, angels and demons
Terkait:
-
Cinta & Tasbih Asli Mesir?
Kamis, 10 Jun '10 23:50 -
Les Misérables (1998)
Jumat, 21 Mei '10 00:27 -
A Passage to India (1984)
Minggu, 16 Mei '10 18:51
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Informatif
-
jamur: Informatif
-
Nazieb: Informatif
-
sabai: Informatif
-
Haris Fadli: Informatif

Komentar:
Tapi ada film yang lebih bagus daripada novelnya yang saya baca, Stardust (2007). Entah karena terjemahan yang jelek dalam novelnya atau memang novelnya yang jkurang deskriptif ya?!?
Saya sih kurang setuju kalau tidak boleh berharap banyak pada film adaptasi. Saya ingin melihat patronus Harry Potter dkk, rupa Dementors, platform 9 3/4, Diagon Alley, saya pengen lihat langsung Vatikan dipandu Prof Langdon, saya pengen lihat petualangan Aang dan rupa Appa (ini saya tonton kartunnya dulu). Tapi saya sadar, medianya berbeda, yang buat juga beda, jadi tidak semua musti sama. Untuk film-film adaptasi yang yang saya tahu bentuk aslinya lebih dulu, harapan saya sangat tinggi, bahwa mereka bisa semenghibur seperti aslinya.
Lord of the Rings!
Setau saya yang ilang cuma bagian Tom Bombadil serta epilog tentang Shire di buku ketiga.
Tapi memang bener, film trilogi The Lord of The Rings memang bagus banget, baik dipandang sebagai film adaptasi novel atau dipandang sebagai film (saja).
heartles3oul: stardust saya belum nonton dan baca, tapi soal deskriptif belum tentu juga kalo menurut saya karena itu kan tergantung dari gaya penulisnya juga
Sebuah film sedikit banyak dibuat berdasarkan persepsi sutradaranya, jadi tidak heran apabila ada film yang tidak sesuai dgn novel yg diadaptasi (menurut kita yang telah membaca novel itu), krn persepsi manusia tidak selalu sama
Silahkan login untuk memberikan pendapat